LOGINKarra lagi-lagi terbangun di ruangan berbau disinfektan yang begitu khas. Di mana lagi kalau bukan di kamar rawat rumah sakit. Kepalanya berdenyut, dan saat membuka mata, tatapan mata Max langsung menyapanya.
"Sudah bangun? Sakit?" tanya pria itu. Ada sedikit kekhawatiran di mata Max dan... Karra tidak bisa menahan rasa hangat yang menjalar begitu saja. Gadis itu mendesis, lalu mencoba duduk. "Tidur saja, kamu kehilangan banyak d4rah," tutur pria itu seraya menahan si gadis agar tidak bangun. Lalu hening. Karra mengingat kejadian terakhir sebelum kesadarannya menghilang. Ibu mertua Max melemparinya dengan gelas kaca. Menyedihkan. "Jadi, bagaimana episode pertama sandiwara kita? Apa sudah bagus?" tanya Karra dengan suaranya yang lemah. Max tidak menjawab. Pandangannya lurus menatap ke arah perban di dahi si gadis. Ada perasaan menusuk di hatinya melihat gadis bodoh itu terluka tapi... Max sangat ingin mengingkari. "Kenapa Mas diam saja? Aku... sudah berhasil jadi perempuan jalang atau belum?" Suara gadis itu terdengar bergetar. Bukannya menjawab, Max malah berdiri. "Saya harus pergi!" pamit pria itu. Suara pintu yang kembali menutup seolah sedang menertawakan nasib Karra yang malang. Gadis itu menangis. Ia tidak suka dengan gelarnya yang baru. Perempuan perebut suami orang. * Max naik ke ruangan ICU. Ghania--istri sahnya masih terbaring koma di sana tapi dokter mengatakan bahwa kondisi wanita itu sudah semakin baik. "Pak Max?" Max tahu pasti, itu suara dokter Martin alias dokter yang merawat Ghania selama ini. Max menerima jabat tangan dokter paruh baya itu tanpa senyuman. "Pak, saya sekali lagi ingin menegaskan sesuatu. Ini... tentang calon bayi kalian. Pengobatan Nyonya pasti akan mengganggu pertumbuhannya. Anak itu... bisa saja terlahir cacat, Pak!" jelas sang dokter dengan wajah memohon. "Bagaimana pun, itu calon bayi saya!" ucap Max datar. Calon bayinya? Omong kosong. Itu hanyalah hadiah dari Tuhan atas perselingkuhan istrinya dengan Harris Marza--si brengsek yang entah di mana keberadaannya. Pria itu menghilang tanpa kabar, tidak datang ke kantor setelah hampir tiga minggu berlalu semenjak kecelakaan itu. Dan Max tidak peduli anak itu akan terlahir tanpa kepala sekali pun. "Tapi, Pak..." Dokter Martin memohon. "Kalian bisa... mencoba lagi setelah kesehatan Nyonya membaik." "Anda lihat sendiri, setelah tiga tahun menikah baru kali ini saya mendengar kabar baik. Saya ayahnya. Saya mengharapkan kehadirannya. Saya akan menerima dia apa adanya. Saya tidak kekurangan uang, Dokter. Saya akan kejar pengobatan apa pun yang dia butuhkan setelah dia lahir. Apa yang Anda khawatirkan?" ketus Max. Dokter Martin menunduk, lalu mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu. Tapi... dokter kandungannya ingin bicara dengan Anda dari hati ke hati," tambah dokter Martin. "Tidak perlu. Lanjutkan kehamilannya!" tegas Max. Dokter itu mengangguk pasrah, dan membiarkan Max memandangi istrinya dari balik dinding kaca. "Anda tidak ingin ke dalam, Pak? Kadang... seorang pasien koma bisa merasakan cinta saat dia bersentuhan dengan orang yang dia cintai." Max tersenyum sinis. Ia baru tersadar, dirinya tidak pernah lagi masuk ke dalam ruangan itu dan menyentuh istrinya. Max jijik setengah mati. Terakhir kali memeluk, mungkin saat istrinya baru keluar dari ruangan operasi. Dan setelah tahu perempuan itu mengandung, semua sudah berubah. Semua tak lagi sama. "Saya sedang flu!" Max beralasan. "Oh..." Dokter itu kembali mengangguk. Setelah