MasukDi kediamannya yang megah, keluarga Maverick tengah asik menikmati makan malam keluarga. Sementara di luar hujan mengiringi kesyahduan mereka, pada awalnya.
“Caspian, sudah saatnya kau menikah dan memberikanku pewaris. Keluarga kita butuh pewaris untuk meneruskan bisnisku yang besar.” ucap Alfian Maverick, ayahnya tiba-tiba. Caspian menghentikan aktivitas makannya, memandang ayahnya dengan raut yang tak bisa dijelaskan. “Tidak untuk sekarang,” jawab Caspian dingin. “Aku menyuruhmu dan tidak mau menerima penolakan!” tegas Alfian. “Aku tidak ingin menikah hanya karena permainan politik ayah,” “Kalau kau tak memiliki calon, aku yang akan memilihkan wanitanya.” Caspian bangkit seketika, tatapannya berubah tajam. “Jangan ikut campur urusan pribadiku ayah, aku akan menikah hanya ketika aku ingin, bukan untuk memenuhi keinginanmu.” ucapnya, penuh nada keseriusan. Caspian kemudian menjauh dari meja pertemuan, sementara suara ayahnya menggema di belakang. “Aku tidak mau tahu! Kau harus segera menikah, atau asetmu kucabut dan kau hidup seperti gelandangan!” Kalimat itu seperti palu yang digetarkan ke tengkoraknya. Kehidupan Caspian selalu berada dalam kendali ayahnya, tapi pernikahan adalah batas yang tidak ia izinkan untuk dilewati. Ia ingin pernikahannya terjadi sesuai keinginannya, ia ingin mengontrol dirinya setidaknya di bagian itu. Namun Alfian Maverick tak pernah mengenal batas. Jika keinginan tidak ditunaikan, maka keputusannya akan mengubah seluruh kehidupan Caspian. Ancaman tersirat itu memang terlihat jelas. Kekuasaan keluarga bedara di ambang perebutan oleh rival mereka. Tanpa pewaris, tentunya mereka akan sangat mudah untuk disingkirkan. Dan ayahnya, pria yang menganggap dunia sebagai medan perang, tak akan ragu menghancurkan apa pun dan siapa pun yang menghalanginya. Termasuk Caspian, anaknya sendiri. Setelah menyambar kunci, Caspian langsung melajukan mobilnya di tengah hujan tanpa arah tujuan. Apa pun lebih baik daripada memikirkan hidup yang seperti sangkar emas, indah dan berkilau dari luar, tetapi berisi jerat tak terlihat. Ia mematikan lampu mobil saat melewati pinggir kota, berhenti sejenak di dekat jembatan tua yang jarang dilewati siapapun. Tempat itu sunyi, hanya diterangi sepasang lampu jalan kuning yang berkelip samar. Namun dari kejauhan, Caspian melihat sesuatu. Siluet seseorang, berdiri terlalu dekat dengan tepian jembatan. Seperti seorang wanita. Di bawahnya, laut hitam bergejolak seperti rahang monster yang menanti mangsa. Caspian memicingkan mata, hatinya yang dingin, yang selalu ia jaga agar tetap membeku, merasa terganggu. Wanita itu diam mematung, ia tidak sedang melihat panorama, melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu seperti, akhir. Sial! Caspian keluar dari mobil tanpa payung, membiarkan hujan menghantam wajahnya. Semakin dekat langkahnya, semakin jelas sosok itu. Gaun hitam, rambut basah yang kusut, bahu yang terlihat gemetar. Wanita itu mengambil satu langkah maju, bersiap untuk menerjang ganasnya ombak di bawah sana. Caspian tergerak sebelum sempat berpikir, setengah berlari. Dalam dua detik ia sampai di belakangnya, dan ketika tubuh wanita itu mulai condong ke depan, Bruk! Caspian meraih pergelangan tangannya lalu menariknya hingga tubuh wanita itu jatuh di dadanya. Akhirnya ia bisa melihat wajahnya, wajah yang basah oleh hujan dan air mata yang hancur. “Apa kau sudah gila? Apa yang akan kau lakukan?” cercanya. Wanita itu tersentak keras, kakinya hampir terpeleset. Caspian menarik pinggang wanita itu, hingga tubuh