LOGIN“Biar aku lihat siapa pelacur tak tahu diri yang berani merebut pria milik Putri!” Yipeng berteriak kesal, berjalan cepat ke arah kereta kayu di seberang.
Di dalam kereta, Mei Anqi memutar akal secepat kilat. Bagaimana ini? Bagaimana ini? Dewa, bisakah Mei Anqi bernafas nyaman sejenak? Ia benar-benar dihantam masalah tiada akhir begitu bertransmigrasi! ‘Semoga cara ini berhasil, Dewa tolong beri kemudahan pada pengikutmu!’ pekik Mei Anqi dalam hati. Ia menarik nafas panjang, kemudian menarik sejumput rambut dari sanggulannya agar terlihat berantakan. Tak lupa membuat hanfu merah mudanya terlihat kusut. Bagus! Dia akan berpura-pura seperti kelinci putih yang baru bangun tidur dan memanfaatkan keindahan wajahnya! “Pelacur—!” Putri Yipeng terkejut kaku ketika menyibak tirai rusak. Sosoknya tinggi dan ramping, dengan sentuhan pesona prajurit wanita. “Zhen Ming,” panggilnya tiba-tiba tanpa mengalihkan padangan dari wajah Mei Anqi. Pria tinggi gagah di atas kuda hitam lantas menoleh apatis, bertanya tak sabar, “Apalagi? Sudah cukup melihat?” Putri Yipeng ingin berteriak marah karena responnya terlalu menyebalkan. Namun dia berhenti kala mendapati tangannya diraih sepasang lengan kecil. Tatapan mata hitamnya kembali pada Mei Anqi yang diam seraya menatapnya lamat-lamat. Entah mengapa, Putri Yipeng merasa gatal dihatinya. “Hei! Beraninya matamu menatap putri ini? Kurang ajar!” sentaknya mengibaskan tangan Mei Anqi darinya. Gadis muda di dalam kereta mengerutkan bibirnya, terlihat ketakutan dengan air mata. “Apakah nona peri marah padaku?” tanyanya sedih disertai kegugupan. Mei Anqi melihat bahwa Putri Yipeng segera terbatuk, telinga putihnya semerah kepiting rebus. Dewa, berhasil! Menurut novel, Putri Yipeng menyukai hal-hal imut dan kecil. Oleh sebab itu di mansion Putri terdapat banyak hewan peliharaan berbulu. Dia yakin sepenuhnya kalau penampilannya lebih dari cukup untuk membuat Putri Yipeng terpancing. “Sialan ...” Mei Anqi mendengar Putri Yipeng mengumpat rendah. Ia pikir inilah kesempatan berikutnya, dia mendekatkan diri hati-hati ke Putri Yipeng. Mata besarnya berseri-seri, “Nona peri, bolehkah Qiqi tahu nama anda?” Putri Yipeng semakin malu, mengulurkan cambuknya sambil mendengus. “Siapa yang kau panggil peri! Pelacur ini benar-benar pandai berkata manis!” Gawat, gawat, Mei Anqi buru-buru menggeleng lucu. Terlihat lugu dan penurut, “Qiqi tidak berbohong. Manusia secantik nona hanya bisa disebut peri, Qiqi membacanya dari buku saat kecil.” Dari samping Zhen Ming dikejutkan oleh akting luar biasa Mei Anqi. Alis tajamnya curam ke dalam, benar saja, gadis kecil ini memiliki sesuatu yang mendalam dibalik lengan bajunya. Mei Anqi juga melirik melalui sudut mata, mendapati Raja Yan bergeming seperti batu di atas kuda. Lupakan sebentar leluhur besar itu, dia harus memuaskan leluhur lain di depannya. “Nona peri, bolehkah Qiqi ikut dengan anda?” Anqi bertanya malu-malu, pipi putih gembilnya berseri. Menarik sudut lengan hanfu Putri Yipeng. Pelayan di sisi Putri Yipeng refleks menampar tangan kecil Mei Anqi, sesaat setelahnya, tangannya langsung bengkak dan memerah. Mei Anqi berterima kasih pada saudari, hehe. Semakin menyedihkan, semakin mengundang belas kasihan. Mei Anqi lantas menarik tangannya tergesa-gesa, bergetar takut. Mata cerahnya berair, melirik enggan pada Putri Yipeng, “M-maafkan Qiqi! Nona