LOGIN“Tuan, wanita suci datang.” Pelayan penjaga pintu memberi kabar sebelum mundur meninggalkan ruangan. Xiao Mi membantu melepaskan jubah hangat dari bahu Mei Anqi. Bahu rampingnya yang bulat dan proposional tampak indah dibalik selapis kain tipis transparan. Aroma wewangian bunga bercampur harum manis susu melayang semerbak memenuhi setiap sudut ruang. Dayang muda itu pamit undur diri membiarkan Mei Anqi berduaan dengan Lian Fengjue. “Ah Jue.” Suara lembut Mei Anqi memanggil lambat, bahkan dari suaranya saja hasrat Lian Fengjue langsung dibangkitkan. Pria di balik tirai mencengkeram erat cangkir teh ditangan kanan. Alis tajamnya yang panjang mengerut kesal. Lian Fengjue membenci nafsunya sendiri yang mudah terpatik ketika bersama wanita suci. “Apa lagi yang perlu kamu kerjakan di malam hari?” Omelan pendek Mei Anqi berikan, ia cemberut saat berjalan melintasi papan pembatas. “Ayo tidur. Kamu masih harus berangkat pagi besok.” Batuk canggung keluar dari bibir merah L
“Wanita suci...” Lian Fengjue menghentikan langkahnya, membentang jarak lebar antara ia dan wanita diayunan rotan. “Menungguku dari tadi siang?” Sendi tulang jemari putihnya menggulung, meremas di belakang punggung lurus tegaknya. Memikirkan wanita suci menunggunya pulang menimbulkan rasa senang karena kepulangannya dinantikan. Wanita diayunan rotan meminta dua dayang mundur pergi dari halaman tersebut. Lalu melambaikan tangannya meminta Lian Fengjue mendekat. “Iya, aku menunggu Ah Jue sedari siang tadi. Kemana saja kamu sampai baru pulang larut malam begini?” Jubah putih bersih Lian Fengjue bergerak ketika kaki panjangnya melangkah mantap mendekati ayunan di depan. Ia merelakkan wajahnya disentuh lembut oleh tangan halus wanita suci. “Maaf, sesuatu terjadi di Istana yang mengharuskan kehadiranku.” “Baiklah.” “Wanita suci marah?” “Coba tebak?” Mei Anqi mencubit keras pipi tipis Lian Fengjue diringi desahan berat pria itu. “Aku hampir mati bosan karena menunggumu pulang, tah
“Putri, surat datang dari Yang Mulia Raja Yan.” Xiao Mi berjalan cepat memasuki ruang kamar, menunduk sesaat lalu mengeluarkan kertas lipat dari lengan hanfu dan menyerahkannya. “Silahkan, Putri.” “Terima kasih, Xiao Mi.” Dayang muda itu mengulas senyuman patuh kemudian pergi berjaga di luar pintu. Mei Anqi fokus mengurai ikatan simpul pita berwarna merah menyala yang mengikat surat. Iris caramelnya berkilat geli tepat saat membaca baris pertama tulisan suaminya. [ Nyonya, jangan berselingkuh. ] Begitulah isi bait pertama pembuka surat. Mei Anqi tersenyum lucu membaca baris berikutnya. Suaminya kurang lebih memberitahunya untuk tetap setia dan tidak tergoda rubah jantan di luaran sana. Dengan bangganya Zhen Ming berkata dia bisa menjadi rubah jantan yang menggoda jika istrinya memang menginginkannya. “Rubah jantan? Pfttt.” Jemari indahnya membelai baris lucu tersebut. “Dasar tidak tahu malu,” gumamnya pelan. Ia menopang dagunya seraya meneruskan membaca curah
Mansion Lian, sore hari. “Wanita suci.” Kelembutan pria berjubah plum itu tertuju ke perempuan di atas ayunan rotan. “Apa kamu merindukan Raja Yan?” Serangan mendadaknya mengejutkan si perempuan. “Tidak.” Mei Anqi mengontrol ekspresi supaya sesuai dengan harapan Lian Fengjue. Bisa mengamuk pria itu kalau dia bilang merindukan suami jahilnya. Sapuan angin ringan di pucuk kepala Mei Anqi menandakan kelegaan Lian Fengjue. “Kenapa Ah Jue tiba-tiba membahas Raja Yan dan mengujiku?” Mei Anqi mengayunkan kedua kakinya yang jauh dari tapakan tanah. “Kamu curiga aku membohongimu, ya?” tekanan suaranya melirih. Lian Fengjue dilanda kecemasan usai melihat respon sedih Mei Anqi. “Aku tidak berani meragukanmu wanita suci.” Jelasnya secepat kilat. ”Aku—aku hanya takut....” “Takut?” Kaki panjang Mei Anqi terjulur ke bawah, menapak bumi sekaligus menghentikan tempo ayunan. Lantas ia menepuki atas pahanya. Seolah diberi aba-aba, sedetik kemudian Lian Fengjue berlutut dan menyandar
“Suasana hatimu tampak cerah malam ini,” tukas Mei Anqi seusai melihat Lian Fengjue merajut syal dengan penuh semangat. Lian Fengjue menggeser atensinya. “Siapa yang tidak bahagia saat ditemani wanita cantik sepertimu?” “Alasan,” cibir Mei Anqi setengah bercanda. Ia mengambil sisi kosong di sebelah Lian Fengjue. “Ah Jue, tidak bisakah aku bertemu anak-anakku?” Mei Anqi mengangkat topik riskan kesekian kali. Tujuannya guna membuat Lian Fengjue tidak curiga karena ia bersikap amat patuh. Dengan menunjukkan keinginannya untuk pulang, Lian Fengjue akan mengira Mei Anqi tidak betah di sisinya. Lian Fengjue kadang curiga mengenai perilaku jinak Mei Anqi, hanya dengan memperlihatkan setitik sikap memberontak. Kecurigaannya bisa terhapus. “Tidak.” Lian Fengjue membalas tegas, menolak negoisasi. Pria itu selesai menggarap satu syal birunya. “Mendekatlah wanita suci,” ujarnya meminta. Mei Anqi patuh mendekat, detik berikutnya syal lembut dan hangat terpasang melingkari leher ra
“Permaisuri sangat sehat hari ini,” begitulah respon menyebalkan Lian Fengjue. Segala cacian mengenai status rakyatnya tak lagi menimbulkan rasa rendah diri. “Kau!” Permaisuri Wei jatuh lunglai terduduk di tepi ranjang. Zhen Litin meraih gaun ibunya dan menangis ketakutan. “Diam!” bentaknya marah. Zhen Litian belum pernah melihat Ibunya membentak apalagi memarahinya. Anak 3 tahun itu beringsut mundur ketakutan. “Tuan!” Bibi Yao menyeru setelah sampai di sisi Permaisuri. Ia menopang tubuh lemas wanita itu. “Anda bersikap terlalu jauh!” “Terlalu jauh?” Lian Fengjue mengunci kedua tangannya di belakang punggung. “Bibi Yao, jangan memutar fakta. Saya diam menerima cacian sejak tadi.” “Keluar!” pinta Permaisuri berteriak. “Jangan perlihatkan lagi wajahmu di depan mataku!” “Sayangnya mustahil. Kedatangan saya kemari karena ada sesuatu penting yang ingin saya bahas. Ini tentang kedudukan pangeran bungsu.” “Apa?” terperanjat kaget, tatapan Permaisuri Wei berubah horor. “Aku t







