Share

#4. Lewat Ranjangku

Author: azzurayna
last update Last Updated: 2025-10-27 19:23:20

Keesokan harinya, Mei Anqi terbangun sendirian di atas ranjang. Sisi kosong di sebelah sudah dingin, Raja Yan pasti bangun sejak subuh.

Anqi memanggil lemah, suaranya serak parah, “Xiao Bai, Xiao Yun.”

“Anda sudah bangun, nona,” Xiao Bai menyapa sopan. Meletakkan baskom air ke tanah. “Nona, saya akan membersihkan anda.”

“Um.” Mari lupakan rasa malu, tubuhnya sakit semua. Mei Anqi disiksa kembali semalam hingga jam 2 pagi.

Xiao Bai meraih kain basah, mulai membersihkan bagian intim Mei Anqi. Pelayan kecil itu meringis untuk nonanya.

Dengan tubuh mungil Mei Anqi, Raja Yan masih bersikap kasar.

Mei Anqi tidak tahu ketika dua pelayan kecil ternyata diam-diam mengasihaninya. Karena dia pun mengasihani kemalangannya sendiri.

Di kehidupan pertama, dia dicap sebagai istri tidak berguna karena sulit hamil, mertuanya membencinya, dan dia sendirian.

Suaminya bahkan lebih tak berguna lagi. Hanya tahu cara menuntut, marah, dan memukulinya.

Yah, setidaknya, meski dia ditakdirkan mati ditangan Raja Yan menurut alur novel. Mei Anqi untungnya merasuk ketika plot utama belum dimulai.

Sehingga masih ada harapan untuk hidup. Mei Anqi tidak akan pernah menyerah! Demi kehidupan makmur, kaya, dan santai, dia akan bekerja keras!

Luluhkan Raja Yan, buat dia percaya padanya, kemudian bertemanlah!

“Nona, anda baik-baik saja?” Xiao Yun bertanya kahwatir, gugup kala mendapati sang nona tersenyum bodoh.

Mei Anqi melambaikan tangannya, “Aku baik-baik saja. Sarapan apa yang dimasak dapur?”

“Bubur jagung, kue osmanthus, dan sup jahe dengan kaldu ayam. Ini bagus bagi kesehatan anda.”

“Mana dagingku?”

“Tidak ada daging, mulai sekarang Yang Mulia melarang konsumsi daging dipagi hari bagi nona. Makanan berat tidak baik untuk tubuh yang lemah.”

Gadis di ranjang membuka mata dalam sekejap, membola kaget. “Apa maksudnya?” Meski mungil, Anqi cukup kuat. Dia hanya lemah setelah digauli oleh sang Raja.

“Itu ...” Xiao Yun dan Xiao Bai anehnya sama-sama merona. Seakan malu.

‘Oh, Dewa. Selamat tinggal, sepertinya aku akan mati di ranjang Raja Yan.’ Pikir Mei Anqi pasrah.

Kalau dia menolak, janjinya semalam akan dipertanyakan. Tidak bagus. Jangan buat Raja Yan curiga padanya.

Rasanya lebih buruk dari kerja lembur kantoran. Yah, apa boleh buat. Demi nyawa, dia bersedia tunduk dan merendah.

“Yang Mulia sekarang ada di mana?”

“Beliau ada di halaman pelatihan. Melatih sejumlah prajurit baru.”

“Bukankah perang sudah berakhir? Untuk apa menambah begitu banyak?”

Ekspresi wajah Xiao Yun lebih serius, “Perseteruan perebutan takhta sudah dimulai. Meski Yang Mulia tidak memiliki niat untuk terlibat, kami tetap perlu antisipasi bila saja Yang Mulia akan dijadikan kambing hitam selama perseteruan berlangsung.”

Alasan lain Mei Anqi kurang suka era dinasti ialah perseteruan politiknya terlalu berdarah.

Apalagi Raja Yan, sebagai pangeran bungsu yang tidak disukai. Dia akan menjadi sasaran empuk dan berpotensi dijadikan kambing hitam oleh saudara-saudaranya.

Belum lagi prestasinya sebagai pahlawan perang. Serta nama baiknya yang diagungkan rakyat melebihi Kaisar.

