LOGINPagi itu, langit Paris tampak begitu cerah.Sinar matahari musim semi menyelinap lembut melalui jendela-jendela besar mansion Samuel dan Violet.Hari yang telah ditunggu selama bertahun-tahun akhirnya tiba.Hari pernikahan Arbi dan Alicia.Sejak subuh, suasana rumah sudah dipenuhi kesibukan.Para pelayan keluar masuk membawa pakaian, kotak-kotak perlengkapan, serta berbagai kebutuhan untuk acara pernikahan.Samuel bahkan sudah sibuk sejak pagi mengurus berbagai hal, sementara Violet beberapa kali menerima panggilan dari mansion Albert yang hari ini jauh lebih ramai.Namun di tengah semua kesibukan itu—Arbi justru duduk sendirian di balkon kamar yang disediakan untuknya.Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun berjuang...ia merasa gugup.Sangat gugup.Bahkan saat pertama kali mendirikan perusahaan.Bahkan saat menandatangani kontrak bernilai miliaran.Bahkan saat berbicara di depan ratusan investor.Ia tidak pernah segugup ini.Hari ini berbeda.Karena hari ini bukan tentang uan
Mereka bertiga kemudian langsung tertawa. Mungkin karena sama-sama pusing.Silsilah keluarga mereka memang sudah terlalu rumit untuk dijelaskan.Akhirnya Arbi mengangkat kedua tangan."Aku menyerah.""Bagus." Jawab Samuel."Aku cemas. Jika kamu tidak menyerah, apa lagi besok hari pernikahan mu.""Panggil apa saja terserah."Samuel menganggukkan kepalanya.Lalu menatap Arbi beberapa saat."Kamu deg-degan ya?"Arbi mengangguk pelan.Kali ini tanpa bercanda."Iya, Sangat."Samuel tersenyum tipis.Ekspresinya berubah lebih hangat."Aku juga begitu dulu.""Michael juga.""Bahkan Leo dan Noah lebih parah."Arbi tertawa kecil.."Serius?""Iya.""Malam sebelum menikah mereka gak tidur. Padahal sudah jelas besok acara."Arbi menggeleng.Ternyata dirinya tidak sendirian.Samuel menyandarkan tubuhnya ke sofa.Lalu berkata pelan."Besok semuanya akan baik-baik saja."Arbi diam."Kamu sudah menunggu empat tahun. Sudah bekerja keras. Sudah membuktikan dirimu."Samuel tersenyum kecil. Samuel, Micha
Akhirnya Arbi menyerah dan keluar dari kamar.Rumah Samuel masih cukup terang.Beberapa lampu masih menyala.Dan dari ruang keluarga terdengar suara-suara kecil.Ketika mendekat, Arbi langsung menemukan sumber keributan itu.Violet sedang duduk di lantai dengan wajah yang mulai terlihat lelah.Samuel duduk di samping istrinya sambil membaca sebuah buku.Sedangkan Eve...Gadis kecil berusia lima tahun itu duduk bersila di atas karpet dengan wajah serius.Sangat serius.Seolah sedang menghadapi ujian masuk universitas."Kamu punya lima permen," ujar Violet sabar."Iya.""Lalu kamu kasih dua permen untuk Amelia.""Iya.""Berapa sisa permenmu?"Eve berpikir beberapa detik.Lalu menjawab mantap."Tetap lima."Violet membeku.Samuel langsung menutup bukunya perlahan."Kenapa tetap lima?" tanya Violet.Karena aku nggak kasih permen ke Amelia.""Hah?""Dia pelit."Violet memejamkan mata."Eve...""Dia juga suka ambil pensilku.""Eve..." Violet sampai kehilangan kata-kata."Aku nggak suka dia.
