MasukMoira terkejut mendengarnya, ia menoleh pada Chris. Lalu senyuman mengembang di wajah tampannya.
“Kamu bisa duduk di sana,” kata Chris seraya menunjuk ke arah sofa. Setelah mengatakan itu, Chris pergi begitu saja.
Moira menutupi belahan dadanya, ia menyeka dahinya yang masih mengeluarkan keringat. Apa yang terjadi malam ini, masih membuatnya ketakutan. Di tengah rasa takut, suara yang terdengar lembut membuyarkan lamunannya.
“Kamu bisa pakai ini,” kata Chris yang kini berdiri di depan Moira. “Kamu tidak bisa keluar dengan pakaian seperti itu.”
Moira menatap kemeja putih yang diulurkan oleh Chris. Moira menatap mata pria itu, berbeda dari Julian yang selalu melihatnya dengan tatapan liar.
”Terima kasih.” Moira meraihnya.
Pakaian itu kini berada di dalam dekapannya, harum. Aroma yang menyegarkan. Lalu ucapan Chris membuat Moira terkejut.
“Belle, malam ini apa kamu kosong? Bisa temani aku, itupun jika kamu bersedia. Aku bisa membayarmu per jam.”
Moira membeku, kelopak matanya bergetar menatap Chris. Sekilas ada raut kecewa di wajahnya, awalnya ia mengira kalau Christopher berbeda. Namun, ia memperlakukannya sama seperti pria lain. Hingga anggukan tercipta di wajah Moira.
“Aku akan menemanimu.”
Chris hanya mengangguk, lalu setelah itu Moira berganti pakaian di dalam kamar mandi yang ada di kamar Chris. Ia juga merapikan rambutnya, ia memilih untuk mengikatnya. Setelah itu ia keluar mengenakan kemeja putih yang menelan tubuh mungilnya.
Moira menghampiri Chris, di saat yang sama Chris memperhatikan wajah Moira yang memar. Serta sudut bibir yang meninggalkan bekas darah segar. Chris mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Moira, tetapi Moira memalingkan wajahnya.
“Sakit?” tanya Chris, suaranya terdengar lembut.
“Tidak terlalu,” jawab Moira hampir tidak terdengar. Penuh kebohongan.
Namun, mata Chris mengatakan ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Moira. “Tapi, kurasa ini harus diobati.”
Moira menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, apa wajahku mengganggu Anda, Tuan?” tanya Moira menatap Chris.
Chris menggeleng pelan. “Tentu saja tidak. Sayang sekali wajah cantikmu harus disakiti bajingan seperti Julian.”
Moira tertegun, ia terpaku oleh ucapan Chris selama beberapa saat.
Setelah itu mereka meninggalkan kamar hotel. Moira dan Chris masuk ke dalam lift, saat di dalam lift keduanya sama sekali tidak berbicara. Namun, Moira dapat melihatnya dengan jelas. Kalau saat ini Chris memperhatikannya terus menerus.
Dan ketika lift terbuka, mata mereka bertemu dengan sosok yang tidak asing. Mata yang indah, penuh dengan tatapan dingin. Sebastian Arclayne Blevins--- paling disegani, ditakuti di Negara ini. Pria pertama yang merenggut kesucian Moira malam itu. Wajah tampan itu masih teringat jelas di dalam benak Moira.
‘Dia ...”
Chris tersenyum miring kepada Sebastian. Sebastian melihat wajah Moira yang dipenuhi bekas tamparan, serta sudut bibirnya yang berdarah. Lalu, manik matanya tertuju pada kemeja Chris yang dikenakan oleh Moira saat ini. Sebuah tatapan mata yang sulit diartikan.
“Bastian, kau menghalangi jalanku.”
Namun, Sebastian sama sekali tidak mengindahkan ucapan Chris. Sorot mata Sebastian sejak awal terus tertuju kepada Moira yang kini menunduk. Dan Chris menyadari itu.
