Home / Romansa / Menjadi Istri Keponakan sang Mantan / Bab 32 : Dalam Cengkraman Hasrat

Share

Bab 32 : Dalam Cengkraman Hasrat

Author: Vanilla_Nilla
last update Last Updated: 2025-02-28 13:52:54

"M-maaf, aku tidak sengaja."

Sophia berusaha mempertahankan keseimbangan, tetapi tubuhnya terasa semakin lemah. Saat mencoba melangkah lagi, hak sepatunya kembali terpeleset, hampir membuatnya jatuh.

Sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang tangan kuat dengan sigap menangkapnya lagi. Cengkraman itu kokoh, memberikan sedikit rasa aman di tengah kepanikannya.

"Kau mabuk," suara bariton itu terdengar dekat.

Sophia mengerjapkan mata, berusaha melihat dengan lebih jelas. Suara itu … terlalu familiar. Ia perlahan menoleh, dan di balik pandangan buramnya, sosok seorang pria berdiri tegap di sampingnya.

Daniel.

Dadanya naik turun, ia menggelengkan kepala berulang kali, bahkan mengetuk pelipisnya dengan harapan kesadarannya kembali. Tapi bayangan pria itu tetap tidak berubah.

"Daniel …?" suaranya begitu lirih, nyaris terseret dalam debaran jantung yang berdegup kencang.

Daniel menatapnya tajam.

"Berapa botol yang kau minum?"

Sophia mengerutkan kening, mencoba menginga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 33 : Rencana yang Gagal

    Anne berjalan dengan percaya diri melewati kerumunan, bibirnya melengkung dalam senyuman puas. Rencananya berjalan dengan sempurna. Sophia sudah terjebak di tengah hingar-bingar klub ini, dan dengan sedikit dorongan, dia akan membuat gadis itu melakukan kesalahan besar—kesalahan yang akan menghancurkan reputasinya di mata keluarga Williams. Anne bisa membayangkan betapa marahnya William jika mendengar bahwa Sophia, yang selama ini berusaha menjaga citra baiknya, terlihat berada di tempat seperti ini, dikelilingi pria-pria asing. Namun, kebahagiaannya seketika sirna saat matanya menangkap sosok Jack yang duduk sendirian di sudut bar. Gelas minumannya hampir kosong, kepalanya tampak berat karena mabuk, dan yang lebih buruk—tidak ada Sophia di sekitarnya. Anne merasakan jantungnya mencelos. Ia segera menghampiri Jack, ekspresinya berubah tajam dalam sekejap. "Jack," panggilnya dengan suara setengah berteriak karena suara musik yang memekakkan telinga. Jack mengangkat kepalanya, mata

    Last Updated : 2025-03-01
  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 34 : Api dalam Dendam

    Mansion keluarga Williams berdiri megah di bawah cahaya siang yang mulai meredup. Langit di luar berwarna jingga keemasan, menandakan sore telah tiba. Di dalam dapur yang luas dengan marmer putih mengkilap, Sophia berjalan mendekati lemari es, tangannya terulur membuka pintunya. Udara dingin langsung menyentuh wajahnya saat ia meraih sebotol air mineral. Ia membuka tutup botol itu dengan satu tangan, menuangkan air ke dalam gelas, lalu meneguknya perlahan. Rasa hausnya sedikit mereda, tetapi pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian semalam. Rasa panas di tubuhnya, kesadaran yang perlahan memudar, dan bayangan Anne yang terus mendorongnya untuk minum. Langkah kaki terdengar dari arah belakang. Saat Sophia menoleh, ia mendapati Anne tengah berjalan menuju pintu dapur. Akan tetapi, saat melihat Sophia, wanita itu tiba-tiba memutar arah, seperti sedang menghindar dari Sophia. Seketika, emosi Sophia mendidih. Ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu. "Tunggu dulu," suara Sophi

    Last Updated : 2025-03-01
  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 35 : Harga Sebuah Pernikahan

    Suara langkah kaki terdengar tergesa-gesa di sepanjang koridor, diikuti oleh suara pintu ruang tamu yang terbuka kasar. "Sophia!" Suara berat itu menggema di seluruh ruangan, menusuk keheningan yang sebelumnya hanya diisi oleh dentingan cangkir porselen. Sophia yang tengah berdiri di dekat sofa sontak menoleh. Ia baru saja hendak menuang teh ke dalam cangkir ketika suara itu menyambar perhatian. Matanya menangkap sosok David yang berdiri di ambang pintu—rahangnya mengatup keras, napasnya memburu, dan tatapannya membara. Dada Sophia mencelos. "David? Ada apa?" Namun, sebelum ia sempat memproses apa yang sedang terjadi, sebuah tamparan mendarat keras di pipinya. PLAK! Dunia terasa berhenti. Semua terjadi begitu cepat—kepalanya terpelanting ke samping, suara tamparan itu masih menggema di telinganya, dan rasa panas yang perih menjalar di pipinya. Tangan Sophia terangkat refleks, menyentuh kulitnya yang berdenyut. Matanya melebar tidak percaya. "Kau … menamparku?"