Satu hari jelang pernikahan. Kamar Alicia berubah menjadi markas besar dengan intensitas kesibukan yang jauh melampaui level tesis magister.Aruna, Olivia, Eliza, Yura, Violet, Anisa dan Jasmine berkumpul di sana, sementara Kiara dan Lusi mondar-mandir memastikan segalanya sempurna."Aduh, pelan-pelan dong!" rintih Alicia saat seorang terapis kecantikan menarik alisnya."Kalau nggak sakit, berarti nggak cantik," sahut Olivia santai sambil menahan napas karena wajahnya sedang dibaluri masker."Kak Olivia!""Ini belum seberapa dibandingkan malam pertama nanti," celetuk Aishwa.Semua wanita di ruangan itu tertawa, membuat Olivia hampir merusak maskernya sendiri. Alicia hanya bisa mendengus kesal melihat kakak-kakak iparnya yang kompak mengerjainya.Setelah luluran, perawatan rambut, hingga manikur yang tidak ada habisnya, Alicia akhirnya menyandarkan kepala ke kursi dengan putus asa. "Aku menyerah. Kalau menikah sesulit ini, kenapa orang-orang masih mau melakukannya berulang kali?""Mer
Frustrasi Arbi sudah mencapai level mematikan.Setelah insiden fiting baju yang gagal total kemarin, pria itu benar-benar tidak bisa tidur semalaman. Di otaknya hanya ada bayangan wajah Alicia, tawa Alicia, dan fakta bahwa gadis itu hanya berjarak beberapa kilometer darinya, namun rasanya seperti terpisah antar galaksi.Aturan pingitan ini sudah tidak sehat untuk kewarasannya."Kalau aku tidak bisa menemuinya lewat jalur resmi, berarti aku harus pakai jalur belakang," bisik Arbi pada dirinya sendiri di dalam kamar.Sepasang matanya menyipit tajam, menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Ini waktu yang tepat. Di jam begini, rumah utama keluarga Albert pasti sudah sepi. Pelayan sudah beristirahat, dan para singa penjaga—Michael dan Darren—pasti sudah berada di kamar masing-masing.Arbi menyambar jaket hoodie hitam longgar dan topi dengan warna senada. Gaya ala pencuri. Dia tidak peduli lagi jika besok harus dihajar Michael atau disindir habis-habisan oleh Darren. Yang
"Mas Samuel, mobil jemputan untuk ke butik sudah siap?" tanya Arbi dengan binar mata yang tidak bisa disembunyikan.Samuel menurunkan korannya sedikit, menatap Arbi dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan datar. "Mau ke butik mana?""Butik desainer gaun pengantin aku dan Alicia, Mas. Bukankah hari ini jadwal fiting busana?" jawab Arbi, dahi sedikit berkerut melihat ekspresi santai calon kakak ipar.Violet yang sedang memegang pisau buah seketika menghentikan gerakannya, lalu menatap Arbi dengan pandangan kasihan yang sangat kentara."Paman Arbi... kamu belum dikabari oleh desainer papan atas Paris itu?" tanya Violet hati-hati.Perasaan Arbi mendadak tidak enak. Jantungnya berdebar cepat. "Dikabari soal apa, Vio?"Tepat pada saat itu, bel pintu rumah mewah Samuel berbunyi nyaring. Seorang pelayan berjalan cepat membukakan pintu, dan tak lama kemudian, tiga orang asing berjas rapi masuk ke dalam ruangan tamu sambil mendorong sebuah rak gantung beroda yang ditutupi oleh kain
Eliza duduk di sofa, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana kain biru muda. Tatapannya lembut, tapi ada sesuatu yang tersimpan di balik senyumnya. Sesuatu yang ingin ia bicarakan sejak semalam. Tak lama, langkah kaki Noah terdengar menuruni tangga. Ia sudah siap dengan seragamnya, dasi suda
Suara pengumuman dari pengeras suara menggema lembut di ruang tunggu bandara, bercampur dengan deru langkah penumpang yang lalu lalang. Di salah satu sudut kursi tunggu, Samuel duduk dengan tenang dan di pangkuannya, Violet bersandar manja, sambil memegang cup kecil es krim rasa cokelat. “Mas Sam
Nathan mengobrol santai dengan Dirga. Mantan asisten pribadinya itu kini telah menjadi seorang pengusaha sukses. Dirga berhasil mengembangkan perusahaan milik ayah mertuanya dengan sangat baik. Semua ini berkat Nathan. Selama 7 tahun menjadi asisten pribadi Nathan, begitu banyak ilmu yang dia dapat
Malam ini udara terasa dingin menusuk. Namun tubuh Yura justru berkeringat. Ia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun pengantin berwarna ivory lembut yang membuat kulitnya tampak berpendar. Jemarinya bermain gugup di atas lipatan kain, sementara jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.







