MasukTidak mungkin untuk Moira mengatakan yang sebenarnya. Kalau dia dan Sebastian pernah melewati malam panas.
“Hanya kebetulan pernah bertemu. Lalu dia membantuku,” jawab Moira menatap Chris.
Namun, sepertinya Chris kurang puas dengan jawaban Moira, namun dia juga merasa lega karena keduanya tidak memiliki hubungan spesial. Keduanya masuk ke dalam mobil.
Chris mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sesaat ia menatap Moira.
“Belle, sebaiknya kamu berhati-hati pada Bastian, ia memiliki pengaruh besar di kota ini. Dia juga memiliki kekuasaan di mana-mana. Aku tidak ingin dia merepotkanmu,” kata Chris.
Moira hanya menatap Chris. Kini ia mengerti, kenapa malam itu Bastian mau memberinya uang sebanyak itu. Moira mengangguk pelan. Setelah 20 menit berlalu, mobil yang dikendarai oleh Chris menepi di sebuah basemen apartemen mewah di ibukota.
Keduanya turun dari mobil, dan memasuki lift pribadi yang membawa Moira langsung ke unit apartemen mewah yang ditinggali oleh Chris, saat ia bosan pulang ke rumah. Menyadari Chris terus memperhatikannya, Moira akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Ada apa?”
“Tidak ada,” jawab Chris, seraya mengulas senyum tipis.
Lift pun terbuka, membawa Moira masuk ke dalam apartemen milik Chris. Apartemen itu bak hotel bintang lima, mewah sekali. Moira melirik sekelilingnya, dan menebak kalau Chris bukanlah orang biasa. Ia dan Bastian berada dalam level yang sama.
“Kamu bisa duduk di sana.”
Moira duduk di sofa putih yang membentuk ‘L’ Chris pergi mengambil wine dan dua gelas. Lalu, Chris duduk di sebelah Moira, menuangkan wine ke gelas miliknya dan gelas milik Moira. Aroma wine kualitas tinggi begitu harum dan menggoda.
“Bagaimana, kamu suka?” tanya Chris.
Moira yang tidak pernah meneguk wine seenak ini, hanya mampu mengangguk pelan. “Ya, manis.” Moira meneguknya lagi, lalu menundukkan wajahnya.
“Belle,” panggil Chris.
Moira mengangkat wajahnya, menatap Chris. Mata mereka bertemu. Chris perlahan mendekatkan wajahnya dan menatap Moira lebih dalam lagi. Tangannya kini menyentuh leher Moira dan perlahan tangannya menyusup ke bawah pakaian Moira.
Moira memejamkan matanya, hatinya berbicara.
‘Aku pikir kamu berbeda. Ternyata aku salah menilaimu. Faktanya aku hanya seorang gundik yang membutuhkan uang.’
Tubuh Moira gemetar, Chris dapat merasakannya kalau Moira enggan memberikan tubuhnya. Dalam lubuk hati yang paling dalam, Moira tidak menginginkan Chris melucuti pakaiannya. Apalagi sampai menjamah tubuhnya.
Namun, karena ia sudah mengatakan akan menemaninya. Jadi, Moira tidak dapat mengingkarinya. Moira perlahan membuka kancing kemeja yang dikenakannya. Ada rasa kecewa, karena Chris tidak sesuai dengan harapannya.
Chris tersenyum kecil, memperhatikan Moira yang masih memejamkan mata seraya membuka satu persatu kancing kemeja. Namun, dengan begitu tiba-tiba sebuah tangan menghentikannya. Sontak Moira membuka mata dan terkejut.
Melihat Chris menghentikan Moira untuk melanjutkannya. Chris tahu, Moira berat memberikan tubuhnya dan melayaninya malam ini. Mata mereka saling bertatapan lekat, jarak antara mereka begitu dekat. Membuat Moira tidak dapat memalingkan wajahnya.
Di tengah-tengah kecanggungan itu, sebuah kalimat tidak terduga terucap. “Kamu lapar tidak?” tanya Chris yang perlahan bangkit dan berdiri. Moira membeku, sebelum ia bisa menjawab. Suara Chris sudah lebih dulu terdengar. “Aku belum makan malam. Temani aku makan.”
“Oke,” jawab Moira tersenyum tipis dan perlahan merapikan pakaiannya.
