MasukKeesokan paginya, Keira sudah duduk di pojok kafe dengan gelisah. Ia sengaja datang lebih awal untuk menata argumennya. Saat pintu kafe berdenting, sosok tegap itu muncul. Arkana mengenakan kemeja biru tua yang sangat rapi, auranya masih sama; dingin dan berjarak. Ia duduk di hadapan Keira tanpa senyum, seolah pertemuan ini hanyalah agenda rapat yang membosankan.
"Saya hanya punya waktu lima belas menit sebelum bimbingan mahasiswa dimulai. Silakan, apa yang ingin Kamu bicarakan?" tanya Arkana langsung ke inti permasalahan. Keira menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga sopan santunnya meski hatinya sedang mendidih. "Pak Arkana, saya tahu Bapak menghargai orang tua, saya pun sama. Tapi pernikahan ini... ini terlalu jauh. Kita sama sekali tidak saling mengenal. Bapak sendiri melihat saya sebagai mahasiswi yang bermasalah. Kenapa Bapak tidak bicara saja pada Om Baskara kalau Bapak keberatan?" Arkana menatap Keira dengan tatapan yang sulit diartikan. "Saya sudah katakan semalam, Keira. Ini adalah bentuk bakti saya. Orang tua saya telah memberikan segalanya untuk saya, dan jika permintaan mereka adalah melihat saya menikah dengan putri sahabat mereka, maka itu adalah tanggung jawab yang akan saya jalankan." "Tapi ini hidup Bapak! Bukan hidup Om Baskara!" seru Keira, suaranya naik satu oktav hingga beberapa pengunjung kafe menoleh. Ia segera merendahkan suaranya lagi. "Maksud saya... apa Bapak tidak ingin menikah dengan wanita yang Bapak cintai? Seseorang yang Bapak pilih sendiri?" "Cinta adalah sesuatu yang bisa diusahakan, atau setidaknya, bisa digantikan dengan komitmen," jawab Arkana dengan nada datar yang menyebalkan bagi Keira. "Lagipula, saya tidak punya waktu untuk mencari seseorang. Pekerjaan dan penelitian saya sudah menyita seluruh waktu saya. Perjodohan ini adalah solusi yang praktis bagi saya." Keira ternganga. Praktis? Dia bilang pernikahan ini praktis? "Bapak benar-benar kaku ya? Seperti kanebo kering yang sudah kaku bertahun-tahun," gumam Keira tanpa sadar. Satu alis Arkana terangkat. "Kanebo kering?" Keira berdehem, mencoba kembali ke jalurnya. "Maksud saya, saya tidak bisa hidup dalam pernikahan yang kaku seperti itu. Saya orangnya aktif, saya suka kebebasan, saya sedikit... yah, Bapak sendiri bilang saya bar-bar. Kita tidak akan pernah cocok. Tolong, Pak, bantu saya. Bilang pada mereka kalau Bapak sudah punya calon lain atau apa pun itu. Saya mohon secara diam-diam." "Saya tidak suka berbohong, apalagi kepada orang tua saya," jawab Arkana seraya melirik jam tangannya. Ia berdiri, merapikan kemejanya tanpa ada satu pun kerutan yang tertinggal. "Pesan saya hanya satu, Keira. Berhentilah mencoba mencari pintu keluar yang sudah dikunci. Alangkah baiknya jika Kamu mulai mempersiapkan diri. Pernikahan ini akan tetap terjadi dalam dua minggu ke depan." "Dua minggu?!" Keira ikut berdiri, matanya membelalak. "Kenapa cepat sekali?" "Karena orang tua kita tidak ingin menunda niat baik. Saya permisi, Saudari Keira. Sampai jumpa di kelas nanti siang. Dan pastikan kali ini kamu tidak datang terlambat lagi." Arkana melangkah pergi meninggalkan Keira yang mematung dengan kepalan tangan di atas meja. Rasa frustrasi menyelimuti hatinya. Ia merasa seperti burung yang sayapnya baru saja dipangkas tepat saat ia ingin belajar terbang tinggi di dunia kampus. Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi buruk yang berjalan dengan kecepatan tinggi. Keira mencoba meminta bantuan kakaknya, Nara, sekali lagi. Ia mendatangi rumah Nara suatu sore, berharap ada celah yang bisa ia gunakan. "Kak Nara, masa nggak ada cara sama sekali? Kakak kan dulu juga ngerasain gimana sesaknya dijodohkan," rengek Keira sambil duduk di sofa ruang tamu Nara. Nara mengusap rambut adiknya dengan lembut. "Rei, Kakak tahu rasanya. Awalnya memang berat. Kakak dulu menangis seminggu penuh sebelum menikah dengan Mas Danu. Tapi lihat sekarang? Mas Danu sangat baik, dia menghargai Kakak. Kadang, pilihan orang tua itu memang didasari oleh sesuatu yang belum bisa kita lihat saat ini." "Tapi Kak, Mas Danu itu hangat. Lah ini? Pak Arkana itu kutub utara! Kalau aku bicara A, dia jawabnya Z. Kalau aku ketawa, dia cuma natap datar. Aku bisa mati kering kalau nikah sama dia," keluh Keira. "Belajarlah untuk mengenalnya, Rei. Di balik sifat kakunya, Kakak dengar Arkana itu