author-banner
Zuni Lestari
Author

Novels by Zuni Lestari

Menjadi Istri Dosen Killer

Menjadi Istri Dosen Killer

Satu kata untuk hari pertama kuliah Keira: Bencana Satu kata untuk makan malam keluarganya: Kiamat ​Dijodohkan dengan Arkana Adhitama adalah mimpi buruk yang menjadi nyata bagi Keira. Arkana itu sedingin kutub utara dan sekaku kanebo kering, sangat bertolak belakang dengan jiwa Keira yang meletup-letup. ​Keira mencoba segala cara untuk kabur, namun Arkana justru mengunci langkahnya dengan alasan "bakti". Di antara dinding dingin yang dibangun Arkana dan sikap bar-bar Keira yang tak terduga, akankah muncul sebuah rasa? Ataukah pernikahan ini hanya akan menjadi medan tempur tanpa akhir?
Read
Chapter: Harapan
​"Saya bilang bahwa tindakannya tempo hari membuat asisten saya tidak fokus bekerja karena merasa terintimidasi. Saya memperingatkannya untuk tetap profesional dan tidak lagi mengganggu kamu dengan omong kosongnya tentang masa depan di kampus ini," jelas Arkana dengan nada bariton yang mantap. ​Keira terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman lebar perlahan terbit di bibirnya. Rasa kesal akibat senggolan bahu tadi menguap seketika, digantikan oleh rasa hangat yang membuncah di dadanya. ​"Jadi itu sebabnya dia mukanya merah padam kayak mau meledak?" Keira tertawa kecil, ia merasa sangat senang karena Arkana benar-benar memasang badan untuknya, menunjukkan bahwa ia tidak sendirian menghadapi intimidasi Sarah. ​"Mungkin. Dia sepertinya tersinggung karena saya lebih membela asisten saya daripada mendengarkan 'nasihat' seniornya," tambah Arkana dengan kilat jahil di matanya. "Puas sekarang? Tidak perlu takut lagi padanya?" ​Keira mengangguk mantap, ia melingkarkan lengannya di leher Arkana
Last Updated: 2026-04-23
Chapter: Peringatan
Beberapa hari kemudian, di koridor lantai dua dekat perpustakaan, Keira berpapasan dengan Sarah. Seperti dugaan, dosen cantik itu langsung melemparkan tatapan sinis yang seolah ingin menguliti Keira hidup-hidup. Namun, Keira hanya membalasnya dengan senyum tipis yang sangat sopan sebelum melangkah pergi. Ia sudah merasa jauh lebih tenang setelah pembicaraannya dengan Arkana malam itu. ​Tak lama setelah itu, ada sebuah rapat kecil di ruang dosen yang mengharuskan Arkana dan Sarah mendiskusikan kurikulum terbaru. Begitu pembahasan kuliah selesai dan beberapa dosen lain meninggalkan ruangan, Arkana menutup map penelitiannya. Suasana berubah menjadi sunyi dan dingin. ​Sarah baru saja hendak membuka pembicaraan pribadi saat Arkana mendahuluinya dengan suara bariton yang tenang namun penuh wibawa. ​"Sarah, ada satu hal lagi yang ingin saya bicarakan. Bukan soal mata kuliah," ucap Arkana tanpa menatap lawan bicaranya, ia sibuk merapikan pulpen di sakunya. ​Sarah tersenyum manis, meng
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: Pengganggu
Ponsel di atas meja bergetar nyaring. Arkana melirik layar, lalu mengembuskan napas pendek. "Dekan. Saya harus ke ruangannya sebentar," ucapnya sambil berdiri. Ia menatap Keira sejenak, memberikan tatapan yang seolah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, sebelum melangkah keluar dan menutup pintu. ​Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan itu. Keira berpura-pura sibuk merapikan tumpukan jurnal di meja, namun ia bisa merasakan sepasang mata Sarah yang tajam menghujam punggungnya. ​"Sudah berapa lama kamu melakukan ini?" suara Sarah memecah kesunyian, kali ini nadanya jauh lebih dingin dan penuh intimidasi, tanpa ada Arkana di sana. ​Keira menoleh perlahan. "Maaf, Bu? Melakukan apa?" ​Sarah melangkah mendekat, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di lantai parket. Ia berhenti tepat di depan Keira, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Jangan berpura-pura bodoh. Saya sudah lama mengenal Arkana, jauh sebelum asisten ingusan seperti kamu masuk ke fakultas ini. M
