Share

Negosiasi

Author: WinterBliss
last update publish date: 2026-03-09 23:11:34

Keesokan paginya, Keira sudah duduk di pojok kafe dengan gelisah. Ia sengaja datang lebih awal untuk menata argumennya. Saat pintu kafe berdenting, sosok tegap itu muncul. Arkana mengenakan kemeja biru tua yang sangat rapi, auranya masih sama; dingin dan berjarak. Ia duduk di hadapan Keira tanpa senyum, seolah pertemuan ini hanyalah agenda rapat yang membosankan.

​"Saya hanya punya waktu lima belas menit sebelum bimbingan mahasiswa dimulai. Silakan, apa yang ingin Kamu bicarakan?" tanya Arkana langsung ke inti permasalahan.

​Keira menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga sopan santunnya meski hatinya sedang mendidih. "Pak Arkana, saya tahu Bapak menghargai orang tua, saya pun sama. Tapi pernikahan ini... ini terlalu jauh. Kita sama sekali tidak saling mengenal. Bapak sendiri melihat saya sebagai mahasiswi yang bermasalah. Kenapa Bapak tidak bicara saja pada Om Baskara kalau Bapak keberatan?"

​Arkana menatap Keira dengan tatapan yang sulit diartikan. "Saya sudah katakan semalam, Keira. Ini adalah bentuk bakti saya. Orang tua saya telah memberikan segalanya untuk saya, dan jika permintaan mereka adalah melihat saya menikah dengan putri sahabat mereka, maka itu adalah tanggung jawab yang akan saya jalankan."

​"Tapi ini hidup Bapak! Bukan hidup Om Baskara!" seru Keira, suaranya naik satu oktav hingga beberapa pengunjung kafe menoleh. Ia segera merendahkan suaranya lagi. "Maksud saya... apa Bapak tidak ingin menikah dengan wanita yang Bapak cintai? Seseorang yang Bapak pilih sendiri?"

​"Cinta adalah sesuatu yang bisa diusahakan, atau setidaknya, bisa digantikan dengan komitmen," jawab Arkana dengan nada datar yang menyebalkan bagi Keira. "Lagipula, saya tidak punya waktu untuk mencari seseorang. Pekerjaan dan penelitian saya sudah menyita seluruh waktu saya. Perjodohan ini adalah solusi yang praktis bagi saya."

​Keira ternganga. Praktis? Dia bilang pernikahan ini praktis?

​"Bapak benar-benar kaku ya? Seperti kanebo kering yang sudah kaku bertahun-tahun," gumam Keira tanpa sadar.

​Satu alis Arkana terangkat. "Kanebo kering?"

​Keira berdehem, mencoba kembali ke jalurnya. "Maksud saya, saya tidak bisa hidup dalam pernikahan yang kaku seperti itu. Saya orangnya aktif, saya suka kebebasan, saya sedikit... yah, Bapak sendiri bilang saya bar-bar. Kita tidak akan pernah cocok. Tolong, Pak, bantu saya. Bilang pada mereka kalau Bapak sudah punya calon lain atau apa pun itu. Saya mohon secara diam-diam."

​"Saya tidak suka berbohong, apalagi kepada orang tua saya," jawab Arkana seraya melirik jam tangannya. Ia berdiri, merapikan kemejanya tanpa ada satu pun kerutan yang tertinggal. "Pesan saya hanya satu, Keira. Berhentilah mencoba mencari pintu keluar yang sudah dikunci. Alangkah baiknya jika Kamu mulai mempersiapkan diri. Pernikahan ini akan tetap terjadi dalam dua minggu ke depan."

​"Dua minggu?!" Keira ikut berdiri, matanya membelalak. "Kenapa cepat sekali?"

​"Karena orang tua kita tidak ingin menunda niat baik. Saya permisi, Saudari Keira. Sampai jumpa di kelas nanti siang. Dan pastikan kali ini kamu tidak datang terlambat lagi."

​Arkana melangkah pergi meninggalkan Keira yang mematung dengan kepalan tangan di atas meja. Rasa frustrasi menyelimuti hatinya. Ia merasa seperti burung yang sayapnya baru saja dipangkas tepat saat ia ingin belajar terbang tinggi di dunia kampus.

​Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi buruk yang berjalan dengan kecepatan tinggi. Keira mencoba meminta bantuan kakaknya, Nara, sekali lagi. Ia mendatangi rumah Nara suatu sore, berharap ada celah yang bisa ia gunakan.

​"Kak Nara, masa nggak ada cara sama sekali? Kakak kan dulu juga ngerasain gimana sesaknya dijodohkan," rengek Keira sambil duduk di sofa ruang tamu Nara.

​Nara mengusap rambut adiknya dengan lembut. "Rei, Kakak tahu rasanya. Awalnya memang berat. Kakak dulu menangis seminggu penuh sebelum menikah dengan Mas Danu. Tapi lihat sekarang? Mas Danu sangat baik, dia menghargai Kakak. Kadang, pilihan orang tua itu memang didasari oleh sesuatu yang belum bisa kita lihat saat ini."

​"Tapi Kak, Mas Danu itu hangat. Lah ini? Pak Arkana itu kutub utara! Kalau aku bicara A, dia jawabnya Z. Kalau aku ketawa, dia cuma natap datar. Aku bisa mati kering kalau nikah sama dia," keluh Keira.

​"Belajarlah untuk mengenalnya, Rei. Di balik sifat kakunya, Kakak dengar Arkana itu pria yang sangat berintegritas. Di dunia sekarang, pria seperti itu sangat langka. Papa nggak mungkin sembarangan memilihkan suami buat kamu," jawab Nara tenang.

​Keira menghela napas panjang. Tidak ada yang memihaknya. Semua orang seolah sudah sepakat untuk menyerahkannya pada sang "Dosen Killer".

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Misi rahasia

    ​"Bisa pelan-pelan dikit napasnya, Kei? Lo ini habis dikejar rentenir atau habis lari maraton dari Jakarta ke Bandung?" Siska menatap sahabatnya dengan dahi berkerut, tangannya masih memegang botol air mineral yang baru saja akan ia teguk.​Keira tidak menjawab. Ia hanya terus menggerutu, sebuah gumaman tidak jelas yang terdengar seperti mantra kutukan. Rambutnya yang tadinya tersisir rapi kini sedikit berantakan karena ia berlari sekencang mungkin dari basemen khusus dosen menuju lantai empat gedung Fakultas Ekonomi. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat, bukan hanya karena aktivitas fisik, tetapi karena rasa takut yang hampir membuatnya pingsan: takut jika ada mata yang melihatnya keluar dari sedan mewah milik Arkana Adhitama.​"Arkana gila... bener-bener kanebo kering nggak punya otak... seenaknya aja nurunin gue di basemen dosen. Kalau ada dekan yang lewat gimana? Kalau ada Valery yang sedang cari muka bagaimana? Bisa habis riwayatku," batin Keira sambil menghentakkan pungg

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Debaran

    ​"Ini huruf 'u'. Dia sedang membahas teori utilitas," ucap Arkana pelan, suaranya yang berat terasa bergetar di dekat telinga Keira.​"Oh... o-oke. Utilitas," jawab Keira gugup. Ia segera kembali menatap layar laptopnya, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya.​Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan kaku seperti di kelas. Yang ada hanyalah suara detak jam dinding dan ketikan pelan.​"Keira," panggil Arkana tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di depannya.​"Ya?"​"Terima kasih untuk yang di kampus tadi. Soal Valery." ucap Arkana terdengar tulus.​Keira tertegun mendengarnya. Ia tidak menyangka pria seangkuh Arkana akan mengungkit kejadian itu lagi. "Oh, itu... ya saya cuma nggak suka liat orang nggak sopan di ruang dosen. Apalagi dia centil banget, ganggu konsentrasi kerja saya aja." katanya sedikit memberenggut.​"Hanya karena itu?" Arkana menoleh, menatap Keira dengan tatapan intens yang