Tanpa basa-basi, Sebastian langsung meraih tangan Moira. Menariknya keluar lift, membuat Moira dan Chris terkejut.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Ikut denganku.” Suara baritonnya terdengar jelas.
Chris tidak membiarkannya begitu saja. Ia mengambil langkah cepat, dan menghentikan langkah Sebastian.
“Lepaskan dia, Bastian!” kata Chris menatap tajam Sebastian.
Sebastian menatapnya tidak suka, dingin. Sedingin kutub utara. Chris dan Bastian saling menatap tajam dan tidak ingin mengalah antara keduanya.
“Bagaimana, jika aku tidak mau?” Sebastian tersenyum sinis.
“Kamu tidak bisa membawanya malam ini. Malam ini dia bersamaku, artinya milikku.”
“Oh!”
Moira meneguk salivanya. Ia dapat melihat mereka seperti serigala dan anjing, terlihat serupa tapi tidak sama. Dan tatapan mereka seolah menunjukkan perkelahian akan segera tiba. Keduanya kini mencekal tangan Moira, enggan melepaskan. Saling menarik, membuat Moira kesakitan.
“Kau mengajakku berkelahi karena wanita ini. Kau cari mati!” dengus Sebastian menatap dingin Chris.
“Kau yang lebih dulu memulai Bastian. Kau pikir semua perempuan di dunia ini milikmu?”
Sebastian tertawa dingin, lalu menoleh ke arah Moira.
“Hanya karena seorang gundik, kamu ingin berkelahi denganku? Atau kau memang sengaja ingin mencari masalah denganku.”
Perkataan Sebastian menusuk hati Moira. Setelah beberapa hari sejak pertemuan panas malam itu, tidak disangka mereka akan dipertemukan lagi dengan cara seperti ini.
“Cukup!” bentak Moira menghempaskan tangan mereka sekuat tenaga. “Lepaskan tanganku, Tuan Bastian.”
Untuk pertama kalinya Moira menyebut nama pria itu. Dan untuk pertama kalinya, Moira mengetahui namanya. Namun, rupanya dia begitu menyebalkan. Berbeda jauh dengan apa yang Moira pikirkan.
Mata Moira dan Bastian bertemu, Bastian menatapnya dingin, tajam. Tidak berniat melepaskannya.
Chris melepaskan cengkeraman tangannya. Sementara Sebastian masih enggan melepaskannya.
“Anda tidak dengar? Aku bilang lepaskan tangan Anda!” tatapan Moira menajam penuh rasa kesal.
Akhirnya cengkeraman tangan itu mulai mengendur, dan perlahan terlepas. Moira menatap Chris. Tidak menoleh lagi pada Sebastian.
“Tuan muda, ayo kita pergi.”
Wajah Sebastian gelap, marah, kesal. Ia tidak dapat menerima kekalahannya. Ia menatap punggung Moira yang kini sudah tidak lagi terlihat dari pandangannya. Chris tersenyum penuh kemenangan, lalu mereka berdua berjalan ke basemen. Meskipun sudah berhasil keluar dari cengkeraman Sebastian. Namun, tatapan matanya membuat Moira tidak tenang.
Di tengah-tengah kegelisahan itu, suara Chris terdengar bertanya padanya. “Belle, bagaimana kamu bisa mengenal Sebastian?” Langkah Moira terhenti.
