LOGINJarren tertawa lembut sekali lagi, gelak renyahnya mengalun hangat, meleburkan sisa-sisa hawa dingin yang sempat menyelimuti kabin SUV mereka.
“Pertama,” buka Jarren, melirik istrinya sekilas seraya kembali memfokuskan pandangan pada jalanan, “Maudy Adelia yang dimaksud oleh Mbak Sari memang Maudy yang kita kenal. Tapi kemungkinan besar dia bukan korban pemerkosaan.” Puspa mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Kelopak matanya berkedip lambat, tak menyangka deng“Bukan urusanmu, Puspa,” ketus Maudy tajam. Puspa mendengkus pelan. Dia tidak membalas cercaan itu, tetapi sepasang matanya tidak sedikit pun teralih dari figur Maudy yang tampak mengiris hati sekaligus ganjil. “Kami datang bukan untuk menangkap atau menyudutkan Anda, Bu Maudy,” tutur petugas lembaga perlindungan anak yang duduk di sebelah Jarren, memajukan tubuhnya tenang. “Kehadiran kami di sini murni demi memverifikasi kondisi Sena, sekaligus mengklarifikasi beberapa informasi mengenai latar belakang pengasuhan anak tersebut.” “Verifikasi apa lagi?” Maudy bersedekap dada, menyandarkan punggungnya pada sofa kusam dengan raut tajam. “Perihal kehamilan Anda bertahun-tahun yang lalu.” Petugas itu merapikan lembaran berkas di pangkuannya sebelum menatap Maudy lurus-lurus. Seketika, Maudy membisu. Bibirnya yang pucat mengatup rapat, sementara raut mukanya berubah pucat. Puspa mengamati setiap sent
Jarren tertawa lembut sekali lagi, gelak renyahnya mengalun hangat, meleburkan sisa-sisa hawa dingin yang sempat menyelimuti kabin SUV mereka. “Pertama,” buka Jarren, melirik istrinya sekilas seraya kembali memfokuskan pandangan pada jalanan, “Maudy Adelia yang dimaksud oleh Mbak Sari memang Maudy yang kita kenal. Tapi kemungkinan besar dia bukan korban pemerkosaan.” Puspa mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Kelopak matanya berkedip lambat, tak menyangka dengan fakta yang baru saja lolos dari bibir suaminya. “Bukan?” tanya Puspa memastikan. “Aku menemui teman dekatnya semasa kuliah,” lanjut Jarren lugas. “Satu-satunya orang yang ternyata tahu kalau saat itu Maudy memang hamil. Maudy sendiri yang cerita ke temannya kalau dia hamil anak Rangga.” Dahi Puspa berkerut dalam, otaknya bekerja keras menyusun benang merah yang kian rumit. “Kamu sudah dapat konfirmasi dari Maudy langsung?” tanya Pus
Genggaman Puspa pada tali tasnya mengencang seketika. Bayangan masa lalu mendadak melesak liar di kepalanya. Bagaimana keras dan ringannya tangan Rangga sewaktu pria itu berani menyentuhnya secara paksa saat Puspa masih bekerja sebagai guru privat Sena. Jarren mencengkeram kemudi semakin erat, hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Matanya menatap lurus jalanan dengan pendar dingin yang sarat ancaman. “Kemungkinan itu selalu ada, Mpus,” tutur Jarren dengan suara berat yang tertahan, “meski hanya nol koma sekian persen sekali pun. Aku juga akan cari tahu soal itu.” Puspa mengangguk pelan, mencoba menetralkan gejolak cemas di dadanya sewaktu mobil meluncur membelah gerbang sekolahnya. Beberapa hari kemudian, jam istirahat siang menyapa. Langkah Puspa yang agak melambat karena perut lima bulannya membawa tubuhnya kembali ke ruang guru. Namun begitu tiba di depan meja
Jarren menatap lekat-lekat manik mata Puspa yang memancarkan keteguhan tanpa cela. Selapis amarah dan kepedihan merayapi sorot mata istrinya, tetapi di sana juga terpancar ketulusan. “Mas …” Puspa mengikis jarak, mengulurkan tangannya untuk meremas lembut jemari tegap Jarren, “apa yang kita tanam hari ini, itu yang akan kita tuai di kemudian hari. Bisa saja sekarang kita menyelamatkan Sena, lalu di kemudian hari orang lain akan mempermudah jalan kita, atau bahkan menolong anak-anak kita saat tangan kita sendiri nggak mampu mencapai mereka.” Sebuah desahan napas panjang lolos dari dada Jarren. Ketegangan di garis rahangnya sedikit mengendur sewaktu dia membalas genggaman hangat Puspa. “Kita lanjut bicara di mobil, Mpus,” bisik Jarren rendah, memberi isyarat halus bahwa pelataran rumah orang lain bukanlah tempat yang tepat untuk berdebat. Puspa sempat membuka mulut, hendak membantah ajakan menunda percakapan itu. Namun menangkap keseriusan di mata suaminya, wanita itu akhirnya meng
Mata Puspa membola sempurna, pasokan udara di paru-parunya seakan mendadak mengencang.Di sisi Puspa, alis Jarren bertaut rapat dengan kelopak mata menyipit tajam.“Panti asuhan?” ulang Puspa, suaranya naik satu oktaf dipenuhi nada ketidakpercayaan yang membuncah.Sari mengangguk pelan, menyapu sudut matanya yang kembali membasah dengan lengan baju.“Tapi untuk apa Sena mau ditaruh di panti asuhan kalau kedua orang tuanya masih hidup, sehat, dan sangat mampu membiayai Sena, Mbak?” Puspa mengernyitkan dahi dalam-dalam, dadanya kempas-kempis menahan pusaran amarah yang mendadak membakar pembuluh darahnya.Puspa sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rangga dan mantan istrinya. Hati nurani Puspa sebagai calon ibu dari bayi kembar berontak hebat.Bagaimana bisa ada orang tua berdarah dingin yang tega membuang darah dagingnya sendiri hanya demi ego pribadi?Sari meremas jemarinya yang gemetar, menjawab dengan raut wajah kian sedih, “Saya juga kurang paham detailnya, Bu. Saya cuma
Sebuah cengkeraman kokoh bertumpu di udara, membekukan tangan pria itu tepat satu jengkal di depan kerah pakaian kerja hamil Puspa.Buku-buku jari milik Jarren mengunci pergelangan tangan berjaket kulit itu. Hawa dingin dari luar ruangan seolah mengkristal di sekitar tubuhnya, memancarkan aura intimidasi yang siap mematahkan lawan detik itu juga.“Tangan kotor Anda nggak layak menyentuh istri saya,” ucap Jarren penuh penekanan.Pria berjaket kulit itu mengaduh pelan, menggeram menatap Jarren dengan mata memerah oleh amarah. “Jadi kamu suaminya?! Berarti kamu papanya anak ini?!”Puspa mengembuskan napas lega yang panjang.Sekilas wanita itu mengukir senyum tipis sarat rasa terima kasih ke arah suaminya.Namun ukiran senyum itu melenyap tanpa sisa tatkala Puspa memutar kepalanya kembali, menghadapi pria di hadapannya.“Bukan, Pak,” tukas Puspa lugas. “Tadi saya juga sudah bilang kalau saya bukan mamanya Sena.”Pria itu menoleh cepat, melayangkan tatapan membunuh pada Puspa meski pergela







