Mag-log inBenturan pertama pecah seperti petir di tengah dataran. Pedang hitam Ling Xuanye menghantam dari atas, sementara bilah Zhao Fenglin menyapu naik dari bawah. Percikan api berhamburan saat dua tenaga besar bertemu tanpa sisa.Kuda mereka sama-sama terdorong mundur dua langkah. Tanah terbelah di bawah pijakan, meninggalkan jejak kasar di antara debu dan darah. Namun tidak satu pun dari keduanya goyah di pelana.Ling Xuanye memutar pedangnya sekali. Tatapannya dingin, tetapi jauh di dasar mata itu ada badai yang belum padam. Kepala Ling Ziye yang tergantung di pelana bergoyang pelan mengikuti gerakan kuda.“Aku akan membuatmu melihat semuanya hilang,” ucapnya datar.Zhao Fenglin tidak menjawab. Kudanya melesat maju lagi sebelum gema suara itu menghilang. Pedangnya menusuk lurus ke dada Ling Xuanye dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat.Ling Xuanye menepis ke samping. Dalam gerakan yang sama, ia membalas tebasan horizontal ke arah leher. Zhao Fenglin menunduk tipis, lalu memutar pergel
Tangan Ling Xuanye turun perlahan setelah kalimat itu berakhir. Tidak ada teriakan balasan, tidak ada emosi yang meledak di wajahnya. Justru ketenangan itu membuat seluruh medan perang terasa lebih mencekam.Lalu pedang hitamnya menunjuk lurus ke depan. Ujung bilah itu berhenti tepat ke arah Zhao Fenglin. Dalam detik berikutnya, suara tanduk perang meraung serempak dari tiga sisi.“Bunuh mereka,” ucap Ling Xuanye datar. “Jangan sisakan satu pun.”Gelombang pasukan Ling bergerak seperti banjir bandang. Dari kanan, kiri, dan belakang, ribuan langkah menghantam tanah bersamaan. Debu naik menutup langit, sementara teriakan perang mengguncang udara.Wei Chen langsung menarik kudanya ke sisi Zhao Fenglin. Tatapannya menyapu celah yang makin sempit di antara kepungan. Wajahnya tetap tenang, namun nada suaranya tajam.“Mereka ingin menelan kita sekaligus,” katanya cepat. “Kita harus pecahkan satu sisi sekarang.”Gu Liang mengangkat tombaknya tinggi. Pasukan Yuwen segera merapat membentuk dind
Teriakan itu mengguncang seluruh dataran. Burung-burung liar beterbangan dari lereng bukit, seolah ikut ketakutan oleh amarah yang menguat dari Ling Xuanye. Bahkan sorak kemenangan pasukan Yuwen terhenti dalam satu tarikan napas.Di puncak bukit, Ling Xuanye berdiri membeku. Tatapannya tertancap pada tubuh tanpa kepala yang tergeletak di antara debu dan darah. Untuk sesaat, wajahnya tidak menunjukkan apa-apa selain kehampaan.Adiknya telah mati.Ia tidak bergerak. Angin menarik ujung jubah hitamnya ke belakang, namun tubuhnya tetap kaku seperti batu. Ingatan masa kecil, latihan pedang pertama, dan janji pada ayah mereka melintas cepat dalam benaknya.Lalu semuanya hancur menjadi satu rasa sakit yang tidak tertahankan.Tangannya mengepal sampai buku jarinya memutih. Rahangnya menegang keras, dan napasnya keluar berat. Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, kendali yang selalu ia banggakan retak.“Aku ... terlambat,” gumamnya rendah. “Aku gagal!”Ada penyesalan di nada itu. Jika ia
Kalimat itu jatuh seperti hantaman palu di tengah medan perang. Wajah Ling Ziye berubah jelas. Senyum tipis yang selama ini menempel di bibirnya lenyap tanpa sisa.Tatapannya mengeras seketika. Urat di pelipisnya menegang saat tangan yang memegang pedang mencengkeram lebih kuat. Nama ayahnya adalah luka yang tidak pernah boleh disentuh. Ia masih mengingat bagaimana jelas, Zhao Fenglin memenggal kepala ayahnya beberapa bulan yang lalu. “Tutup mulutmu!” bentaknya tajam. Suaranya pecah oleh amarah yang tak lagi bisa disembunyikan. Kudanya langsung menerjang ke depan tanpa menunggu.Pedangnya turun brutal, kehilangan ketenangan yang tadi ia jaga. Tebasan pertama menghantam keras ke arah kepala Zhao Fenglin. Serangan kedua menyusul liar ke dada.Zhao Fenglin menahan keduanya dengan tenang. Benturan logam memercikkan api kecil di antara mereka. Wajahnya tetap datar, seolah semua ini memang yang ia tunggu.Ling Ziye terus menekan tanpa pola. Setiap serangan dipenuhi tenaga, namun celah mula
