INICIAR SESIÓNArbi duduk bersandar di sofa, namun matanya tidak sedetik pun beralih dari meja kaca dan sofa panjang di hadapannya. Di sana, berbagai kotak akrilik transparan berhias pita satin mewah berjejer rapi. Semuanya dikemas dengan sangat cantik dan berkelas. Mulai dari sepatu desainer, tas bermerek internasional, sandal, handuk premium, pakaian jalan, baju tidur sutra, pakaian dalam, satu set alat make-up dari brand kosmetik ternama, hingga satu set perhiasan lengkap. Mulai dari anting, kalung, cincin, gelang, hingga jam tangan mewah. Semua barang-barang ini dibeli langsung di toko-toko resminya. Eliza, dan Kiara, tidak mau memesan secara online, demi menghemat tenaga. Mereka memilih untuk melihat langsung prodak nya. Semuanya barang-barang dipilih dengan teliti.Melihat deretan hantaran yang sudah ditata dengan sangat rapi itu, dada Arbi mendadak terasa sempit. Jantungnya berdebar semakin cepat, memompa darah berbalut rasa gugup sekaligus tidak sabar."Kenapa masih melamun di situ? Ayo
Nathan kemudian memandang Arbi dengan binar bangga. "Aku senang melihat kesuksesan mu." "Semua ini karena bimbingan mas Nathan." Bagi Arbi, Nathan bukan sekadar abang angkat atau kerabat. Nathan adalah mentor, guru, dan pelindung.Setiap kali Arbi melakukan kesalahan bodoh dalam hidup, Nathan adalah orang pertama yang turun tangan menyelamatkannya tanpa banyak menghakimi. Pria itu pula yang membimbingnya di dunia bisnis, mengajarkan Arbi dengan keras bahwa dunia korporasi tidak seindah yang tampak di permukaan. “Di dunia bisnis, Arbi, kamu harus belajar membedakan mana kawan dan mana musuh yang memakai topeng persahabatan,” kalimat Nathan itu yang selalu Arbi pegang hingga perusahaannya bisa berdiri tegak seperti sekarang."Duduk, Arbi. Jangan berdiri terus seperti terdakwa," kelakar Nathan, suaranya berat namun bersahabat.Setelah semua duduk bersila dengan cangkir teh di tangan masing-masing, Lusi membuka suara, menyampaikan maksud kedatangan mereka. Suasana seketika berubah serius
Mansion megah keluarga Hermawan berdiri kokoh di bawah langit malam Jakarta. Bagi Arbi, tempat ini bukan sekadar simbol kekayaan, melainkan sebuah rumah aman. Begitu mobil yang dikendarainya berhenti di pelataran, debar dada Arbi semakin tak karuan. Malam ini, di dalam bangunan itu, masa depannya akan ditentukan.Lusi menepuk lembut tangan putranya sebelum turun. "Tenang. Mereka keluarga kita."Di ruang keluarga yang hangat, Nathan dan Eliza ternyata sudah menunggu. Begitu melihat langkah Arbi dan Lusi, Eliza langsung berdiri dengan senyum lebar yang selalu berhasil menenangkan badai di kepala Arbi.Sejak Marwan—papi Arbi—meninggal dunia, Elizalah sosok yang selalu berdiri di garda terdepan untuknya. Hubungan mereka sebenarnya rumit jika dirunut dari masa lalu. Elizabeth sempat bercerai dengan Sandy, yang merupakan saudara satu ayah dengan Arbi. Secara hukum, status Eliza sebagai kakak ipar sudah lama tanggal. Namun bagi Arbi, sekat-sekat masa lalu itu tidak pernah ada. Eliza jauh leb
Arbi mengembuskan napas berat. "Sebenarnya... dari dulu aku takut jadi orang kaya, Mi. Hanya saja, takdir sepertinya punya rencana lain." Arbi mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah mewah mereka. "Rumah kita sekarang jauh lebih besar dari yang dulu. Kehidupan kita berubah total. Aku senang bisa menjadikan Mami seperti ratu di sini. Dan semua ini... hasil kerja kerasku, doa mami , dan mas Nathan, yang selalu menjadi dewa dan Dewi penyelamat untuk ku."Arbi memang bisa saja sukses secara instan jika dia mau memanfaatkan koneksi keluarga Hermawan. Namun, harga dirinya terlalu tinggi. Dia memilih jalur keras; bekerja di tempat yang mengutamakan otak dan tenaga, bukan menjual kedekatan.Lusi menatap putranya dengan dahi berkerut, heran. "Semua orang bermimpi jadi orang kaya, Arbi. Kenapa kamu malah takut?""Aku takut sombong, Mi. Aku takut uang mengubahku menjadi orang lain. Menjadi anak yang durhaka karena terlalu sombong dan angkuh."Mata Lusi melembut. Dia menggeser duduknya, lalu
