LOGIN“Jika kau berpikir untuk memanjat status melalui ranjangku, berhentilah berkhayal! Kau tidak pantas!”
Sial, siapa yang mau menjadi istrimu! Mei Anqi bahkan tidak mau menjadi wanita menyedihkan itu! Seberapa suram hidupnya ketika menikahi pria galak dan kasar ini! “Yang Mulia, Qiqi tidak berani!” serunya secepat kilat. Akan buruk kalau kesalahpahaman dibiarkan berlanjut. Mei Anqi menyentuh lengan tebal Raja Yan yang masih mencengkeram wajahnya. Seraya menahan sakit, dia bersumpah, “Demi Dewa, saya bersumpah bahwa saya tidak berniat untuk memanjat status melalui ranjang Yang Mulia!” Sumpah atas nama Dewa dianggap sangat sakral. Itulah yang diketahuinya melalui ingatan pemilik tubuh asli. Benar saja, Raja Yan perlahan kembali tenang. Mengibaskan tangan, membuat si gadis terhuyung mundur beberapa langkah. Nyaris jatuh terjerembab. “Karena kau sudah bersumpah, lakukan sesukamu.” ‘Berhasil!’ Diam-diam Anqi bersorak penuh kemenangan. “Terima kasih, Yang Mulia! Saya pasti akan merawat anda sebaik mungkin!” Setelahnya, Mei Anqi akan menunjukkan kecerdasannya secara bertahap. Sebelum itu, dia harus pergi ke perpustakan sesering mungkin. Supaya kecerdasannya yang tiba-tiba tidak dicurigai. Raja Yan hanya menatap sekilas Mei Anqi. Mendadak teringat kata-kata salah satu prajurit sebelumnya. Benarkah dia terlalu mengurung Mei Anqi? Pria tampan berhanfu hitam itu lantas menatap Mei Anqi sekali lagi. Yang sedang bahagia riang.Pria tampan berhanfu hitam itu lantas menatap Mei Anqi sekali lagi. Yang sedang bahagia riang. Baru kemudian ia teringat bahwa memang gadis itu masih muda–berbeda jauh dengan dirinya.
Sementara itu, di seberang, Mei Anqi menahan gugup ketika mendapati kening Raja Yan mengerut tak senang. Dewa, apalagi yang mengganggu suasana hatinya?
“Yang Mulia, ada sesuatu yang saya lakukan salah?” Mei Anqi bertingkah patuh, bertanya sopan. Raja Yan semakin mengerutkan kening lebih dalam. Sekalipun usia Mei Anqi sudah 17 tahun, tapi wajahnya cantik dan imut dengan lemak bayi. Orang akan mengira usianya di bawah 15 tahun. Belum lagi badannya kecil. “Yang Mulia, saya—” “Ayo pergi keluar bersama.” “Hah?” Mei Anqi membeo linglung. Di novel, Raja Yan jelas selalu menyembunyikan Mei Anqi asli karena dianggap sebagai aibnya. “Maksud anda jalan-jalan keluar?” Alurnya berubah? Mungkinkah karena tindakannya berbeda dari pemilik tubuh asli? Raja Yan terlihat tidak sabar, “Mau atau tidak?” Melihatnya semakin marah, Mei Anqi hanya bisa mengangguk patuh. Setuju pergi keluar. Dan begitulah yang terjadi, mereka sungguh keluar bersama. Namun Raja Yan menaiki kuda pribadinya, enggan satu kereta dengan Mei Anqi. Suasana luar mansion ternyata sangat meriah, Mei Anqi membuka tirai kereta sedikit. Niatnya ingin mengintip sebentar. Akan tetapi melihatnya langsung membuatnya terpesona, “Wah, ramai sekali!” Raja Yan menurunkan paksa tirai jendela, “Tetaplah diam dan jangan buat keributan.” “Yang Mulia, anda pelit sekali,” keluhnya kesal. Kembali bersandar ke dinding kereta. “Kalau melihat saja tidak boleh, lantas kenapa kita keluar?” “Kenapa aku merasa kau semakin kurang ajar?” Suara dinginnya membuat bulu kuduk Mei Anqi berdiri. Ia bergegas membuka tirai, kepala kecilnya menyembul imut. Anqi tersenyum pongah, “Yang Mulia marah?” “Diam dan duduklah di dalam.” Mei Anqi menurut, kembali duduk sendirian. Suntuk dan bosan. Ia mulai mengantuk, hendak tertidur saat keretanya bergoyang tanpa aba-aba. Teriakan nyaring seorang wanita terdengar sesaat berikutnya, “Zhen Ming! Kau berani merendahkannku dan lebih memilih seorang penari dari rumah bordil! Beraninya kau meremehkan aku?!” “Putri Yipeng, menyingkir.” Raja Yan langsung mengusir dingin tanpa pikir panjang. Di dalam kereta, Mei Anqi ketakutan seperti kelinci. Baru sebentar lepas dari kandang harimau, takdir menjebaknya agar masuk ke kandang serigala. Bisakah Mei Anqi kabur? Dia ingat nama ‘Yipeng.’ Karena Putri Yipeng termasuk umpan meriam, sama seperti Mei Anqi asli. Perbedaannya, Mei Anqi hanyalah umpan meriam berumur pendek. Lain dari Putri Yipeng, gadis ini adalah umpan meriam berumur panjang yang menjadi batu sandungan terbesar Raja Yan dan tokoh utama wanita! Penyebab Mei Anqi mati tragis di novel juga salah satunya karena hasutan Putri Yipeng. Alhasil Mei Anqi yang sederhana dan bodoh tertipu, hingga berakhir mati mengenaskan ditangan Raja Yan. “Biarkan aku melihat, seberapa menjijikkan wajah pelacur itu hingga kau melindunginya sebegitu keras!” “Siapa bilang aku melindunginya?” Raja Yan masih acuh tak acuh. “Lihat saja jika ingin melihat.” Mei Anqi terbungkam. Tuan, bisakah anda lebih berbelas kasih? Dia akan menangis darah betulan! Putri Yipeng mengibaskan cambuknya, mendengus seraya berkacak pinggang, “Kau sengaja berusaha membuatku semakin marah!” Tak berselang lama, cambuk Yipeng mengenai jendela kereta. Tirainya bergerak hebat dan sobek. Mei Anqi menatap ngeri tirai jendela yang terkoyak. “Biar aku lihat siapa pelacur tak tahu diri yang berani merebut pria milik Putri!” Yipeng berteriak kesal, berjalan cepat ke arah kereta kayu di seberang. Sedangkan Raja Yan hanya diam, seolah mendapat tontonan menarik.Satu bulan kemudian, rumah luas bertuliskan ‘Shen’ itu ditelan kesunyian setelah anggota keluarganya berangkat dini hari menaiki kereta kuda. Para tetangga bertanya-tanya ke mana perginya keluarga Shen? Kepala Desa menjelaskan adanya kepentingan pribadi yang mengharuskan keluarga Shen pindah ke tempat lain. Sehingga rumah luas itu kini dihuni Nenek Chu seorang. Mak comblang dari Kota Xiyu terkejut mendengar calon pengantin terbaiknya pergi tiba-tiba sampai membatalkan acara pernikahan. Wanita tersebut bergegas ke rumah Shen siang hari untuk bertanya kepada Nenek Chu, tetapi Nenek Chu dengan sopan mengusirnya keluar rumah. Tidak ada yang tahu apa alasan kepergian mendadak keluarga Shen. ***Dua minggu sejak hari keberangkatan.“Sebentar lagi kita akan sampai,” ucap Zhen Ming, tangan kanannya meremas pelan jemari lentik Mei Anqi. “Kamu gugup?”Kabar kepulangannya tersebar ke seluruh pengikut, besar kemungkinan sejumlah Pemimpin Klan hadir menyambut kedatangannya. “Yang Mulia, sa
Suara derit pintu memecah hening. Gema derap langkah kaki datang bersamaan dengan aroma harum melati yang memenuhi udara. “Yang Mulia?” Mei Anqi baru saja selesai mandi setelah pulang dari ladang. “Jiali bilang anda sakit, apa yang terjadi?” Tubuh protagonis pria disebutkan sebagai manusia anti penyakit. Jadi Anqi terkejut ketika putrinya berteriak memintanya pulang untuk merawat Zhen Ming. Pria diranjang bergeming, tampak tertidur dengan posisi telentang. Tanpa selimut atau lapisan hanfu tebal. Lengan Anqi menyibak tirai ranjang, kemudian duduk di tepian. “Yang Mulia?” panggilnya bersuara pelan. Ujung jemari Anqi tersentak, tersengat suhu panas kulit Zhen Ming. Pria ini demam tinggi! Ia berlari keluar meminta kompres air, bubur, dan obat ke orang rumah. Lalu kembali ke kamar. “Yang Mulia, bangun dulu. Yang Mulia?” Tidur Zhen Ming terusik tepukan ringan dipipi kanannya, pria itu membuka kelopak matanya malas. Dahinya berkeringat merasakan hawa panas di sekujur tubu
