Compartir

Perjodohan

Autor: WinterBliss
last update Fecha de publicación: 2026-03-09 23:07:23

Arkana Adhitama hanya mengangguk kecil sekali, hampir tidak terlihat sebagai sapaan. Wajahnya tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa beberapa jam yang lalu.

​"Loh, kalian sepertinya sudah saling kenal?" tanya Baskara tertawa ramah.

​"Pak Arkana adalah dosen saya di kampus, Om," jawab Keira, suaranya sedikit bergetar karena menahan emosi sekaligus rasa canggung yang luar biasa.

​"Wah, kebetulan sekali! Mari, mari kita ke meja makan," ajak Aditya, sang papa.

​Makan malam berlangsung dengan tenang dan damai, setidaknya bagi para orang tua. Keira hanya menunduk, sesekali menyuapkan makanan tanpa benar-benar merasakannya. Hingga akhirnya, Baskara meletakkan sendoknya dan berdeham pelan.

​"Aditya, Maya... sesuai dengan apa yang sudah kita bicarakan selama ini. Kami datang ke sini untuk menyampaikan maksud serius kami. Kami ingin melamar Keira untuk putra kami, Arkana."

​Keira tersentak hingga garpunya berdenting keras di atas piring porselen. Ia menatap orang tuanya dengan mata tidak percaya. "Ma... Pa... ini maksudnya apa?"

​"Keira," panggil Aditya dengan nada tenang namun berwibawa. "Kami sudah mengenal keluarga Arkana sejak lama. Kami percaya Arkana adalah pria yang tepat untuk menjagamu dan membimbingmu."

​"Tapi Pa, Keira baru mulai kuliah! Dan dia... dia dosen yang tadi pagi mengusir Keira dari kelas!" seru Keira, akhirnya emosinya meluap.

​Keira menatap Arkana yang duduk tepat di hadapannya. Pria itu tetap tenang, bahkan saat dikonfrontasi. "Pak Arkana, Bapak tahu sendiri saya mahasiswi yang Bapak anggap tidak disiplin. Kenapa Bapak tidak menolak perjodohan ini?"

​Arkana menatap Keira dengan netra hitamnya yang pekat. "Pernikahan bukan soal perasaan sesaat, Keira. Bagi saya, ini adalah bentuk bakti dan penghormatan saya kepada keinginan orang tua. Jika mereka percaya ini yang terbaik, maka saya akan menjalankannya sebagai kewajiban saya."

​Keira tertegun. Bakti? Kewajiban? Jawaban itu terdengar sangat kaku, khas seorang Arkana Adhitama.

​Dengan perasaan sesak, Keira menoleh ke arah kakaknya. "Kak Nara, tolong bicara..." bisiknya lirih.

​Nara hanya bisa menghela napas, menatap adiknya dengan tatapan penuh simpati. "Maafkan Kakak, Kei. Tapi kamu tahu, aku pun ada di posisi yang sama dulu. Keputusan Papa bukan sesuatu yang bisa kita tawar dengan mudah."

​Keira merasa seluruh jalan keluarnya tertutup rapat. Ia terjebak di antara tembok dingin bernama Arkana dan prinsip keluarga yang begitu kuat. Di depan orang-orang tua itu, Keira hanya bisa tertunduk lesu, menyadari bahwa hidupnya yang bebas baru saja berakhir di tangan pria yang paling ingin ia hindari di kampus.

​"Jadi," suara Baskara kembali terdengar, memenuhi ruangan yang terasa makin sempit bagi Keira, "kapan kita bisa menentukan tanggal baiknya?"

​Keira meremas serbet di pangkuannya. Hari ini dimulai dengan diusir dari kelas, dan diakhiri dengan "diusir" dari kebebasannya.

Malam itu, setelah tamu-tamu pulang, rumah keluarga Aditya terasa sangat asing bagi Keira. Biasanya, suasana rumah selalu hangat dan penuh tawa, namun kini udara seolah dipenuhi oleh tekanan yang tak kasatmata. Keira berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah taman bawah yang diterangi lampu temaram. Pikirannya melayang pada wajah datar Arkana. Bagaimana mungkin seorang pria bisa setuju untuk menikahi seseorang yang baru saja ia marahi habis-habisan di kelas? Tanpa cinta, tanpa pendekatan, hanya demi sebuah kata bernama "bakti".

Keira tidak bisa tinggal diam. Ia harus bicara dengan pria itu. Dengan nekat, ia mencari nomor telepon Arkana melalui grup W******p kelas yang baru saja dibuat oleh ketua tingkatnya sore tadi. Setelah menemukan profil dengan foto siluet hitam-putih yang sangat formal, Keira mengirim pesan singkat.

