MasukRombongan Ling memasuki jalur pegunungan menuju ibu kota. Tidak ada nyanyian kemanangan, karena selama ini kerajaan Ling tidak pernah bisa menang melawan kekaisaran Yuwen. Tidak ada juga teriakan prajurit, hanya derap kaki kuda yang berat dan suara roda kereta medis yang berdecit pelan.Pasukan yang berangkat dengan kebanggaan kini pulang membawa kekalahan.Ling Xuanye tetap berada paling depan. Jubah hitamnya robek di beberapa bagian, darah dari pahanya masih merembes membasahi pelana. Namun ia seolah tidak merasakan sakit sedikit pun. Kedua tangannya masih memegang kepala Ling Ziye yang dibungkus kain hitam.Tidak seorang pun berani meminta benda itu diserahkan.Malam semakin dingin. Kabut turun di sela pepohonan. Obor-obor di barisan belakang bergoyang seperti arwah yang tersesat.Seorang jenderal tua akhirnya memberanikan diri mendekat. Wajahnya penuh debu dan luka.“Yang Mulia,” katanya hati-hati. “Luka Anda harus segera dirawat.”Ling Xuanye tidak menoleh. Tatapannya lurus ke ja
Ling Xuanye melihat sesuatu di mata Zhao Fenglin. Bukan kebencian, bukan kemarahan, melainkan niat dingin untuk mengakhirinya di tempat itu juga.Benturan memisahkan mereka kembali. Kedua kuda berputar berlawanan arah, lalu menyerang lagi secara bersamaan. Debu beterbangan mengikuti jejak tapak yang kacau.Ling Xuanye kali ini lebih cepat. Pedangnya menusuk rendah ke perut, lalu berubah arah ke dada di tengah jalan. Serangan licin itu nyaris tak terbaca.Zhao Fenglin menepis bagian pertama, namun ujung bilah hitam tetap menyayat bahunya. Darah memercik tipis ke udara. Beberapa prajurit Ling bersorak melihatnya.Namun sorak itu mati seketika.Zhao Fenglin justru melangkah masuk ke jarak dekat, mengabaikan lukanya. Pedangnya menghantam gagang pedang Ling Xuanye dari samping hingga tangan lawan bergetar. Dalam gerakan lanjutan, ia menyapu ke bawah dan merobek paha kanan Ling Xuanye.Kuda hitam itu meringkik keras. Ling Xuanye hampir kehilangan keseimbangan, tetapi masih bertahan di pelan
Benturan pertama pecah seperti petir di tengah dataran. Pedang hitam Ling Xuanye menghantam dari atas, sementara bilah Zhao Fenglin menyapu naik dari bawah. Percikan api berhamburan saat dua tenaga besar bertemu tanpa sisa.Kuda mereka sama-sama terdorong mundur dua langkah. Tanah terbelah di bawah pijakan, meninggalkan jejak kasar di antara debu dan darah. Namun tidak satu pun dari keduanya goyah di pelana.Ling Xuanye memutar pedangnya sekali. Tatapannya dingin, tetapi jauh di dasar mata itu ada badai yang belum padam. Kepala Ling Ziye yang tergantung di pelana bergoyang pelan mengikuti gerakan kuda.“Aku akan membuatmu melihat semuanya hilang,” ucapnya datar.Zhao Fenglin tidak menjawab. Kudanya melesat maju lagi sebelum gema suara itu menghilang. Pedangnya menusuk lurus ke dada Ling Xuanye dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat.Ling Xuanye menepis ke samping. Dalam gerakan yang sama, ia membalas tebasan horizontal ke arah leher. Zhao Fenglin menunduk tipis, lalu memutar pergel
Tangan Ling Xuanye turun perlahan setelah kalimat itu berakhir. Tidak ada teriakan balasan, tidak ada emosi yang meledak di wajahnya. Justru ketenangan itu membuat seluruh medan perang terasa lebih mencekam.Lalu pedang hitamnya menunjuk lurus ke depan. Ujung bilah itu berhenti tepat ke arah Zhao Fenglin. Dalam detik berikutnya, suara tanduk perang meraung serempak dari tiga sisi.“Bunuh mereka,” ucap Ling Xuanye datar. “Jangan sisakan satu pun.”Gelombang pasukan Ling bergerak seperti banjir bandang. Dari kanan, kiri, dan belakang, ribuan langkah menghantam tanah bersamaan. Debu naik menutup langit, sementara teriakan perang mengguncang udara.Wei Chen langsung menarik kudanya ke sisi Zhao Fenglin. Tatapannya menyapu celah yang makin sempit di antara kepungan. Wajahnya tetap tenang, namun nada suaranya tajam.“Mereka ingin menelan kita sekaligus,” katanya cepat. “Kita harus pecahkan satu sisi sekarang.”Gu Liang mengangkat tombaknya tinggi. Pasukan Yuwen segera merapat membentuk dind
