Share

Cemburu

Penulis: AuthorS
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-28 11:53:17

Setelah mendengar nama Axel membuat Kinan seketika kehilangan nafsu makannya.

"Jadi...Tuan Axel yang membelinya?" tanyanya dengan suara yang memelan.

"Tentu saja Kinan, dia memesankan makanan ini untukmu." Jawab Meri dengan wajahnya yang masih sumringah.

Wajah Kinan berubah menjadi murung. Dia mengingat kejadian di dapur.

"Makanlah, jangan pikirkan soal tadi, yang terpenting keinginan si cabang bayi terpenuhi." Kata Meri mencoba menenangkan.

Mendengar hal itu membuat Kinan tersenyum. Kemudian dia melahap sesuap demi sesuap makan yang sangat dia inginkan. Tanpa sadar, ada seseorang yang tersenyum memperhatikannya dari balik pintu yang terbuka.

————

"Rencana kita yang kedua gagal! Aku malah mendapat malu dan hal itu malah membuat Axel memarahiku!" ucap Sania setengah berbisik sambil menelpon.

Axel yang baru saja turun dari atas tangga merasa heran dengan tingkah mantan kakak iparnya itu. Dia melihat gelagat yang mencurigakan dari Sania yang dianggapnya be
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Ibu Susu Untuk Putra Sang Pewaris   Akhirnya

    "Cepat temukan perempuan itu dan taruh dia di tempat biasa. Jangan sampai Axel menemukannya terlebih dahulu!" ujar Sania saat tengah melakukan panggilan telpon dengan seseorang. "Oke, Nyonya, anda tenang saja, kita pasti akan lebih dulu menemukan perempuan itu dari pada Tuan Axel. Nyonya jangan khawatir, tenang saja." Balas laki-laki berkepala pelontos. "Ingat! Jangan sampai Axel tahu tentang hal ini, kalau tidak, kau akan menyesal!" ancam Sania setengah berbisik. "Oke, Nyonya!" "Oke, ku tunggu kabar selanjutnya!" Sania menutup telponnya. Dia melirik ke arah Nenek Rianti yang kini tengah menikmati makan malam di meja makannya bersamaan dengan Siella yang duduk bersebrangan dengannya. "Nenek tua bangka itu bisa-bisanya masih santai di saat genting seperti ini. Aku yang kerepotan akibat rencana ini, sungguh sial." Ucapnya dalam hati. "Sania, kemarilah Nak!" panggilnya pada Sania yang masih memasang wajah judesnya. "Ya, aku datang!" ujar Sania sambil berjalan menghampiri mereka.

  • Menjadi Ibu Susu Untuk Putra Sang Pewaris   Menyadari

    "Axel!" panggil Sania saat Axel berniat akan pergi menuju kamar Kinan. "Ya?" balas Axel menoleh ke arah mantan kakak iparnya. "Eu...boleh aku meminta tolong padamu?" tanyanya sedikit canggung."Maaf Sania aku..." "Ini bukan tentangku Axel. Tapi tentang Nenek Rianti, keinginannya yang sempat tertunda dan kau mungkin tidak tahu itu." Kata Sania yang membuat kening Axel mengerut. "Keinginan apa maksudmu? Baru saja aku keluar dari kamarnya dan dia tidak membicarakan hal apapun denganku." Jawab Axel. "Kau salah Axel. Justru Nenekmu sangat merahasiakan semua ini darimu agar kau tidak banyak pikiran. Dan aku hanya ingin dia bahagia. Aku akan memberitahumu soal ini." "Apa itu? Cepat katakan dan jangan membuatku lama menunggu!" tegas Axel tak sabar. "Dia ingin kau segera menikah Axel, dan dia ingin kau menikah di hari ulang tahunnya." Jelas Sania. Axel sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Sania perihal keinginan Neneknya tersebut. Beberapa jam yang lalu dia mendengar ucapan yang

  • Menjadi Ibu Susu Untuk Putra Sang Pewaris   Belum Terlambat

    isak tangisan Kinan yang memungut bekas sobekan kertas itu terdengar samar di telinga Axel yang tengah menuruni tangga. "Kinan? Apa itu suara tangisannya?" gumam Axel. Kakinya melangkah terburu-buru, tapi saat hendak menuju ke arah Kinan, Tiba-tiba saja Sania datang lalu menahan tangan Axel. "Axel, Nenek Rianti memanggilmu. Katanya dia ingin membicarakan sesuatu denganmu." Kata Sania yang sontak saja membuat Axel menoleh ke arahnya. Langkahnya yang terhenti kini berbalik arah menuju kamar Nenek Rianti. Axel tak sedikitpun memperlihatkan kecemasannya pada Kinan. Padahal hati dan pikirannya tengah kalut dan juga penasaran dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan gadis itu tanpanya. Sambil berjalan di ikuti Sania di belakangnya, hati laki-laki itu tak bisa berhenti bicara. Merasa bersalah, kesal dan gundah gulana. "Apa mungkin hasilnya tidak sesuai dengan yang dia inginkan? Makannya dia menangis? Atau...mungkin dia sedang meminta simpati dariku?" ucap batinnya. Tiba di kamar sang N

