Masuk😞 yahhh...
"Kami berdua sedikit mabuk saat membelinya. Kami pulang, ketika melewati deretan dealer mobil mewah yang ada di sebelah bar. Dia memutuskan untuk membeli mobil itu untukku." Ivy menjabarkan kisahnya dengan jujur."Maksudmu dia memberimu hadiah karena sedang mabuk? Tanpa berpikir panjang?"Ivy meringis bersalah, mendengar volume suara Matteo meninggi. "Kurang lebih seperti itu," gumam Ivy."Baiklah!" Matteo tersenyum sinis."Aku ingin mobil itu pergi hari ini juga! Luigi yang akan melakukannya!" putus Matteo.Dia benar-benar kesal, karena merasa tersaingi. Pria yang memberikan hadiah itu bisa bersikap sangat santai dalam memberi hadiah mewah untuk Ivy. Matteo tidak terima.Dalam hati dia berjanji akan membeli mobil yang lebih mewah lagi untuk Ivy, begitu mobil itu terjual, tidak peduli berapa harganya. Kali ini dia tidak akan mendengar, meski Ivy menolak."Cukup dengan semua kecemburuan ini. Aku mengerti." Ivy mengangkat tangan menenangkan Matteo. Dia lalu menoleh pada Luigi."Luigi, k
"Untuk sekarang, justru kau yang terlihat gelisah."Matteo mengomentari bagaimana Ivy duduk dengan tidak nyaman di kursi belakang.Luigi yang belum terbiasa dengan lalu lintas New York yang padat, sampai ikut merasa terganggu, karena Ivy terus mendesah dan mendecak gelisah."Cold feet," desis Ivy. (Grogi)Ivy mendadak merasa tidak ingin kembali ke sini sekarang. Membayangkan hujatan apa yang dia terima sebelum pergi, memberi rasa pahit di mulutnya.Membuat Ivy ingin kembali menarik Matteo ke bandara, pergi ke tempat lain selain New York. Tapi itu tidak mungkin. Meski New York bukan kota yang cocok untuk berlibur menurut Ivy, tapi ini adalah tujuan pertama yang sudah mereka tetapkan.Menurut Matteo, Ivy boleh menentukan kapan mereka akan memulai rencana itu. Semua keputusan ada di tangannya. Mereka bisa mengisi hari dengan berbagai kegiatan menyenangkan sampai Ivy siap. Rangkaian kegiatan membalas klarifikasi dan membalas dendam itu, tidak harus dilakukan saat ini, sekarang juga begitu
Matteo memandang gerbang Ranallo sekali lagi, lalu berbalik ke depan. Ada sedikit perasaan aneh menyelimuti hatinya saat melihat gerbang itu perlahan mengecil lalu menghilang dari pandangan."Jangan katakan kau mulai ragu, kita bahkan belum berangkat," tegur Ivy, saat melihat Matteo yang terus menoleh."Bukan ragu. Aku hanya merasa aneh.""Aneh?""Saat kecil, aku beberapa kali bertekad untuk kabur. Tidak mengherankan bukan?" Matteo tersenyum pahit.Ivy mengangguk. Insting manusia untuk bertahan hidup. Ivy akan heran jika Matteo tidak pernah berpikir untuk lari."Namun aku juga tahu jika itu perbuatan bodoh. Ayah akan menemukanku secepat kilat. Jadi aku tidak pernah mencoba. Setelah sedikit dewasa, aku punya beberapa kesempatan untuk lari, tapi tidak pernah melakukannya. Bodoh sekali bukan?"Ivy menggeleng. "Tidak bodoh. Itu karena kau sudah beradaptasi, menerima nasib."Ivy menoleh menatap Matteo yang kini terlihat tegang."Kau adalah tipe orang yang ingin menyelesaikan masalah dengan
Matteo kembali memberi pandangan sebal ke arah Dante. Entah dengan sengaja atau tidak, dia telah membocorkan hal yang seharusnya bisa dijelaskan dengan tenang oleh Matteo.Ivy terkadang terlalu emosional, terutama jika ada sesuatu yang menyangkut dirinya."Aku pergi dulu!" Dante berpamitan dengan terburu-buru, melarikan diri lebih tepatnya, sebelum Matteo benar-benar marah. Dia hampir berlari saat keluar dari paviliun.Aria menatap Matteo.Matteo tidak menyuruhnya pergi, tapi dia tahu akan ada pembicaraan rahasia yang lain. Sekali lagi tidak akan melibatkan dirinya. Saat ini Matteo memandangnya seolah menunggu. Menunggunya untuk pergi."Aku permisi! Dan tolong beritahu kapan persisnya kau akan berlibur. Aku akan mencoba menyelesaikan beberapa hal penting sebelum kau berangkat. Jadi kau bisa berlibur dengan lebih tenang," kata Aria berpamitan, lalu berdiri."Terima kasih sekali lagi," kata Matteo."Tidak perlu berterima kasih untuk itu. Kau membayar mahal untuk jasaku. Aku memang beker
Aria sudah biasa disingkirkan, jika Matteo dan Dante berbicara. Karena sebagian besar pembahasan mereka soal Notte. Tapi Ivy masih tidak terima. Dia keluar dari paviliun dengan wajah kesal. Mungkin tidak akan menjadi seperti itu jika tidak ada Aria.Mereka berdiri di taman yang ada di depan paviliun. Ivy memilih duduk di kursi taman, sementara Aria berdiri saja, memandang ke depan."Matteo sakit apa?" tanya Aria."Demam." Ivy menyahut seadanya. Matteo memang demam, hanya saja bukan karena flu."Dia tidak seperti terserang demam biasa. Apa ada penyakit lain?" Aria belum puas. Dia terbiasa melihat Matteo yang selalu sangat sehat, tentu mudah menyadari jika sakitnya Matteo sedikit aneh kali ini."Tidak ada penyakit lain, hanya demam.""Tidak perlu ke rumah sakit?""Tidak. Aku minta tolong pada Vero. Kemarin dia datang memeriksa.""Kenapa kalian selalu meminta tolong pada Vero? Dia Obgyn, bukan dokter untuk sakit biasa!""Kau pikir aku tidak tahu? Aku juga lebih memilih membawanya ke ruma
"Aku ingin berlibur dan menenangkan diri."Matteo berbicara dengan lebih tegas dan berat. Suara yang menurut Ivy merdu itu, berhasil mengalihkan semua perhatian orang yang ada di situ. Ivy yang sejak tadi gusar, juga langsung terdiam tenang."Berlibur?" Aria terdengar tidak percaya. "Kau tidak pernah berlibur."Beberapa tahun bekerja pada Matteo, dia tidak pernah melihat Matteo menyebut ingin berlibur. Dengan sembunyi-sembunyi, Aria melirik ke arah Ivy. Tentu dia menduga jika keanehan ini berkaitan dengan Ivy, karena dia satu-satunya hal baru di kehidupan Matteo.Sedikit sial, lirikan yang seharusnya tersembunyi itu, terpergok oleh Ivy yang kebetulan sedang memandangnya, karena protes Aria itu. Ivy tersenyum. Bukan senyum ramah, tapi senyum berbahaya yang menandakan dia siap berdebat."Justru karena itu. Sekarang Matteo butuh liburan. Siapa yang tidak jenuh jika setiap hari hanya mengurus pekerjaan?" sela Ivy."Oh.. Jadi ini bukan tentang New York?!""Dante!" Matteo akhirnya menghardi







