เข้าสู่ระบบ"Nyonya silahkan naik ke kamar. Tuan mengijinkan Anda ngobrol, tapi jangan sampai kelelahan. Ingat kata dokter. Kondisi Anda masih lelah. Dan juga hampir waktunya minum vitamin." Salah satu penjaga rumah maju. Mulai beraksi."Aku mau di sini sama Galaxy. Lagian ini sama saja. Duduk, nggak gerak-gerak," tolak Irish. Lalu, penjaga rumah menatap Galaxy. "Tuan muda Galaxy, tolong kooperatif-nya. Kondisi Nyonya masih lemah. Harus istirahat benar-benar. Karena ini menyangkut dengan bayi Nyonya. Kalau sampai seperti kemarin lagi, maka akan bahaya.""Tuan muda Galaxy. Kemarin Nyonya hampir tak sadarkan diri. Dan hari ini baru membaik. Jadi, kalau sampai teledor dan membuat drop lagi, maka bayinya bisa kenapa masalah," tambah satunya.Mata Galaxy melebar, cepat dia menatap Tante Irish dengan perasaan tak karuan. Cemas, gelisah karena kata 'bahaya'"Aku nggak mau Tante dan calon adekku kenapa-napa. Aku datang sebagai bodyguard calon adikku. Dia harus baik-baik saja. Ayo sekarang Tante ke kamar
"Om! Rambutku rusak! Turunkan aku! Om sudah menurunkan harga gengsiku! Jangan begini kalau jantan. Ayo berantem pake cara lain! Beraninya cuma sama anak kecil!" teriak Galaxy yang tatanan rambutnya mulai berantakan.David geram dan seolah tuli. Pikirannya sedang fokus pada istrinya."Turunkan Laxy, Sayang. Lihat, dia datang bawa banyak hadiah buat calon anak kita. Pasti kalau anak kita sudah gede nanti, Laxy yang akan menjaganya." Irish tersenyum pada Laxy yang jagain."Benar, Tante. Nggak cuma nanti. Sebelum lahir pun aku akan me jagain dia. Tapi suruh Om David turunin aku dulu! Kalau penampilanku berantakan, aku nggak pede mau ketemu sama calon adikku!" teriak Galaxy berontak.David masih bergeming karena hatinya masih terheran-heran dengan istrinya. Dia menatap lekat-lekat wajah istrinya yang tampak girang dengan wajah bersinar. Tidak pucat, tidak tertekan.Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin istrinya yang saat ini dekat dengannya, bahkan melihat wajahnya tidak bereaksi mual?Mungkin
"Hoeexxx! Hoexxx ...." Irish menutup mulutnya sambil membungkuk. David gusar. Tangannya meremas-remas di depan. Kakinya maju dan mundur. "Akhhh!" Akhirnya dia mundur. Sebenarnya, insting seorang suami protektif dan budak cinta, akan berlari pada istrinya dan melakukan pertolongan pertama. Akan tetapi, pria itu malah harus menjauh dan melihat penderitaan istri dari kejauhan. "Apa sudah nggak mual lagi?" tanya David dengan wajah lemas dan suara serak. Aneh. Irish menarik napas dalam-dalam dan merasa tak mual lagi. "Apalagi yang salah sekarang, Sayang? Aku sudah menutup wajahku seperti ini tapi kamu masih saja mual." David frustasi. Irish menoleh pada suaminya dengan lengkungan senyum yang sangat lebar. "Nggak mual, Sayang." Huuffff .... David menekuk wajahnya. Lalu, pria itu mengangguk kecil. "Ok, kamu istirahat saja. Aku akan keluar sebentar." Irish mengangguk. "Yang lama ya?" Ha? Mata David melebar tegang. "Kamu sepertinya berharap bisa lama jauh dariku?" Sorot mata Dav
"Sayang, lihat aku--" David menunjuk wajahnya."Hoexx ... Vid, menjauh!" pekik Irish sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Dia cepat berbalik membelakangi David, bahunya naik turun menahan gejolak hebat kembali muncul dari perutnya.David terpaku di tempat. Tangannya masih menggantung di udara ingin meraih istrinya, tapi gagal. Wajahnya memelas kecewa."Ada apa sebenarnya, Sayang? Kenapa nggak suka lihat mukaku? Nggak masuk akal. Nggak mungkin kamu alergi muka suami sendiri." David terus menggeleng tak mau terima.Sedang Irish memang entah kenapa sedang tidak suka dengan wajah suaminya."Apa bauku? Apa wangi sabun atau shampo terlalu menyengat? Ya, itu juga pengaruh morning sickness." David refleks menciumi aroma tubuhnya sendiri, tapi di merasa tidak ada yang aneh."Bukan baunya, Vid ... tapi mukamu," lirih Irish tanpa menoleh. David mengerutkan kening. Jelas tak terima. Dia melangkah lagi, mencoba memutar tubuh Irish agar menghadapnya."Mukaku? Apa yang salah sama mukaku? Aku baru s
"Pelan, Boy!" teriak David saat sedikit saja Boy menambah kecepatan. David memegang bahu dan perut istrinya. Takut terjadi banyak guncangan. Boy hanya mengangguk-angguk terus, meski dalam hati sangat bergemuruh hebat, rasanya ingin mengomel-ngomel balik. Karena itu saja sudah kecepatan siput menurutnya. Apalagi di saat ingin menyalip. "Ini bukan balapan, Boy. Kamu lagi bawa anak dan istriku! Nggak usah sok keren mau unjuk kebolehan!" teriak David lagi. Boy tahan sabar. Dia aktifkan mode tuli, atau pura-pura tak dengar, demi menjaga kewarasan. Sampai Irish memijit pelipisnya karena pusing mendengar teriakan suaminya. Begitu saja terus selama dalam perjalanan. Hingga akhirnya, mobil sedan hitam berhenti dengan sempurna di depan kediaman. Irish sudah meletakkan tangannya di gagang pintu, bersiap untuk keluar sendiri, seperti biasanya. Akan tetapi, sebuah tangan besar dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya. "Jangan bergerak, Irish. Tetap di posisimu! Aku yang akan mem
"Kenapa kamu cepat sekali menggerakkannya!" bentak David geram.Dokter itu gemetar dan mulai mengatur lebih lambat probe (transduser)."Tunggu! Aku mau lihat lagi. Putar bagian itu! Iya ... Iya yang itu." David tersenyum lebar dengan rahang gemetar saat melihat layar monitor. Dadanya terus berdenyut, rasanya tak sabar ingin melihat kecebong itu lahir.Mata Irish berkaca-kaca dan saat melihat layar monitor yang menampilkan kantung kehamilan. "Vid, aku beneran hamil .... Lihat, lihat itu dia ...." Dia bahkan enggan berkedip.Meski masih tampak sebiji kacang polong, tapi bagi pasangan itu sudah membuat jantung berdetak cepat, melebihi saat dulu David mengutarakan perasaannya.Dokter mengatakan kalau usia kehamilannya sekitar 6 Minggu. Tangan David gemetar memegang lembut tangan istrinya. "Sayang, lihat. Anak kita. Anak kita ....""Aku lihat, Vid. Aku melihatnya. Dia akan tampan atau cantik?" Irish meremas tangan suaminya."Tampan sepertiku atau cantik sepertimu, yang penting dia lahir s







