ANMELDENMenjelang malam, suasana tenang di sekitar Zhen Ming terusik kebisingan dari luar pintu utama kediaman. Tak lama berselang, seorang wanita bertubuh gempal dalam balutan hanfu sutra datang melintasi pintu sembari mengipasi wajahnya. Riasannya yang mencolok dipadukan gaya berpakaian mewahnya mencuri perhatian warga desa setempat. Zhen Ming kebetulan sedang berada di teras ketika Gao Yan datang membawa wanita berpenampilan menyerupai merak tersebut. “Aiyo! Aiyo!” Wanita merak itu berlari penuh semangat saat melihat Zhen Ming duduk di teras membaca buku. Mata mak comblang membola kaget, “Ya Dewa! Apakah pria ini mempelai prianya, Tuan Gao?!” Gao Yan meringis melihat sikap sembrono mak comblang. “Ya, nyonya. Situasi tuan saya sedikit rumit, jadi mohon bantuannya.” “Tentu! Pria setampan ini, aku baru pertama kali melihatnya. Beruntungnya aku karena bertemu Tuan Gao hari ini, haha! Hampir saja aku melewatkan keberuntungan besar!” Mak comblang berdecak kagum memandangi struktur
“Yang Mulia, anda tahu kemana Gao Yan pergi?” Bibi Chen datang menghampiri, tampak putus asa mencari kehadiran pria itu sedari tadi. “Saya memerlukan bantuan tambahan untuk mengambil persediaan dapur.” Zhen Ming berhenti menaburkan pakan ikan ke kolam. Lalu berbalik menatap Bibi Chen, ”Aku memintanya keluar mencarikan mak comblang belum lama ini. Suruh Li San saja.” “Mak comblang?” Binar mata Bibi Chen seketika menyala terang mengalahi silau terik matahari siang ini. “Anda berencana menentukan tanggal baik dari sekarang? Bagus! Bagus sekali! Keputusan Yang Mulia sangat tepat!” Wanita paruh baya itu bahagia bukan main. Seolah dirinyalah yang akan melangsungkan pernikahan. Namun Bibi Chen mulai panik memikirkan banyaknya keperluan untuk mempersiapkan sebuah pernikahan. “Yang Mulia, bagaimana anda bisa sesantai itu dan masih memperhatikan ikan di kolam?” Omelnya marah, “Anda sebentar lagi menikah, banyak hal harus dipersiapkan lebih awal secepatnya!” Kepanikan Bibi Chen aneh
“Tuan, nyonya, kita sudah sampai,” Kusir pemilik kereta berseru sopan dari kemudi depan. Pria paruh baya itu melompat menuruni kereta, membungkuk hormat. Dua kereta kayu di belakang turut memberhentikan laju kuda. Mei Anqi tertidur lelap selama perjalanan berjam-jam, apalagi jalanan di Kota Xiyu semuanya mulus tanpa terjalan sama sekali. Membuat wanita itu terlelap nyenyak tiga jam lebih. Zhen Ming menggendong Mei Anqi hati-hati, setiap tindakannya lembut dan menjaga. Khawatir wanita itu akan terbangun merasakan perubahan dari tempatnya bersandar. “Xiao Bai, Xiao Yun, ambil anak-anak. Kalian gendonglah mereka,” perintah Zhen Ming tegas setelah turun dari kereta. Tangannya sudah penuh menggendong Qiqi seorang. Dua dayang di dekat kereta barisan tengah itu mengangguk patuh. Lalu menggendong tiga kembar dengan Xiao Bai membawa dua pangerannya sekaligus. Bibi Chen bersama Nenek Chu membantu menenteng beberapa bawaan ringan, semua perbekalan berat telah diambil alih oleh Gao
Genap dua pekan belayar mengarungi lautan, kapal kayu besar itu akhirnya berhenti di salah satu pelabuhan ramai, tepatnya dibagian ujung barat laut Kekaisaran. Mei Anqi langsung terpesona melihat keindahan kota yang akan ia tinggali beberapa bulan ke depan. Area pelabuhan sangat padat, hiruk-pikuk suara manusia disertai keriuhan gelak tawa saling bersahutan dari segala arah. Di tengah itu, ia sayup-sayup mendengar seseorang berbicara dalam bahasa inggris. Terkejut sekaligus antusias, Mei Anqi menoleh dengan mata berbinar kagum. Orang asing! Dengan rambut berwarna pirang dan mata besar sebagai ciri khasnya, mereka pastinya orang Eropa! Pria-pria eropa di sana memiliki tubuh tinggi semampai dan paras tampan rupawan, memikat banyak mata wanita muda di pelabuhan. Zhen Ming menghalangi pandangan Mei Anqi menggunakan tubuh tinggi besarnya, pria itu tampak merajuk, “Berhenti memandangi mereka, Qiqi.” Mei Anqi mendengus mengabaikan Zhen Ming, lanjut berjalan ke depan dibantu Nen
Daisen mememasuki ruang pribadi Zhen Ming kemudian mengambil tempat duduk di sisi timur, sedangkan Zhen Ming di sisi barat. Tatapan tajam Daisen menyapu sisa makan siang di atas meja, tanpa emosi. “Yang Mulia,” panggil Daisen, suaranya tidak dingin atau pun lembut. Punggung kecilnya lurus tegak mencerminkan kepribadiannya yang serius. Zhen Ming memandang putra sulungnya, membalas santai. “Ada apa?” “Berapa banyak sekutu yang anda miliki?” “Sekutu?” “Ya, tolong sebut dan jelaskan kepada saya secara merinci.” “Kenapa tiba-tiba kau ingin tahu semua sekutu di bawah kekuasaanku?” “Cepat atau lambat saya harus mengetahuinya. Apa bedanya dengan mengetahui lebih cepat?” Jawabannya mengingatkan Zhen Ming pada Mei Anqi saat mereka membahas pernikahan di dek kapal kala itu. “Gao Yan tidak memberi tahumu tentang ini?” Daisen menggeleng dengan bahu mengedik. “Dia tidak memberi tahu apapun.” Zhen Ming segera menyadari tujuan terselubung Gao Yan. Sang ajudan tampaknya sen
Lima hari berturut-turut terlewati, Zhen Ming dengan putri kecil kesayangannya terus menghabiskan waktu berdua. Akibatnya Hongyi dilanda bosan karena saudarinya pergi bermain dengan orang lain. Dia tidak berani mengganggu Daisen, alhasil anak itu duduk di dek kapal bagian depan. Melemparkan remahan roti ke lautan di bawah. “Tuan muda, apa yang sedang anda lakukan?” Li San tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran. “Bibi Chen memberi anda roti itu khusus untuk makan siang. Anda bisa dimarahi kalau ketahuan.” Hongyi menoleh ke belakang sekilas sambil mencebikkan bibirnya kesal. “Tinggal jaga rahasia ini untukku. Kau cerewet sekali.” Sudut bibir Li San berkedut mempertahankan senyuman sopan. Mulut anak ini sungguh tajam, pantas menyandang putra Raja Yan. Lalu, Hongyi yang sebelumnya kelihatan kesal tiba-tiba menjawab pertanyaan Li San di awal tadi, “Aku sedang memberi makan ikan.” “Ikan?” gumam Li San kebingungan, ia baru tahu bahwa selera makan hewan tersebut telah berkemban