  • Menjadi Ibu Susu Untuk Putra Sang Pewaris   Hasil Pemeriksaan

    Mereka saling memandang satu sama lain. Memberi jarak cukup jauh, sambil mengingat kejadian saat pertama kali mereka bertemu. Bayangan-bayangan itu muncul kembali tanpa di minta. Saat pertama kali Axel memeluknya dengan hangat. Mengecup keningnya, mengucapkan kata indah dan menjadi garda terdepan di saat semua orang melukainya. Kinan berjalan melewati Axel, tanpa permisi ataupun merasa tak sopan pada majikannya. Hap! Dengan cepat Axel menangkap lengannya. "Siapa yang menyuruhmu keluar dari mobil tanpa seizin ku?" tanya Axel memperkuat genggaman tangannya. Kinan meringis sakit. Tapi dia mencoba menahannya. "Anda sendiri yang memaksaku keluar dari mobil. Memaksaku berkeinginan untuk pergi bahkan bukan hanya keluar dari mobil. Tapi, keluar dari kehidupanmu!" jawab Kinan tanpa rasa takut. Entah darimana dia tiba-tiba saja mempunyai keberanian menatap tajam ke arah Axel. Sambil tersenyum licik Axel mengarahkan tubuh Kinan ke hadapannya. "Kau sendiri yang memulainya! Jadi, nikmati sa

  • Menjadi Ibu Susu Untuk Putra Sang Pewaris   Memeriksa Kandungan 2

    Tak ingin menjawab. Kinan hanya duduk di atas ranjang sambil menatap kosong. Tasnya terjatuh begitu saja tanpa dia pedulikan. Meri duduk di sampingnya sambil menatap iba. "Pasti kamu baru saja mendapat hal yang buruk 'kan?" ucapnya sambil memegang tangan Kinan. Kinan melirik ke arahnya memaksa memberi sebuah senyuman agar sahabatnya itu tidak merasa sedih. "Aku baik-baik saja." Katanya. "Ganti pakaianmu! Kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Axel yang tiba-tiba saja datang. Kinan dan Meri saling berlirikkan. Karena takut kena omel, Meri segera pergi. Sementara Axel tetap menunggu. "Tunggu apalagi? Cepat ganti pakaianmu!" bentak Axel lagi. "Bagaimana bisa aku mengganti pakaian kalau Tuan masih berada disini!" jawab Kinan tegas. Axel tersadar. Dia menutupi rasa malunya dengan berbalik badan. "Kalau begitu aku tunggu di luar!" katanya pergi sambil menutup pintu dengan keras. Kinan tersentak kaget. Dia segera berjalan menuju lemari, mengganti bajunya lalu sesegera mungkin menyusul A

  • Menjadi Ibu Susu Untuk Putra Sang Pewaris   Memeriksa Kandungan

    "Bohong! Tadi dia sempat mengatakan sesuatu, apa itu? Apa dia sudah mengetahui tentang kehamilamu hah?!" "Tidak! Tuan Axel tidak mengatakan apapun." Jawab Kinan tegas membuat Sania melotot padanya. "Awas saja jika kau berbohong. Aku akan mengadukanmu pada Nenek Rianti. Kau akan tahu akibatnya!" Sania pergi setelah mengatakan hal itu. Sedangkan Kinan kembali ke dapur untuk mengerjakan aktivitas lain. "Ada apa? Kenapa wajahmu muram sekali?" tanya Meri yang kini sedang mencuci piring di wastafel. "Haruskah aku pergi darisini?" tanya Kinan tiba-tiba yang membuat Meri segera menghentikan pekerjaannya. Dia membasuh tangan lalu duduk di samping Kinan. "Apa maksudmu Kinan? Kau ingin pergi? Memangnya ada masalah apalagi?" tanya Meri lagi. "Ceritanya panjang Meri. Rasanya aku tidak sanggup lagi hidup di neraka ini." Jawab Kinan dengan suara parau menahan tangisnya. Meri mendekat, lalu memeluk sahabatnya. "Aku tahu dan aku sangat paham dengan keadaanmu. Tapi bayimu harus mendapat pengaku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status