Masuksuasana luar vila mulai sepi.Suara ombak terdengar pelan.Angin malam berhembus dingin.Di salah satu sudut balkon—dua pria berdiri berdampingan.Samuel.Dan Michael.Keduanya diam. Beberapa detik berlalu tanpa satu pun kata.Lalu—Samuel menghela napas panjang.“Apakah ini karma untuk kita?”Ia menoleh pelan ke arah Michael.Michael tidak langsung menjawab.Tatapannya lurus ke depan.Seolah sedang mencerna kenyataan yang baru saja terjadi.“Apa karena dulu…” Samuel melanjutkan,“kita menyukai gadis di bawah umur…”Ia berhenti sejenak.“Dan begitu mereka 18 tahun… kita langsung menikahi mereka.”Sunyi.“Aku takut…” suara Samuel sedikit melemah,“Alicia akan mengikuti jejak kita.”Michael akhirnya menghela napas.Kepalanya sedikit menunduk.Lalu—ia mengangguk.“Masalahnya…” katanya pelan,“kita tahu apa yang kita lakukan.”Samuel menoleh.“Kita dewasa.”“Kita sabar.”“Kita tahu batas.”Ia menyilangkan tangan.“Tapi Arbi?”Satu nama itu—langsung membuat suasana berubah.Samuel memi
Setelah makan malam selesai—suasana mulai mereda.Tawa perlahan menghilang.Langkah kaki satu per satu menjauh.Namun tidak untuk Arbi.Pria itu masih duduk di kursinya.Diam.Wajahnya pucat.Tangannya sedikit gemetar.Jantungnya berdetak begitu cepat…seakan ia baru saja berlari hingga puluhan kilometer meter.Apa yang akan terjadi nanti…?Arbi mengusap wajahnya dengan kasar.Menarik napas panjang.“Kenapa…” gumamnya pelan,“Alicia harus mengatakannya di depan semua orang…”Padahal hubungan mereka baru saja dimulai.Bukan dia tidak ingin jujur.Tapi—bukan sekarang waktunya.Alicia masih 17 tahun.Dan Arbi ingin menunggu.Menunggu sampai semuanya lebih… pantas.Namun semuanya berantakan.Dalam satu kalimat polos yang diucapkan gadis itu tanpa ragu.Arbi meraih gelas air di depannya.Meneguknya sekaligus.Satu gelas.Dua gelas.Namun bukannya tenang perutnya justru terasa penuh.Sesak.“Hebat…” gumamnya lirih,“aku akan mati bukan karena mereka… tapi karena kebanyakan minum air.”“Ha
Namun kemudian ia menghela napas.Lalu tertawa kecil.Jasmine menatapnya.“Maaf…” kata Atar.Bukan karena rencana gagal.Tapi karena semuanya jadi kacau.Ia berdiri.Menarik Jasmine pelan.“Sepertinya aku memang tidak berbakat romantis,” katanya jujur.Beberapa orang tertawa kecil.Namun tatapan Atar berubah.Lebih serius.Ia menggenggam kedua tangan Jasmine.“Tapi…” lanjutnya pelan,“perasaanku tidak pernah main-main.”Sunyi.Kekacauan tadi perlahan mereda.Semua orang mulai memperhatikan lagi.Atar menatap Jasmine dalam.“Aku tidak bisa menjanjikan momen sempurna…”Ia tersenyum tipis.“Seperti yang kamu lihat… aku bahkan gagal total hari ini.”Beberapa orang tertawa.Namun Jasmine, tidak.Matanya menatap Atar dengan serius. Namun jantung berdebar dengan cepat.“Tapi…” suara Atar melembut,“aku bisa menjanjikan satu hal.”Ia menggenggam tangan Jasmine lebih erat.“Aku akan selalu berusaha… untuk kamu.”Deg.Dan tanpa berlutut lagi, tanpa suasana sempurna—“Jasmine…”“maukah kamu meni
Ciuman yang awalnya hanya sekedar menempel, kini lebih dalam.Lebih panas.Ciuman itu—tidak lagi sekadar emosi sesaat.Ada rasa yang ikut terseret.Arbi seakan baru merasakan menu baru yang menurutnya sangat nikmat. Bibir kecil yang basah dan terasa manis. Berlahan lidahnya masuk ke dalam mulut Alicia. Dan Alicia, dengan polosnya mengisap lidahnya hingga membuat Arbi kehilangan napas.Alicia menatap Arbi dengan tersenyum."Apa cara ciuman aku sudah benar?" Ia justru tersenyum di sela-sela napasnya.“Arbi…” gumamnya pelan.Namun pria itu tidak langsung menjawab.Seolah ia ingin memastikan—bahwa gadis ini benar-benar miliknya.Hingga akhirnya ia menarik diri.Napasnya berat.Matanya masih tajam.Ia menatap Alicia lama.“Kamu sengaja, ya?” suaranya serak.Alicia tertawa kecil.“Sedikit.”Arbi menggeleng.Tangannya naik ke wajahnya sendiri.“Kamu ini…”“benar-benar menguji kesabaranku.”Alicia mendekat lagi.Namun kali ini lebih tenang.Ia menyandarkan kepalanya di dada Arbi.Beberapa s