menepuk bahu Max, ia berlalu pergi. Cukup lama Max menatap Gania dari balik dinding kaca. "Cepatlah sembuh. Lahirkan anak harammu dan lihat, aku juga sudah punya perempuan cantik yang bisa memuaskanku!! Ah... aku mungkin juga bisa membuatnya hamil anakku." Max tersenyum jahat. Tapi di sisi lain, matanya mulai berembun. Marah, sakit, kecewa, semua itu terasa mencekik. "Pak..." Kevin yang sejak tadi berdiri di kejauhan, kini mendekat dan menyentuh bahu sang tuan. "Anda baik-baik saja??" lirih Kevin. Max menyingkirkan lengan sang asisten dan melangkah menjauh. Kevin hanya bisa menatap sedih. Ia tahu betul berapa besar cinta Max pada Ghania. Pria itu... pasti sangat-sangat terluka. * Bosan di dalam kamar, Karra melangkah keluar sambil mendorong tiang infus. Gadis itu berdiri di lorong berdinding kaca tebal. Pemandangan di bawah sana bahkan lebih menarik dari pada kisah hidupnya. "Karra?!" Gadis itu menoleh dan... matanya sedikit berbinar saat menemukan Throy Ren--kakak tingkatnya di fakultas kedokteran. "Ya Tuhan, ke mana saja kamu?!" Pemuda 22tahun itu langsung meremas dua bahu Karra. Sorot matanya seperti seseorang yang baru saja menemukan barang berharga miliknya yang hilang. "Kabar terakhir, kamu terlibat kecelakaan besar. Benar begitu? Ya Tuhan sudah berminggu-minggu, kamu rupanya masih dirawat? Di sini??" cecar Throy. Karra mengulum bibir. Mereka tidak sedekat ini sebelumnya. Selama ini, Karra hanya bisa melihat Throy sang idola kampus dari kejauhan. Memendam kagum, dan tidak berani menyapa. Siapa sangka pemuda itu kini ada di hadapannya, memegangi bahunya dengan tatapan khawatir. "Eum... maaf," desis Throy seraya melepaskan tangannya perlahan. Pemuda itu sadar, sikapnya agak berlebihan. Ia menggaruk kepalanya sekilas walau sama sekali tidak gatal. "Gak apa-apa," balas Karra. Pandangan mereka bertemu dan... keduanya sempat sama-sama tersipu. "Jadi, ada apa?" tanya Throy lembut. Sedangkan Karra tentu saja tidak bisa bicara banyak. Ia tidak mungkin menceritakan bahwa dirinya sedang terpaksa berperan menjadi perempuan jalang di hadapan Maxime Draven. "Aku... baik-baik saja!" cicit gadis itu. Keduanya membisu sejenak. Berdiri bersisian menatap pemandangan di balik dinding kaca. "Nomor kamu?!" Throy menyodorkan ponselnya, meminta Karra membubuhkan kontaknya di sana. Ada sedikit perang batin dalam kepala gadis itu tapi pada akhirnya Karra tetap menuliskan sederet angka. Throy pun segera mengirim pesan. "Jangan lupa disimpan!" ucap pemuda itu seraya tersenyum kikuk. Karra pun mengangguk. "Eum... kamu sudah punya pengacara?" tanya Troy lembut. "Aku tahu, korban kecelakaan itu istrinya Maxime Draven, kan??" Pandangan mereka menyatu lagi. Karra terlihat rapuh dan Throy menatapnya lebih dari sekedar iba. Berurusan dengan keluarga besar seperti keluarga Draven, apa lagi karena sebuah kecelakaan fatal seperti ini, Throy yakin Karra sangat membutuhkan bantuan seorang pengacara. "Belum," lirih si gadis. "Papaku pengacara. Andai kamu butuh bantuan..." "Tidak usah. Terima kasih," jawab gadis itu. Lalu seseorang memanggil Throy dari kejauhan. Pemuda itu harus pergi. "Hubungi aku. Jangan sungkan!!" pamit Throy. Entah lancang atau tidak, ia memeluk Karra sejenak sebelum pergi. "Kalau harus datang ke kantor polisi atau apa pun itu, aku siap temani!!" ucapnya sebagai salam perpisahan. Karra hanya mengangguk, tanpa tahu bahwa ada sepasang mata yang tengah mengawasinya dari kejauhan. Max Draven mengepalkan tangan. Beraninya gadis