Ares menunduk dalam-dalam hingga dahinya nyaris menyentuh lantai yang kotor. Air mata dan keringat dingin bercampur di wajahnya yang babak belur."M-Maafkan aku, Tuan Muda Blevins..." ratap Ares dengan suara parau yang bergetar hebat. "Aku bersumpah tidak tahu siapa Anda sebenarnya. Aku hanya butuh uang untuk membayar utang judi... Moira itu putri tiriku, aku tidak bermaksud mengusik Anda!"Sebastian tidak bergeming. Ia hanya menatap Ares dengan pandangan muak, seolah pria paruh baya di hadapannya tak lebih dari sekadar serangga yang mengotori sepatunya. Ia menjentikkan abu rokoknya ke lantai, lalu beralih menatap empat rentenir yang kini bersujud tanpa sisa keberanian."Tuan Muda, kami bersumpah demi Tuhan kami tidak tahu!" bos rentenir itu memohon histeris, tubuh kekarnya bergetar seperti anak kecil. "Jika kami tahu wanita itu milik seorang Blevins, kami tidak akan pernah berani mendekati rumah sakit, apalagi mengancamnya! Tolong ampuni nyawa kami!"Sebastian mengembuskan asap rokok
Moira perlahan melonggarkan pelukannya. Ia mendongak, menatap sepasang mata gelap Sebastian dengan tatapan memohon. Air mata masih menggenang di pelupuk matanya, membuat raut wajahnya tampak semakin rapuh."Aku mohon... jangan membunuhnya," bisik Moira, suaranya serak dan bergetar hebat. "Cukup bantu aku membereskannya saja, Sebastian. Singkirkan dia dari hidup kami. Bagaimanapun... pria itu adalah ayah kandung Alena. Aku tidak ingin Alena membenciku jika suatu hari dia tahu ayahnya tiada karena aku."Sebastian tidak langsung menjawab. Ia menatap Moira dengan pandangan teduh, sebuah sorot mata yang sangat jarang ia perlihatkan kepada siapa pun di dunia ini. Sebagai pria yang berdiri di puncak kekuasaan, ia tahu persis di mana batasannya. Ia tahu kapan harus menjadi pelindung bagi perempuan yang dicintainya, dan kapan harus menjadi algojo tanpa ampun."Jangan pikirkan hal itu lagi," ucap Sebastian lembut. Jemarinya bergerak menyeka sisa air mata di pipi Moira, lalu mengecup kening wan
Jemari Moira baru saja membuka kancing kedua pakaian tidurnya ketika sebuah tangan kekar bergerak secepat kilat. Sebastian mencengkram pergelangan tangannya, menghentikan gerakan itu dengan paksa. Tatapan pria itu tajam, menghujam langsung ke manik mata Moira yang berkabut.Di bawah temaram lampu tidur yang minim, rahang Sebastian tampak mengeras."Ada yang aneh darimu," ucap Sebastian, suaranya terdengar berat dan rendah.Moira menahan napas. Ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang, menepis kepanikan yang mulai merayap di dadanya. "Apa yang aneh?""Kamu tidak pernah membalas ciumanku tanpa dorongan," jawab Sebastian singkat dan padat. Matanya menyipit penuh menyelidik. "Kamu juga tidak pernah menelanjangi dirimu sendiri di depanku seolah kamu sedang menjalankan tugas wajib."Moira memalingkan wajahnya sesaat, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Sebastian. "Aku hanya merindukanmu, Sebastian. Bukankah itu yang kamu inginkan?"Ketika Moira kembali menggerakkan jemariny
“Bagaimana kalau Ares tetap nekat memberitahu ibu?” gumamnya pelan dan mulai terisak.Dengan jantung berdegup kencang, Moira mulai membalas pesan Ares.[Ini masalahku, jangan libatkan Ibu dan Alena. Aku pasti memberimu uang sebanyak yang kau mau.]Moira mematikan ponselnya, sementara jantungnya masih berdegup kencang.Malam itu, Moira menangis tanpa suara. Air matanya luruh membasahi bantal yang terasa dingin. Di bawah bayang-bayang ancaman Ares dan foto ibunya yang diintai lintah darat, ia merasa benar-benar tidak berdaya. Dua miliar. Angka itu terus berputar di kepalanya sampai jarum jam bergeser jauh melewati tengah malam.Moira memeluk kedua lututnya di atas ranjang yang terlalu luas. Matanya menatap kosong ke arah ponsel yang tergeletak bisu. Pesan rindunya pada Sebastian sama sekali belum dibalas. Pria itu sengaja menggantungnya.‘Aku harus bagaimana sekarang?’ batin Moira, dadanya terasa sangat sesak. ‘Dua hari lagi. Kalau aku tidak mendapatkan dua miliar itu, Ares benar-benar
