LOGIN😌😌 lega mayannn
Raven melepaskan bibir Ellie setelah memastikan tidak lagi akan menyebut kata menyesal."Aku tidak mengatakan ingin pulang ke sana, karena kata pulang sendiri sudah bergeser artinya untukku," kata Raven, tenang."Bergeser?""Ya. Pulang tidak harus selalu ke rumah. Untukku pulang berarti aku kembali ke sisimu, itu saja." Raven menuang teh, mengisi gelasnya, dan juga Ellie."Tidak perduli dimana, aku akan selalu menyebut pulang setiap kali kembali padamu. Kalau kau menginginkan, pilih saja salah satu negara. Aku akan membangun rumah dan menetap di sana bersamamu. Namun jika tidak, aku tidak keberatan kehidupan berpindah seperti ini. Karena aku akan selalu pulang kepadamu."Ellie ingin tersenyum, karena itu tadi manis. Tapi Ellie tiba-tiba merasa terlalu mulia."Kau memberi kredit terlalu banyak padaku. Aku merasa tidak istimewa, namun kau memperlakukanku terlalu istimewa." Ellie masih merasa jika pengorbanan Raven untuknya sangat besar. Kadang ini membuatnya takut."Jangan konyol! Kau s
"Apa yang kau bicarakan dengan Matteo?" tanya Ellie. "Kalian terlihat akrab."Raven menampilkan wajah jijik yang tidak sopan. "Aku tidak akrab dengannya!"Raven meletakkan teh di tangan Ellie. Kursi ayunan panjang tempat Ellie duduk, berayun pelan saat Raven menyusul duduk di sebelahnya.Mereka bersantai menikmati pemandangan di taman di depan paviliun, setelah semua tamu pulang. Matteo kembali ke pekerjaannnya.Ellie tersenyum geli saat melihat wajah jijik Raven, sambil menyesap teh hangat beraroma melati dari tangannya.Raven dan Matteo sepertinya memang tidak mungkin akrab, hanya tadi saja Ellie melihat mereka berdua mengobrol. Karena itu Ellie menjadi penasaran."Kami hanya membahas seputar dirimu. Apalagi yang bisa kami bahas? Satu-satunya hal yang bisa kami bahas adalah kau." Raven menyandarkan kepala ke bahu Ellie.Pose yang dipaksakan, karena bagian atas tubuh Raven lebih panjang dari Ellie. Pose manja seperti itu, tidak akan terlihat aneh kalau saja tinggi mereka tidak terlal
"Tentu saja boleh! Hubungan...."Ellie bangkit dan menutup mulut Vero dengan tangan, mencegahnya melanjutkan kalimat.Vero adalah dokter spesialis kandungan yang dulu merawatnya di rumah sakit. Kini mereka kurang lebih berteman, karena Vero datang paling tidak seminggu dua kali untuk memeriksa keadaan Ellie.Dari pembicaraan, Vero cukup mengenal Matteo, maka Ellie segera menempel padanya. Ingin tahu lebih banyak tentang Matteo darinya.Uluran tangan pertemanan dari Ellie disambutnya dengan gembira. Kini kunjungan dokter dari Vero, lebih didominasi obrolan antar teman, terutama jika Aria ikut ada. Seperti saat ini. Vero seorang janda dengan satu putra, berusia dua tahun. Dia tiga tahun lebih tua dari Ellie. Jarak usia yang tidak terlalu jauh membuat mereka bertiga dekat dengan sangat cepat. Ellie bahkan sudah memperkenalkan mereka berdua pada Rose.Hanya melalui video call tentu saja. Rose berjanji akan meluangkan waktu untuk terbang ke Italy saat bayi Ellie lahir nanti.Pembicaraan m
"Tenang?" Matteo mengulurkan lembaran tisu yang lain.Ellie mengangguk, dan menerima tisu itu untuk menyeka air mata akibat histeria itu.Di saat Raven sedang tidak berada di Italia, Matteo yang akan menemaninya. Mereka berdua bergantian, mengambil giliran.Kalau Matteo yang sibuk, Raven mengatur jadwal dengan Jasper, sehingga bisa bekerja dari rumah. Tidak ada perjanjian tertulis tentang jadwal itu. Mereka berdua melakukannya begitu saja.Pergantian giliran ini juga berguna untuk hal lain, yaitu menghindari perdebatan. Dengan bergiliran mereka tidak harus sering bertemu. Pertemuan antara Raven dan Matteo tidak pernah indah. Selalu dihiasi oleh perdebatan, Ellie sampai bosan mendengarnya."Apa hamil akan selalu emosional seperti ini?" tanya Matteo, masih heran menatap Ellie."Mungkin hanya aku!" Ellie mendesah, jengkel. Ellie tidak pernah menyangka, sedikit gerakan saja sudah mampu membuatnya menangis tersedu. Tangis bahagia tetap saja menyebalkan.Matteo memandang tumpukan buku yang
"Untuk quartal kedua..."Raven menghentikan kalimat panjangnya, saat melihat ponselnya bergetar. Raven biasanya anti menatap ponsel saat bekerja, tapi kebiasaan itu harus berubah.Tentu karena Ellie. Raven tidak ingin melewatkan panggilan dari Ellie. Kalaupun ponsel itu ada pasa Jasper, ia juga akan segera meneruskan panggilan yang berasal dari Ellie.Raben pun juga hanya akan menjawab kalau panggilan itu dari Ellie, seperti sekarang."Haze? Ada...""MEREKA BERGERAK!" pekik Ellie. "Rave! Kau... Mereka... tadi begitu!" Lalu tangisan. Ellie terisak keras."Haze, tenang dulu jangan seperti ini." Raven juga sebenarnya panik, tapi mencoba menenangkan, karena tidak ingin Ellie menjadi lebih panik lagi.Raven jelas tidak sendiri. Ia sedang berada di depan sejumlah pemegang saham, dalam usaha menerangkan tentang strategi pemasaran yang paling baru.Peserta rapat yang lain sudah memandangnya dengan aneh. Selain melihatnya penjawab panggilan di tengah kalimat, mereka bisa melihat wajah Raven yan
Ini kesekian kali kalinya Ellie mengalami apa yang disebut pindah rumah. Namun prosesnya sedikit berbeda untuk yang ini.Kalau dulu mereka berpindah untuk menghindari siapapun yang menyerang Raven. Maka kini mereka berpindah dengan orang yang yang mencoba membunuh Raven. Perubahan yang sangat unik, dan ironis.Ketidakhadiran Luca, Leone dan Stella, rupanya sedikit menaikkan nilai rumah Ranallo di mata Ellie.Rumah itu sebelumnya terlihat kejam dan kelam, tapi saat dia turun dari mobil yang membawanya pulang dari rumah sakit, untuk pertama kalinya, Ellie melihat wajah lain rumah itu.Ellie melihat rumah itu seperti yang seharusnya. Rumah indah yang mewah."Apakah aku harus menggendongmu? Aku rasa aku harus menggendongmu," kata Raven. Dia mulai gugup begitu melihat Ellie berjalan. Saat di rumah sakit, Ellie memakai kursi roda."Tidak Rave, jangan panik berlebihan. Aku masih bisa berjalan. Berjalan tidak termasuk dalam pekerjaan berat yang dimaksud oleh dokter."Ellie dengan langkah perla