Kaisar pasti akan semakin waspada dan tidak menyukai putranya satu ini.

Di novel, kehidupan Raja Yan dijelaskan agak tragis sejak kecil. Ia dibenci mendiang Ibu Selir, diacuhkan oleh Kaisar, dan sering ditargetkan Permaisuri karena bakatnya dianggap sebagai ancaman.

Dilihat kembali, Raja Yan cukup menyedihkan. Karakternya yang dingin dan sensitif jelas didalangi oleh masa lalu yang kelam.

Oleh sebab itu, Mei Anqi berencana menjalin hubungan pertemanan bersama Raja Yan. Sebagai sahabat, dia akan mengajarkan pria iblis itu tentang perasaan manusia. Lagi pun, dia juga mengincar posisi penasihat Raja.

Jadi ada baiknya berteman akrab.

“Xiao Bai, Xiao Yun, bantu aku bersiap.”

“Baik, nona,” jawab keduanya serempak.

Mei Anqi bergegas ke halaman pelatihan setelah mandi, makan, dan bersolek. Hari ini gaunnya berwarna merah muda lembut.

Warna indah gaunnya menyatu dengan warna bunga haitang di halaman.

Raja Yan berhenti melatih para prajurit, menatap diam sosok mungil yang berlari mendekat dari kejauhan.

“Dia si budak kecil milik Yang Mulia?” Salah satu prajurit dibarisan berbisik ke temannya.

“Ya, kabarnya dia juga berselingkuh di belakang Yang Mulia dan membuatnya murka.”

“Pantas saja, dengan wajah secantik itu. Aku pun tak akan rela berbagi dengan pria lain.”

“Karena itu Yang Mulia selalu mengurungnya di mansion.”

“Kalian sepertinya membicarakan sesuatu yang menyenangkan?” Raja Yan perlahan berhenti di depan dua prajurit muda penggosip. “Katakan padaku apa yang kalian bicarakan.” Intonasi datarnya menghantarkan perasaan menindas tak kasat mata.

Dua prajurit muda tersebut lantas berlutut lantaran takut setengah mati. Bahu mereka bergetar hebat.

“Mohon ampun, Yang Mulia!”

“Yang Mulia, kami bersalah!”

Menyipitkan mata phoenixnya, Raja Yan mendengus. Berujar dingin, “Lari putari mansion seratus kali.”

Mei Anqi yang baru sampai, terkejut mendengar hukumannya kejam seperti dinovel. Seratus kali ... dia berdoa semoga dua prajurit itu tidak mematahkan kaki mereka saat berlari.

“Apa?” sentak Raja Yan galak dan dingin.

Mei Anqi menggeleng ketakutan, lalu tersenyum manis. “Saya ingin di sisi Yang Mulia, semalam saya sudah berjanji akan melayani anda sebaik mungkin!”

Rencana selanjutnya, dapatkan izin Raja Yan supaya dia bisa menjadi pelayan pribadinya!

Semakin banyak waktu yang dihabiskan bersama, akan semakin baik hasilnya, hehe!

“Maksudmu, kau ingin menjadi pelayan di sisi Yang Mulia ini?”

“Ya, ya, ya!”

Melihat kegirangan Mei Anqi, pikiran Raja Yan teralihkan sesaat. Dia menoleh ke barisan prajurit baru, berkata acuh, “Bubar. Latihan pagi selesai.”

“Baik, Yang Mulia!”

Semua prajurit telah pergi berlari terbirit-birit. Meninggalkan halaman luas tersebut.

Raja Yan kembali menjatuhkan padangan pada wajah putih Mei Anqi, “Katakan rencanamu.”

“Rencana? Rencana apa yang mulia?”

“Kau pikir aku bodoh?”

Sesaat kemudian, Mei Anqi merasakan cengkeraman pada rahangnya. Tubuhnya tersentak, terseret hingga menempel ke dada kuat Raja Yan.

Pinggangnya dicubit cukup keras, membuat Mei Anqi semakin meringis. Hatinya bergetar, mungkinkah kelicikannya terendus?

Sebelum Anqi memberi penjelasan, suara dingin Raja Yan menyerobot penuh intimidasi.