pria yang sangat berintegritas. Di dunia sekarang, pria seperti itu sangat langka. Papa nggak mungkin sembarangan memilihkan suami buat kamu," jawab Nara tenang. Keira menghela napas panjang. Tidak ada yang memihaknya. Semua orang seolah sudah sepakat untuk menyerahkannya pada sang "Dosen Killer".Sore hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Udara kota di luar jendela kamar hotel terasa sejuk, membawa aroma sisa hujan yang baru saja mereda beberapa jam lalu. Di dalam kamar, Keira berdiri di depan cermin besar setinggi badan, merapikan dress kasual berpotongan A-line warna sage green yang baru saja selesai diproses oleh layanan laundry kilat hotel. Pakaian lamanya kini sudah kembali bersih, wangi, dan siap pakai. Keira memutar tubuhnya pelan, merasa jauh lebih leluasa dan percaya diri dibandingkan saat ia hanya mengenakan kemeja oversized milik suaminya seharian penuh.Sebelum mereka memutuskan untuk melangkah keluar kamar, Arkana tampak sibuk dengan ponselnya di tepi ranjang. Pria itu sangat berhati-hati. Sebagai seorang dosen senior yang menjunjung tinggi privasi dan etika kampus, ia tidak ingin ada satu pun mata kolega yang memergoki keberadaan Keira di kota ini—terutama setelah ia mengajukan izin perpanjangan tinggal dengan alasan urusan pribadi yang mendesak.Arkana mengecek
Pagi harinya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden kamar hotel yang tersingkap tipis, menyinari permukaan tempat tidur dengan cahaya keemasan. Keira perlahan menggeliat pelan di atas ranjang yang empuk, merasakan seluruh sendi dan otot tubuhnya remuk redam bagai habis dihantam beban berat."Ugh... pegal sekali," gumam Keira serak sambil memegangi pinggangnya yang terasa linu.Ia memiringkan tubuhnya, menoleh ke samping. Namun, tempat di sebelahnya sudah kosong melompong, hanya menyisakan sprei yang kusut. Keira mengerutkan kening, lalu perlahan mendudukkan diri menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia mengedarkan pandangan memutar, mengamati sekeliling kamar yang hening. Tak ada tanda-tanda keberadaan suaminya."Mas Arkana ke mana, sih?" bisiknya heran.Dengan sisa-sisa tenaga, Keira menyibakkan selimut, turun dari tempat tidur, dan melangkah perlahan menuju kamar mandi. Namun, saat pintu kamar mandi dibuka, ruangan itu pun kosong. Keira mendesah pelan, lalu panda
"Terima kasih untuk diskusinya malam ini, Bu Sarah," ucap suara Arkana yang terdengar dingin namun sopan dari luar. "Sama-sama, Pak Arkana. Selamat beristirahat ya," sahut suara Sarah dengan nada penuh kelembutan. Mendengar interaksi itu, bibir Keira memberenggut kesal, matanya menyipit tajam. Begitu mendengar suara langkah kaki Sarah sudah menjauh di koridor, Keira tidak menunggu lama lagi. Saat tubuh tegap Arkana baru saja melangkah masuk dan berniat menutup pintu, Keira langsung keluar dari persembunyiannya, menyambar lengan kemeja suaminya, dan menarik Arkana masuk ke dalam kamar secara mendadak dengan sekuat tenaga! Sreet! "Astaga!" Arkana yang sama sekali tidak siap mendapat serangan mendadak itu terkejut setengah mati hingga tubuh tegapnya hampir saja kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Namun, dengan cepat ia menguasai tumpuan kakinya. Begitu ia menoleh untuk melihat siapa yang berani menariknya, sepasang mata tajamnya membelalak kaget. Di hadapannya kini, berdiri istri
Malam itu, mama Keira memutuskan untuk ikut menginap demi menemani putri tunggalnya. Kebersamaan mereka terasa begitu hangat, hingga keesokan harinya, sang mama berpamitan pulang setelah selesai menyajikan sarapan lezat di meja makan."Ingat pesan Mama ya, Keira. Jaga diri dan kesehatanmu baik-baik selama ditinggal Arkana," ujar sang mama lembut sambil memeluk Keira erat-erat di depan pintu."Iya, Ma... Keira bisa jaga diri kok. Mama juga hati-hati di jalan ya," sahut Keira pelan, mencium tangan ibunya sebelum melepas kepergian beliau.Namun, begitu pintu rumah tertutup rapat dan kepulangan sang mama menyisakan keheningan, hari-hari Keira mendadak terasa begitu hampa dan membosankan. Karena sedang tidak ada jadwal kuliah, ia bingung harus menghabiskan waktu dengan cara apa di dalam rumah yang terlampau sepi itu."Sepi banget sih ini rumah..." gumam Keira pada dirinya sendiri sambil berjalan lesu menuju ruang tengah. "Baru dua hari ditinggal Mas Arkana aja rasanya udah kayak seminggu."
