MasukLima tahun telah berlalu, kini Pillar dan Pijar sudah sekolah, dan tentunya menambah kesibukan baru bagi Dania. Keinginannya untuk kembali ke perusahaan warisan kedua orang tuanya tampaknya memang harus dia urungkan demi menjaga tumbuh kembang anak-anaknya. “Kakak Pillar jagain adik, ya!” ucap Dani
Dania tampak ragu-ragu saat mengangkat panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya, tetapi karena terus berulang akhirnya Dania pun menjawabnya. "Halo!" sapa Dania dengan suara lirih dan ragu-ragu. "Dengan Bu Dania Adityawarman?" Terdengar suara seorang pria dari ponsel Dania. "Ya, saya sendiri."
Hari bahagia Chiara dan Cyrus akhirnya datang juga. Meskipun tanpa kehadiran Dania, acara tersebut berjalan dengan khidmat dan penuh haru. Suasana hening tercipta kala penghulu yang duduk di hadapa Cyrus mulai menggenggam tangan pengacara muda itu dengan erat, seolah memberi tanda bahwa akad nikah
Dengan jemari yang masih saling bertautan Dion dan Reisa melangkah menuju ke poli kandungan seperti yang disarankan oleh dokter sebelumnya. Dion menoleh ke samping, menatap wajah sang istri yang terlihat sangat tegang “Bagaimana jika hasilnya negative?” tanya Reisa dengan suara lirih dan terdengar
Di bawah sinar matahari pagi, di taman yang dipenuhi dengan warna-warni bunga dan kupu-kupu yang berterbangan, Dania tampak sedang duduk di kursi taman sambil memangku si kecil, Pijar. Dania sengaja menjemur putrinya berharap mendapat manfaat dari sinar matahari pagi. Sementara itu di sudut yang be
Pagi ini Dion tampak berbeda, biasanya setelah menjalankan ibadah pagi dia akan berolahraga sebentar untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap sehat dan fit karena sebagai pimpinan di Sari Pangan Andalan aktivitasnya semakin padat. Namun pagi ini dia justru kembali tidur, dan terlihat tidak berseman
Saat masih berada di genggaman ingin rasanya mencari yang lain, tapi saat sudah lepas baru merasa ingin memiliki. Itulah yang dirasakan Dion saat ini. Bukan hanya kehilangan Dania, tetapi wajah Dion menjadi penuh lebam karena menjadi sasaran kekecewaan Ari. “Kak Dion tidak masuk?” tanya Reisa yang
Dengan langkah tegap penuh wibawa Sangga mendekat ke tempat Dania berada. Tepat di hadapan Dion, tanpa rasa sungkan Sangga mendaratkan ciuman di pelipis Dania, seolah memamerkan keromantisan mereka. Dania memejamkan mata, tangannya memegang erat tepian jas Sangga. Maksud hati untuk menutupi rasa gu
Sangga terlihat sedang sibuk di depan laptopnya. Sebenarnya pria berusia kepala empat itu sedang terdiam dengan pikiran yang melanglang buana. Tangan kirinya mengusap lembut pipi yang mendapat kecupan dari Dania, sedangkan tangan kanannya memegang selembar foto lawas. Foto sepasang remaja berseragam
“Aku belum menikah,” jawab Sangga dengan datar. Dania dan Singgih terkejut dengan jawaban dari Sangga. Pria yang terlihat tampan dan juga sudah mapan itu ternyata belum menikah di usianya yang sudah tidak muda lagi. “Seingatku kau sepantaran dengan Rania. Bukankah waktu itu kalian wisuda bersama?”