“Jika kau berpikir untuk memanjat status melalui ranjangku, berhentilah berkhayal! Kau tidak pantas!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Budak Cantik sang Raja Arogan   #189. Sakit

    Suara derit pintu memecah hening. Gema derap langkah kaki datang bersamaan dengan aroma harum melati yang memenuhi udara. “Yang Mulia?” Mei Anqi baru saja selesai mandi setelah pulang dari ladang. “Jiali bilang anda sakit, apa yang terjadi?” Tubuh protagonis pria disebutkan sebagai manusia anti penyakit. Jadi Anqi terkejut ketika putrinya berteriak memintanya pulang untuk merawat Zhen Ming. Pria diranjang bergeming, tampak tertidur dengan posisi telentang. Tanpa selimut atau lapisan hanfu tebal. Lengan Anqi menyibak tirai ranjang, kemudian duduk di tepian. “Yang Mulia?” panggilnya bersuara pelan. Ujung jemari Anqi tersentak, tersengat suhu panas kulit Zhen Ming. Pria ini demam tinggi! Ia berlari keluar meminta kompres air, bubur, dan obat ke orang rumah. Lalu kembali ke kamar. “Yang Mulia, bangun dulu. Yang Mulia?” Tidur Zhen Ming terusik tepukan ringan dipipi kanannya, pria itu membuka kelopak matanya malas. Dahinya berkeringat merasakan hawa panas di sekujur tubu

  • Menjadi Budak Cantik sang Raja Arogan   #188. Rahasia Latar Belakang Anqi

    “Tapi kami terlanjur memesan sepasang gaun pengantin, Yang Mulia.'' Bibi Chen mengungkapkan protesnya karena Zhen Ming berencana pindah ke Mansion Yan. Pria dikursi bambu itu menyentuh pelipis yang berdenyut. “Aku juga tidak mau pindah secepat ini, Bibi.” Pernikahannya dengan Mei Anqi dapat dilangsungkan sekitar dua bulanan lagi. Namun Kaisar Wu mengirim dekrit perintah memintanya bergegas pulang. Kaisar Wu dengan murah hati rela memberi kompensasi emas dan perak sebagai penebusan liburan Zhen Ming yang terpotong. “Nona sudah tahu rencana kepulangan kita?” Bibi Chen bertanya gusar. Nona Mei tampak menyukai suasana tenang nan sederhana, seperti di Desa Xinlong. Bagaimana jika Nona Mei menolak ikut kembali ke Mansion Yan? Hubungan baik Zhen Ming dan Mei Anqi baru berlangsung sebentar, apabila harus terbentang jarak jauh. Bukankah hubungan mereka berisiko merenggang? Bibi Chen tidak mau itu sampai terjadi! “Belum, aku tidak tahu cara menjelaskan kepulangan kita padanya,” s

  • Menjadi Budak Cantik sang Raja Arogan   #187. Ciuman

    “Yang Mulia, anda serius?” Suara Mei Anqi bergetar halus. Ia menatap stempel ditangannya, ragu. “Tidakkah anda takut saya akan membawa lari benda ini?” “Aku lebih takut kehilanganmu lagi,” timpal Zhen Ming serius. “Apa gunanya status Raja jika kau tak bisa bersanding di sisiku? Aku rela menyerahkan segalanya untukmu.” Zhen Ming berlutut di depan wanita yang kini duduk di tepi ranjang. Ia sandarkan dirinya ke pelukan berbau melati itu, kemudian menutup mata. Kedua lengannya mengunci pergerakan tubuh rampingnya. Pria ini pandai sekali membuatnya goyah, batin Anqi. Seandainya saja kesenjangan gender dihapus dari Kekaisaran, Mei Anqi bisa melanjutkan hidup bermodalkan kemampuan pribadinya tanpa kawatir. Ia punya potensi untuk membangun bisnis, memulai hidup mandiri tanpa bergantung pada Raja Yan. Seribu sayang Dinasti Han belum mampu menerima kenyataan bahwa wanita bisa mengungguli seorang pria. Risiko terburuk jika dia bersikeras membangun karir sebagai wanita berstatus j