“Tapi kami terlanjur memesan sepasang gaun pengantin, Yang Mulia.'' Bibi Chen mengungkapkan protesnya karena Zhen Ming berencana pindah ke Mansion Yan. Pria dikursi bambu itu menyentuh pelipis yang berdenyut. “Aku juga tidak mau pindah secepat ini, Bibi.” Pernikahannya dengan Mei Anqi dapat dilangsungkan sekitar dua bulanan lagi. Namun Kaisar Wu mengirim dekrit perintah memintanya bergegas pulang. Kaisar Wu dengan murah hati rela memberi kompensasi emas dan perak sebagai penebusan liburan Zhen Ming yang terpotong. “Nona sudah tahu rencana kepulangan kita?” Bibi Chen bertanya gusar. Nona Mei tampak menyukai suasana tenang nan sederhana, seperti di Desa Xinlong. Bagaimana jika Nona Mei menolak ikut kembali ke Mansion Yan? Hubungan baik Zhen Ming dan Mei Anqi baru berlangsung sebentar, apabila harus terbentang jarak jauh. Bukankah hubungan mereka berisiko merenggang? Bibi Chen tidak mau itu sampai terjadi! “Belum, aku tidak tahu cara menjelaskan kepulangan kita padanya,” s
“Yang Mulia, anda serius?” Suara Mei Anqi bergetar halus. Ia menatap stempel ditangannya, ragu. “Tidakkah anda takut saya akan membawa lari benda ini?” “Aku lebih takut kehilanganmu lagi,” timpal Zhen Ming serius. “Apa gunanya status Raja jika kau tak bisa bersanding di sisiku? Aku rela menyerahkan segalanya untukmu.” Zhen Ming berlutut di depan wanita yang kini duduk di tepi ranjang. Ia sandarkan dirinya ke pelukan berbau melati itu, kemudian menutup mata. Kedua lengannya mengunci pergerakan tubuh rampingnya. Pria ini pandai sekali membuatnya goyah, batin Anqi. Seandainya saja kesenjangan gender dihapus dari Kekaisaran, Mei Anqi bisa melanjutkan hidup bermodalkan kemampuan pribadinya tanpa kawatir. Ia punya potensi untuk membangun bisnis, memulai hidup mandiri tanpa bergantung pada Raja Yan. Seribu sayang Dinasti Han belum mampu menerima kenyataan bahwa wanita bisa mengungguli seorang pria. Risiko terburuk jika dia bersikeras membangun karir sebagai wanita berstatus j
“Yang Mulia.” “Hm?” Jemari Zhen Ming sibuk menyisir surai legam Qiqi, mata hitamnya merunduk menikmati indahnya helaian halus wanita itu. “Kenapa? Seseorang mengganggumu?” Mendengar nada bicaranya tiba-tiba berubah dingin diselimuti intimidasi kuat, wanita dikursi meja rias menarik sudut bibirnya. Pria ini mencintainya, kan? Seberapa jauh cinta itu? Haruskah ia mengujinya secara langsung? “Tidak, bukan apa-apa. Saya ingin mengatakan warna merah cocok untuk anda.” Raja Yan jarang menggunakan hanfu berwarna cerah. Tetapi malam ini tubuh tinggi atletisnya dibalut hanfu jubah kemerahan. Warna cerah membantu mengurangi kesan galak dari sosok Zhen Ming. “Benarkah?” Terbatuk sebelum menjawab, Zhen Ming mendengus penuh kepuasan. “Bibi Chen membelinya tadi pagi. Dia bilang, kamu akan menyukainya jika aku pakai malam ini.” Bibi Chen sangat bekerja keras demi hubungannya dengan Zhen Ming. Mei Anqi tersenyum lembut, cermin perunggu dimeja rias memantulkan paras cantiknya
“Wanita bangsawan mana yang musti aku hindari?” Xiao bersaudari bertukar pandangan. “Nona, sebelumnya mohon maaf jika perkataan saya lancang. Mengapa anda peduli dengan itu?” Suara Xiao Bai melirih sedih. “Anda meragukan perlindungan Yang Mulia?” “Tidak, bukan begitu maksudku. Jangan salah paham dulu,” potong Mei Anqi cepat. Ia buru-buru menjelaskan. “Metode pertarungan wanita bangsawan kejam, aku harus tahu siapa musuhku agar bisa melindungi diriku sendiri dan anak-anak.” Wanita bangsawan dilahirkan dengan berkat kemuliaan tertinggi. Hidup bergelimang harta, ditakdirkan menikahi pria mapan dan kaya, kemudian menjadi nyonya yang sukses melahirkan seorang putra. Cerita seperti itu bagaikan mimpi terindah bagi para wanita bangsawan. Kesuksesan hidup wanita pada era ini diukur dari seberapa hebat suami dan putra yang dilahirkannya. Mei Anqi— sebagai mantan penghibur di rumah pelacuran, tak punya latar bangsawan namun berhasil memberikan dua putra dan satu putri sekaligus. P







