INICIAR SESIÓNParis tetap sibuk seperti biasanya.Kota itu dipenuhi langkah-langkah manusia yang sedang mengejar mimpi. Lampu-lampu jalan yang tidak pernah benar-benar tidur. Dan musim dingin yang terasa lebih tenang dibanding empat tahun lalu.Di salah satu universitas ternama di —Alicia berjalan keluar dari ruang kelas sambil membawa laptop dan beberapa buku ekonomi tebal di pelukannya.Penampilannya jauh lebih dewasa sekarang.Rambut panjangnya tergerai rapi. Tatapannya tenang. Dan cara bicaranya tidak lagi seceroboh gadis manja yang dulu selalu mengikuti Arbi ke mana-mana.Kini— Alicia sudah menyelesaikan pendidikan sarjananya.Dan sekarang ia sedang melanjutkan program magister di bidang ekonomi dan bisnis internasional.Bukan tanpa alasan.Karena sejak dulu— ia sudah memiliki satu tujuan yang tidak pernah berubah.Membantu Arbi.Membantu pria itu membangun perusahaan yang lebih besar lagi di masa depan.“Alicia!”Seorang dosen memanggilnya dari belakang.Gadis itu langsung menoleh sopan.“Ye
Ruang kerja itu mendadak terasa berbeda.Dingin dan formal beberapa detik lalu— kini berubah hangat hanya karena satu panggilan video.Riri yang masih berdiri di dekat meja kerja Arbi sebenarnya sadar dirinya harus pergi.Namun entah kenapa— kakinya terasa berat melangkah.Mungkin karena penasaran.Atau mungkin… karena baru pertama kali melihat ekspresi seperti itu muncul di wajah Arbi.Pria yang selama ini terkenal dingin dan sulit didekati itu— sekarang justru tersenyum kecil sambil menatap layar ponselnya.Lembut sekali.“Mas kangen nggak?” suara gadis di balik video call terdengar ceria.Dan hanya dari suaranya saja— Riri bisa membayangkan gadis itu pasti sangat cantik.Suaranya ringan. Manja. Penuh kehidupan.Jenis suara yang mudah membuat orang ikut tersenyum tanpa sadar.Arbi menyandarkan tubuh ke kursinya pelan.“Kamu baru nelpon lima detik udah nanya begitu.”“Karena aku pengen dengar jawabannya.”“Kalau nggak kangen ngapain aku angkat video call?”Terdengar suara tawa kecil
Empat tahun kemudian.Jakarta berubah jauh lebih sibuk dibanding sebelumnya.Gedung-gedung tinggi berdiri megah memenuhi pusat kota. Lampu kendaraan memenuhi jalanan bahkan sejak sore hari. Dan di tengah kerasnya dunia bisnis ibu kota—nama Arbi mulai dikenal banyak orang.Sebuah perusahaan teknologi bernama Arvion Tech yang baru berdiri dua tahun lalu, kini berkembang dengan sangat cepat.Tidak hanya di Indonesia. Namun mulai merambah pasar Asia Tenggara.Banyak orang menyebut pendirinya sebagai pria muda yang terlalu gila bekerja.Dan itu memang benar.Karena selama empat tahun terakhir— Arbi benar-benar hidup untuk satu tujuan.Alicia.Pria itu berdiri di depan jendela ruang kerjanya yang berada di lantai tertinggi gedung kantor.Malam sudah larut.Namun lampu di ruangannya masih menyala.Di meja kerja masih berserakan proposal, laporan keuangan, dan tablet yang sejak tadi belum berhenti berbunyi.Namun perhatian Arbi justru tertuju pada sebuah foto kecil di sudut meja.Foto seoran
“Awalnya aku menganggap semua ini hanya kebetulan,” ucap Anisa pelan. “Tapi setelah melihat video yang direkam Leo dan beberapa foto sebelum dia meninggal… wajahnya sangat mirip dengan Papi.”Anisa menatap Mirna sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya.“Lesung pipitnya, senyumnya, matanya, hidungnya… semuanya mirip. Karena itu aku penasaran dan akhirnya melakukan tes DNA.”Mirna tertawa lirih.Namun air matanya terus mengalir tanpa henti.“Papi-mu begitu takut aku mengetahui semua ini…” suaranya bergetar. “Tapi aku tidak menyangka… dia setega itu membuang darah dagingnya sendiri.”Anisa terdiam sesaat.Lalu ia tersenyum tipis, meski sorot matanya terlihat lelah.“Sepertinya Papi juga tidak pernah tahu kalau beliau memiliki anak lain.”Deg.Jantung Mirna langsung berdebar keras.Pikirannya seketika kembali ke masa lalu.Dua puluh tahun lebih yang lalu…Saat ia mempekerjakan seorang asisten rumah tangga muda untuk membantu merawat Anisa kecil.Wanita itu berasal dari Jakarta.Pendiam. T