    Last Updated : 2025-03-02
  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 36 : Hadiah dan Luka yang Tersembunyi

    Sophia melangkah keluar dari rumah sakit, udara sore menyapu wajahnya dengan lembut. Baru saja ia hendak melanjutkan langkah, suara deru mobil yang melintas di hadapannya membuatnya berhenti. Sebuah mobil hitam berkilau berhenti di tepi jalan, dan kaca jendelanya perlahan turun, memperlihatkan sosok pria yang duduk di dalamnya. John. Pria itu menatapnya dengan serius. "Sophia." Sophia mengernyit, sedikit terkejut dengan kedatangan lelaki itu. "John?" "Masuklah." Sophia menatap pria itu sesaat, seperti mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya mengangguk dan melangkah masuk ke dalam mobil. Ia menoleh ke arah John yang kini tengah fokus mengemudi. "Ada apa, John? Tumben sekali kau menjemputku seperti ini." John tetap menatap ke depan, menyusuri jalanan kota dengan kecepatan stabil. "Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Dahi Sophia berkerut. "Siapa?" John akhirnya melirik sekilas, seolah mengukur reaksi Sophia sebelum menjawab, "Siapa lagi kalau bukan Dani

    Last Updated : 2025-03-03
  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 37 : Amarah dan Kenyataan yang Menyakitkan

    "Kurang ajar! Berani-beraninya dia menamparmu?" Daniel menggeram. Mendengar umpatan Daniel, Sophia mengerutkan kening. Ada sesuatu yang aneh dalam reaksinya kali ini. Apakah Daniel benar-benar marah hanya karena David telah menamparnya? Bukankah selama ini dia selalu bersikap dingin dan tak acuh terhadap urusannya? Merasa penasaran, Sophia mengangkat tangannya dan menyentuh kening pria itu. Tapi suhu tubuhnya terasa normal, tak ada tanda-tanda demam. "Kau ... kau marah pada David?" tanyanya, matanya menatap Daniel dengan bingung. Daniel mengencangkan rahangnya. Ia melepaskan tangannya dari pinggang Sophia dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah mencoba menyembunyikan sesuatu. "Kenapa dia bisa menamparmu?" tanyanya, suaranya lebih tenang, tapi tetap terdengar dingin. Sophia menghela napas panjang sebelum menjawab, "Anne memberitahu David bahwa aku mempermalukannya di depanmu. Jadi, dia tiba-tiba datang dan menamparku begitu saja." Daniel menoleh cepat, tatapan

    Last Updated : 2025-03-03
  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 38 : Ambisi dalam Bayangan

    Gaun malam berwarna hitam dengan detail manik-manik halus tergeletak di atas ranjang. Sophia menatapnya tanpa banyak ekspresi, tangannya sibuk menyisir rambut panjangnya yang terurai. Malam ini adalah pesta ulang tahun William. Pesta besar yang akan diadakan di hotel mewah milik keluarga Williams. Ia baru saja hendak mengenakan anting saat pintu kamarnya terbuka begitu saja. Sosok seorang wanita berusia sekitar lima puluhan melangkah masuk dengan percaya diri, seolah kamar ini adalah miliknya sendiri. Rose. Wanita itu mengenakan gaun hijau zamrud dengan perhiasan mencolok di pergelangan tangan dan lehernya. Tatapannya langsung menyapu seluruh ruangan dengan cepat—ranjang berukir mewah, lampu gantung kristal, lemari pakaian besar yang terbuat dari kayu mahal. Segala kemewahan yang dulu hanya bisa ia impikan. Senyuman puas tersungging di wajahnya. "Kau beruntung, Sophia," ucapnya sambil berjalan lebih dalam, jemarinya dengan ringan menyentuh ukiran kayu di ujung ranjang. "Li

