Share

Bab 341

Penulis: Liazta
last update Tanggal publikasi: 2025-02-20 22:17:10

Dirga menunggu Rizky dengan gelisah. Suara jeritan Yuna dari dalam kamar membuat bulu kuduknya merinding. Ia kembali masuk kedalam kamar untuk memeriksa kondisi Yuna.

"Abang, tolong aku, aku sudah tidak sanggup." Yuna menatap Dirga sambil terus memohon.

Dirga merasakan Hatinya yang perih ketika melihat Yuna yang begitu sangat tersiksa. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa.

"Tunggu sebentar ya, dokter Rizky sedang dalam perjalanan." Dirga mencoba menenangkan Yuna.

Yuna menggelengkan kepalany
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (30)
goodnovel comment avatar
Pus Nufus
komjadinya nikah mendadak semua ya... .........
goodnovel comment avatar
Yulia Budisyafitri
aku tersenyum bangga sm girda ...
goodnovel comment avatar
Siti Juleha
waduuhh Dirga dapet musibah tapi yang enak ituh. udah iyain aja Dir, kan kemaren2 juga udah deket karena sering jadi tumbalnya Nathan, itung2 nolongin orangtua dan sedekah ke Yuna, wkwkwkwkwkwk...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 983

    “Capek juga ternyata… hahaha…”Jasmine menjatuhkan tubuhnya perlahan di tepi pantai. Kakinya diluruskan, telapak kakinya masih basah oleh air laut. Nafasnya sedikit tersengal, tapi wajahnya—cerah. Bahagia.Atar tersenyum, duduk di sampingnya tanpa banyak bicara. Ia membuka botol air mineral, lalu menyodorkannya.“Minum dulu.”Jasmine menerimanya tanpa ragu. Ia meneguk cukup banyak, lalu menghela napas lega.“Ah… enak banget…”Tanpa berpikir panjang, ia mengembalikan botol itu. Atar tersenyum kecil… dan meminum sisa air yang sama.Tidak ada rasa canggung. Seolah itu hal yang sangat biasa.Jasmine melirik sekilas.Namun tidak berkata apa-apa.“Sudah jam sembilan,” gumamnya. “Aku lapar…”Atar langsung berdiri, lalu membungkukkan tubuhnya di depan Jasmine.“Ayo, kita pulang.”Jasmine tertawa kecil.“Kamu tahu aja aku capek.”Tanpa menunggu lama, ia melompat naik ke punggung pria itu. Tangannya melingkar di leher Atar dengan santai, sementara Atar berdiri tegap—seolah beban itu tidak ada a

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 982

    Pagi itu—pantai masih sepi.Langit baru saja berubah warna, dari gelap menuju keemasan.Angin laut berhembus lembut, membawa aroma yang menenangkan.Di atas pasir—Jasmine duduk bersila.Tangannya sibuk membentuk sesuatu.“Atar, yang besar ya. Ini harus jadi istana, bukan rumah biasa,” katanya serius, seolah proyek itu adalah hal paling penting di dunia.Atar yang duduk di sampingnya hanya tersenyum.Lengan switernya sudah digulung, tangannya ikut kotor oleh pasir—namun wajahnya tetap tenang.“Baik, Nona Arsitek,” jawabnya ringan.“Menara berapa?”“Empat. Yang tinggi. Terus di sini ada pintu besar… sama jalan masuk.”Atar mengangguk patuh.Ia mengikuti setiap instruksi, membentuk, merapikan, bahkan memperhalus sisi-sisi istana pasir itu dengan telaten.Sesekali—Jasmine tertawa kecil saat bentuknya tidak sesuai bayangannya.Dan Atar… hanya ikut tertawa, memperbaikinya tanpa keluhan.Waktu berlalu tanpa terasa.Dan akhirnya—“Jadi!” seru Jasmine bangga.Di depan mereka berdiri sebuah

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 981

    Langit masih berwarna gelap kebiruan ketika pintu vila itu dibuka perlahan.Tidak ada suara.Tidak ada langkah yang tergesa.Hanya dua bayangan yang bergerak hati-hati—seperti pencuri yang takut ketahuan.Namun yang mereka curi, bukan barang melainkan waktu.Waktu untuk berdua.“Akhirnya…” bisik Atar pelan, sambil menutup pintu tanpa suara.Ia menoleh ke samping.Menatap Jasmine yang sudah berdiri di sebelahnya, dengan wajah setengah mengantuk namun tetap cantik seperti biasa.“…kita bisa berdua. Kabur dari para bayi.”Nada suaranya santai.Namun ada kelegaan di sana.Jasmine menutup mulutnya, menahan tawa.“Iya… tapi ini bukan kabur,” balasnya pelan. “Ini strategi.”Atar mengangkat alis.“Strategi?”Jasmine mengangguk serius.“Kita pergi sebelum mereka bangun.”Ia melirik ke arah dalam vila.“Kalau Eve sama Deon sudah bangun, selesai sudah. Kita gak akan ke mana-mana.”Atar tertawa pelan.Tidak keras.Namun cukup untuk menunjukkan betapa ia menikmati momen kecil itu.“Kamu ini ya…” g