  • Menjadi Budak Cantik sang Raja Arogan   #186. Serahkan Stempel Rajamu, Yang Mulia

    “Yang Mulia.” “Hm?” Jemari Zhen Ming sibuk menyisir surai legam Qiqi, mata hitamnya merunduk menikmati indahnya helaian halus wanita itu. “Kenapa? Seseorang mengganggumu?” Mendengar nada bicaranya tiba-tiba berubah dingin diselimuti intimidasi kuat, wanita dikursi meja rias menarik sudut bibirnya. Pria ini mencintainya, kan? Seberapa jauh cinta itu? Haruskah ia mengujinya secara langsung? “Tidak, bukan apa-apa. Saya ingin mengatakan warna merah cocok untuk anda.” Raja Yan jarang menggunakan hanfu berwarna cerah. Tetapi malam ini tubuh tinggi atletisnya dibalut hanfu jubah kemerahan. Warna cerah membantu mengurangi kesan galak dari sosok Zhen Ming. “Benarkah?” Terbatuk sebelum menjawab, Zhen Ming mendengus penuh kepuasan. “Bibi Chen membelinya tadi pagi. Dia bilang, kamu akan menyukainya jika aku pakai malam ini.” Bibi Chen sangat bekerja keras demi hubungannya dengan Zhen Ming. Mei Anqi tersenyum lembut, cermin perunggu dimeja rias memantulkan paras cantiknya

  • Menjadi Budak Cantik sang Raja Arogan   #185. Jiwa Modern Lain?

    “Wanita bangsawan mana yang musti aku hindari?” Xiao bersaudari bertukar pandangan. “Nona, sebelumnya mohon maaf jika perkataan saya lancang. Mengapa anda peduli dengan itu?” Suara Xiao Bai melirih sedih. “Anda meragukan perlindungan Yang Mulia?” “Tidak, bukan begitu maksudku. Jangan salah paham dulu,” potong Mei Anqi cepat. Ia buru-buru menjelaskan. “Metode pertarungan wanita bangsawan kejam, aku harus tahu siapa musuhku agar bisa melindungi diriku sendiri dan anak-anak.” Wanita bangsawan dilahirkan dengan berkat kemuliaan tertinggi. Hidup bergelimang harta, ditakdirkan menikahi pria mapan dan kaya, kemudian menjadi nyonya yang sukses melahirkan seorang putra. Cerita seperti itu bagaikan mimpi terindah bagi para wanita bangsawan. Kesuksesan hidup wanita pada era ini diukur dari seberapa hebat suami dan putra yang dilahirkannya. Mei Anqi— sebagai mantan penghibur di rumah pelacuran, tak punya latar bangsawan namun berhasil memberikan dua putra dan satu putri sekaligus. P

  • Menjadi Budak Cantik sang Raja Arogan   #184. Mempersiapkan Diri

    “Kamu meninggalkanku setelah menggodaku.” Zhen Ming mengeluh setibanya didapur dini hari. Dengan cemberut ia tumpukan dagunya ke puncak kepala Qiqi. Wanita itu sedang sibuk memotongi kue buatannya untuk anak-anak. “Saya? Siapa yang menggoda siapa? Haruskah saya mencarikan anda cermin, Yang Mulia?” “Nyonya, bicaramu menyakitiku.” “Kamu juga sama saja di masa lalu.” Lalu Zhen Ming mengunci rapat bibirnya, kalah telak mengadu argumen bersama gadis kecil ini. Mau sekarang atau masa lampau, kefasihan Qiqi belum berubah. “Baiklah, aku salah.” “Baguslah karena anda tahu anda salah.” “Jadi kapan kamu akan memaafkanku seutuhnya?” “Entahlah, mengapa anda terus memaksa saya? Bukannya anda bilang bersedia menunggu? Atau ... ucapan anda sebelumnya ternyata rayuan belaka?” “Mustahil!” “Kalau mustahil sesuai pengakuan anda, jangan ganggu saya pagi-pagi begini.” Ia berbalik, memutar tubuh ramping yang terbalut hanfu biru cerah. Rambut panjangnya dikepang menyamping ke sampi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status