Teriakan itu mengguncang seluruh dataran. Burung-burung liar beterbangan dari lereng bukit, seolah ikut ketakutan oleh amarah yang menguat dari Ling Xuanye. Bahkan sorak kemenangan pasukan Yuwen terhenti dalam satu tarikan napas.Di puncak bukit, Ling Xuanye berdiri membeku. Tatapannya tertancap pada tubuh tanpa kepala yang tergeletak di antara debu dan darah. Untuk sesaat, wajahnya tidak menunjukkan apa-apa selain kehampaan.Adiknya telah mati.Ia tidak bergerak. Angin menarik ujung jubah hitamnya ke belakang, namun tubuhnya tetap kaku seperti batu. Ingatan masa kecil, latihan pedang pertama, dan janji pada ayah mereka melintas cepat dalam benaknya.Lalu semuanya hancur menjadi satu rasa sakit yang tidak tertahankan.Tangannya mengepal sampai buku jarinya memutih. Rahangnya menegang keras, dan napasnya keluar berat. Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, kendali yang selalu ia banggakan retak.“Aku ... terlambat,” gumamnya rendah. “Aku gagal!”Ada penyesalan di nada itu. Jika ia
Kalimat itu jatuh seperti hantaman palu di tengah medan perang. Wajah Ling Ziye berubah jelas. Senyum tipis yang selama ini menempel di bibirnya lenyap tanpa sisa.Tatapannya mengeras seketika. Urat di pelipisnya menegang saat tangan yang memegang pedang mencengkeram lebih kuat. Nama ayahnya adalah luka yang tidak pernah boleh disentuh. Ia masih mengingat bagaimana jelas, Zhao Fenglin memenggal kepala ayahnya beberapa bulan yang lalu. “Tutup mulutmu!” bentaknya tajam. Suaranya pecah oleh amarah yang tak lagi bisa disembunyikan. Kudanya langsung menerjang ke depan tanpa menunggu.Pedangnya turun brutal, kehilangan ketenangan yang tadi ia jaga. Tebasan pertama menghantam keras ke arah kepala Zhao Fenglin. Serangan kedua menyusul liar ke dada.Zhao Fenglin menahan keduanya dengan tenang. Benturan logam memercikkan api kecil di antara mereka. Wajahnya tetap datar, seolah semua ini memang yang ia tunggu.Ling Ziye terus menekan tanpa pola. Setiap serangan dipenuhi tenaga, namun celah mula
Yuwen Shuang menoleh, ia sedikit melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri satu meter di depannya. “J-jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang sedikit gugup. Ia menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan. “Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?” Zhao Fenglin kembali membuka suara. Ia me
Bibi Sun tidak langsung menjawab pertanyaan itu.Pelayan tua itu menundukkan kepalanya sejenak, seolah sedang mengingat kembali semua percakapan yang ia dengar dari para kasim dan pelayan di luar.“Sejauh yang hamba dengar … belum ada kabar seperti itu, Niangniang.”Li Mei menatapnya tanpa berkedip
“Lepaskan! Jangan bersikap kurang ajar padaku!”Yuwen Shuang memberontak saat pria itu menyeretnya menuju sebuah kereta. Tangannya yang bebas berusaha memukul, mencakar, apa saja yang bisa ia lakukan agar terlepas dari cengkeraman itu. Namun genggaman Ling Ziye seperti besi tak bergeser sedikit pun
“Fenglin, kau harus sadar sikapmu pada istrimu itu salah!” Han Ruoxi kembali membuka suara saat melihat putranya hanya diam saja. Tatapan wanita itu tajam putranya yang tak mengalihkan sedikitpun pandangan darinya. “Ibu tahu kalau kau tidak bisa menerima pernikahan itu. Tapi cara kamu meninggalk