peri sangat mulia, Qiqi tidak seharusnya menyentuhnya!” Pemandangan Mei Anqi menangis akan meluluhkan hati siapapun. Termasuk Putri Yipeng, dia paling tidak tahan melihat gadis cantik menangis. Apalagi Anqi terlihat sangat muda dan imut, seperti seekor kucing susu kecil. Yipeng pun menendang pelayan yang berani memukul tadi, mengayunkan cambuk dua kali. Kemudian berteriak kejam, “Berani sekali memukul tanpa perintah dariku! Aku putrinya atau kamu putrinya, hah?!” Pelayan tadi bersujud di tanah, punggungnya terluka akibat bekas cambukan. “Yang Mulia! Mohon ampun! Rendahan ini melewati batas, harap putri menghukumnya!” “Seret dia dan bawa kembali, beri cambukan dan pukulan papan tiga puluh kali!” Mendengar hukuman beratnya, Mei Anqi menahan gemetar dihati. Penjahat utama memang luar biasa, hampir saja dia yang akan dicambuk dan dipukul dengan papan! Di dunia kejam seperti era dinasti, jika kamu tidak pintar memanfaatkan kesempatan, maka bersiaplah untuk mati kapan saja. Hidup lebih lama atau mati lebih awal, semua tergantung kemampuan masing-masing orang. “Nona peri—” Mei Anqi belum sempat selesai berbicara, karena pipinya dicubit tanpa permisi dan ditarik seperti adonan kue. “No-nona peri?” beonya bingung sekaligus ngeri. Putri Yipeng mendengus, tampak kesal. Lalu menoleh ke Zhen Ming, “Hei, berapa harga gadis ini? Aku akan membelinya!” Paras cantik Mei Anqi pucat pasi, tidak ... kenapa jadi seperti ini? Anqi ingin memutar matanya dan pingsan. Sayangnya wajahnya diremas lagi oleh Putri Yipeng, membuatnya tetap sadar. Dia tadi hanya bercanda ingin dibawa pulang, tidak lain hanya untuk melunakkan hati Putri Yipeng. Siapa sangka penjahat besar ini bersungguh-sungguh ingin membawanya pulang? Zhen Ming juga terkejut mendengar permintaan Putri Yipeng. “Yi Jiaojiao, perhatikan sikapmu!” “Bukankah aku yang seharusnya bilang begitu?” Putri Yipeng membalas sengit, tak mau kalah. Sekalipun nama lengkapnya sampai disebut, dia tak gentar. “Kau ternyata sangat bajingan karena merayu gadis di bawah umur dengan usia tuamu, ck!” Mei Anqi bersembunyi di balik jendela, aneh rasanya kala melihat Raja Yan dan Putri Yipeng bertengkar karenanya. “Haruskah aku pergi menengahi?” cicitnya takut. Baik itu Raja Yan atau Putri Yipeng, keduanya adalah pintu neraka. Hanya beda jalurnya saja. Saat Mei Anqi bertarung dengan pikirannya sendiri, dia kagetkan oleh teriakan Putri Yipeng. “Hei, pelacur kecil! Sekarang pilihlah, ingin ikut aku atau ikut Zhen Ming si bajingan pedofil itu?!” “Yi Jiaojiao!” geram Raja Yan, giginya berderak menahan amarah. Turut menatap Anqi, tatapannya sangat bengis. Anqi ingin menangis di depan Dewa dan bersujud, bisakah dia berlari sekarang? Apabila menolak Putri Yipeng, dia akan ditargetkan sebagai musuh sesuai plot dan usahanya tadi akan sia-sia. Namun, jika dia setuju untuk mengikuti Putri Yipeng. Maka sudah dapat dipastikan Raja Yan yang pendendam akan membunuhnya tanpa ampun. Mei Anqi melirik bolak-balik antara Putri Yipeng dan Raja Yan. “A-aku ...”Zhen Ming memberi penjelasan singkat mengenai situasi yang sedang terjadi saat ini. Ia turut membeberkan bagaimana Paman Su membujuknya bekerja sama dengan Suku Xiong Nu. Fu Huaicheng menggertakan gigi marah, “Bajingan sampah itu punya nyali melawan langit!” “Paman, sebenarnya apa alasan pecahnya kelompok pemberontak?” Gao Yan melontarkan pertanyaan yang mengganjal dihatinya. “Jika hanya karena lelah menunggu kepastian dari Yang Mulia, kedengarannya kurang masuk akal.”Berapa lama keluarga mereka mengabdi kepada Dinasti Qin? Dan berapa lama pula mereka, para pemberontak, berjuang bersama untuk mengacaukan pemerintahan awal Dinasti Han?