Share

136. Salah Sasaran

Author: prasidafai
last update publish date: 2026-09-30 18:03:57

“Bukan urusanmu, Puspa,” ketus Maudy tajam.

Puspa mendengkus pelan. Dia tidak membalas cercaan itu, tetapi sepasang matanya tidak sedikit pun teralih dari figur Maudy yang tampak mengiris hati sekaligus ganjil.

“Kami datang bukan untuk menangkap atau menyudutkan Anda, Bu Maudy,” tutur petugas lembaga perlindungan anak yang duduk di sebelah Jarren, memajukan tubuhnya tenang. “Kehadiran kami di sini murni demi memverifikasi kondisi Sena, sekaligus mengklarifikasi b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
keluarga mpus nih terlibat
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   170. Biarkan Saja

    Puspa menajamkan indra pendengarannya. Jantungnya berdentum kencang.Puspa menggegam erat ujung gaun hamilnya, menanti jawaban dari pria itu. Dia ingin mendengar apa yang akan keluar dari bibir Jarren sewaktu pria itu merasa tidak ada siapapun yang mengawasi, apakah pengakuan jujur, atau sekadar retorika manis tanpa makna.“Kalau kamu memang mencintainya, kamu seharusnya perjuangkan Puspa,” cecar Dimas lagi, memotong hening dengan nada menuntut yang tak sabaran. “Dia sedang hamil besar. Hormon dan emosinya pasti berantakan akibat beban bertubi-tubi. Bisa jadi perceraian itu bukan hal yang benar-benar Puspa inginkan dari dasar hatinya.”Puspa tanpa sadar meremas jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.Keheningan yang menyiksa kembali merayap di antara kedua pria itu.Jarren bergeming, berdiri tegap bagai patung pualam tanpa menampilkan riak ekspresi apa pun di wajah tegapnya.Pria itu hanya menatap lurus ke arah Dimas dengan i

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   169. Membusuk di Neraka

    Cahaya merah-biru dari rotator mobil kepolisian menerobos masuk membelah kegelapan gang. Langkah-langkah sepatu lars berderap mantap, mengepung petak kos sempit itu.Rusdi, Liza, dan Marsya menyeret kaki mereka saat dikawal ketat oleh beberapa personel polisi berseragam lengkap. Ketiganya berontak hebat di sepanjang lorong, meliukkan tubuh dan mencengkeram engsel pintu demi mengulur waktu.“Anak durhaka! Kamu bakal kualat, Puspa! Kamu bakal kena azab!” jerit Liza dengan suara parau yang melengking, matanya melotot liar menghujat ke arah Puspa.“Kami yang kasih kamu makan! Kamu bakal busuk di neraka, Puspa! Dasar manusia nggak tahu diri!” Marsya meludah ke tanah, raungnya bersanding dengan umpatan kasar Rusdi yang sibuk menyumpah-serapahi Jarren.Suara caci maki itu merayap memecah heningnya malam. Namun Jarren sama sekali tak mengindahkan riuh kehancuran di belakang punggungnya.Pria itu merogoh saku jasnya seraya mengulurkan selembar sap

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   168. Bukannya Tanpa Dosa

    Marsya, dengan wajah pucat dan napas memburu, merangkak sedikit mendekat ke arah Puspa. “Puspa ... kamu nggak bisa giniin Ayah sama Ibu,” tutur Marsya dengan intonasi memohon yang dipaksakan. “Walaupun mereka bukan orang tua kandung kamu, mereka yang membesarkan kamu selama 25 tahun ini, Puspa ….” Liza mengangguk-angguk cepat di tengah isak tangisnya yang membuncah. “Benar, Puspa, kami yang merawat kamu dari bayi. Kami yang kasih kamu makan, minum, dan tempat tinggal. Kami juga yang menyekolahkan kamu sampai dewasa,” Sebuah kekehan sumbang yang teramat dingin lolos dari bibir Puspa. Sorot matanya menghujat lurus ke arah wanita yang dulu dipanggilnya ibu itu. “Makanan sisaan Marsya, kan?” cecar Puspa tajam. “Minuman sisa dari gelas-gelas kalian yang saya kumpulkan jadi satu? Dan kamar dengan atap bocor yang sampai detik ini nggak pernah kalian perbaiki?” Liza dan Rusdi membeku. “S