Suara Mauren terdengar begitu lirih. Moira terpaku. Rumah mereka satu-satunya, tempat menyimpan seluruh kenangan masa kecil, ternyata sudah lenyap."Dijual?" Moira mengulang kata itu dengan bibir gemetar. Matanya membelalak menatap ibunya. "Bagaimana bisa, Bu? Bukankah rumah itu atas nama Ibu?"Mauren tidak berani mengangkat wajahnya. Air mata wanita tua itu mulai luruh, membasahi tangannya yang keriput dan gemetar di atas pangkuannya. Kebohongan yang selama ini ia simpan rapat-rapat akhirnya runtuh."Ares..." bisik Mauren dengan suara serak menahan tangis. "Pria itu... dia memalsukan tanda tangan Ibu, Moira. Dia menjaminkan sertifikat rumah kita ke lintah darat untuk modal judi. Saat debt collector datang mengepung rumah dan mengancam akan menghabisi Alena yang waktu itu baru jatuh sakit, Ibu tidak punya pilihan. Ibu terpaksa menandatangani surat penjualan untuk melunasi sebagian utangnya."Darah Moira mendidih. Cengkeramannya pada ujung pakaiannya begitu erat hingga buku-buku jariny
Hari itu, tubuh Moira terasa lemas.Ia berjalan pelan, seperti kehilangan separuh tenaganya. Pikirannya terus berputar, mencari jalan keluar yang tidak ada. Dua miliar. Tiga hari. Ia tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu dari mana.Kenapa masalah datang tanpa henti? Sejak kapan Ares membuntutinya? Bagaimana pria itu tahu ia tinggal di hotel ini? Bagaimana Ares tahu tentang Sebastian? Moira merasa diawasi. Tubuhnya bergidik membayangkan Ares menguntitnya dari kejauhan, menunggu waktu yang tepat untuk muncul.Moira resah. Namun, ia harus menyembunyikan kegelisahan itu. Moira turun dari taksi yang mengantarnya ke rumah sakit. Kakinya terasa berat saat melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Ia menarik napas panjang, berusaha mengatur ekspresi wajahnya.Saat tiba di depan pintu kamar rawat Alena, ia berhenti sejenak. Menutup mata, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Lalu ia menarik pintu. Ekspresi di wajahnya sudah berubah. Seolah tidak ada beban pikiran.Di dalam kam
Tatapan Julian lebih mengerikan dari malam kemarin. Julian semakin mendekat ke arah Moira, sementara Moira semakin mundur langkah demi langkah.“Jangan mendekat!” seru Moira.Julian tertawa. Lalu, tatapan matanya berubah menjadi marah, dan dalam sekejap Julian menangkap tubuh Moira seperti seekor s
Seketika tubuh Moira lemas, uang ini hanya cukup untuk membayar hutang keluarganya dan juga berobat awal adiknya. Jika ayah tirinya tahu ia memiliki uang sebanyak ini, pria itu pasti akan merampasnya.“Bagaimana caranya, agar aku bisa mendapatkan uang lebih banyak, untuk pengobatan Alena?” Moira mem
Mata Moira melebar, dan cemas. Degup jantungnya seperti genderang yang akan perang. Tiba-tiba di mendapatkan tawaran yang menggiurkan di saat dia memang sangat butuh uang yang banyak.“Akan kuberi uang sebanyak 200 juta. Puaskan aku, sekarang ... aku tidak bisa menahannya lagi!” bisiknya, yang kini
“Lepaskan aku!” berontak seorang perempuan bernama Moira, yang saat ini menolak pakaiannya dilucuti satu persatu dengan kasar, oleh seorang pria asing yang sama sekali tidak dikenalinya.Lelaki bernama Julian, yang kini, sedang berusaha melancarkan aksinya di sebuah sofa di kamar hotel. Namun, Moi







