Mag-log in🤩🤩 liburan lagi
Ivy kembali dikejutkan oleh orang yang saat ini hadir di depan pintu apartemennya esok paginya. Jika kemarin malam Raven, maka saat ini adalah Ellie, yang datang dengan mata sembab dan wajah galau."Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Al lagi?" Keadaan Ellie mengingatkan Ivy akan malam saat Al histeris dulu."Tidak! Bukan Al." Setelah mengucap itu, Ellie menutup wajah dengan tangan, kembali menangis dengan bahu berguncang."Ada apa ini?" Ivy menarik Ellie masuk, dan menutup pintu. Ivy menyuruhnya duduk, lalu menyediakan secangkir teh di hadapannya dengan cepat. Ivy memang tadi sedang membuat teh, untuk menemani sarapan.Namun Ellie tidak menyentuhnya. Hanya terlihat resah menatap Ivy."Apa kau sudah sarapan?" tanya Ivy. Tidak memaksa bertanya. Hari masih sangat pagi, Ivy ragu dia sudah menyentuh makanan. Ivy berharap sarapan akan membuat Ellie terlihat lebih baik, dan tangisnya berhenti.Ivy menggeleng, membenarkan dugaan Ivy."Tunggu sebentar. Aku akan menyiapkan sarapan, lalu
Ivy jelas bersumpah serapah dalam hati, saat tadi siang Cody menghubungi, dan mengatakan akan menemuinya malam ini. Ivy sudah benar-benar lupa tentang ajakan untuk bertemu kemarin. Ucapan yang ceroboh membuatnya masuk ke dalam situasi yang tidak diinginkan.Dengan terpaksa, Ivy harus menyiapkan makan malam di apartemennya. Ivy juga sangat terpaksa, saat mengundang Cody ke apartemennya. Ivy tidak mau pergi makan di restoran saat ini.Dia ada di New York, dengan mudah wajahnya akan dikenali. Dan pasti akan menjadi gosip, jika ada orang yang melihatnya makan bersama dengan pria di restoran. Ivy masih malas mendengar gosip tentang dirinya.Kemarin saat memutuskan bekerja di yayasan itu saja, akhirnya ada orang yang sadar, maka terbitlah berita soal dirinya. Berita yang seadanya, karena Ivy menolak wawancara dalam bentuk apapun. Berita positif setidaknya. Wartawan tidak ngawur mengatakan hal yang mengerikan.Mereka sedikit memberi sanjungan bahkan. Ivy semakin lega, saat berita itu membawa
Ivy menekan tombol lift dengan terburu-buru, karena mendengar getaran ponsel yang ada di dalam tas.Sambil lift sampai di lantai atas, Ivy menjawab panggilan itu. Dia tahu apa yang akan dikatakan oleh si penelpon itu, namun dia tetap harus menjawabnya. Penelpon itu sangat gigih. Dia hampir bisa dikatakan meneror Ivy beberapa hari ini. Dia tetap menelpon, meski Ivy sudah menolaknya beberapa kali"Halo, Cody," sapa Ivy."Hai. Aku harap kau senang mendengar suaraku."Ivy mendengus. "Aku bosan.""Untuk mengusir kebosanan itu, lebih baik kau menerima tawaran ini. Aku tidak akan mengganggumu lagi setelahnya.""Tidak!" jawab Ivy pendek.Semenjak Cody tahu Ivy ada di New York, dia terus menghubungi untuk menawarkan pekerjaan. Dan tentu saja Ivy menolak. Dia tidak ingin lagi bekerja dekat dengan dunia gemerlap itu.Ivy lebih menyukai kehidupan yang sekarang tidak terikat . Dia bebas mengatur waktu dan yang jelas tidak berkaitan dengan dunia gemerlap.Ivy belum membuka praktek psikolog sendiri,
"Ada apa dengan Al?" tanya Ivy. Ikut panik."Dia tidak bisa tidur setelah hari itu. Dia terus berteriak dan menjerit bermimpi buruk. Dia hanya bisa tidur selama setengah jam setiap kali, lalu terbangun dan berteriak histeris." Ellie meleleh dalam putus asa amat sangat."PTSD,"* desah Ivy.Ilmu psikolog Ellie tidak sedalam Ivy, tapi dia tetap tahu apa itu PTSD. "Aku tidak bisa menenangkannya, dan tadi dia terus menjerit dan menangis.""Sebentar!" Ivy kembali masuk dan menyambar mantel."Ayo!" Ivy menarik Ellie masuk ke dalam lift, dan langsung menuju lantai atas"Maaf sebelumnya, tapi aku bukan psikolog anak-anak. Aku bisa membantu tapi sangat terbatas. Setelah ini, aku rasa kau harus tetap membawa Al ke psikolog anak profesional," kata Ivy saat mereka berjalan menuju kamar Al."Aku mengerti, tapi setidaknya aku ingin dia tidur tenang dulu." Harapan Ellie tidak muluk. Dia tahu betapa sulit menyembuhkan PTSD.Saat pintu kamar Al terbuka, Ivy melihat pemandangan yang mungkin tidak pernah