itu membiarkan pria lain memeluknya. Max memacu langkah, dan... "Aww!!" Karra mengeluh saat pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkeram kuat. Gadis itu terkejut saat sorot matanya bertemu dengan Max. Pria itu seolah hendak menerkamnya. "Aduh, sakit!!" Max tidak peduli. Ia menyeret gadis itu dan membawanya kembali ke kamarnya. Nyaris saja Karra terhempas ke tempat tidur. Gadis itu tidak tahu di mana kesalahannya. Sempat ia ingin menangis, tapi ia bertahan sekuat tenaga. Sedangkan di sisi lain, Max sepertinya tersadar bahwa dirinya sudah keterlaluan. Ia marah pada Ghania. Tidak sepantasnya ia melampiaskan semuanya pada gadis malang ini. Tapi penyesalam Max sudah terlambat. Gadis itu sudah kadung menatapnya benci. "Bagus. Tatap saya seperti itu dan bayar semua kerugian saya!!" Uang selalu bisa membuat Karra kembali jinak padanya. Benar saja, gadis itu membuang muka. "Kita akan segera menikah. Kamu akan segera saya perkenalkan pada dunia sebagai istri saya. Dan apa-apaan barusan? Kamu... memeluk laki-laki lain? Siapa itu? Pacarmu??" cecar Max. Karra lebih suka menjadi bisu dari pada menjawab. Gadis itu naik ke tempat tidur dan bergelung membelakangi calon suaminya. Tangisnya tertahan. Dan Max... lambat laun merasa ikut tersayat di belakangnya. "Karra!!" Suara pria itu terdengar berat. "Saya hancur. Jadi tolong, jangan buat harga diri saya lebih hancur lagi. Kamu mau tau satu hal? Perempuan itu... sedang hamil anak haram dengan selingkuhannya." Karra memejamkan mata. Tidak peduli dengan masalah hidup Max. Andai ada uang sebanyak belasan miliar dan dirinya bisa terlepas dari Max, Karra pasti akan sangat bahagia. "Kamu dengar saya? Saya sedang bicara, tolong dengarkan?!" Karra mendengar pria itu mendekat. Langkah kakinya terasa berat, seberat beban hidup Karra. Lalu gadis itu menegang, saat tangan pria itu tiba-tiba menyentuh pucuk kepalanya. "Saya sebenarnya... tidak sejahat ini," lirih Max. Mata Karra terbuka perlahan dan mengembun. Apa lagi ini? Pria ini seperti punya gangguan kepribadian ganda. "Maaf..." ucap Max. "Tapi mari kita bersikap profesional. Kamu akan saya bayar. Jadi, jangan buat saya lebih menyedihkan lagi. Istri pertama saya hamil dengan selingkuhannya, jadi... sebagai calon istri kedua, kamu tidak boleh dekat dengan laki-laki mana pun sampai urusan kita selesai!! Jaga harga diri saya, Karra! Kamu paham??" Setelah kalimatnya usai, terdengar suara langkah menjauh. Max pergi. Karra memutar tubuhnya dan hanya menemukan kekosongan. 'Baiklah, aku coba mengerti keadaanmu!' lirih gadis itu dalam hati. Sudah terlambat untuk menyesali keadaan. Semua sudah terjadi. Tapi malam harinya, Max kembali datang dalam keadaan mabuk. "Mas!!" Karra menahan dada pria itu yang tiba-tiba mengukungnya intens. "Kamu marah, tapi bukan berarti harus seperti ini!!" Karra menggeleng, tapi pria itu sudah memangkas jarak dan menyatukan bibir mereka berdua. Kali ini, cumbuan Max lebih memaksa dari biasanya. Kepala Karra terasa berputar saat tangan dingin pria itu mulai menyusup di balik piyamanya, membelai perutnya. "Mashh!!" Karra mendesis. Aroma alkohol, dan sisa manis minuman wine mendesak masuk ke dalam mulut gadis itu. "Diamlah..." mohon Max. Tangannya semakin naik dan naik, hingga Karra menggeliat saat pria itu berhasil menangkup dadanya. "Saya suka ini..." desah Max. Perlakuannya sedikit berubah menjadi lembut. Karra awalnya ingin menampar pria itu tapi tubuhnya bereaksi lain. Sentuhan Max membuatnya kacau. "Kamu