​“Bisa kita bertemu sebentar? Saya di kafe dekat kampus jam sepuluh pagi besok. Saya butuh bicara secara pribadi.”

​Butuh waktu hampir satu jam sampai ponselnya bergetar. Hanya ada satu kata balasan dari Arkana: “Baik.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Harapan

    ​"Saya bilang bahwa tindakannya tempo hari membuat asisten saya tidak fokus bekerja karena merasa terintimidasi. Saya memperingatkannya untuk tetap profesional dan tidak lagi mengganggu kamu dengan omong kosongnya tentang masa depan di kampus ini," jelas Arkana dengan nada bariton yang mantap. ​Keira terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman lebar perlahan terbit di bibirnya. Rasa kesal akibat senggolan bahu tadi menguap seketika, digantikan oleh rasa hangat yang membuncah di dadanya. ​"Jadi itu sebabnya dia mukanya merah padam kayak mau meledak?" Keira tertawa kecil, ia merasa sangat senang karena Arkana benar-benar memasang badan untuknya, menunjukkan bahwa ia tidak sendirian menghadapi intimidasi Sarah. ​"Mungkin. Dia sepertinya tersinggung karena saya lebih membela asisten saya daripada mendengarkan 'nasihat' seniornya," tambah Arkana dengan kilat jahil di matanya. "Puas sekarang? Tidak perlu takut lagi padanya?" ​Keira mengangguk mantap, ia melingkarkan lengannya di leher Arkana

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Peringatan

    Beberapa hari kemudian, di koridor lantai dua dekat perpustakaan, Keira berpapasan dengan Sarah. Seperti dugaan, dosen cantik itu langsung melemparkan tatapan sinis yang seolah ingin menguliti Keira hidup-hidup. Namun, Keira hanya membalasnya dengan senyum tipis yang sangat sopan sebelum melangkah pergi. Ia sudah merasa jauh lebih tenang setelah pembicaraannya dengan Arkana malam itu. ​Tak lama setelah itu, ada sebuah rapat kecil di ruang dosen yang mengharuskan Arkana dan Sarah mendiskusikan kurikulum terbaru. Begitu pembahasan kuliah selesai dan beberapa dosen lain meninggalkan ruangan, Arkana menutup map penelitiannya. Suasana berubah menjadi sunyi dan dingin. ​Sarah baru saja hendak membuka pembicaraan pribadi saat Arkana mendahuluinya dengan suara bariton yang tenang namun penuh wibawa. ​"Sarah, ada satu hal lagi yang ingin saya bicarakan. Bukan soal mata kuliah," ucap Arkana tanpa menatap lawan bicaranya, ia sibuk merapikan pulpen di sakunya. ​Sarah tersenyum manis, meng

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Pengganggu

    Ponsel di atas meja bergetar nyaring. Arkana melirik layar, lalu mengembuskan napas pendek. "Dekan. Saya harus ke ruangannya sebentar," ucapnya sambil berdiri. Ia menatap Keira sejenak, memberikan tatapan yang seolah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, sebelum melangkah keluar dan menutup pintu. ​Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan itu. Keira berpura-pura sibuk merapikan tumpukan jurnal di meja, namun ia bisa merasakan sepasang mata Sarah yang tajam menghujam punggungnya. ​"Sudah berapa lama kamu melakukan ini?" suara Sarah memecah kesunyian, kali ini nadanya jauh lebih dingin dan penuh intimidasi, tanpa ada Arkana di sana. ​Keira menoleh perlahan. "Maaf, Bu? Melakukan apa?" ​Sarah melangkah mendekat, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di lantai parket. Ia berhenti tepat di depan Keira, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Jangan berpura-pura bodoh. Saya sudah lama mengenal Arkana, jauh sebelum asisten ingusan seperti kamu masuk ke fakultas ini. M