    Last Updated : 2025-03-03
  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 39 : Kedatangan Orang Baru

    "Kau tidak perlu melakukannya." Sophia langsung menegakkan tubuhnya, seolah tarikan gravitasi yang sebelumnya menahannya hilang begitu saja. Napasnya tercekat, matanya melebar saat mengenali sosok pria yang baru saja berbicara. Pria itu adalah Daniel. Ia berdiri di ambang pintu, mengenakan tuxedo yang rapi dengan kemeja putih bersih di baliknya. Cahaya lampu mengguratkan kilau di rambut hitamnya yang tertata sempurna. Sorot matanya tajam, saat ia melangkah mendekati mereka. Melihat itu, Anne menegang. "T-Tuan Daniel …" gumamnya, segera menundukkan kepala, ekspresi angkuhnya menghilang seketika. Ia tidak menyangka bahwa Daniel masih ada di mansion. Ia pikir semua orang sudah pergi ke hotel untuk perayaan ulang tahun Williams. Tepat sudah berada di dekat mereka, Daniel menghentikan langkahnya, tatapannya menusuk langsung ke arah Anne. "Apa kau tidak bisa menjaga sikapmu?" Anne menelan ludah. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Bahkan untuk menatap mata taj

    Last Updated : 2025-03-04
  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 40 : Masa Lalu yang Kembali

    Sosok wanita bertubuh langsing melangkah dengan anggun menuju di mana tempat William dan keluarganya sedang berada. Semua orang menatap kagum ke arah wanita itu, penampilannya malam ini begitu mempesona. Rambut pirangnya disanggul rapi, beberapa helai dibiarkan jatuh di sekitar wajahnya. Gaun merah yang membalut tubuhnya begitu sempurna, mengikuti setiap lekuk tubuhnya tanpa berlebihan. Sementara leher jenjangnya dihiasi kalung berlian yang berkilau setiap kali ia bergerak. Wanita itu melangkah dengan percaya diri. Sepatu hak tinggi yang berkilauan muncul sesekali dari balik gaunnya, menyempurnakan keseluruhan penampilannya yang membuat semua mata enggan berpaling. Wanita itu adalah Laura James, putri sulung James, seorang pengusaha ternama di kota ini. Namun, bukan hanya status keluarganya yang membuat namanya dikenal, tetapi juga hubungannya dengan seseorang di ruangan ini. Mantan kekasih Daniel. Lebih tepatnya, cinta pertama Daniel. Daniel berdiri mematung, matanya

    Last Updated : 2025-03-05

Latest chapter

  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 102 : Kemarahan Rose

    William duduk di kursi kamarnya, lampu meja menyala redup, menimbulkan bayangan panjang di dinding. Tangannya menggenggam erat amplop yang baru saja ia terima. Amplop itu tampak biasa saja, tapi ia tahu—tidak ada yang benar-benar biasa bila menyangkut keluarganya. Dengan perlahan, ia membuka segel merah tua di ujung amplop. Di dalamnya ada beberapa lembar foto yang langsung membuat napasnya tercekat. Foto pertama, menampilkan Daniel dan Sophia duduk berdampingan di sebuah kafe kecil. Senyum mereka lepas, begitu alami. Lalu foto kedua, saat mereka berpegangan tangan di tepi pantai. Foto ketiga, Daniel sedang memeluk Sophia dari belakang, sambil mencium pelipisnya. Hati William mulai berdegup kencang. Ia membalik beberapa foto lainnya—semuanya menunjukkan kedekatan mereka. Kemudian, ia menemukan selembar surat yang ditulis tangan. Tulisannya rapi, namun terlihat lama. Mungkin surat itu ditulis bertahun-tahun lalu. "Untuk siapa pun yang membacanya, jika kau menemukan surat ini, mung

  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 101 : Kekacauan William

    Langkah kaki William terdengar pelan namun berat saat ia keluar dari ruang rumah sakit. Pundaknya sedikit membungkuk, dan tongkat yang biasa ia genggam dengan tenang kini terasa seperti beban tambahan yang tak bisa ia lepaskan. Lewis, ketua pelayan setia yang sejak dulu menemani kehidupan keluarga Williams, menyambutnya dengan sorot mata penuh tanya. "Tuan, bagaimana dengan keadaan Nyonya Sophia?" tanyanya hati-hati, menjaga nada suaranya agar tak terdengar terlalu mendesak. Namun William hanya menggeleng pelan. Tak sepatah kata pun keluar selain bisikan lirih, "Kita kembali saja ke mansion." "Baik, Tuan," jawab Lewis dengan anggukan sopan sebelum ia berjalan cepat ke arah mobil, membuka pintu belakang dan membantu William masuk dengan penuh kehati-hatian. Mobil melaju pelan meninggalkan gedung rumah sakit, membawa keheningan yang begitu pekat di dalam kabin. William menatap kosong ke luar jendela, menyaksikan lampu-lampu kota yang lewat bagai bayangan tak bermakna. Namun pi