suka??" ejek pria itu. Max semakin berani meremas di sana, menggoda puncaknya, lalu berpindah ke sisi yang lain. Kalimat pujian terus terlontar dari mulut pria itu, betapa indah tubuh Karra dan Max menyukainya. Gadis itu nyaris saja terbuai hingga... "Karra, saya juga ingin punya anak, denganmu!!" Dan Karra tahu, ini bukan kisah romansa. Max akan terus tenggelam bersama dendamnya pada Ghania. "Kita harus lahirkan anak yang sehat, cantik atau tampan. Atau... kamu mau anak kembar? Saya akan jadi ayah yang baik. Kamu mau mencoba cara alami dengan saya? Saya akan perlakukan kamu dengan lembut. Atau kamu... mau... proses inseminasi?" Karra memejamkan mata. Sedangkan tangan Max masih setia meremas miliknya. Menggoda puncaknya. "Ya, lakukan apa pun yang Anda mau!!" balas Karra nyaris tidak terdengar. Pandangan mereka saling mengunci. Gadis itu rupanya sudah basah oleh air mata. Dan... Max tiba-tiba berhenti. Matanya yang tadi terlihat berapi-api, kini perlahan berubah sendu. "Lupakan!!" -----++-----Karra mengikuti langkah wanita di hadapannya dengan perasaan tak menentu. 'Memangnya... Max ingin aku melakukan apa?' batinnya. Gadis itu semakin tidak mengerti saat mereka sudah menapaki lorong panjang yang sangat sepi, entah langkah ini akan bermuara di mana. "Sebentar lagi kita sampai, Nyonya!" ucap wanita tambun di depan Karra seolah tahu mangsanya mulai merasa gelisah. Dan akhirnya Karra menghentikan langkah. Gadis itu yakin, ini tidak benar. "Nyonya?" "Sebentar!!" Karra mengangkat dagu dan memandangi wanita itu. Ia harus bersikap layaknya seorang nyonya muda. Mengeluarkan ponselnya, lalu Karra membuat panggilan ke kontak Kevin. Max mungkin akan marah jika diganggu jadi tidak ada salahnya Karra memastikan segala sesuatu melalui Kevin--asistennya. "Ya, Nyonya??" "Mas Kevin!! Si pemarah itu... sebenarnya ingin saya melakukan apa?" tanya Karra. Wajah wanita di hadapannya berubah mengeras. Karra belum sempat mendengar Kevin merespon, tapi seseorang sudah menghantam tengkukn
"Jadi, Mas membawaku ke kantor untuk bertemu dengan laki-laki itu? Siapa namanya? Harris?" Karra bersuara setelah Max menutup rapat pintu ruangannya. Hanya ada mereka berdua, sebab Kevin sedang berjaga tepat di balik pintu. "Kurang lebih begitu!" jawab Max datar. "Saya ingin dia sedikit merasa terancam, jadi... mainkan peranmu. Ancam dia!" Karra menatap nanar. "Kenapa, kamu takut? Toh kodisi fisiknya masih seperti itu. Dia bukan lawan yang harus kamu takutkan!!" Max mengatakan itu sambil membuang pandangan ke arah foto pernikahannya yang terpajang di dinding. Foto itu sama persis seperti yang terpajang di rumah. "Baiklah!!" jawab Karra lirih. "Aku akan mengancamnya dengan penampilan seperti ini, dan... siapa tau dia tergoda. Biar aku pastikan sendiri sentuhan siapa yang lebih baik sampai-sampai Nyonya Ghania rela bertelanjang di dalam mobil, dengan dia!!" Mendengar itu, Max menoleh dengan rahang bertaut kuat. "K-kau..." "Kenapa?" Karra tertawa rendah. "Toh aku peremp
Karra tersenyum samar setelah memeriksa kembali surat perjanjian yang baru saja ia buat. Tidak terlalu banyak, hanya beberapa poin penting.Pertama, pernikahan sialan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun, dan Karra sudah menulis bayaran yang ia inginkan. Sepuluh miliar rupiah. Itu bukan jumlah yang akan memberatkan Maxime, Karra yakin itu.Kedua, berhubungan ranjang layaknya suami istri hanya akan dilakukan dalam keadaan suka sama suka. Karra sudah berpikir jauh saat ingin menuliskan ini. Ia tidak mau Max memaksanya secara sepihak. Lalu ke tiga, selama mereka terikat hubungan, Max harus melindungi Karra dari ayah dan ibu tirinya. Keempat, jika hubungan mereka sudah usai, Max tidak punya hak apa pun atas diri Karra begitu juga sebaliknya dan yang terakhir, hubungan ini boleh diakhiri sepihak oleh Max kapan pun ia mau. Lebih cepat lebih baik. Tapi setelah lewat masa satu tahun, kembali ke poin ke empat. Max tidak berhak memaksa.Pintu kamar terbuka, dan Karra langsung menemukan