Arbi menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap lurus ke langit-langit ruang tamu yang tinggi. Di luar, matahari senja mulai tenggelam, memantulkan semburat jingga di dinding rumah baru mereka. Rumah yang megah, jauh berbeda dari rumah yang dulu. Rumah yang ia beli dari hasil gajinya di sebuah perusahaan. Namun, di balik kemewahan ini, ada gemuruh di dada Arbi yang tidak bisa diredam oleh dinding beton seharga miliaran rupiah."Sepertinya anak Mami sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat?"Suara lembut itu memecah keheningan. Lusi berjalan mendekat, membawa secangkir teh hangat sebelum duduk di kursi tepat di hadapan putranya. Wajah wanita paruh baya itu memancarkan ketulusan yang murni, tatapannya selalu berhasil membuat Arbi merasa aman, seberapa pun kerasnya dunia luar menghantamnya.Arbi menegakkan duduknya, memandang ibunya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Rasa ragu itu kembali merayap, mencengkeram hatinya."Menurut Mami... apakah sudah waktunya aku pergi ke Paris?" Arbi
Paris tetap sibuk seperti biasanya.Kota itu dipenuhi langkah-langkah manusia yang sedang mengejar mimpi. Lampu-lampu jalan yang tidak pernah benar-benar tidur. Dan musim dingin yang terasa lebih tenang dibanding empat tahun lalu.Di salah satu universitas ternama di —Alicia berjalan keluar dari ruang kelas sambil membawa laptop dan beberapa buku ekonomi tebal di pelukannya.Penampilannya jauh lebih dewasa sekarang.Rambut panjangnya tergerai rapi. Tatapannya tenang. Dan cara bicaranya tidak lagi seceroboh gadis manja yang dulu selalu mengikuti Arbi ke mana-mana.Kini— Alicia sudah menyelesaikan pendidikan sarjananya.Dan sekarang ia sedang melanjutkan program magister di bidang ekonomi dan bisnis internasional.Bukan tanpa alasan.Karena sejak dulu— ia sudah memiliki satu tujuan yang tidak pernah berubah.Membantu Arbi.Membantu pria itu membangun perusahaan yang lebih besar lagi di masa depan.“Alicia!”Seorang dosen memanggilnya dari belakang.Gadis itu langsung menoleh sopan.“Ye
Momen sarapan pagi ini ditutup dengan suasana yang hangat dan penuh cinta.Tawa Olivia yang polos, candaan ringan Hermawan, serta kebersamaan yang tercipta di meja makan, membuat pagi itu terasa begitu berharga. Para pelayan mulai merapikan meja saat semua anggota keluarga bersiap melanjutkan aktiv
"Albert, udaranya semakin dingin."Suara Aruna terdengar lirih, diiringi oleh getaran halus dari jemari yang mulai membeku. Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba menghalau dingin yang perlahan merayap hingga ke tulangnya.Selain karena hawa dingin, ia sebenarnya ingin mengajak pria itu segera kembali
Malam itu begitu dingin. Angin dari jendela balkon menggoyangkan tirai tipis di apartemen mewah milik Sherly, menebarkan aroma rokok yang baru saja dinyalakan. Jemari wanita itu sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena kegembiraan yang nyaris tidak bisa dikendalikan. Ia merasa permainan ini
Albert duduk gelisah di atas tempat tidur. Kamar mewah dan dingin itu mendadak terasa pengap, seolah tembok-temboknya ikut menertawakan kegelisahan hatinya. Bantal-bantal berserakan, dasi tergulung di lantai, dan kemeja yang tadi ia kenakan telah dilempar asal ke sofa. Tapi pikirannya tidak ada di







