LOGIN"Lona, dengar Papa. Jangan terlalu sering menempel pada Kak Laxy. Dia itu pengaruh buruk, kamu harus jaga jarak!"Sebenarnya hanya gertakan agar putrinya tidak terlalu didominasi oleh Galaxy.Akan tetapi, Willona justru menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca."Papa mau aku dan Kak Laxy pisah? Apa salah dia? Dia selalu datang tepat waktu untuk menjagaku. Dia juga, .... yang tanpa ngomong sudah tahu apa yang aku mau. Tahu apa yang aku butuhkan."Sore harinya.Galaxy yang baru berusia empat belas tahun, tapi memiliki tinggi badan yang cukup menjulang, datang dengan wajah merah padam. Laxy berdiri di hadapan David, menyembunyikan Willona di balik punggungnya."Om, aku nggak suka kalau Lona menangis." Galaxy menatap tajam siap bertempur.David mengerutkan keningnya. "Hey, Bocah. Kamu datang mau jadi sok tahu?""Jangan berani-berani membentak atau memarahi Lona lagi, Om. Kalau Om nggak bisa jaga perasaan Lona, katakan saja. Aku yang akan membawanya ke rumahku dan merawatnya jauh lebih ba
"Jangan dekat-dekat seperti itu, Bocah?! Akhh. Anakku alergi demit!" pekik David. Dia merasa jerit batinnya selama ini tidak menembus langit. Keinginannya mengusir Galaxy belum berhasil. Malah selalu saja ada sebab yang membuat anaknya dan bocah demit itu lengket.Galaxy berdiri dengan wajah cemberut. "Kalau jauh, gimana aku lihatnya? Om ini nggak paham teori. Memangnya melihat bayi dalam box bisa dalam jarak lima meter?""Itu box kaca transparan, Bocah. Cukup kamu lihat dari jauh saja. Dah sana yang jauh. Lagi pula, bayinya Om nggak boleh terkontaminasi kenakalanmu." David mendelik."Aku bodyguard-nya, harus dekat. Lagian adikku ini bukan pajangan. Kenapa harus dilihat dari jauh?""Kamu tetap dilarang mendekat lebih dari radius dua meter." David menggerakkan tangannya membuat garis pembatas.Galaxy tidak bergeming. Dia justru melipat tangan di depan dada dengan gaya menantang."Om David jangan egois. Kalau waktu itu aku tidak mendobrak pintu kamar mandi dan menemukan Tante Irish yang
"Sayang, bangun, Sayang ...." Bibirnya gemetar menatap wajah istrinya. "Bangun kumohon ....."Rasa sesal menjalar dan mencengkram dadanya kuat-kuat hingga rasanya seperti ditusuk ribuan duri. Dia sangat menyesal memilih pergi meninggalkan istrinya. Meski. Ya, meski dia langsung kembali dan membatalkan pertemuan langsungnya pada profesor itu. Dia tetap sangat menyesal.David sudah sempat pergi ke luar kota dengan helikopter, dan menempuh perjalanan sekitar 2 jam. Dan begitu tiba di helipad sebuah hotel, dia langsung meminta untuk kembali ke kotanya.Begitu kembali, teleponnya berdering dan ternyata Irish memanggil. Ketika diangkat, David hanya mendengar rintihan istrinya. Saat itu, rasanya begitu ngilu hingga pria itu melajukan mobilnya begitu cepat. Dan untungnya belum terlambat.Suasana di dalam mobil menuju rumah sakit sangat mencekam."Kamu akan baik-baik saja, Sayang. Anak kita juga akan baik-baik saja." David terus mengecup pucuk kening istrinya. Ada tetesan air mata yang lepas
Jadwal David nanti di sebuah aula seminar kedokteran. Dia akan bertemu dengan profesor itu, untuk diskusi proyek.Kini seorang pria tampan baru saja menapakkan kakinya di sekitar ball room itu. "Apa Profesor Franky sudah tiba?" tanya pria tampan itu sambil menatap arloji seharga sepuluh bulan gajinya itu."Menurut informasi, baru saja tiba dan beliau duduk di meja VVIP barisan depan. Sebelah meja kita."Pria itu mengangguk kecil dan melangkah tegap sambil membenarkan jasnya.Kakinya mengikis jarak pada pintu ball room. Pria itu tersenyum lebar karena hadir bukan sebagai dirinya sendiri."Keren ... Luar biasa .... Ketampanan memang by modal. Jas mahal tak bisa bohong," katanya pada diri sendiri.**"Tenang, Sayang. Papa akan cepat kembali. Dia nggak akan betah berlama-lama jauh dari kita." Irish mengusap lembut perutnya.Setelah seharian merasa jiwanya kosong karena ditinggal suaminya. Setelah seharian hidup tanpa separuh jiwanya, akhirnya Irish masuk kamar."Sayang, ternyata tanpa pa
"Aku harus ke luar kota. Tapi--" David berjongkok dan mengecup perut istrinya yang duduk di sofa. "Kamu sudah banyak menghindari pekerjaan keluar kota apalagi luar negeri selama aku hamil. Dan katanya kalau kali ini kamu gagal menemui profesor itu, maka rumah sakitmu akan kehilangan kerja sama besar yang jadi rebutan semua rumah sakit di kota ini." Irish mengusap pelan kepala suaminya.Lalu, pria itu duduk begitu saja di lantai dan mengusap-usap perut istrinya. Rasanya berat dan tak rela kalau meninggalkan istrinya yang hamil sudah 9 bulan itu pergi jauh. Apalagi hari perkiraan lahir tinggal dalam Minggu ini."Anak Papa yang cantik dan hebat. Kamu harus jaga Mamamu. Jaga dirimu juga. Meski raga Papa nggak dekat, tapi kalian tetap prioritas. Papa akan jaga kalian sebisanya, semaksimal mungkin." David bicara menatap perut istrinya.Irish tersenyum lebar. Sejujurnya berusaha tersenyum. Karena dalam hatinya yang jujur, dia juga tak mau ditinggalkan oleh suami di detik-detik menunggu kela
"OMMMMM!" teriak Galaxy tiba-tiba muncul tanpa diundang.David yang baru saja memasukkan satu suapan langsung tersedak. "UHUKKK! UHUKK!"Irish menyodorkan air putih. "Pelan-pelan, Sayang. Cuma ada Galaxy, kamu seperti dengar kabar mobilmu meledak."David meneguk cepat dan membuang nafasnya dari mulut. Wajahnya masih merah antara tersedak dan menahan kesal. Dadanya naik turun kembang-kempis.'Haish, sial sial. Bocah demit ini selalu saja gentayangan di sekitarku! Sepertinya aku harus cari cenayang atau orang pintar yang bisa menjinakkan demit satu ini, biar nggak gentayangan lagi di sekitarku,' jerit batin David."Om, aku dapat boneka kelinci cute banget dari mesin capit. Aku dapetin pakai tanganku sendiri. Buat calon adikku." Napas Galaxy memburu tersengal karena habis lari. Senyumnya merekah sempurna."Wow, manisnya ...." Irish menatap binar dan mengulurkan tangannya. "Sini berikan sama, Tante."Dengan sangat bangganya, bocah itu mengulurkan sebuah boneka kelinci yang tidak terlalu b







