LOGINCengkeraman dingin merayap cepat menyusuri tengkuk Jarren, membekukan seluruh pergerakan tubuhnya.Binar lega yang sempat terpancar di mata Jarren luntur total, berganti guncangan emosi yang membuat helaan napasnya terasa berat.“Aku nggak tahu kalau Mama balik hari ini, Mpus,” bisik Jarren dengan suara parau. “Aku juga sama sekali nggak ketemu Mama sewaktu masuk rumah tadi.”Puspa mengusap sisa bulir bening di pipinya menggunakan punggung tangan yang gemetar. Sorot matanya meredup, menyembunyikan rasa lelah yang kian menggerogoti jiwa.“Maafkan aku, Mpus. Harusnya aku simpan berkas kontrak itu di tempat yang jauh lebih aman,” sesal Jarren seraya meraih jemari Puspa, mendekapnya penuh rasa bersalah. “Biar besok aku yang bicara sama Mama. Kamu nggak perlu merasa tertekan atau memikirkan ini lagi.”Bibir Puspa mengulas senyum miring, seolah seluruh janji manis suaminya hanyalah angin lalu yang tak berbekas.“Kamu mau bicara apa sama Mama, Mas?” tanya Puspa pelan.“Menjelaskan semuanya,
Sentuhan dingin gagang pintu kamar terasa begitu menyengat saat jemari Jarren mencoba memutarnya. Lampu koridor yang redup menyinari wajah tegapnya yang letih, sementara lengan kirinya mendekap erat seikat besar mawar putih yang merekah indah. Kenop itu terkunci rapat dari dalam. Jarren menghela napas panjang. Rasa bersalah berdesir halus di dadanya. Dengan kehati-hatian ekstra agar tidak membuat seisi rumah terjaga, buku jarinya memukul pelan permukaan kayu tebal di hadapannya. “Mpus? Ini aku ... tolong bukain pintunya,” panggil Jarren lirih, menempelkan telinganya pada daun pintu. Hening. Tak ada pergerakan sedikit pun dari dalam. Jarren menduga istrinya telah tertidur pulas akibat kelelahan seharian. “Puspa?” Jarren kembali mengetuk pintu itu dengan sabar. Satu detik, dua detik. Suara mekanis kunci yang diputar dari dalam mendadak memecah sunyi.
Darah dalam tubuh Puspa seakan mendidih seketika, mengalirkan hawa panas yang membakar ulu hati hingga ke pangkal tenggorokan. Rahang Puspa mengatup rapat, menggemeletukkan gigi demi menahan deretan kata makian agar tidak lolos melukai kehormatannya sendiri. Getar khawatir yang tadinya melumpuhkan persendian Puspa, kini telah bermetamorfosis menjadi gemetar amarah yang meluap-luap. Puspa sedikit memajukan tubuhnya. “Apa pun yang terjadi di antara aku dan Mas Jarren, anak-anak akan tetap bersamaku!” Puspa membalas tatapan intimidatif Saras dengan sorot mata yang menyala berani. Saras tidak tersentak sedikit pun. Wanita paruh baya itu justru mengulas senyum tipis yang teramat meremehkan. “Oke. Asal kamu setuju kita pergi menemui pengacara perceraian besok,” tukas Saras. Puspa membisu di tempatnya. Dia tidak langsung melontarkan jawaban, tetapi sepasang matanya yang mulai digenangi air bening terkunci rapat pada paras angkuh milik ibu mertuanya. “Gimana, Puspa?” Saras sed
Denting halus cangkir porselen yang beradu dengan meja kaca menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan mencekam di ruang tamu. Udara di sekeliling Puspa mendadak membeku, menyisakan rasa dingin yang merayap cepat dari telapak kakinya hingga menyengat ulu hati. “Apa ... maksud Mama?” tanya Puspa, berusaha keras menyembunyikan getaran hebat yang melumpuhkan jemarinya. Ulasan senyum sinis terukir sempurna di bibir bergincu merah milik Saras. Tatapan matanya yang tajam mengunci Puspa tanpa ampun. “Pada akhirnya, kamu dan Jarren akan tetap bercerai,” jawab Saras tenang, menekankan setiap suku kata dengan kejam. “Sesuai dengan perjanjian yang tertulis di dalam kontrak pernikahan kalian.” Dengan gerakan yang anggun sekaligus sarat intimidasi, Saras mengulurkan sebuah map tebal ke atas meja kaca, tepat di hadapan Puspa. Pandangan Puspa jatuh pada lembaran kertas bermaterai itu. Jantungnya seras
Puspa mematung di tempatnya, menahan napas yang mendadak terasa memburu dan berat. Lidahnya mendadak kelu, seolah seluruh kosakata yang dikuasainya menguap tanpa sisa. “Ya kalau Mbok menyampaikan ke Den Jarren kalau Non mau dijemput,” sambung Mbok dengan nada polos, “Mbok yakin banget sih, Den Jarren pasti bakal bela-belain luangin waktu buat pulang sore nanti.” Puspa memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya sebelum akhirnya mengulas senyum palsu. “Nggak usah, Mbok. Nggak perlu disampaikan,” tolak Puspa. “Aku ... lupa kalau Mas Jarren memang ada jadwal dinas ke luar kota hari ini.” Kebohongan itu meluncur mulus dari bibirnya, menutupi kenyataan pahit bahwa Puspa sama sekali tidak tahu-menahu mengenai keberangkatan suaminya. Jarren pergi tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, meninggalkan celah dingin di antara mereka. Sepanjang hari di sekolah, waktu terasa berjalan begitu lam
Telapak tangan Puspa bertumpu erat pada garis pegangan tangga, menahan bobot tubuhnya yang kini terasa jauh lebih berat. “Hati-hati, Non!” seru Mbok panik dari arah bawah, setengah berlari menghampiri Puspa dengan raut wajah cemas. Puspa mengulas senyum tipis sewaktu wanita paruh baya itu dengan sigap menyangga sikunya, membimbingnya menuruni sisa anak tangga dengan ekstra hati-hati. “Makasih banyak ya, Mbok,” ucap Puspa tulus. Mbok terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. “Nggak perlu makasih, Non. Den Jarren itu sudah nitipin Non Puspa ke Mbok, ya Mbok harus jaga baik-baik. Kalau Non kenapa-kenapa, Mbok yang habis dimarahi.” Senyum Puspa spontan membeku. Sudut bibirnya mendadak kaku, memancarkan kecanggungan saat deretan huruf nama suaminya disebut. Namun Puspa buru-buru menguasai diri, menyembunyikan kegetiran yang mendadak menyeruak. “Mas Jarren sudah berangkat, Mbok?” ta