Malam itu, Chris memasak steak untuk makan malam mereka. Moira tertegun, karena pria itu memasak sendiri. Moira yang berdiri di seberang meja hanya menatap penuh kekaguman tanpa ia sadari. Setelah itu mereka makan bersama. Moira benar-benar takjub, masakan Chris sangat enak.
“Terima kasih Tuan untuk makan malamnya. Enak,” kata Moira tersenyum.
Chris hanya mengangguk pelan, lalu ia menatap ponsel miliknya lalu menyodorkan ponselnya kepada Moira. Moira tertegun.
“Masukan nomormu,” kata Chris.
Moira masih terkejut, tetapi perlahan mengambil ponsel Chris dan mengetik nomornya. Setelah itu, Chris mencoba menghubungi Moira.
“Kamu harus simpan nomorku. Jika terjadi sesuatu padamu, kamu bisa hubungi aku.”
Moira membelalak, ia menatap Chris hingga suaranya tercekat.
“Terima kasih. Namun, aku tidak ingin terus merepotkan Tuan muda.”
Chris tersenyum tipis, lalu berkata. “Berikan nomor rekeningmu.”
Mendengar itu, Moira terkejut. Dia hanya melayani pria itu makan malam, kenapa ia masih ingin membayarnya?
“Tuan, tidak perlu.”
“Kamu tidak perlu formal, saat berbicara denganku. Menemaniku, makan malam sama saja dengan melayani aku. Berikan nomor rekeningmu.”
Chris menatap Moira lekat. Akhirnya Moira luluh dan memberikan nomor rekeningnya kepada Chris. Ia merasa tidak enak, tetapi ia membutuhkan uang yang banyak. Ia harus menurunkan egonya kali ini.
“Sudah masuk, kamu bisa mengeceknya.”
Secepat itu, Chris mentransfer uang padanya. Moira merogoh ponselnya dan melihat uang sudah masuk, matanya berbinar. “Terima kasih, Tuan.”
Chris tersenyum ramah, lalu meneguk wine miliknya. Setelah itu, Chris mengantarkan Moira. Mengingat hari sudah malam. Saat di basemen apartemen, mereka bertemu lagi dengan Bastian.
Moira merasa dunia ini begitu kecil, bisa-bisanya mereka bertemu lagi di malam yang sama. Senyuman dingin yang mengerikan tercipta di wajah Bastian.
“Kau membuntuti kami?” tegur Moira.
“Kau pikir hanya dia yang memiliki apartemen di sini?!” jawab Bastian dingin.
Moira diam, ia malas berurusan dengan Bastian yang begitu menyebalkan.
“Hei, Nona. Apakah kamu bisa melayani aku, setelah kamu melayani Chris tidur?” tanya Bastian dingin, seraya menatap Chris.
Chris marah, ia maju satu langkah dan menutupi tubuh Moira. Moira tertegun dengan sikap Chris yang seolah sedang melindunginya.
“Jaga ucapanmu Bastian. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Sebaiknya kamu pergi.”
“Aku memiliki hak untuk membawanya malam ini. Karena dia sudah selesai melayanimu, Nona aku bisa membayarmu jauh lebih mahal dari yang Chris berikan.”
“Bastian!” bentak Chris semakin marah.
Mata mereka saling menatap tajam. Moira dapat merasakan perdebatan ini tidak akan berakhir begitu saja.
“Aku tidak akan pergi sebelum membawanya bersamaku.”
“Kau masih saja keras kepala, Bastian.”
Suasa semakin menegang, ia tidak ingin Bastian membuat kegaduhan dan harus merepotkan Chris. Moira yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara lagi.
“Sudah cukup!” kata Moira menengahi mereka. Moira menatap Chris. “Tuan muda terima kasih untuk malam ini. Anda bisa antarkan aku sampai di sini saja. Tidak apa-apa,” kata Moira tersenyum kepada Chris.
Melihat senyuman itu, membuat Bastian semakin tidak senang.
“Tapi, Belle, aku tidak bisa meninggalkanmu bersama dia. Aku tidak percaya padanya.”
“Tuan aku mohon. Ini urusanku dengan dia,” kata Moira seraya menatap Bastian.
“Kau tidak dengar, dia memintamu pergi. Enyah!” Bastian menatap tidak suka pada Chris.
Keduanya kembali saling menatap, dan hampir berkelahi. Moira meraih tangan Chris menghentikannya, Moira menggelengkan kepala dan menatap matanya.
“Terima kasih, Tuan muda.”