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   167. Korban Keserakahan

    Isak tangis Liza mendadak terhenti. Jemari keriput wanita paruh baya itu gemetar hebat sewaktu melepas lembaran dokumen berstempel resmi di tangannya, membiarkan kertas itu meluncur jatuh. “Nggak mungkin, Puspa!” jerit Liza histeris, menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan raut pias. “Nggak mungkin! Bukti ini pasti palsu! Kamu dibohongi orang!” Puspa mengulas senyum tipis yang sarat keputusasaan, mengamati kehancuran wanita yang pernah diagungkannya. Dia mengangkat salah satu alisnya tanpa riak emosi. “Ini asli, Bu Liza,” balas Puspa dengan datar. “Kalau Ibu meragukan keabsahan lembaran hukum itu, berarti Ibu sama saja melecehkan dan nggak percaya pada institusi terkait yang mengeluarkannya.” Liza mendadak kehilangan kata-katanya. Tenggorokan wanita paruh baya itu terkunci rapat, lidahnya kelu tak sanggup lagi menyusun pembelaan. Tanpa membuang waktu, Puspa memalingkan pandangannya pada Rusdi. Jemari lentik wanita hamil itu mengambil berkas tebal berikutnya dari dalam map, lalu

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   166. Sanggup

    Pertanyaan dingin dari Puspa mengendap di udara, melapisi dinding-dinding kos yang lembap dengan atmosfer yang menusuk.Liza tersenyum penuh kebingungan, matanya mengerjap canggung tatkala menangkap panggilan asing dari bibir putri yang dibesarkannya.“Puspa, kenapa kamu memanggil kami seperti itu?” tanya Liza seraya terkekeh cemas, mengusap lehernya yang tidak gatal.Marsya melipat tangan di depan dada, mendengkus lantang tanpa menyembunyikan nada menghina dari intonasinya. “Mungkin Puspa malu, Bu, punya keluarga melarat kayak kita! Sekarang dia sudah jadi orang kaya, hidup bergelimang harta, sementara kita makin miskin dan terlunta-lunta!”“Puspa memang seharusnya malu,” timpal Rusdi, mengangkat dagunya angkuh seolah memegang kendali. “Keadaan kita yang mengenaskan begini cuma makin membuktikan ke sekeliling kalau dia anak durhaka yang sama sekali nggak peduli sama keluarganya sendiri!”Jarren yang duduk di samping Puspa bergulir menata

  • Menjadi Istri Musuh Bebuyutanku   165. Segumpal Darah

    Ujung kemeja mahal yang dikenakan Jarren kini basah kuyup oleh lelehan air mata Puspa. Pria itu sengaja tetap membisu, membiarkan keheningan mengalun di antara mereka. Jarren menolak membalas gumaman parau istrinya, bukan lantaran dia kehilangan deretan kata untuk menjawab, melainkan karena pria itu paham betul Puspa tidak benar-benar membutuhkan sanggahan saat ini. Jemari Jarren mengusap punggung Puspa dengan kelembutan yang dalam. Pria itu menyalurkan rasa hangat nan protektif, menjadi sandaran tunggal tatkala seluruh fondasi kehidupan istrinya lebur tak bersisa. Beberapa puluh menit berlalu dalam ketegangan yang merayap. Di dalam sebuah gang sempit yang pengap di sudut kota, deretan langkah sepatu kulit Jarren dan Puspa bergema pelan. Di sebuah kamar kos berukuran empat kali empat meter tanpa sekat, Puspa dan Jarren akhirnya dihadapkan langsung dengan Rusdi, Liza, dan Marsya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status