"Max brengsek!!" Karra mendesis. Aliran darahnya masih begitu laju walau Max sudah menutup pintu kamar mewah itu sejak lima menit lalu. Gadis itu bangkit, lalu meremas kuat seprai penuh kelopak bunga. Ia benci situasi ini. Ia tak berdaya atas dirinya sendiri. Nyatanya saat pria itu menyentuh, Karra justru... menikmatinya. "Aaaaaaaaaakkh!!!" Karra berteriak frustasi. Dirinya adalah gadis paling munafik di seluruh penjuru. Ia bukan hanya membenci Max tapi justru pada dirinya sendiri. "Nona?" Terdengar suara Pak Rudy dari balik pintu. Dan Karra sadar, penampilannya sangat tidak layak disaksikan oleh makhluk mana pun. "S-saya baik-baik saja, Pak!" teriaknya. Gegas ia melangkah menuju lemari, lalu menyambar asal sehelai gaun. Karra membawa pakaian berbahan satin halus itu ke kamar mandi, lalu mengguyur kepalanya dengan air dingin. Lama gadis itu berdiri di bawah pancuran air. Menghukum kemunafikan yang semakin tumbuh di dalam dirinya. 'Sudahlah, Karra. Kamu bukan malaikat. Nik
Karra tahu, pernikahan ini palsu. Tidak akan pernah sah secara hukum atau pun secara agama. Tapi nyatanya, Max tetap mempersiapkan pernikahan yang megah, di sebuah gedung besar dengan banyak sekali tamu undangan. "Silahkan, Nona!" Pak Rudy membukakan pintu mobil. Karra turun, lalu membeku saat melihat sekeliling. Karangan bunga berisi ucapan selamat berjejer hampir di sepanjang jalan menuju pintu lobi. Mereka bergegas masuk. Dan Karra lebih terkejut lagi saat melihat Anggoro Widita--ayah kandungnya. Pria itu memakai setelah jas rapi, berdiri tak jauh dari pintu menuju ballroom. "Papa tidak sangka, kamu... justru menikah dengan laki-laki yang jauh lebih hebat dibandingkan Roger!" ucap Anggoro dengan senyuman bangga. Maxime Draven tentu tidak sebanding dengan Roger Duan, laki-laki tua bangka yang kemarin sempat ingin menjadikan Karra sebagai istri dengan dalih investasi. Tapi lihatlah, senyum Anggoro menjelaskan segalanya. Ia pasti sudah mendapat kucuran dana dari Max dengan it
Dua hari berlalu begitu cepat dan Max tidak pernah menemuinya lagi. Karra hanya sesekali dikunjungi oleh Kevin atau laki-laki paruh baya yang merupakan kepala pelayan di kediaman Max. "Kita pulang sekarang, Nona!" seru Pak Rudy--si asisten paruh baya yang baru saja selesai mengurus semua keperluan administrasi. Karra mengangguk lemah lalu mengikuti langkah pria paruh baya itu. "Nona tidak tanya ke mana perginya Pak Max?" tanya Pak Rudy lembut. Pria itu mengimbangi langkah Karra yang dan sesekali memperhatikan wajahnya yang murung. Karra menggeleng. "Saya tidak peduli," lirihnya. Max adalah seorang pebisnis besar. Dia tidak muncul, pastilah karena urusan pekerjaan. Atau mungkin dia sudah muak dengan sandiwara mereka dan berubah pikiran? Begitulah isi kepala Karra saat ini tapi... "Dia sakit, Nona!" ucap Pak Rudy dengan nada sedih. Mendengar itu, Karra mengedip cepat. "Sakit?" ulang gadis itu. "Ya. Dia sakit. Tapi dia tidak mau dirawat. Kami merawatnya di rumah." Karra tidak ber