mereka menjadi terlalu dekat. Napas keduanya tercampur dengan dingin malam. “Lepaskan…” bisiknya lemah, nyaris tak terpakai. “Tidak!” jawab Caspian tajam. “Kalau aku lepaskan, kau akan mati.” Wanita itu, Alexa, menunduk. Bahunya bergetar. “Apa pedulimu? Bukankah mati lebih baik daripada hidup yang penuh penolakan?” Caspian menangkup kedua pipi Alexa, memaksa untuk menatapnya. “Tak lebih baik, mati hanya akan menambah masalahmu.” Hujan membuat wajah Alexa sulit dibedakan antara hujan dan tangis. “Sudah tidak ada artinya untuk hidup.” Entah kenapa, kata-kata itu terasa menusuk dada Caspian. Bukan karena ia peduli, tapi ekspresi wajah Alexa, membuatnya merasa seperti melihat dirinya di masa lalu. Saat ia juga pernah berdiri di tepi kehancuran, ia hanya dibangkitkan oleh sisi gelap dirinya. Alexa tak seperti kebanyakan wanita yang ditemuinya. Ada kepolosan dari raut wajahnya, ada luka yang menghancurkan tanpa dibuat-buat. Dan itu membuat Caspian merasakan sesuatu yang begitu asing. Alexa memejamkan mata, tubuhnya melemah. “Aku tidak pantas hidup, tidak ada yang menginginkanku. Biarkan aku mati bersama penyesalan hidup terbesar ini.” Caspian menahan napas, ia bisa merasakan tubuh Alexa bergetar karena dingin. Bahkan bisa merasakan putus asanya yang menular. “Lihat aku!” katanya pelan tapi tegas. Alexa mengangkat wajahnya, matanya sembab, merah dan kosong. Dan disaat itu juga, Caspian merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Keinginan untuk melindungi. Ini tidak masuk akal. Ia bahkan tidak mengenal wanita itu, tapi kepasrahan itu membuat sesuatu dalam dirinya merasa terganggu. “Kau ingin mati?” Caspian mendekat, hidungnya hampir menyentuh kening Alexa. “Kau boleh mati, tapi tidak untuk sekarang.” Alexa mengerutkan keningnya, bingung. “Kenapa?” Caspian diam sejenak, menghela napasnya. “Karena aku menginginkanmu untuk hidup.” ia mengusap pipi Alexa yang basah. Tiba-tiba hujan berhenti begitu saja, menyisakan dingin yang merayap. Alexa mundur setengah langkah, namun Caspian menahan tangannya agar tidak jatuh. “Kenapa kau terlihat peduli? Kau bahkan tak mengenalku.” “Karena aku tahu bagaimana rasanya berada di posisimu.” Alexa terpaku, suara Caspian rendah seperti berbahaya, tapi juga terdengar jujur. “Hear me out,” ucapnya pelan. Alexa menatapnya lama, seolah mencoba memahami siapa pria asing yang muncul seperti bayangan malam ini. “Hidup itu tidak adil, dunia memang didesain untuk tidak memihak orang seperti kita. Tapi, mati bukan solusinya.” lanjut Caspian. Alexa tersenyum pahit, getir. “Bagimu mungkin mudah untuk berbicara seperti itu, kau terlihat memiliki segalanya.” Caspian tertawa pendek namun dingin. “Aku tidak memiliki apapun, percayalah!” Mata Alexa sedikit goyah. Caspian mendekat, membuat jarak diantara mereka hanya sebatas helaan napas saja. Suaranya berubah rendah, tapi menggema. “Kalau kau tetap ingin mati…” matanya menatap jauh ke dalam netra kecoklatan Alexa. “... matilah setelah kau menjadi istriku.” ya, pada akhirnya. Caspian merasa wanita ini lebih baik daripada siapapun yang dipilihkan ayahnya. Setidaknya, ia memilih seseorang yang ia inginkan, terlepas dari baik buruknya Alexa. Alexa masih membeku, “A–apa maksudmu?” Ucapan Caspian seperti guntur yang memecah keheningan. Sementara pria itu menatapnya tanpa berkedip. “Kau mendengarnya, ‘kan?” Alexa menggeleng, hampir tersandung oleh kejutannya sendiri. “Itu–itu gila.” “Ya!” “Aku memang sudah gila, tapi aku tidak sedang bercanda.” Caspian tidak menyangkal. Alexa menatapnya, bingung dan ketakutan