Benturan logam masih bergetar saat kalimat itu terlontar. Zhao Fenglin tidak menjawab sedikit pun. Tatapannya tetap dingin, seolah hanya melihat sasaran di depannya.Dalam satu hentakan, ia mendorong pedangnya ke depan. Tenaga itu memaksa Ling Ziye mundur setengah langkah bersama kudanya. Debu kembali menyapu di antara mereka.Ling Ziye memutar bilah pedangnya lalu menyerang balik. Gerakannya ringan, tetapi tajam dan berbahaya. Tebasan pertama mengarah ke bahu, yang kedua langsung turun ke pinggang.Zhao Fenglin menahan keduanya tanpa banyak gerak. Pergelangan tangannya berputar singkat, menepis jalur serangan lalu membalas dengan tusukan lurus ke dada. Ling Ziye memiringkan tubuh tipis dan lolos sejengkal.“Gerskanmu tidak berubah, masih cepat seperti dulu,” ucap Ling Ziye pelan.Zhao Fenglin kembali menyerang tanpa menanggapi. Pedangnya turun bertubi-tubi, memaksa Ling Ziye hanya bertahan. Ritme pertempuran langsung berubah keras.Di sisi lain, Wei Chen melihat tekanan musuh mulai p
Debu menebal saat Zhao Fenglin dan Wei Chen menuruni jalur menuju dataran utama. Angin membawa bau besi dan asap yang semakin kuat dari arah depan. Wei Chen mempercepat kudanya hingga sejajar. Tatapannya tidak lagi menyapu sekitar, melainkan terkunci lurus ke garis depan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan perhitungan yang semakin tajam.“Formasi mereka sudah pecah,” ucapnya rendah. “Gu Liang pasti menahan sisa pasukan di tengah.”Zhao Fenglin tidak menjawab. Namun tangannya mengencang pada kendali, dan kudanya kembali dipacu lebih cepat. Jarak yang tersisa terasa terlalu panjang.Di kejauhan, suara benturan semakin jelas. Dentuman logam dan teriakan bercampur menjadi satu. Asap hitam naik lebih tinggi, menandakan titik pertempuran utama sudah bergeser.Wei Chen menarik napas dalam. “Jika Ling Ziye menekan dari sisi terbuka, mereka akan dipotong dua,” ucapnya cepat. Nada suaranya tetap rendah, tetapi lebih tegang.Zhao Fenglin akhirnya berbicara. “Maka kita potong dia
Bibi Sun tidak langsung menjawab pertanyaan itu.Pelayan tua itu menundukkan kepalanya sejenak, seolah sedang mengingat kembali semua percakapan yang ia dengar dari para kasim dan pelayan di luar.“Sejauh yang hamba dengar … belum ada kabar seperti itu, Niangniang.”Li Mei menatapnya tanpa berkedip
“Lepaskan! Jangan bersikap kurang ajar padaku!”Yuwen Shuang memberontak saat pria itu menyeretnya menuju sebuah kereta. Tangannya yang bebas berusaha memukul, mencakar, apa saja yang bisa ia lakukan agar terlepas dari cengkeraman itu. Namun genggaman Ling Ziye seperti besi tak bergeser sedikit pun
“Kita akan menghancurkannya,” potong Zhao Fenglin tenang.Ia berbalik hendak kembali ke dalam tenda, lalu berhenti sejenak.“Pastikan dia tidak kekurangan apa pun di perjalanan,” katanya datar. “Dia membawa nama kediaman Zhao.”Kalimat itu terdengar seperti perintah biasa.Namun tiga orang yang ber
Yuwen Shuang menoleh, ia sedikit melebarkan matanya saat melihat sosok pria yang berdiri satu meter di depannya. “J-jenderal Zhao,” ucap Yuwen Shuang sedikit gugup. Ia menundukkan sedikit kepalanya dengan sopan. “Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur?” Zhao Fenglin kembali membuka suara. Ia me