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Godaan Arkana

    Suasana kelas Hukum Perdata pagi itu terasa sangat kontras dengan kemesraan di meja makan tadi. Arkana sudah berdiri tegak di depan podium dengan wajah "mode dosen" yang sempurna—dingin, berwibawa, dan tanpa ekspresi. Kemeja navy-nya yang pas di badan membuat beberapa mahasiswi di barisan depan berbisik kagum, sementara Keira berusaha keras untuk fokus pada buku catatannya. ​Keira merasa aman. Foundation di lehernya bekerja dengan sangat baik, menutupi semua jejak "perang" semalam. Siska yang duduk di sampingnya pun tidak menaruh curiga, ia hanya sibuk mencatat poin-poin yang dijelaskan Arkana tentang pasal-pasal perjanjian. ​Tiba-tiba, ponsel Keira yang diletakkan di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi muncul di layar yang sudah menggunakan privacy protector, namun tetap saja membuat jantung Keira mencelos. ​Arkana Adhitama: Foundation-mu sangat tebal pagi ini. Tapi saya tahu persis apa yang bersembunyi di baliknya. Fokuslah, Asisten. Jangan sampai saya menghukummu karena

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Malam kedua

    Malam kedua di kamar Arkana terasa jauh lebih hangat, namun Keira masih menjaga jarak aman di sisi ranjang. Aroma martabak manis yang tadi mereka makan masih menyisakan jejak manis di udara, tapi ketegangan di dada Keira kembali memuncak saat melihat Arkana meletakkan kacamatanya di nakas. ​"Arkana... jangan sekarang ya?" bisik Keira pelan, tangannya meremas selimut abu-abu itu hingga buku jarinya memutih. "Masih... masih perih. Aku beneran nggak kuat kalau harus 'tempur' lagi kayak semalam." ​Arkana menghentikan gerakannya. Ia menatap Keira dengan tatapan yang dalam, namun kali ini tidak ada kilatan "binatang buas" seperti kemarin malam. Ia justru merangkak mendekat, gerakannya pelan dan sangat hati-hati, seolah takut membuat Keira semakin merasa terancam. ​"Saya tahu, Sayang. Saya tidak akan sejahat itu," suara Arkana terdengar sangat rendah dan menenangkan. Ia menarik tubuh Keira ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala gadis itu di dada bidangnya yang hangat. ​"Lalu kenapa

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Tanda damai

    Keira duduk di sofa ruang tengah, masih dengan napas yang sedikit memburu karena aksi "lari maraton" memakai syal tadi. Ia menatap kotak paket berukuran sedang itu dengan kening berkerut. "Perasaan aku nggak pesen apa-apa di e-commerce deh," gumamnya heran. ​Dengan perlahan, ia merobek bungkus plastiknya. Matanya seketika membelalak saat melihat kotak putih elegan dengan logo buah apel digigit di atasnya. Itu adalah ponsel keluaran terbaru, warna titanium yang sangat mewah. ​"Hah?! Ini beneran?!" ​Keira menemukan sebuah kartu kecil terselip di balik plastik pelindungnya. Tulisan tangan di sana sangat rapi dan tegas—khas tulisan seorang dosen yang terbiasa mengoreksi jurnal ilmiah. ​Untuk Keira, ​Anggap saja ini sebagai pengganti ponsel lamamu yang sering lemot saat saya telepon. Dan juga... permintaan maaf karena semalam saya sedikit kehilangan kendali. Saya tahu tubuhmu pasti terasa sakit hari ini, istirahatlah yang cukup. ​Terima kasih sudah menjadi asisten dan istri yang sang

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Eskrim

    ​"Ayo, cepat! Ke bagian frozen food dulu!" Keira menarik ujung kemeja Arkana dengan tidak sabar, langkahnya setengah berlari di antara rak-rak supermarket yang mulai ramai oleh pengunjung jam pulang kantor. ​Arkana, yang kini memakai masker dan tampil tanpa kacamata, hanya bisa pasrah mengikuti t

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Desiran rasa

    ​"Keira, duduk." Perintah itu singkat, namun memiliki otoritas yang membuat kaki Keira bergerak sendiri menuju kursi di depan meja Arkana. ​"Dengar," Arkana condong ke arah meja, menatap Keira tepat di manik matanya. "Saya menurunkanmu di basemen karena itu tempat paling aman. Di halte yang kamu

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Begadang

    Keira tetap menatap layar laptop. "Ya... kan Mama sering kirim makanan. Sayang kalau nggak dimakan cuma gara-gara Bapak mau makan siang sama mahasiswi centil itu." ​Arkana berdiri, berjalan mendekat ke meja Keira. Ia meletakkan tangannya di tepi meja, mengurung Keira dalam ruang geraknya yang terb

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Asisten Dosen

    Berita itu menyebar seperti api di area fakultas. Nama-nama asisten dosen untuk semester ini telah dipajang di papan pengumuman digital, dan nama Keira Olivia berada tepat di samping mata kuliah Manajemen Strategis yang diampu oleh Arkana Adhitama.​Bagi mahasiswa lain, itu adalah pencapaian luar b

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status