sekaligus. “Kenapa… aku?” Caspian mengangkat dagunya, “Sebenernya akh butuh seseorang untuk dijadikan istri, sebelum ayahku memilihkan wanita yang sama sekali bukan seleraku. Dan kau muncul disaat keadaan genting seperti ini.” Alexa terdiam, berusaha mencerna penuturan Caspian barusan. “Aku tidak bisa kembali, tidak ada tempat untukku,” lirihnya, Caspian tersenyum. “Kalau begitu, aku akan menjadi tempatmu untuk kembali.” Alexa memejamkan mata sekali lagi, tubuhnya sudah semakin menggigil. Bibirnya kebiruan karena dingin, sementara Caspian masih menunggu jawaban darinya. Caspian hanyalah pria asing yang baru saja ia temui, tapi ucapannya terasa paling lembut dari yang pernah ia dengar dalam hidupnya. Ia bahkan belum sempat bertanya namanya, tapi rasa hangat seakan menjalar begitu tubuhnya menyentuh dada bidang pria itu. Alexa akhirnya mengangguk, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia menangis bukan karena hancur. Caspian menariknya ke dalam pelukan, terasa hangat meski tubuhnya basah. “Mulai sekarang, kau tak lagi sendirian.” Bersambung...Caspian menyeret Alexa masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Alexa, tidak sampai menyakitkan, tapi cukup kuat untuk menyampaikan satu hal: ia sedang tidak ingin dibantah.Alexa duduk kaku di kursi penumpang. Dadanya naik turun cepat, bukan karena lelah, melainkan karena kata-kata yang menumpuk di tenggorokannya sejak siang tadi. Sejak Caspian terlalu sibuk. Sejak ia merasa menjadi istri yang hanya hadir di sela jadwal pria itu.Mobil melaju cepat, terlalu cepat.Tak satu pun dari mereka berbicara sampai akhirnya gerbang rumah besar itu terbuka dan mobil berhenti di pelataran. Begitu pintu tertutup, Alexa menarik tangannya dari Caspian dan melangkah lebih dulu masuk.Langkahnya tegas. Tidak ragu.Begitu pintu utama tertutup, Alexa berbalik.“Berapa lama lagi aku harus seperti ini, Caspian?” suaranya bergetar, tapi bukan lemah. “Aku istrimu. Bukan dekorasi rumah yang kau tinggalkan setiap hari.”Caspian menutup pintu perlahan. Napasnya ditaha
Hari-hari setelah pernikahan berjalan terlalu… normal.Bukan normal yang menenangkan, melainkan normal yang terasa asing bagi Alexa. Tidak ada lagi sorot kamera, gaun-gaun mewah, atau bunga-bunga putih yang memenuhi setiap sudut hidupnya. Yang tersisa hanyalah rutinitas dan kesibukan Caspian yang semakin hari semakin menyita seluruh waktunya.Pagi-pagi buta, Caspian sudah meninggalkan rumah. Malam hari, ia pulang dengan wajah letih, jas yang belum sempat dilepas, dan ponsel yang terus bergetar tanpa henti. Alexa sering menunggunya di ruang makan, duduk rapi dengan makan malam yang mulai mendingin, hanya untuk akhirnya mendengar suara langkah kaki Caspian yang langsung menuju ruang kerja.Alexa berusaha memahami.Ia tahu, menikahi Caspian Maverick berarti menikahi dunia yang penuh tekanan, keputusan besar, dan tanggung jawab yang tidak main-main. Tapi tetap saja, hatinya bukan mesin. Ia butuh waktu, butuh kehadiran, butuh diyakinkan bahwa ia bukan hanya sekadar simbol di samping nama b