Keputusan untuk kembali ke apartemen Park Avenue, sepulangnya dari rumah sakit, mungkin bukan hal yang tepat untuk mengembalikan semangat Ivy. Tapi Ivy tidak bisa menghindar, karena Ellie terus mengatakan jika semua sempurna.Ini mengajuk tentang keadaan mereka kini akan kembali bertetangga. Ellie tidak pernah benar-benar meninggalkan New York. Kemarin dia ada di Neive, hanya untuk menunggu Raven. Jadi tempat tinggal terakhirnya adalah New York.Fakta ini sangat menggembirakan Ellie, karena dia tidak perlu bekerja keras untuk berpindah rumah untuk berada dekat dengan Ivy. Ellie sudah menetapkan, jika semua itu adalah takdir yang sangat kebetulan. Ellie semakin merasa jika dia memang ditugaskan untuk menjaga Ivy.Dengan semua keyakinan seperti itu, Ivy tidak mungkin menolak untuk pulang ke apartemennya itu, meski dia tidak suka.Keputusan Ivy untuk menurut, juga karena dirinya merasa membutuhkan teman. Ivy sangat sadar, jika sedikit saja dirinya mengambil langkah yang salah, maka tekatn
Ivy tidak menyukai suasana sunyi di sekitarnya. Dia ingin ada suara yang memanggil namanya saat nanti membuka mata. Bertanya apakah keadaannya baik-baik saja.Ivy juga ingin ada yang menggenggam tangannya, mengelus kepalanya perlahan. Lalu dalam bisikan lembut, mengabarkan jika keadaan dunia baik-baik saja. Menjelaskan jika dirinya hanya sedang bermimpi. Dan pedih yang saat ini merajai hatinya akan hilang.Namun, semua rasa sakit fisik, yang saat ini Ivy rasakan, hampir di setiap lekuk tubuhnya, memberi tahu jika dirinya tidak bermimpi.Meski begitu, Ivy masih bertahan memejamkan mata. Dengan bodoh berharap jika dirinya kembali pingsan, dia tidak perlu merasakan semua rasa sakit itu. Dia ingin menunda menghadapi kehilangan itu.Tapi Ivy tak mungkin terus memejamkan mata. Dengan gerakan sangat perlahan, Ivy membuka mata, dan melihat langit-langit putih bersih. Itu adalah tempat asing. Ivy belum pernah melihatnya.Lalu terlihat tiang infus, memberi tahu jika dia sedang berada di rumah sa
"Rave?"Ellie menggoyangkan bahu Raven pelan. Raven tertidur semenjak pulang dari rumah sakit, dan saat ini sudah hampir tengah hari.Raven menggeliat, membuka mata."Mereka datang..." Mendengar kata itu, Raven langsung bangkit berdiri, meski sempoyongan."Di depan..."Raven membuka pintu dengan set
Ellie menemukan Raven berdiri di depan UGD. Mondar-mandir dengan wajah pucat dan kuyu."Rave!"Raven menyambut panggilan itu dengan wajah aneh. Dia ingin tersenyum, tapi seakan otot yang bertanggung jawab untuk membentuk senyum di bibirnya telah rusak."Dia ada di dalam. Mereka tidak memperbolehkan
Sejak awal Willow tidak pernah berniat untuk melompat maupun tertipu oleh kebohongan Raven yang sangat jelas itu. Dia mengatur drama ini, agar bisa berada cukup dekat dengan Raven,untuk melukainya.Kini Willow menjerit marah, karena sekali lagi rencananya gagal. Dia sama sekali tidak peduli bagaima
Lonan sendiri maju menemani Raven. Entah kehadirannya berguna atau tidak, dia hanya ingin memastikan Willow selamat."JANGAN MENDEKAT! AKU AKAN MELOMPAT!"Suara jeritan dengan nada tinggi milik Willow, bergema di langit, saat dia mendengar ada suara langkah kaki di belakangnya."TURUN!"Raven tidak