Chris menghela napas, dan mengalah. “Jaga dirimu baik-baik, ingat hubungi aku jika kamu dalam bahaya.” Matanya menatap tajam Bastian yang kini menatapnya tidak senang.
Moira melihat Chris pergi, di waktu yang sama Sebastian meraih tangan Moira dan menariknya ke arah tiang basemen. Membuat tubuh Moira menyatu pada tiang. Bastian mengangkat sebelah tangan Moira menekannya pada tiang itu, tatapan matanya tajam.
“Lepaskan tanganku.”
Tidak ada senyuman di wajah dingin itu. Selain tatapan matanya setajam pisau.
“Jika aku tidak mau, kamu mau apa?”
Saat Moira hendak mendorong tubuh Bastian, dengan cepat Bastian meraih pinggang Moira. Membuat Moira berada dalam dekapannya. Lalu, Bastian menundukkan wajahnya menatap wajah Moira yang kini mendongak menatapnya.
“Beritahu aku, berapa Chris membayarmu?”
Moira terkejut, sekaligus tidak mengerti. Kenapa dia begitu kepo dan ingin tahu hal itu.
“Kau ingin tahu? Tapi, sayangnya aku tidak berniat memberitahumu.”
“Kau tidak berhak bertanya. Di sini, hanya aku yang boleh mengajukan pertanyaan.” Bastian menatapnya tajam. “Berapa, kau dibayar olehnya,100 juta, 200 juta, 300 juta? Atau lebih besar dari uang yang pernah aku berikan padamu?” desak Bastian.
Moira menatapnya tajam. Moira tersenyum miring.
“Pak, jika Anda cemburu dan keberatan, aku tidur dengan laki-laki lain. Jadikan saja aku wanita simpanan Anda?”
Hari itu, tubuh Moira terasa lemas.Ia berjalan pelan, seperti kehilangan separuh tenaganya. Pikirannya terus berputar, mencari jalan keluar yang tidak ada. Dua miliar. Tiga hari. Ia tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu dari mana.Kenapa masalah datang tanpa henti? Sejak kapan Ares membuntutinya? Bagaimana pria itu tahu ia tinggal di hotel ini? Bagaimana Ares tahu tentang Sebastian? Moira merasa diawasi. Tubuhnya bergidik membayangkan Ares menguntitnya dari kejauhan, menunggu waktu yang tepat untuk muncul.Moira resah. Namun, ia harus menyembunyikan kegelisahan itu. Moira turun dari taksi yang mengantarnya ke rumah sakit. Kakinya terasa berat saat melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Ia menarik napas panjang, berusaha mengatur ekspresi wajahnya.Saat tiba di depan pintu kamar rawat Alena, ia berhenti sejenak. Menutup mata, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Lalu ia menarik pintu. Ekspresi di wajahnya sudah berubah. Seolah tidak ada beban pikiran.Di dalam kam
Siang itu, Moira berdiri di depan cermin kamar mandi. Jemarinya bergerak perlahan, mengoleskan concealer di lehernya. Menutupi tanda merah yang tersebar di sana. Lalu beralih ke dada, menutupi jejak yang sama. Moira menahan napas. Sebastian sangat ganas tadi malam. Jangan sampai ia melewatkannya dan akhirnya dilihat ibunya.“Sebastian, kamu sangat merepotkan.”Bayangan malam itu masih menguasai pikirannya. Sentuhan Sebastian, ciuman Sebastian, cara Sebastian memandangnya dengan mata penuh hasrat. Cara tubuhnya merespons setiap gerakan pria itu tanpa bisa ia tahan. Wajah Moira memerah.Ia harus mengakuinya. Ia menyukai setiap kali bercinta dengan Sebastian. Menyukai cara pria itu menyentuhnya, cara Sebastian membuatnya melupakan segalanya. Moira menggelengkan kepala pelan, berusaha mengusir pikiran itu. Ia harus pergi menjenguk ibu dan Alena. Tidak bisa terus-terusan memikirkan hal seperti ini.Setelah selesai bersolek, Moira mengenakan pakaiannya dari brand ternama. Ia meraih tas mewa
