LOGIN"Aku harus ke luar kota. Tapi--" David berjongkok dan mengecup perut istrinya yang duduk di sofa. "Kamu sudah banyak menghindari pekerjaan keluar kota apalagi luar negeri selama aku hamil. Dan katanya kalau kali ini kamu gagal menemui profesor itu, maka rumah sakitmu akan kehilangan kerja sama besar yang jadi rebutan semua rumah sakit di kota ini." Irish mengusap pelan kepala suaminya.Lalu, pria itu duduk begitu saja di lantai dan mengusap-usap perut istrinya. Rasanya berat dan tak rela kalau meninggalkan istrinya yang hamil sudah 9 bulan itu pergi jauh. Apalagi hari perkiraan lahir tinggal dalam Minggu ini."Anak Papa yang cantik dan hebat. Kamu harus jaga Mamamu. Jaga dirimu juga. Meski raga Papa nggak dekat, tapi kalian tetap prioritas. Papa akan jaga kalian sebisanya, semaksimal mungkin." David bicara menatap perut istrinya.Irish tersenyum lebar. Sejujurnya berusaha tersenyum. Karena dalam hatinya yang jujur, dia juga tak mau ditinggalkan oleh suami di detik-detik menunggu kela
"OMMMMM!" teriak Galaxy tiba-tiba muncul tanpa diundang.David yang baru saja memasukkan satu suapan langsung tersedak. "UHUKKK! UHUKK!"Irish menyodorkan air putih. "Pelan-pelan, Sayang. Cuma ada Galaxy, kamu seperti dengar kabar mobilmu meledak."David meneguk cepat dan membuang nafasnya dari mulut. Wajahnya masih merah antara tersedak dan menahan kesal. Dadanya naik turun kembang-kempis.'Haish, sial sial. Bocah demit ini selalu saja gentayangan di sekitarku! Sepertinya aku harus cari cenayang atau orang pintar yang bisa menjinakkan demit satu ini, biar nggak gentayangan lagi di sekitarku,' jerit batin David."Om, aku dapat boneka kelinci cute banget dari mesin capit. Aku dapetin pakai tanganku sendiri. Buat calon adikku." Napas Galaxy memburu tersengal karena habis lari. Senyumnya merekah sempurna."Wow, manisnya ...." Irish menatap binar dan mengulurkan tangannya. "Sini berikan sama, Tante."Dengan sangat bangganya, bocah itu mengulurkan sebuah boneka kelinci yang tidak terlalu b
Amber berdiri di sebelah Irish. "Kalau laki-laki, akan jadi teman Laxy. Kalau perempuan, suamiku sudah siapkan lamaran dini." Dia tersenyum pada Irish.Sedang Irish meringis. "Aku suka Laxy." Entah jawaban itu keluar dari dorongan kata hati, atau dorongan hormon kehamilan.Sedang para pria di balik sekat sedang tegang. Wajah mereka serius dan sorot mata tajam.David berdiri tegang dengan napas berat dan tangan menutupi sedikit telinganya. Rahangnya menekan kuat, takut kenyataan."Ayo, Dok. Laki-laki atau perempuan? Jangan berbelit-belit!" seru Reyvan tak sabar. Detak detak jantung mereka bak genderang perang.Satu ... Dua ... Tiga .... "Jenis kelaminnya adalah per ....""Stop! Jangan katakan! Diam! Tutup mulutmu, Dokter! Atau aku pecat!"David cepat teriak. Dia juga refleks menutupi dua telinganya dengan telapak tangan. Napasnya memburu berat, wajahnya sedikit pucat seperti mendengar vonis mengerikan."Hish! Mengganggu saja!" Reyvan melangkah panjang dan membungkam mulut David denga
"Nyonya silahkan naik ke kamar. Tuan mengijinkan Anda ngobrol, tapi jangan sampai kelelahan. Ingat kata dokter. Kondisi Anda masih lelah. Dan juga hampir waktunya minum vitamin." Salah satu penjaga rumah maju. Mulai beraksi. "Aku mau di sini sama Galaxy. Lagian ini sama saja. Duduk, nggak gerak-gerak," tolak Irish. Lalu, penjaga rumah menatap Galaxy. "Tuan muda Galaxy, tolong kooperatif-nya. Kondisi Nyonya masih lemah. Harus istirahat benar-benar. Karena ini menyangkut dengan bayi Nyonya. Kalau sampai seperti kemarin lagi, maka akan bahaya." "Tuan muda Galaxy. Kemarin Nyonya hampir tak sadarkan diri. Dan hari ini baru membaik. Jadi, kalau sampai teledor dan membuat drop lagi, maka bayinya bisa kenapa masalah," tambah satunya. Mata Galaxy melebar, cepat dia menatap Tante Irish dengan perasaan tak karuan. Cemas, gelisah karena kata 'bahaya' "Aku nggak mau Tante dan calon adekku kenapa-napa. Aku datang sebagai bodyguard calon adikku. Dia harus baik-baik saja. Ayo sekarang Tante ke k
"Om! Rambutku rusak! Turunkan aku! Om sudah menurunkan harga gengsiku! Jangan begini kalau jantan. Ayo berantem pake cara lain! Beraninya cuma sama anak kecil!" teriak Galaxy yang tatanan rambutnya mulai berantakan.David geram dan seolah tuli. Pikirannya sedang fokus pada istrinya."Turunkan Laxy, Sayang. Lihat, dia datang bawa banyak hadiah buat calon anak kita. Pasti kalau anak kita sudah gede nanti, Laxy yang akan menjaganya." Irish tersenyum pada Laxy yang jagain."Benar, Tante. Nggak cuma nanti. Sebelum lahir pun aku akan me jagain dia. Tapi suruh Om David turunin aku dulu! Kalau penampilanku berantakan, aku nggak pede mau ketemu sama calon adikku!" teriak Galaxy berontak.David masih bergeming karena hatinya masih terheran-heran dengan istrinya. Dia menatap lekat-lekat wajah istrinya yang tampak girang dengan wajah bersinar. Tidak pucat, tidak tertekan.Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin istrinya yang saat ini dekat dengannya, bahkan melihat wajahnya tidak bereaksi mual?Mungkin
"Hoeexxx! Hoexxx ...." Irish menutup mulutnya sambil membungkuk. David gusar. Tangannya meremas-remas di depan. Kakinya maju dan mundur. "Akhhh!" Akhirnya dia mundur. Sebenarnya, insting seorang suami protektif dan budak cinta, akan berlari pada istrinya dan melakukan pertolongan pertama. Akan tetapi, pria itu malah harus menjauh dan melihat penderitaan istri dari kejauhan. "Apa sudah nggak mual lagi?" tanya David dengan wajah lemas dan suara serak. Aneh. Irish menarik napas dalam-dalam dan merasa tak mual lagi. "Apalagi yang salah sekarang, Sayang? Aku sudah menutup wajahku seperti ini tapi kamu masih saja mual." David frustasi. Irish menoleh pada suaminya dengan lengkungan senyum yang sangat lebar. "Nggak mual, Sayang." Huuffff .... David menekuk wajahnya. Lalu, pria itu mengangguk kecil. "Ok, kamu istirahat saja. Aku akan keluar sebentar." Irish mengangguk. "Yang lama ya?" Ha? Mata David melebar tegang. "Kamu sepertinya berharap bisa lama jauh dariku?"







