LOGIN😏😏 mulai yuk
"Jangan meneriakkan namaku sembarangan!" Ivy menarik tangan Sean, menyuruhnya duduk kembali, tapi tubuh tegap itu tidak bergerak, karena lemahnya tenaga Ivy.Teriakan Sean membuat beberapa kepala menoleh. Ivy bergegas memakai kacamata dan juga topinya lagi, sebelum ada salah satu dari mereka mengenali wajahnya."Jadi benar bukan? Ivy Adams yang dulu menjadi terapis di Westwood, juga adalah Ivy Adams yang aku lihat di televisi?"Setelah jelas siapa yang identitas Ivy, Sean langsung menunjukkan sifat yang sebenarnya. Dia menjadi lebih banyak bicara, seperti yang dulu Ivy ingat. Sean dulu sangat mudah membuka diri saat terapi, tidak seperti Matteo."Benar. Aku Ivy Adams yang kau lihat di televisi, dan juga dulu menjadi terapis di Westwood.""Aku ingin sekali membunuh mereka semua!" Sean tiba-tiba berseru mengangkat tangan ke udara."Siapa yang akan kau bunuh? Jangan sembarangan!" tegur Ivy, galak."Apa?!" Sean kaget menerima teguran itu."Lupakan!" Ivy mengibaskan tangan. Dia lupa jika ka
BRUAKK!Ivy melonjak dari tempat duduk, saat suara benturan keras terdengar dari lapangan. Meski hanya latihan, suara benturan antara pemain yang terjadi di lapangan bawah sana, sudah cukup untuk membuat efek kejut.Para pemain yang football itu, menubrukkan tubuh dengan keras, diiringi dengan teriakan, saling dorong dan membenturkan bahu. Memperebutkan bola berwarna kemerahan yang lonjong itu.Ivy sama sekali tidak mengerti bagaimana aturan permainan dalam American football. Dia bukan penggemar pertandingan olahraga apa pun.Sama seperti Matteo. Dia hanya memandang ke lapangan tanpa merasakan keseruan apapun. Olahraga yang dilakukan Matteo, hanya berkisar antara jogging dan mengangkat beban, untuk mempertahankan massa otot.Dia tidak menyukai olahraga berkelompok seperti itu. American football, sedikit kasar menurutnya, dengan segala macam teriakan dan tubrukan itu. Matteo lebih menyukai ketenangan, sesuai dengan jiwa seni yang ada dalam dirinya.Satu-satunya hal tidak tenang yang bis
Matteo membuka mata, dan memandang Ivy yang telah tertidur pulas. Nafasnya teratur, dan matanya terpejam erat. Tidak terlihat sedang bermimpi sesuatu yang aneh.Berarti aman bagi Matteo untuk meninggalkannya.Jika hobi Ivy adalah memandangi Matteo saat pagi, maka Matteo mempunyai kebiasaan memeriksa Ivy pada saat malam. Memastikan dia tidur dengan nyenyak, hangat dan tenang.Untuk menunjang hobi ini, Matteo lebih sering membiarkan Ivy tidur terlebih dulu.Kegiatan mengamati ini, bisa dilakukannya dalam waktu berjam-jam. Jika tidak ingat dia harus bangun pagi dan beraktivitas seperti biasa, mungkin Matteo tidak keberatan melewatkan waktu tidur untuk memandang Ivy.Namun hari ini, ada beberapa hal yang harus yang diurusnya sebelum tidur. Dia berbaring hanya untuk menemani Ivy. Kegelisahan karena keputusannya untuk memulai rencana pembersihan nama itu, membuat Ivy sedikit sulit tertidur tadi. Matteo harus menemani cukup lama sebelum dia tertidur lelap.Perlahan Matteo menyingkirkan tangan
Matteo menatap punggung Ivy yang sedang memasak, sambil menyesap kopinya perlahan. Sesekali dia melirik ke luar jendela kaca besar di sampingnya. Pemandangan diluar menyajikan udara musim gugur yang bersih, dengan langit biru cerah.Ivy membuka celah jendela di dekat dapur, agar ada angin segar yang masuk. Sedikit dingin tapi cocok untuk menemaninya yang sedang memasak hidangan yang cukup rumit.Dengan cekatan, Ivy mengupas telur rebus dan meletakkannya di piring. Lalu dengan hati-hati membelah telur itu menjadi dua.Dengan tidak kalah cermat, Ivy mencongkel kuning telur satu demi satu. Setelah semua terkumpul, Ivy menumbuk kuning telur itu, dan mencampurnya dengan mayones, mustard, dan berbagai bumbu.Ivy lalu memasukkan semua campuran kuning telur itu ke dalam plastik segitiga. Sambil menahan nafas, Ivy mengisi ceruk kosong putih telur dengan kuning telur yang telah berbumbu itu.Butuh usaha yang cukup besar untuk membuat deviled eggs, tapi hasilnya yang cantik membuat Ivy puas."Don
"Kami berdua sedikit mabuk saat membelinya. Kami pulang, ketika melewati deretan dealer mobil mewah yang ada di sebelah bar. Dia memutuskan untuk membeli mobil itu untukku." Ivy menjabarkan kisahnya dengan jujur."Maksudmu dia memberimu hadiah karena sedang mabuk? Tanpa berpikir panjang?"Ivy meringis bersalah, mendengar volume suara Matteo meninggi. "Kurang lebih seperti itu," gumam Ivy."Baiklah!" Matteo tersenyum sinis."Aku ingin mobil itu pergi hari ini juga! Luigi yang akan melakukannya!" putus Matteo.Dia benar-benar kesal, karena merasa tersaingi. Pria yang memberikan hadiah itu bisa bersikap sangat santai dalam memberi hadiah mewah untuk Ivy. Matteo tidak terima.Dalam hati dia berjanji akan membeli mobil yang lebih mewah lagi untuk Ivy, begitu mobil itu terjual, tidak peduli berapa harganya. Kali ini dia tidak akan mendengar, meski Ivy menolak."Cukup dengan semua kecemburuan ini. Aku mengerti." Ivy mengangkat tangan menenangkan Matteo. Dia lalu menoleh pada Luigi."Luigi, ka
"Untuk sekarang, justru kau yang terlihat gelisah."Matteo mengomentari bagaimana Ivy duduk dengan tidak nyaman di kursi belakang.Luigi yang belum terbiasa dengan lalu lintas New York yang padat, sampai ikut merasa terganggu, karena Ivy terus mendesah dan mendecak gelisah."Cold feet," desis Ivy. (Grogi)Ivy mendadak merasa tidak ingin kembali ke sini sekarang. Membayangkan hujatan apa yang dia terima sebelum pergi, memberi rasa pahit di mulutnya.Membuat Ivy ingin kembali menarik Matteo ke bandara, pergi ke tempat lain selain New York. Tapi itu tidak mungkin. Meski New York bukan kota yang cocok untuk berlibur menurut Ivy, tapi ini adalah tujuan pertama yang sudah mereka tetapkan.Menurut Matteo, Ivy boleh menentukan kapan mereka akan memulai rencana itu. Semua keputusan ada di tangannya. Mereka bisa mengisi hari dengan berbagai kegiatan menyenangkan sampai Ivy siap. Rangkaian kegiatan membalas klarifikasi dan membalas dendam itu, tidak harus dilakukan saat ini, sekarang juga begitu