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 980

    Pintu itu akhirnya terbuka.Arbi melangkah keluar.Napasnya masih terasa berat, meskipun percakapan di dalam sudah berakhir.Wajahnya masih tegang.Rahangnya sedikit mengeras.Dan matanya belum sepenuhnya tenang.Namun bahkan sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, sebuah bayangan kecil langsung mendekat dengan cepat.“Akhirnya keluar juga!”Suara itu ceria, ringan.Dan sangat kontras dengan suasana barusan.Alicia.Gadis itu sudah berdiri di sana sejak tadi.Menunggu.Dan begitu melihat Arbi keluar—ia langsung menghampirinya tanpa ragu.Tanpa memberi ruang, tanpa memberi waktu untuk pria itu.“Aduh, sini dulu—”Belum sempat Arbi berkata apa-apa, Alicia sudah menarik lengannya, memaksanya sedikit membungkuk.Tangannya mulai bergerak.Memeriksa dengan wajah serius.Dimulai dari wajah manis kekasihnya."Mata, aman." Alice berkata setelah memastikan kondisi mata Arbi yang baik-baik saja."telinga, ada. Hidung juga baik. Tidak bengkak, atau berdarah.Bahkan sampai ke jari-jarinya.“Hmm…

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 979

    Arbi berdiri tegak di hadapan tiga pria yang kini menjadi batas antara dirinya dan Alicia.Ia sudah menyatakan sikapnya.Ia tidak akan mundur.Namun tetap saja hati kecilnya ngedumel. Yang salah Alicia. Yang merayu duluan, Alicia. Yang ngotot ngajak pacaran juga gadis itu. Tapi mengapa saat di sidang harus ia sendiri? Lalu di mana letak keadaan?Arbi merasakan jantungnya berdebar lebih cepat ketika Michael melangkah mendekat dengan santai, tetapi sorot matanya jelas menunjukkan bahwa tidak ada sedikit pun hal santai dalam situasi ini.“Kalau begitu,” ucapnya pelan, suaranya stabil dan terukur, “kami tidak akan melarang hubungan ini.”Arbi sedikit bernafas lega setelah mendengar ucapan Michael.Namun kalimat selanjutnya, membuat ia menelan ludah.“Tapi jangan salah paham,” lanjut Michael, menatap lurus ke arah Arbi, “diizinkan bukan berarti tanpa batas.”Samuel di sampingnya menghela napas pelan, lalu menyilangkan tangan di dada. Wajahnya tetap tenang, tetapi aura yang ia bawa jauh leb

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 978

    Arbi berdiri di ujung tangga lantai dua.Napasnya terasa berat.Bukan karena lelah—melainkan karena tekanan yang perlahan menekan dadanya.Tangannya masih terasa dingin sejak menerima panggilan singkat itu."Kami menunggumu di balkon atas."Hanya satu kalimat.Namun cukup untuk membuat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan terburuk.Ia mengangkat wajahnya perlahan.Lorong lantai dua terlihat lebih sunyi dari biasanya.Lampu temaram menyinari lantai marmer yang mengilap.Angin malam masuk dari arah balkon, membawa hawa dingin yang menusuk kulit.Dan di sana tiga sosok itu sudah menunggu.Samuel berdiri tegak dengan tangan terlipat di dada, wajahnya tenang namun tatapannya tajam, menusuk tanpa ampun. Michael berdiri tidak jauh darinya, bersandar santai di pagar balkon, tetapi sorot matanya jelas tidak santai. Sementara itu, Darren duduk di kursi dengan posisi yang tenang—terlalu tenang—justru itulah yang paling membuat bulu kuduk Arbi meremang. Pemuda itu yang paling muda. Sudah pas

  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 899

    Malam itu, tepat setelah keputusan dibuat, mansion Samuel berubah menjadi ruang medis darurat yang sempurna.Sebenarnya, semuanya sudah dipersiapkan jauh hari.Atas permintaan Violet sendiri.Satu ruangan di lantai dasar telah disulap menjadi ruang persalinan privat.Steril.Terang.Lengkap dengan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 857

    Anisa menarik napas perlahan, lalu menoleh ke arah Lusi dan Arbi yang duduk di sisi ranjangnya. Matanya masih sembap, namun ketenangan mulai tumbuh di wajahnya.“Oma… Paman,” katanya lirih. “Bagaimana kabar kalian di Indonesia?”Lusi tersenyum hangat, sebuah senyum penuh cahaya seolah hidupnya baik

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 860

    Noah menyandarkan punggungnya pada kursi ruang tunggu rumah sakit yang terasa dingin. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat, seolah suara di seberang sana adalah satu-satunya jangkar yang menjaga kewarasannya di tengah situasi sulit ini."Mommy," sapanya lembut saat panggilan tersambung.Di laya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Menjadi Ibu Susu untuk Anak Presdir   Bab 869

    Napas Noah mulai teratur.Dari posisi duduknya di tepi ranjang, Aishwa memperhatikan wajah suaminya yang pucat, masih menyisakan lelah setelah muntah berkali-kali. Alisnya sedikit berkerut bahkan saat tidur, seolah tubuhnya belum sepenuhnya menyerah pada istirahat.Alat yang tadi digunakan untuk me

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status