Hari esoknya, Keira benar-benar disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat. Sejak pagi, pikirannya dipaksa untuk fokus menghadapi lembar-lembar soal ujian yang cukup menguras otak. Beruntung, Keira mampu menyelesaikan ujian tersebut dengan lancar meskipun semalam ia sempat sulit tidur karena merindukan Arkana. Selesai ujian, Keira dan Siska memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke taman kampus sebelum pulang untuk menyegarkan pikiran. Di sana, mereka duduk di salah satu bangku taman di bawah rindangnya pohon sambil mengobrol ringan. Di tengah-tengah obrolan, Siska mendadak menyinggung soal keberangkatan beberapa dosen ke luar kota. "Eh, Kei, kamu tahu nggak? Kata anak-anak kelas sebelah, ada beberapa dosen perwakilan fakultas kita yang berangkat dinas luar kota dari kemaren. Pak Arkana juga ikut katanya." Keira sempat tertegun sejenak, namun ia dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya. Ia menganggukkan kepala pelan, mengiyakan pertanyaan Siska dan menjawab sekenanya agar Siska t
Malam hari pun akhirnya tiba. Keira kini tinggal sendirian di rumah mereka yang terasa begitu sepi dan lengang tanpa kehadiran Arkana. Sebelum berangkat tadi, Arkana sebenarnya sudah berulang kali menyuruhnya untuk menginap di rumah orang tua Keira saja agar tidak sendirian, namun Keira menolak mentah-mentah usulan itu. Dengan percaya diri, Keira berkata bahwa ia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri dengan sangat baik selama tiga hari ke depan.Lagipula, setelah Arkana berpamitan dan pergi bersama rombongan kampus siang tadi, Keira memang tidak langsung pulang ke rumah. Untuk menghilangkan rasa sepi dan menyalurkan rasa kesalnya, ia memilih untuk pergi bersama teman-teman kampusnya. Mereka nongkrong dan menghabiskan waktu di sebuah kafe hits hingga tak terasa hari sudah berganti gelap.Sekitar jam tujuh malam, barulah Keira melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Sepanjang sore di kafe tadi, Keira bahkan sengaja mengabaikan beberapa pesan masuk dari Arkana di ponselnya. Pikir
Hari Senin tiba, dan Keira merasa jantungnya hampir copot saat ia harus berangkat ke kampus dari rumah yang sama dengan pria yang kini memimpin kelas di jam pertama. "Saya berangkat duluan. Jangan sampai Bapak terlihat keluar dari gerbang ini di saat yang hampir bersamaan dengan saya," perintah K
Puncak dari kiamat kecil itu tiba di hari Sabtu, saat fitting baju pengantin. Keira dipaksa mengenakan kebaya putih panjang yang dipenuhi payet indah karya desainer ternama. Saat ia keluar dari ruang ganti, ia melihat Arkana sudah berdiri di depan cermin besar, mengenakan beskap dengan warna senada
Arkana Adhitama hanya mengangguk kecil sekali, hampir tidak terlihat sebagai sapaan. Wajahnya tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa beberapa jam yang lalu."Loh, kalian sepertinya sudah saling kenal?" tanya Baskara tertawa ramah."Pak Arkana adalah dosen saya di kampus, Om," jawab Keira, sua
Suara alarm dari ponsel Keira Olivia sudah menjerit untuk yang kesepuluh kalinya, sebuah melodi bising yang akhirnya berhasil memaksanya meloncat dari tempat tidur. Matanya membelalak melihat angka 07.45 di layar. Hari ini adalah hari pertama semester baru, dan jadwal pertamanya adalah kelas dari