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Begadang

    Keira tetap menatap layar laptop. "Ya... kan Mama sering kirim makanan. Sayang kalau nggak dimakan cuma gara-gara Bapak mau makan siang sama mahasiswi centil itu." ​Arkana berdiri, berjalan mendekat ke meja Keira. Ia meletakkan tangannya di tepi meja, mengurung Keira dalam ruang geraknya yang terbatas. "Kamu terlihat sangat bersemangat saat mengusirnya tadi. Apa itu bagian dari tugas asisten, atau ada alasan lain?" ​Keira mendongak, mendapati wajah Arkana yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. "Itu... itu biar Bapak nggak keganggu! Saya kan asisten yang berdedikasi!" ​"Begitu?" Arkana menatap mata Keira dengan dalam, seolah sedang mencari kejujuran di sana. "Kalau begitu, sebagai asisten yang berdedikasi, hari ini kita pulang telat. Ada banyak berkas yang harus diselesaikan di rumah." ​"Di rumah lagi? Bapak nggak capek liat muka saya terus?" ​Arkana menjauhkan tubuhnya, kembali ke sikap dinginnya yang biasa, namun sebelum ia berbalik, ia menggumamkan sesuatu yang membu

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Asisten Dosen

    Berita itu menyebar seperti api di area fakultas. Nama-nama asisten dosen untuk semester ini telah dipajang di papan pengumuman digital, dan nama Keira Olivia berada tepat di samping mata kuliah Manajemen Strategis yang diampu oleh Arkana Adhitama.​Bagi mahasiswa lain, itu adalah pencapaian luar biasa—atau mungkin sebuah kutukan karena harus bekerja di bawah pengawasan dosen paling perfeksionis se-universitas. Namun bagi Keira, itu adalah deklarasi perang.​"Pak—maksud saya, Arkana! Ini apa-apaan?!" Keira masuk ke ruang kerja pribadi Arkana di rumah dengan langkah menghentak. Ia baru saja pulang dan langsung meluapkan kekesalannya. "Kenapa nama saya ada di daftar asisten Bapak? Bapak tahu kan saya ini mahasiswi tingkat dua? Masih banyak kakak tingkat yang lebih kompeten!"​Arkana, yang sedang memeriksa beberapa jurnal penelitian, hanya menaikkan pandangannya sedikit. Ia melepas kacamata bacanya, menunjukkan tatapan tajam yang selalu berhasil membuat Keira merasa sedang disidang.​"Du

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Menjadi orang asing

    Hari Senin tiba, dan Keira merasa jantungnya hampir copot saat ia harus berangkat ke kampus dari rumah yang sama dengan pria yang kini memimpin kelas di jam pertama. ​"Saya berangkat duluan. Jangan sampai Bapak terlihat keluar dari gerbang ini di saat yang hampir bersamaan dengan saya," perintah Keira sambil menyambar tas ranselnya. Ia sudah memakai pakaian mahasiswi yang biasa; kaus polo dan celana cargo, sangat kontras dengan Arkana yang sudah rapi dengan kemeja slim-fit abu-abunya. ​"Saya punya jadwal sendiri, Keira. Silakan jalan duluan. Dan satu hal... tugas yang saya berikan minggu lalu, pastikan kamu mengerjakannya dengan benar. Saya tidak akan memberikan nilai tambahan hanya karena kita tinggal satu rumah," sahut Arkana tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di meja makan. ​Keira mendengus. "Nggak butuh! Saya bisa dapet nilai bagus karena otak saya, bukan karena status ini!" ​Setibanya di kampus, Keira mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, tantangan terber

  • Menjadi Istri Dosen Killer   Diam-diam Menikah

    Puncak dari kiamat kecil itu tiba di hari Sabtu, saat fitting baju pengantin. Keira dipaksa mengenakan kebaya putih panjang yang dipenuhi payet indah karya desainer ternama. Saat ia keluar dari ruang ganti, ia melihat Arkana sudah berdiri di depan cermin besar, mengenakan beskap dengan warna senada.​Untuk pertama kalinya, Keira melihat Arkana tanpa kacamata. Pria itu tampak sangat berbeda—lebih muda, namun tetap dengan ekspresi yang begitu terkendali. Mata mereka bertemu di pantulan cermin.​"Apa Bapak puas?" tanya Keira dengan suara lirih yang terselip rasa sedih. "Melihat saya terpaksa seperti ini?"​Arkana berbalik, menatap Keira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilatan aneh di matanya yang hanya muncul selama satu detik sebelum kembali menghilang di balik ketenangan palsunya. "Kamu terlihat cantik, Keira. Kebaya itu cocok untuk Kamu."​Keira mendengus sinis. "Saya tidak butuh pujian. Saya butuh kebebasan."​Arkana berjalan mendekat, hingga jarak di antara mereka hanya ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status