INICIAR SESIÓNRuang operasi mendadak riuh.Bukan karena kesalahan prosedur, bukan pula karena alat yang gagal—melainkan karena sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.Saat brankar pendonor didorong masuk ke ruang operasi, monitor tiba-tiba menunjukkan perubahan ritme. Kelopak mata gadis itu bergerak. Lalu—perlahan—terbuka.Semua tangan terhenti.Semua suara tercekat.“Itu… mustahil,” bisik salah satu perawat.Pasien itu sudah melewati fase di mana kesadaran seharusnya tak mungkin kembali. Obat bius telah diberikan. Tubuhnya berada di ambang batas kegagalan total. Dalam dunia medis, ini tidak pernah masuk daftar kemungkinan.Namun kenyataan berdiri tepat di depan mereka.Gadis itu menarik napas dalam-dalam—dan dengan gerakan lemah namun sadar, ia melepas masker oksigen dari wajahnya.“Kau… bangun?” suara Leo terdengar asing di telinganya sendiri. Bingung. Terpukul.Apalagi ia tahu pasti: dosis anestesi yang diberikan seharusnya membuat pasien tertidur permanen.Gadis itu menoleh perlahan. Wajahnya pu
Detik-Detik yang Hampir TerlambatLeo tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur.Ia hanya ingat duduk bersandar, mata terpejam, dan rasa berat yang menekan seluruh tubuhnya seperti beban berton-ton. Tidak ada mimpi. Tidak ada jeda yang layak disebut istirahat. Hanya kesunyian singkat sebelum kesadarannya ditarik kembali secara paksa.Bukan oleh alarm.Melainkan oleh keheningan yang terasa salah.Leo membuka mata perlahan. Monitor masih menyala. Garis-garis masih bergerak. Namun ada sesuatu yang berubah—terlalu halus untuk disebut darurat, terlalu sunyi untuk diabaikan.Angka tekanan darah tidak jatuh drastis. Ia merosot.Sedikit. Lalu sedikit lagi.Perfusi jaringan menurun nyaris tak terasa, seperti jam pasir yang bocor tanpa suara.Leo langsung berdiri.“Berapa lama ini terjadi?” tanyanya rendah.“Sejak sepuluh menit lalu,” jawab perawat ICU. “Kami sudah koreksi cairan. Responsnya lambat.”Itu yang berbahaya.Jika tubuh tidak lagi merespons cepat, artinya cadangan terakhir mulai habis.L
Dua hari.Bukan waktu yang lama bagi dunia, tapi cukup panjang bagi Anisa yang terbiasa mendengar suara Leo. Jika pria itu berada diluar, apakah itu sedang praktek atau ada urusan lain, maka setiap saat memberitahu kabarnya dan bertanya kamu sedang apa. Meskipun sekadar pesan singkat, satu panggilan, atau emoji menggambarkan suasana hatinya. Kali ini tidak ada sama sekali.Tidak ada pesan.Tidak ada panggilan.Nomor Leo tidak aktif.Anisa mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Leo pasti sibuk. Sangat sibuk. Jadi wajar jika tidak menghubunginya. Namun entah mengapa, kali ini rasa gelisah itu tidak mau pergi. Seolah ada ruang kosong yang tidak bisa diisi dengan logika.Ia mencoba lagi.Nada sambung, lalu terputus.Hatinya mencelos.Pada akhirnya, Anisa menghubungi Noah.Telepon itu terangkat cepat. Namun suara di seberang bukan Noah.“Hallo?” suara perempuan itu lembut.“Aishwa?” Anisa mengenalinya.“Iya, Kak Anisa. Mas Noah lagi mandi,” jawab Aishwa ringan. “Ada apa, nanti aku sampaikan
Pesawat medis mendarat menjelang subuh.Bukan di terminal umum, melainkan di area khusus yang jauh dari keramaian. Lampu landasan menyala redup. Tidak ada penumpang lain. Tidak ada suara selain mesin yang melambat dan instruksi singkat dari menara.Begitu roda berhenti sepenuhnya, pintu kabin dibuka.Udara lembap khas Indonesia langsung menyergap masuk.Di bawah, dua ambulans medis sudah menunggu. Mesin menyala. Lampu darurat tidak berkedip berlebihan—cukup untuk menandai bahwa ini operasi prioritas, bukan evakuasi biasa. Di sekelilingnya, tim medis Indonesia berdiri siap, dengan seragam lengkap dan wajah fokus.Tidak ada basa-basi.Brankar khusus segera diturunkan.Pintu ambulans terbuka bersamaan.Leo turun lebih dulu. Langkahnya cepat, tidak tergesa, tapi penuh tujuan. Ia tidak perlu bertanya. Semua orang di sana sudah tahu peran masing-masing.“Tekanan darah?” tanyanya singkat.“Masih stabil dengan bantuan,” jawab salah satu dokter ambulans.“Ventilator portabel?”“Siap. Saturasi
Anisa terbangun ketika cahaya pagi menyelinap perlahan melalui celah tirai. Untuk sesaat, ia bergeming, menunggu rutinitas yang biasanya hadir lebih dulu sebelum kesadarannya utuh.Biasanya, Leo sudah ada di sana.Biasanya, suara napas pria itu yang pertama kali ia dengar.Lalu, tangan kokoh itu akan mengangkatnya pelan, seolah tubuh Anisa bukanlah beban. Leo akan menggendongnya menuju kamar mandi, atau kembali merebahkannya sambil berbisik manja bahwa pagi terlalu dingin untuk dilewati sendirian.Namun pagi ini, kesunyian menyambutnya dengan dingin.Tempat di sampingnya kosong. Terlalu rapi.Tidak ada jejak yang menunjukkan seseorang baru masuk ke dalam kamarnya. Atau aroma parfum milik Leo Anisa duduk perlahan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena panik, melainkan karena sebuah firasat yang belum berani ia beri nama.“Leo?” panggilnya lirih.Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang memantul di dinding kamar. Ia meraih ponsel di nakas. Layarnya menyala, menampilkan
Leo tidak kembali ke apartemen.Setelah panggilan dari Indonesia terputus, ia masih berdiri di ruang istirahat dokter Rumah Sakit Zürich. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul delapan malam—beberapa menit lagi jadwal praktik malamnya dimulai.Koridor rumah sakit tetap sibuk. Langkah kaki perawat, roda brankar yang berderit pelan, dan bunyi monitor jantung bercampur menjadi irama yang akrab. Dunia berjalan seperti biasa.Hanya Leo yang terasa berhenti.Ia menatap tablet di tangannya. Data pasien, jadwal operasi, protokol transplantasi—semuanya masih terbuka. Namun pikirannya telah melompat ribuan kilometer jauhnya, menuju sebuah ruang ICU di Indonesia. Seorang gadis tanpa nama. Tanpa keluarga. Bertahan hidup hanya karena mesin.Leo menarik napas panjang.Tidak ada waktu untuk ragu.Dengan gerakan cepat dan terukur, ia mulai bekerja.Pesawat medis—air ambulance internasional—ia pesan untuk jadwal tercepat. ICU udara lengkap. Ventilator portabel. Cadangan oksigen berlapis. Sistem monit