Moira menatap Sebastian dengan tatapan teduh."Sayangnya," katanya pelan. "Aku tidak memiliki hasrat untuk melayanimu malam ini."Sebastian terdiam. Tangannya yang berada di pinggang Moira tidak bergerak.Moira melanjutkan ucapannya dengan tenang. "Potong saja dari hasil melayanimu nanti. Anggap aku tidak hadir malam ini."Wajah Sebastian berubah dingin. Lebih dingin dari es yang membeku di tengah musim salju.Moira merasakan perubahan itu. Udara di sekitar mereka berubah berat, mencekik. Tangan Sebastian yang tadinya hanya memegang kini menekan ke meja di samping tubuh Moira. Suara benturan pelan terdengar saat telapak tangannya mendarat dengan keras."Seperti inikah caramu menganggapku, Moira?"Moira membeku. Matanya menatap mata Sebastian yang kini menggelap, tidak ada lagi kehangatan di wajahnya. Sebastian meraih rahangnya, jemarinya kuat namun tidak menyakiti. Ia membuat Moira menengadah, memaksanya menatap matanya."Aku tidak tahu cara menyenangkanmu lagi," katanya, suaranya ter
Wajah Sebastian menggelap. Rahangnya mengeras, kesabarannya berada di ujung tanduk. Ia melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke telinga Viella. Suaranya terdengar rendah, hampir tidak terdengar."Enyah!"Namun, Viella bergeming dan perlahan mengukir senyuman. Tangannya bergerak perlahan, jemarinya meraih kerah jas Sebastian dengan pelan."Aku tidak akan pergi sebelum kamu pulang bersamaku." Suara Viella terdengar lembut. "Jangan lupa, Sebastian. Aku tetap tunanganmu."Viella melirik sekilas ke arah Moira, lalu kembali menatap Sebastian."Aku bisa mengizinkanmu menikahi dia. Selama kamu membuat kesepakatan denganku. Aku janji, akan membantumu menutupi hubunganmu dengan Moira."Moira menatap keduanya dari tempatnya berdiri. Dadanya sesak, ia berusaha bersikap setenang mungkin dan berbicara. "Terima kasih," katanya datar. "Tidak perlu."Viella menoleh ke arahnya. Senyumnya tidak berubah. Moira berbalik, kakinya melangkah menuju pintu. "Aku tunggu di luar.""Tidak perlu,” kata Sebastian sa
Moira menatap mata Sebastian, ia melihat ketulusan. Sorot matanya terlihat berbeda, dari biasanya. Mengingat Sebastian selalu bersikap dingin dan penuh misteri itu.Moira menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan."Aku memaafkanmu," bisiknya.Sebastian tersenyum tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan, senyum yang membuat wajahnya terlihat lebih lembut. Tangannya menggenggam tangan Moira sebentar, lalu melepaskannya."Terima kasih," katanya pelan. “Aku pergi dulu.”“Apa kamu akan lama di luar?” tanya Moira.Sebastian menggeleng. “Setelah kamu pulang, pasti aku akan segera di sana.”Setelah itu, Sebastian berbalik dan pergi meninggalkan koridor rumah sakit. Moira berdiri di tempatnya, menatap punggung Sebastian yang menjauh hingga hilang. Moira berpikir tidak seharusnya ia marah pada Sebastian, meskipun Sebastian menyebalkan. Tetapi dia sudah banyak menolong Moira dan keluarganya. Meskipun dengan cara menahan dirinya.***Malam itu, Moira kembali ke kamar hotel dengan perasaan lelah.
Malam itu, Moira tidak kembali menjenguk adiknya. Ia memilih tinggal di kamar hotel, berbaring dengan pikiran yang kacau. Sebastian masih duduk di sofa, menatap keluar jendela dengan wajah tanpa ekspresi.Ponsel Moira berdering. Ia meraihnya dari meja nakas, melihat nama panggilan berasal dari ibunya. Moira menarik napas, lalu mengangkat telepon."Halo, Bu.""Moira, Nak. Kamu sudah makan?" suara Mauren terdengar lembut di seberang sana."Sudah, Bu. Aku sudah makan." Moira terpaksa berbohong."Syukurlah. Ibu khawatir kamu belum makan karena terlalu lelah.""Ibu tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja.""Besok kamu akan datang lagi, kan?""Ya, Bu. Besok pagi aku akan ke rumah sakit."Mauren terdiam sebentar, lalu berkata lembut. "Ibu senang kamu datang, Nak. Tapi, jangan terlalu mencemaskan Ibu dan Alena. Kami baik-baik saja. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu."Moira mengangguk pelan."Iya, Bu.""Kamu harus lebih memperhatikan Sebastian. Dia sudah banyak membantumu. Jangan sampai dia