Ruangan itu kembali hening.Hanya suara isak tangis Mirna yang terdengar pelan memenuhi kamar perawatan tersebut.Anisa berdiri diam di dekat ranjang.Tatapannya jauh lebih tenang dibanding dulu.Karena entah sejak kapan— rasa benci yang selama ini memenuhi hatinya perlahan menghilang.Mungkin karena waktu.Mungkin karena hidupnya sudah terlalu bahagia sekarang.Atau mungkin…karena melihat kondisi kedua orang tuanya yang begitu memprihatinkan.“Yang terpenting sekarang…” suara Anisa terdengar pelan namun lembut. “Mami harus kuat.”Mirna perlahan mengangkat wajahnya.“Walau bagaimanapun…” lanjut Anisa lirih, “…Mami harus menjaga Papi.”Deg.Tangis Mirna kembali pecah.Wanita itu menutup wajahnya sambil menggeleng lemah.“Bagaimana caranya…?”Suaranya benar-benar hancur.“Aku saja bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri…”Tatapannya turun perlahan ke bagian bawah selimut.Kosong.Tidak ada lagi kedua kaki yang dulu menopang hidupnya.“Aku sekarang cuma jadi beban…”Kalimat itu terden
Rumah sakit itu terasa sunyi.Lorong panjang berwarna putih dipenuhi aroma obat-obatan dan suara langkah kaki perawat yang berlalu-lalang sejak pagi.Berbeda dengan keluarga Hermawan yang sudah kembali ke Paris— Leo dan Anisa, justru memilih tetap tinggal beberapa hari lebih lama di Indonesia.Bukan tanpa alasan.Mereka datang untuk melihat kondisi dua orang yang selama ini menjadi bagian dari masa lalu kelam Anisa.Mirna. Dan Sandy.Suasana di lantai perawatan VIP terasa begitu hening ketika langkah kaki Anisa berhenti di depan sebuah pintu kamar.Tangannya perlahan mengepal.Sedangkan Leo berdiri di samping istrinya sambil memperhatikan wajah Anisa dengan tenang.“Kalau nggak siap… kita bisa pulang,” ucap pria itu pelan.Anisa menggeleng kecil.“Aku harus masuk.”Leo akhirnya mengangguk.Dan perlahan— pintu kamar itu terbuka.Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela besar di sudut ruangan. Namun suasana di dalam kamar tetap terasa dingin.Mirna duduk sendiri di atas ranjang rumah
Nathan duduk di sofa ruang perawatan, memangku Noah yang tampak penasaran sambil menggendong bayi mungil di pelukannya. Aroma antiseptik rumah sakit berpadu dengan kehangatan kebapakan yang terpancar dari tatapannya.“Dad, kenapa adik bayi tidur terus?” tanya Noah polos, matanya menatap lekat wajah
"Apa kamu tidak mengenali Sherly? "Albert bertanya ketika mereka hanya duduk berdua. Nathan memandang Albert dan kemudian tersenyum miring. "Dia mantan istriku."Tanpa ada keraguan Nathan mengaku pernah menikah dengan Sherly. Walaupun wanita itu tidak mengaku mengenal dirinya. "Kamu mengaku bahwa
Albert merasa sangat senang ketika melihat wajah Anna hari ini. Wajah istrinya tidak pucat seperti biasanya. Bahkan wanita itu bernapas tanpa mengunakan alat pernapasan."Honey, bisakah kamu ambilkan rambut palsuku di sana?" Wanita itu tersenyum sambil menunjuk ke arah nakas. "Tentu bisa baby." Na
"Bagaimana tuan Albert, tuan Thomas, tuan Jhon, apa ada yang mau anda tambahkan?" Nathan bertanya ketika Albert beserta dua orang investor lain selesai membaca rancangan kerja. Para investor itu juga melihat keuntungan yang akan mereka peroleh.Albert tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Menu