Langit mulai gelap.Angin pantai berhembus pelan.Suasana yang harusnya tenang—justru terasa “berbahaya” bagi Arbi.Ia duduk di balkon vila.Berusaha menikmati sore.Berusaha tenang.Namun di sebelahnya ada Alicia.Dan itu berarti tidak akan pernah benar-benar tenang.“Apa sih yang kamu lihat dari aku?”Pertanyaan itu tiba-tiba keluar.Arbi menoleh.Alicia duduk santai.Dagunya bertumpu di tangan.Matanya menatap Arbi lekat.“Kenapa tanya begitu?” balas Arbi hati-hati.Alicia tersenyum tipis.“Karena kamu aneh.”“Semua laki-laki yang lihat aku…”“biasanya langsung berubah.”Ia mendekat sedikit.“Tapi kamu?”Arbi menahan napas.Alicia semakin dekat.“Kamu malah sibuk nutupin aku pakai kain… nyuruh aku pakai baju panjang…” lanjutnya pelan.Nada suaranya lembut.Menggoda.“Seolah-olah… kamu takut sama aku.”Deg.Arbi menelan ludah.“Aku bukan takut,” jawabnya pelan.“Lalu apa?”Alicia kini benar-benar dekat.Terlalu dekat.“Menahan diri,” jawab Arbi jujur.Alicia terdiam.Namun hanya se
Pagi itu, suasana di Kuta sudah ramai.Langit biru terbentang luas.Angin pantai berhembus pelan.Suara ombak bercampur dengan riuh wisatawan yang berlalu-lalang.Dan di tengah keramaian itu—Violet berdiri dengan penuh semangat.“Mas Sam! Kita ke sana dulu!” katanya sambil menunjuk deretan toko oleh-oleh.Samuel yang berdiri di belakangnya hanya menghela napas pelan.Namun sudut bibirnya terangkat.“Baru juga sampai,” gumamnya.Namun tetap ia mengikuti langkah istrinya.Violet hari itu tampil cantik.Gaun ringan yang melambai tertiup angin.Rambutnya tergerai indah.Dan—sepatu hak tinggi yang membuatnya terlihat semakin anggun.Namun bagi Samuel—Sepatu itu masalah.Langkah Violet memang masih lincah.Namun Samuel hal itu tidak akan bertahan lama.Dan benar saja.Belum sampai satu jam—“Mas…”Suara itu berubah.Tidak lagi penuh semangat.Samuel berhenti.Menoleh.Violet berdiri di tempat.Bibirnya sedikit mengerucut.“Kenapa?” tanya Samuel tenang.“Capek…”Samuel menatap ke bawah.K
Baru saja berdiri, Samuel kembali duduk di kursinya.Wajah pria itu tampak seperti menahan sesuatu.“Kenapa duduk lagi?” tanya Violet bingung.Bukannya menjawab, Samuel menarik pergelangan tangan Violet dan menempatkannya kembali ke pangkuannya.Pelukan hangat itu kembali mengikat pinggang Violet e
Di sisi lain kampus, tepat di bawah pohon ketapang besar, seseorang berdiri membeku.Aishwa sudah pergi ke gedung fakultasnya. Namun mata Anisa tetap tajam memandang ke arahnya. hingga sosok itu menghilang dari pandangannya.Tangannya yang biasanya sibuk memainkan handpone, kini mengepal erat.Waja
“Sudah aku bilangin, kuenya jangan terlalu tinggi. Ini tinggi banget, terus motongnya gimana?” katanya pelan, membuat beberapa tamu tersenyum simpul.Michael hanya tersenyum, mengambil pisau perak panjang yang diserahkan panitia.“Kamu cukup pegang pisaunya,” ujarnya lembut.Yura masih menatap bing
“He… he… anggap saja aku bercanda.”Aishwa tersenyum kecil dengan wajah yang memerah sampai telinganya. Meski berusaha terlihat tenang, ujung bibirnya bergetar—malu, gugup, dan deg-degan bercampur jadi satu.Tanpa menoleh, Noah berhenti lalu menarik pergelangan tangan Aishwa. Tarikannya tidak keras