“Aku juga ingin mendengarnya, Paman Fu.” Suara dingin Zhen Ming meruntuhkan pertahanan terakhir pria paruh baya itu. Helaan napas panjang dikeluarkan oleh Fu Huaicheng. Bibirnya mengerut benci sebelum mulai menjelaskan dengan teliti. “Selalunya, kami sangat akur satu sama lain dan patuh menunggu Yang Mulia menurunkan perintah kepada kami. Sampai su
“Apa!?” Zhen Xuan sedikit bangkit dari duduk, tangannya memukul keras permukaan meja. “Si maniak obat itu sungguhan terlibat dalam konflik Istana saat ini? Bahkan dalangnya adalah dia!” Dari semua pangeran Istana yang terlahir dengan berbagai latar belakang kuat, mungkin hanya Raja Rong— Zhen Molin yang paling tidak tertarik merebut takhta. Seorang pangeran terbuang seperti Zhen Xuan saja mengetahui rahasia umum tersebut. Ibu Selir dari Raja Rong sempat mengalami depresi sering memukuli putranya yang dianggap tidak berbakti. Para selir melahirkan seorang pangeran bertujuan untuk mendudukan putra mereka di singgasana naga. Hal itu berlaku pada Ibu Selir Raja Rong. Namun Raja Rong kecil keras kepala dan pendiam. Sifatnya yang dianggap aneh membuatnya dijauhi anak-anak bangsawan seumuran. Zhen Xuan sering mendengar para pelayan menggunjing Zhen Molin, menyebutnya sebagai Pangeran terkutuk. Seseorang sekelas Permaisuri Wei saja sampai melewatkan Selir Yong— Ibu Selir d
“Tuan, wanita suci datang.” Pelayan penjaga pintu memberi kabar sebelum mundur meninggalkan ruangan. Xiao Mi membantu melepaskan jubah hangat dari bahu Mei Anqi. Bahu rampingnya yang bulat dan proposional tampak indah dibalik selapis kain tipis transparan. Aroma wewangian bunga bercampur harum manis susu melayang semerbak memenuhi setiap sudut ruang. Dayang muda itu pamit undur diri membiarkan Mei Anqi berduaan dengan Lian Fengjue. “Ah Jue.” Suara lembut Mei Anqi memanggil lambat, bahkan dari suaranya saja hasrat Lian Fengjue langsung dibangkitkan. Pria di balik tirai mencengkeram erat cangkir teh ditangan kanan. Alis tajamnya yang panjang mengerut kesal. Lian Fengjue membenci nafsunya sendiri yang mudah terpatik ketika bersama wanita suci. “Apa lagi yang perlu kamu kerjakan di malam hari?” Omelan pendek Mei Anqi berikan, ia cemberut saat berjalan melintasi papan pembatas. “Ayo tidur. Kamu masih harus berangkat pagi besok.” Batuk canggung keluar dari bibir merah L
“Wanita suci...” Lian Fengjue menghentikan langkahnya, membentang jarak lebar antara ia dan wanita diayunan rotan. “Menungguku dari tadi siang?” Sendi tulang jemari putihnya menggulung, meremas di belakang punggung lurus tegaknya. Memikirkan wanita suci menunggunya pulang menimbulkan rasa senang karena kepulangannya dinantikan. Wanita diayunan rotan meminta dua dayang mundur pergi dari halaman tersebut. Lalu melambaikan tangannya meminta Lian Fengjue mendekat. “Iya, aku menunggu Ah Jue sedari siang tadi. Kemana saja kamu sampai baru pulang larut malam begini?” Jubah putih bersih Lian Fengjue bergerak ketika kaki panjangnya melangkah mantap mendekati ayunan di depan. Ia merelakkan wajahnya disentuh lembut oleh tangan halus wanita suci. “Maaf, sesuatu terjadi di Istana yang mengharuskan kehadiranku.” “Baiklah.” “Wanita suci marah?” “Coba tebak?” Mei Anqi mencubit keras pipi tipis Lian Fengjue diringi desahan berat pria itu. “Aku hampir mati bosan karena menunggumu pulang, tah