Dua minggu dilalui Alexa dengan penuh pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Pagi ini, sinar matahari menembus jendela besar ballroom dengan lembut. Menari di permukaan marmer yang berkilau. Setiap sudut dihias dengan bunga-bunga putih dan pastel yang memantulkan cahaya, mencipatakan suasana manis yang tak hanya cantik untuk dilihat, tapi juga memabukkan bagi setiap tamu yang hadir. Alexa mematut diri di depan cermin, tubuhnya yang ramping dibalut gaun pengantin dengan renda tipis yang menjuntai hingga lantai. Setiap detail dihias sempurna, dari korset yang pas ditubuhnya hingga veil yang jatuh lembut menutupi bahunya. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan wajah cantik dan ekspresi tegang yang tersembunyi di balik senyum manisnya. Caspian berdiri tak jauh dari sana, mengenakan jas hitam elegan yang membuatnya terlihat lebih tegas dan memesona dari biasanya. Matanya tak lepas dari Alexa, memandang setiap gerak-geriknya dengan perhatian yang tidak biasa. Ia tahu, hari ini bukan sekada
Hujan malam itu telah reda, tapi udara tetap basah, membekas di kulit Alexa seperti jejak-jejak emosi yang belum ia lepaskan. Di dalam mobil Caspian, hanya ada suara putaran wiper dan detak jantungnya sendiri yang terasa begitu nyaring. Alexa menundukkan kepala, menahan air mata yang tak bisa lagi dibendung.“Kenapa ayah… kenapa harus seperti itu?” suaranya pecah, hampir seperti bisikan, namun terdengar begitu jelas di telinga Caspian.Caspian hanya menatapnya diam. Ia tak berkata apa-apa, hanya membiarkan Alexa melepaskan semua yang menumpuk di dadanya. Ia tahu, kata-kata terkadang tak cukup, hanya kehadiran yang bisa memberikan rasa aman.Alexa menutup wajahnya dengan kedua tangan, napasnya terengah. Ia merasa dunia runtuh, dunia yang selama ini ia kenal, yang seharusnya penuh rasa aman dari seorang ayah, kini berubah menjadi medan perang yang tak ia mengerti.Caspian meraih tangannya perlahan, tanpa paksaan, dan menggenggamnya. Sentuhan itu sederhana, tapi cukup untuk memberi sinya
Udara malam terasa dingin ketika mobil Caspian berhenti di depan gerbang tinggi kediaman keluarga Draxen. Rumah itu besar, kokoh, dipenuhi lampu-lampu besar yang terlihat megah. Tetapi bagi Alexa, rumah itu hanya tembok yang menyimpan trauma berlapis-lapis. “Kita bisa kembali jika kamu merasa tak siap.” ujar Caspian, mematikan mesin mobilnya sambil melirik Alexa. Alexa menatap gerbang itu beberapa detik, ada perasaan aneh yang berkecamuk dalam dadanya. Ia menghela napas dalam, “Aku harus menghadapinya.” Caspian mengangguk pelan. “Oke. Aku tunggu disini, panggil saja aku kapanpun kau butuh.” Alexa tak menjawab, ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Cahaya lampu teras menyambutnya, terang, dingin dan palsu. Caspian masih memperhatikan Alexa hingga punggung gadis itu hilang dibalik pintu besar rumah itu. Entah kenapa rahangnya mengeras, tempat ini layaknya jeruji emas untuk Alexa. Dan Caspian benci akan hal itu. Begitu masuk, Alexa langsung disambut dua orang yang tersenyum
“Brengsek!” Caspian melepaskan cekalannya, berjalan mundur untuk memberikan Alexa ruang bernapas. “Dia mau apa?” tanya-nya kemudian. Alexa menggigit bibir bawahnya, suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Aku tak tahu, dia mengirimiku pesan semalam, katanya ingin bertemu.” Caspian terdiam, ia tahu hubungan Alexa dengan ayahnya tidak baik. Sejak Alexa pindah ke rumah ini, tidak sekalipun ia menyebut nama ayahnya dengan nada hangat. Dan ia tahu—lebih dari apapun, bahwa Alexa pernah ditolak mentah-mentah oleh pria itu. Hari ketika Alexa pulang membawa kabar bahwa ia ingin mandiri, pria itu menatapnya seolah ia tidak layak dicintai. Caspian tidak pernah melupakan bagaimana Alexa menceritakannya sambil menahan napas agar suaranya tidak pecah. “Kenapa tiba-tiba?” Caspian bergumam. “Entah, aku takut. Ketakutan yang tak tahu karena alasan apa.” balas Alexa. Ia menatap Caspian, tatapan yang terlihat sangat rapuh. Berpikir sejenak, sebelum akhirnya berkata. “Em, apa kau bisa me-menganta







