Home / Romansa / Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku / 180. Tinggal Masing-Masing

Share

180. Tinggal Masing-Masing

Author: prasidafai
last update Petsa ng paglalathala: 2026-11-03 15:01:25

Garis-garis halus di sudut mata Jarren melengkung sempurna kala pupil matanya membesar.

“Aku suka banget lagi, Mpus,” puji Jarren antusias, suara baritonnya bergetar pelan.

Puspa tanpa sadar terkekeh renyah, merasakan kehangatan yang meletup-letup di dalam dadanya.

“Artinya juga bagus banget, Mpus,” sambung Jarren lagi seraya mengusap layar ponselnya, membaca baris demi baris makna kata yang baru saja mereka rangkai. “Biantara Bintang Dewanora, pe
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   180. Tinggal Masing-Masing

    Garis-garis halus di sudut mata Jarren melengkung sempurna kala pupil matanya membesar. “Aku suka banget lagi, Mpus,” puji Jarren antusias, suara baritonnya bergetar pelan. Puspa tanpa sadar terkekeh renyah, merasakan kehangatan yang meletup-letup di dalam dadanya. “Artinya juga bagus banget, Mpus,” sambung Jarren lagi seraya mengusap layar ponselnya, membaca baris demi baris makna kata yang baru saja mereka rangkai. “Biantara Bintang Dewanora, penguasa udara yang berjiwa bebas, menjadi penunjuk arah sekaligus cahaya malam yang indah. Nama yang sangat cocok untuk seorang kakak.” Puspa mengangguk setuju, matanya berbinar terang. Momen indah itu berlanjut dengan diskusi hangat yang mengalir tanpa sekat. Dengan ketelitian dan penuh kasih sayang, jemari mereka bergantian memilah lembaran makna, merangkai setiap huruf untuk ketiga jagoan lainnya. Hingga akhirnya, disepakatilah deretan nama indah un

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   179. Cucu-Cucu Mama

    Belum sempat bibir Puspa merangkai jawapan atas permohonan tulus itu, daun pintu kamar VIP mendadak terdorong dari luar. Saras melangkah masuk dengan binar mata berseri-seri, tangannya melambai pelan seraya memegangi dada dengan raut wajah penuh kegembiraan. “Puspa, Jarren, bayi-bayinya mau datang!” seru Saras penuh antusias, tak sanggup menyembunyikan getaran bahagia di suaranya. “Ya Allah, mereka semua tampan-tampan sekali!” Jarren spontan berdiri tegak, merapikan letak kemejanya seraya mengambil beberapa langkah mendekati pintu. Senyum tipis yang sarat keharuan perlahan mengembang di bibir Puspa kala dua perawat berseragam merah muda melangkah masuk. Masing-masing mendorong satu keranjang bayi berisi dua sosok mungil berdampingan. “Selamat siang, Ibu Puspa, Bapak Jarren,” sapa salah seorang perawat dengan ramah. Atmosfer kamar inap yang tadinya riuh oleh emosi mendadak diliputi kehangatan ya

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   178. Akibat Sebuah Kebodohan

    “Tidur saja nggak apa-apa, Ibu. Prosedur bedahnya sudah hampir selesai.” Dokter anestesi yang berdiri menatap monitor irama jantung di sisi ranjang tersenyum menenangkan. Bagaikan mendapat izin, seluruh pertahanan kesadaran Puspa meloloskan kendalinya. Kegelapan yang amat hangat dan damai seketika menyapu habis sisa rasa lelah wanita itu. Suara pendar pendingin udara yang mengalun lembut menjadi hal pertama yang menyapa indra pendengaran Puspa kala matanya perlahan terbuka. Langit-langit ruangan bernuansa krem yang luas dan lampu temaram menyadarkannya bahwa Puspa telah dipindahkan ke kamar perawatan kelas VIP. Sensasi hangat di punggung tangannya seketika menguat. Jarren yang duduk di kursi samping ranjang spontan menegakkan tubuh tegapnya. “Puspa? Kamu dengar aku, Sayang?” bisik Jarren lembut, menatap dalam ke iris mata istrinya. Puspa mengangguk sangat pelan, lalu mengedipkan kelopak matany

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   177. Untuk Jarren

    “A-apa, Mas?” bisik Puspa parau, tidak yakin dengan pendengarannya sendiri. Jarren tidak menarik kembali ucapannya. Pria itu justru mendaratkan keningnya di pelipis Puspa seraya merengkuh jemari istrinya yang membeku. “Aku cinta kamu, Mpus,” ulang Jarren tanpa ragu sedikit pun sambil menekankan setiap kata. “Sangat cinta.” Puspa hendak membuka bibirnya, menuntut penjelasan atas pengakuan yang hadir di detik-detik pertaruhan nyawa ini. Namun suara dokter spesialis dari balik tirai steril di batas dadanya memotong percakapan itu. “Ibu Puspa, berasa saya colek nggak?” tanya dokter santai. Puspa mengedipkan matanya, menyesuaikan fokus. “Enggak ... enggak berasa apa-apa, Dokter.” “Oke, Ibu, dibawa santai ya,” timpal sang dokter menenangkan. “Sekarang operasi sesar sudah sangat canggih. Nanti begitu dedek bayinya keluar semua dan Ibu pindah ke kamar rawat inap, Ibu sudah bisa jalan lag

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   176. Ke Mana Jarren?

    Setetes keringat dingin meluncur melintasi pelipis Puspa, menyatu dengan ringisan pelan tatkala gelombang cinta dari sang buah hati kembali menghantam ulu hatinya.“Mas Jarren ke mana, Ma?” bisik Puspa di sela-sela usahanya mengatur napas, menatap Saras dengan binar mata yang sarat akan kecemasan.Saras menoleh, raut wajahnya memancarkan tingkat frustrasi yang tak kalah pekat. Jemarinya masih menempelkan ponsel di telinga sebelum akhirnya menurunkan benda pipih itu dengan helaan napas berat.“Harusnya dia di kantor, Sayang,” jawab Saras jujur, menyembunyikan getaran panik di suaranya. “Tapi Jarren, bahkan Dimas pun sama-sama sulit dihubungi dari tadi.”Puspa menggigit bagian dalam bibirnya erat-erat, memejamkan mata tatkala kekecewaan halus mulai merayap di celah-celah rasa sakitnya.Melihat kondisi menantunya yang semakin kepayahan, Saras membalikkan badan, menatap lurus ke dalam iris mata sang dokter. “Biar saya

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   175. Dua Minggu Lagi

    Puspa terdiam. Tangan kirinya bergerak pelan mengusap sisi bibir dengan lembaran tisu, menahan gejolak emosi yang mendadak menyeruak di ulu hati. Saras menarik napas pendek yang terdengar amat berat. Manik matanya merebakkan pendar penyesalan. “Ucapan Mama waktu itu terlampau kejam, Puspa. Jarren benar, seharusnya Mama jadi orang yang paling mengerti kondisimu dibanding siapa pun di rumah itu. Kita ini sama-sama perempuan, sama-sama seorang ibu. Nggak akan ada satu pun ibu di dunia ini yang rela dipisahkan dari anak-anaknya.” Hati Puspa bergetar hebat. Dia menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan sudut matanya yang mendadak basah oleh lelehan bening. “Mama benar-benar minta maaf ya, Sayang.” Saras mempererat usapan tangannya di punggung jemari Puspa. Sebuah senyum penuh haru perlahan terukir di belah bibir Puspa. Dia mendongak, menatap paras paruh baya yang kini tak lagi memancarkan keangkuhan.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status