“Putri, surat datang dari Yang Mulia Raja Yan.” Xiao Mi berjalan cepat memasuki ruang kamar, menunduk sesaat lalu mengeluarkan kertas lipat dari lengan hanfu dan menyerahkannya. “Silahkan, Putri.” “Terima kasih, Xiao Mi.” Dayang muda itu mengulas senyuman patuh kemudian pergi berjaga di luar pintu. Mei Anqi fokus mengurai ikatan simpul pita berwarna merah menyala yang mengikat surat. Iris caramelnya berkilat geli tepat saat membaca baris pertama tulisan suaminya. [ Nyonya, jangan berselingkuh. ] Begitulah isi bait pertama pembuka surat. Mei Anqi tersenyum lucu membaca baris berikutnya. Suaminya kurang lebih memberitahunya untuk tetap setia dan tidak tergoda rubah jantan di luaran sana. Dengan bangganya Zhen Ming berkata dia bisa menjadi rubah jantan yang menggoda jika istrinya memang menginginkannya. “Rubah jantan? Pfttt.” Jemari indahnya membelai baris lucu tersebut. “Dasar tidak tahu malu,” gumamnya pelan. Ia menopang dagunya seraya meneruskan membaca curah
Mansion Lian, sore hari. “Wanita suci.” Kelembutan pria berjubah plum itu tertuju ke perempuan di atas ayunan rotan. “Apa kamu merindukan Raja Yan?” Serangan mendadaknya mengejutkan si perempuan. “Tidak.” Mei Anqi mengontrol ekspresi supaya sesuai dengan harapan Lian Fengjue. Bisa mengamuk pria itu kalau dia bilang merindukan suami jahilnya. Sapuan angin ringan di pucuk kepala Mei Anqi menandakan kelegaan Lian Fengjue. “Kenapa Ah Jue tiba-tiba membahas Raja Yan dan mengujiku?” Mei Anqi mengayunkan kedua kakinya yang jauh dari tapakan tanah. “Kamu curiga aku membohongimu, ya?” tekanan suaranya melirih. Lian Fengjue dilanda kecemasan usai melihat respon sedih Mei Anqi. “Aku tidak berani meragukanmu wanita suci.” Jelasnya secepat kilat. ”Aku—aku hanya takut....” “Takut?” Kaki panjang Mei Anqi terjulur ke bawah, menapak bumi sekaligus menghentikan tempo ayunan. Lantas ia menepuki atas pahanya. Seolah diberi aba-aba, sedetik kemudian Lian Fengjue berlutut dan menyandar
“Nona, pelan-pelan saja. Anda bisa tersedak kalau makannya buru-buru begitu!” Xiao Bai berkata panik. Xiao Yun bekerja sama dengan menarik bungkusan kue ke samping tubuhnya supaya tidak bisa dijangkau. “Kue dimulut nona belum habis!” Cemberut, Mei Anqi terpaksa mengunyah sisa kue di mulutnya du
Jemari Cai Lun saling bertautan di bawah meja, pupil hitamnya berpendar melihat acak ke segala arah karena gelisah. “Sa-saya juga tidak tahu,” bisik Cai Lun, ketakutan. “Biasanya saya memang mengurus keuangan dan selama ini pun jumlahnya selalu sesuai. Tapi, hari ini anehnya uangnya hilang banyak
“Sudah sepantasnya saya takut pada sosok agung, Yang Mulia!” Mei Anqi menggeser duduk, berhasil lolos dari sentuhan gegabah Raja Fei. Saat ini, hatinya meratap penuh harap. Semoga Raja Yan lekas datang, atau Xiao Bai kembali mengirim sepiring kue. Siapa saja terserah, dia hanya ingin selamat da
Mei Anqi berjalan sendirian menelusuri halaman kecil di dekat aula utama. Dia baru saja melarikan diri dengan alasan tidak enak badan. Tubuhnya memang terasa tidak nyaman setelah beradu pandang sebentar bersama Raja Fei. Walau pihak lain tetap lembut, dia sebagai pemegang plot— tahu seberapa keja