  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 100 : Kenyataan Pahit

    Kelopak mata Sophia bergerak perlahan, seakan berusaha keluar dari kegelapan yang menyelimutinya. Napasnya masih lemah saat akhirnya matanya terbuka lebar. Pandangannya kabur sesaat sebelum akhirnya menangkap sosok yang duduk di samping ranjangnya. "Daniel ...," gumamnya lemah. Mendengar namanya dipanggil, Daniel yang sejak tadi tenggelam dalam pikirannya langsung tersentak. Dengan cepat, ia menghapus air mata yang sempat jatuh di pipinya. Ia tak ingin Sophia melihatnya dalam keadaan seperti ini. "Kau sudah bangun," suaranya terdengar serak, tapi ia tetap berusaha terdengar tenang. Sophia mengerjapkan matanya, mencoba memahami apa yang terjadi. Namun, ada sesuatu yang aneh. Daniel tampak berbeda. Wajahnya pucat, matanya memerah seolah telah menahan tangis terlalu lama. "Kenapa kamu menangis?" Ini pertama kalinya Sophia melihat Daniel dalam keadaan seperti ini—terlihat begitu hancur, begitu rapuh. Daniel menggeleng pelan. "Tidak apa-apa," jawabnya, meski jelas sekali itu bohong.

  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 99 : Kepingan Hati

    "Tidak mungkin ... Ini semua tidak mungkin ...." Mata David menatap kosong ke lantai rumah sakit, sementara pikirannya berputar tak karuan. Ia tidak pernah menginginkan kehamilan Sophia sejak awal. Ia menolak dengan keras, menuduh anak itu bukan miliknya. Tapi seiring waktu, perlahan ia mulai menerimanya—terutama setelah William menjanjikan saham sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Namun sekarang, semuanya sia-sia. David mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Rencana yang sudah ia susun dengan matang kini berantakan begitu saja. Ia tak tahu harus merasa sedih, kecewa, atau marah. Yang pasti, sesuatu di dalam dirinya terasa kosong. Tatapannya kemudian beralih ke arah pintu ruang perawatan yang masih tertutup rapat. Di balik pintu itu, Sophia masih berjuang dengan kondisinya yang belum stabil. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi tetap saja, pikirannya kacau. Apakah ini hukuman untuknya karena sejak awal menolak anak itu? Atau

  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 98 : Kehilangan

    Suara jeritan Sophia menggema di seluruh lorong mansion Williams, Daniel yang mendengar itu langsung berlari secepat mungkin ke arah sumber suara. "Sophia!" Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk telah menimpa wanita itu. Saat ia tiba di tangga besar mansion, napasnya tertahan. Sophia tergeletak di anak tangga, tubuhnya setengah terduduk dengan tangan bertumpu pada salah satu undakan. Pakaiannya kusut, dan yang lebih mengejutkan—darah segar mengalir dari kakinya, sampai membentuk genangan merah di lantai marmer. Daniel berlari menuruni tangga. "Sophia!" Ia segera berjongkok di hadapan wanita itu, tangannya refleks menyentuh perut Sophia. Sophia mengangkat wajahnya yang pucat, matanya berkabut menahan sakit. "Daniel …" suaranya lemah, hampir tidak terdengar. Daniel melihat tangan Sophia juga berlumuran darah. "Apa yang terjadi?!" Sophia membuka mulut, seolah ingin menjawab, tapi sebelum satu kata pun keluar, kepalanya terkulai ke sa