Last Updated: 2026-04-11
Chapter: Godaan Arkana
Suasana kelas Hukum Perdata pagi itu terasa sangat kontras dengan kemesraan di meja makan tadi. Arkana sudah berdiri tegak di depan podium dengan wajah "mode dosen" yang sempurna—dingin, berwibawa, dan tanpa ekspresi. Kemeja navy-nya yang pas di badan membuat beberapa mahasiswi di barisan depan berbisik kagum, sementara Keira berusaha keras untuk fokus pada buku catatannya. ​Keira merasa aman. Foundation di lehernya bekerja dengan sangat baik, menutupi semua jejak "perang" semalam. Siska yang duduk di sampingnya pun tidak menaruh curiga, ia hanya sibuk mencatat poin-poin yang dijelaskan Arkana tentang pasal-pasal perjanjian. ​Tiba-tiba, ponsel Keira yang diletakkan di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi muncul di layar yang sudah menggunakan privacy protector, namun tetap saja membuat jantung Keira mencelos. ​Arkana Adhitama: Foundation-mu sangat tebal pagi ini. Tapi saya tahu persis apa yang bersembunyi di baliknya. Fokuslah, Asisten. Jangan sampai saya menghukummu karena
Last Updated: 2026-04-10
Chapter: Malam kedua
Malam kedua di kamar Arkana terasa jauh lebih hangat, namun Keira masih menjaga jarak aman di sisi ranjang. Aroma martabak manis yang tadi mereka makan masih menyisakan jejak manis di udara, tapi ketegangan di dada Keira kembali memuncak saat melihat Arkana meletakkan kacamatanya di nakas. ​"Arkana... jangan sekarang ya?" bisik Keira pelan, tangannya meremas selimut abu-abu itu hingga buku jarinya memutih. "Masih... masih perih. Aku beneran nggak kuat kalau harus 'tempur' lagi kayak semalam." ​Arkana menghentikan gerakannya. Ia menatap Keira dengan tatapan yang dalam, namun kali ini tidak ada kilatan "binatang buas" seperti kemarin malam. Ia justru merangkak mendekat, gerakannya pelan dan sangat hati-hati, seolah takut membuat Keira semakin merasa terancam. ​"Saya tahu, Sayang. Saya tidak akan sejahat itu," suara Arkana terdengar sangat rendah dan menenangkan. Ia menarik tubuh Keira ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala gadis itu di dada bidangnya yang hangat. ​"Lalu kenapa
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Tanda damai
Keira duduk di sofa ruang tengah, masih dengan napas yang sedikit memburu karena aksi "lari maraton" memakai syal tadi. Ia menatap kotak paket berukuran sedang itu dengan kening berkerut. "Perasaan aku nggak pesen apa-apa di e-commerce deh," gumamnya heran. ​Dengan perlahan, ia merobek bungkus plastiknya. Matanya seketika membelalak saat melihat kotak putih elegan dengan logo buah apel digigit di atasnya. Itu adalah ponsel keluaran terbaru, warna titanium yang sangat mewah. ​"Hah?! Ini beneran?!" ​Keira menemukan sebuah kartu kecil terselip di balik plastik pelindungnya. Tulisan tangan di sana sangat rapi dan tegas—khas tulisan seorang dosen yang terbiasa mengoreksi jurnal ilmiah. ​Untuk Keira, ​Anggap saja ini sebagai pengganti ponsel lamamu yang sering lemot saat saya telepon. Dan juga... permintaan maaf karena semalam saya sedikit kehilangan kendali. Saya tahu tubuhmu pasti terasa sakit hari ini, istirahatlah yang cukup. ​Terima kasih sudah menjadi asisten dan istri yang sang
Last Updated: 2026-04-08
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status