LOGINPesawat medis mendarat menjelang subuh.Bukan di terminal umum, melainkan di area khusus yang jauh dari keramaian. Lampu landasan menyala redup. Tidak ada penumpang lain. Tidak ada suara selain mesin yang melambat dan instruksi singkat dari menara.Begitu roda berhenti sepenuhnya, pintu kabin dibuka.Udara lembap khas Indonesia langsung menyergap masuk.Di bawah, dua ambulans medis sudah menunggu. Mesin menyala. Lampu darurat tidak berkedip berlebihan—cukup untuk menandai bahwa ini operasi prioritas, bukan evakuasi biasa. Di sekelilingnya, tim medis Indonesia berdiri siap, dengan seragam lengkap dan wajah fokus.Tidak ada basa-basi.Brankar khusus segera diturunkan.Pintu ambulans terbuka bersamaan.Leo turun lebih dulu. Langkahnya cepat, tidak tergesa, tapi penuh tujuan. Ia tidak perlu bertanya. Semua orang di sana sudah tahu peran masing-masing.“Tekanan darah?” tanyanya singkat.“Masih stabil dengan bantuan,” jawab salah satu dokter ambulans.“Ventilator portabel?”“Siap. Saturasi
Anisa terbangun ketika cahaya pagi menyelinap perlahan melalui celah tirai. Untuk sesaat, ia bergeming, menunggu rutinitas yang biasanya hadir lebih dulu sebelum kesadarannya utuh.Biasanya, Leo sudah ada di sana.Biasanya, suara napas pria itu yang pertama kali ia dengar.Lalu, tangan kokoh itu akan mengangkatnya pelan, seolah tubuh Anisa bukanlah beban. Leo akan menggendongnya menuju kamar mandi, atau kembali merebahkannya sambil berbisik manja bahwa pagi terlalu dingin untuk dilewati sendirian.Namun pagi ini, kesunyian menyambutnya dengan dingin.Tempat di sampingnya kosong. Terlalu rapi.Tidak ada jejak yang menunjukkan seseorang baru masuk ke dalam kamarnya. Atau aroma parfum milik Leo Anisa duduk perlahan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena panik, melainkan karena sebuah firasat yang belum berani ia beri nama.“Leo?” panggilnya lirih.Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang memantul di dinding kamar. Ia meraih ponsel di nakas. Layarnya menyala, menampilkan
Leo tidak kembali ke apartemen.Setelah panggilan dari Indonesia terputus, ia masih berdiri di ruang istirahat dokter Rumah Sakit Zürich. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul delapan malam—beberapa menit lagi jadwal praktik malamnya dimulai.Koridor rumah sakit tetap sibuk. Langkah kaki perawat, roda brankar yang berderit pelan, dan bunyi monitor jantung bercampur menjadi irama yang akrab. Dunia berjalan seperti biasa.Hanya Leo yang terasa berhenti.Ia menatap tablet di tangannya. Data pasien, jadwal operasi, protokol transplantasi—semuanya masih terbuka. Namun pikirannya telah melompat ribuan kilometer jauhnya, menuju sebuah ruang ICU di Indonesia. Seorang gadis tanpa nama. Tanpa keluarga. Bertahan hidup hanya karena mesin.Leo menarik napas panjang.Tidak ada waktu untuk ragu.Dengan gerakan cepat dan terukur, ia mulai bekerja.Pesawat medis—air ambulance internasional—ia pesan untuk jadwal tercepat. ICU udara lengkap. Ventilator portabel. Cadangan oksigen berlapis. Sistem monit
Suara dokter dari Indonesia terdengar jelas di seberang sambungan internasional itu. Nada profesional, tenang—namun setiap kata yang keluar seperti menghitung harga sebuah nyawa.“Pak Leo,” dokter itu memulai, “saya akan jelaskan secara rinci, supaya tidak ada yang Bapak setujui tanpa memahami seluruh risikonya.”Leo mengangguk pelan meski dokter tak bisa melihatnya. Tenggorokannya terasa kering.“Pertama, biaya perawatan pasien selama di rumah sakit,” lanjut dokter itu.“Karena ini pasien kritis, sejak masuk ICU hingga hari ini, seluruhnya menggunakan fasilitas intensif—ventilator, obat-obatan penunjang hidup, transfusi darah, dan monitoring organ penuh dua puluh empat jam.”Dokter berhenti sejenak, seolah memberi ruang agar angka itu benar-benar diserap.“Total sementara, untuk perawatan medis saja… sudah menyentuh angka dua koma tiga miliar rupiah.”Jemari Leo mengencang di tepi meja. Ia tidak terkejut—namun tetap terasa berat.“Belum termasuk,” suara dokter kembali masuk, “biaya t
“Capek kenapa?” tanya Aishwa, kini nadanya lebih lembut.“Capek berharap,” jawab Anisa sederhana. “Dan capek marah sama diri sendiri.”Aishwa mengangguk pelan, lalu menopang dagunya. “Aku dulu juga capek,” katanya tiba-tiba. “Capek pura-pura nggak takut sama pernikahan. Padahal pas hari pertama aja, pinggangku langsung protes.”Noah mendesah. “Kenapa itu diceritakan ke semua orang?”“Itu fakta,” balas Aishwa cepat.Anisa tertawa lagi, kali ini lebih lama. Meskipun dia sebenarnya tidak paham. “Kamu memang nggak berubah.”“Syukurlah,” jawab Aishwa bangga. “Kalau aku berubah jadi kalem, Mas Noah bisa stres.”Noah mengangkat tangan. “Aku tersinggung tapi pasrah.”Leo ikut tersenyum, lalu menyeruput kopinya. “Aku baru tahu Paris punya efek samping begini,” katanya santai. “Menyatukan orang-orang yang dulu kaku.”Anisa menoleh ke Aishwa. “Terima kasih ya.”Aishwa berkedip. “Untuk apa?”“Karena kamu bahagia,” jawab Anisa jujur. “Dulu aku kira, melihat itu bakal menyakitkan.”Aishwa terdiam
Beberapa hari di Prancis terasa seperti potongan mimpi yang dipinjamkan Tuhan kepada Anisa. Leo membawanya menjelajahi tempat-tempat indah—bukan dengan tergesa-gesa, bukan dengan rasa iba—melainkan dengan kesabaran yang tenang. Ia tidak pernah membuat Anisa merasa “dibantu”, melainkan benar-benar ditemani.Kini koper terbuka di tengah kamar hotel, pakaian-pakaian tersusun rapi di atas ranjang. “Leo, tidak perlu menolongku. Aku bisa membereskan semuanya sendiri,” ujar Anisa ketika melihat Leo hendak meraih salah satu gaunnya.Leo berhenti. Tidak membantah, tidak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu melangkah mundur setengah langkah. Tangannya masuk ke saku celana, matanya mengamati—bukan mengawasi.Anisa melipat pakaian dengan cekatan. Gerakannya teratur, tenang, seolah sudah sangat terbiasa mengurus dirinya sendiri. Kaos, gaun, syal—semuanya tersusun rapi ke dalam koper.Leo tersenyum kecil. Bukan karena kagum pada kerapian Anisa, melainkan karena ia melihat sesuatu yang jauh lebi