  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 97 : Alibi Sophia

    Flash Back. Anne berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, napasnya tertahan saat mendengar percakapan di dalam ruangan. Matanya menyipit tajam, memperhatikan setiap gerakan Sophia dan Daniel. Sejak awal, ia sudah merasa ada yang aneh dengan kedekatan mereka. Tatapan penuh perhatian, sentuhan yang terlalu akrab—semuanya terasa lebih dari sekadar hubungan biasa. Dan kini, bukti itu ada di depan matanya. Tangannya bergerak cepat mengambil ponsel dari saku. Dengan hati-hati, ia mengangkatnya dan membidik kamera ke arah Daniel yang tengah mengelus perut Sophia, wajahnya dipenuhi kelembutan. Klik. Satu foto berhasil ia abadikan. Anne menahan senyumnya. Ini akan sangat menarik. Tanpa ragu, ia mengetik pesan singkat di ponselnya sebelum mengunggah foto tersebut. "Kau harus melihat ini. Aku rasa kau akan sangat menyukainya." Tombol kirim ditekan, dan dalam hitungan detik, pesan itu terkirim ke Laura. Anne menatap layar ponselnya dengan penuh kepuasan. Ia tahu betul bagaimana L

  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 96 : Janji yang Terucap dalam Diam

    Ruangan kerja Daniel yang berada di mansion Williams terasa lebih hangat dari biasanya. Cahaya lampu temaram menambah suasana nyaman di dalamnya. Di atas meja kerja, beberapa dokumen tersusun rapi, menunjukkan kesibukan Daniel akhir-akhir ini. Namun, saat ini, perhatiannya hanya terfokus pada satu hal—wanita yang tengah duduk di sofa, yang kini menjadi pusat dunianya. Sophia duduk dengan santai, tubuhnya sedikit bersandar ke belakang, satu tangannya mengelus lembut perutnya yang semakin membesar. Ada cahaya keibuan di wajahnya, sesuatu yang membuat Daniel tak bisa mengalihkan pandangan. Dengan langkah tenang, Daniel mendekat sambil membawa sesuatu di tangannya. Ia duduk di samping Sophia, menatapnya sejenak sebelum akhirnya menyerahkan benda itu. "Aku membeli ini untuk anak kita," katanya sambil menunjukkan sepasang sepatu bayi mungil berwarna pink. "Tapi aku tidak tahu apakah dia akan menyukainya." Mata Sophia melembut, senyum tipis muncul di wajahnya. Ia menerima sepatu itu den

  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 95 : Tidak Asing

    Benturan keras masih terasa di tubuh Daniel, napasnya sedikit tersengal saat kesadarannya perlahan pulih. Suara klakson mobil lain terdengar samar, diiringi teriakan beberapa orang yang bergegas mendekat ke arah mobilnya. Mobil yang menabraknya telah melaju pergi begitu saja, meninggalkan bekas tabrakan di bagian samping mobil Daniel. Ia masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi, saat itu juga ketukan terdengar di jendela kaca mobilnya. Tok, tok, tok. "Pak, apa Anda baik-baik saja?" suara seorang pria terdengar khawatir dari balik kaca. Daniel mengerjapkan mata, masih sedikit pusing, lalu menekan tombol untuk menurunkan kaca jendela. Udara malam yang dingin langsung menyapa wajahnya. "Aku baik-baik saja," jawabnya dengan suara yang sedikit serak. "Terima kasih." Pria yang mengetuk kaca tadi menghela napas lega. "Syukurlah. Saya melihat mobil itu menabrak Anda lalu kabur begitu saja. Haruskah saya menelepon polisi?" Daniel menggeleng pelan. "Tidak perlu. Aku bisa mengur

  • Menjadi Istri Keponakan sang Mantan   Bab 94 : Kesepakatan yang Menguntungkan

    "Terima kasih atas kerja sama Anda, Mr. Lancaster," ujar Daniel sambil menjabat tangan pria di hadapannya. Mr. Edward Lancaster, seorang investor ternama yang memiliki jaringan luas di sektor properti dan pembangunan, mengangguk dengan ekspresi puas. "Kau memiliki visi yang kuat, Mr. Williams. Aku suka cara berpikirmu," ujarnya. Saat ini, Daniel sedang berada di ruang pertemuan eksklusif di lantai tertinggi sebuah hotel bintang lima, menemui klien penting untuk mengamankan investasi di proyek lahan perbukitan barat. Kawasan itu telah lama menjadi target pengembangan, tetapi hanya sedikit investor yang berani mengambil risiko karena akses dan infrastruktur yang masih terbatas. Namun, Daniel bukan pria yang mudah menyerah. Sejak awal presentasi, ia telah menyiapkan setiap data dengan matang—rencana pembangunan, prospek keuntungan jangka panjang, hingga strategi pengembangan akses jalan yang akan meningkatkan nilai lahan tersebut secara signifikan. Salah satu poin utama yang berha

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status