MasukGadis itu menggelengkan kepala, tapi suara desah dari mulutnya, juga tatapan matanya yang sudah berubah sayu, membuat Max tersenyum mengejek.
"Akal sehatmu menolak, tapi tubuhmu mulai menginginkan saya, nona!" Bisikan Max terdengar seperti tamparan. Pandangan mereka saling mengunci dan pada akhirnya, pria itu bangkit dan merapikan pakaian. Karra selamat kali ini dan gadis itu lega setengah mati. Hanya saja, Max kemudian berbalik dan melenggang begitu saja. "P-paman!!" Karra ikut bangkit dan menahan lengan pria itu. Max melepas tangan Karra secara paksa. Pria itu menoleh, memandangi Karra dengan tatapan yang sulit ditebak. "Kamu masih membosankan tapi besok pagi, pakai pakaian yang cantik! Saya tidak punya banyak waktu lagi. Ghania semakin membaik, jadi kita harus segera memulai sandirawa ini!" ucap Max datar. Lalu pria itu meninggalkan Karra, begitu saja. * Dan pagi itu, saat sedang melintas di depan sebuah lemari pajangan, Karra tidak sengaja menemukan pantulan dirinya. Cantik, elegan dan... seksi. Tapi sejenak kemudian, gadis itu membuang napas kasar. Foto pernikahan Max yang terpajang di dinding, seolah menyadarkan Karra bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Perempuan di gambar itu jauh lebih cantik dan Max tampak bahagia di sisinya. "Sudah siap?" Suara Max menyadarkan Karra dari lamunan. Gadis itu mengangguk saat pandangan mereka bertemu. Hanya saja, Karra tidak paham, mengapa Max terus saja berdiri sambil memandanginya? Pria itu juga menekuk salah satu lengan, dan... "Ck!!" Max berdecak kesal, barulah Karra mengerti. Dirinya harus menggandeng pria itu dengan gestur seorang perempuan penggoda, seperti kesepakatan mereka sebelumnya. "Oh, Oke!" Dengan senyuman yang sudah mulai terlihat nakal, Karra melingkarkan lengannya di lengan Max lalu mengiringi langkah pria itu menuju pintu utama. Satu unit Mercedes-Maybach mewah berwarna hitam sudah menanti mereka, dan Kevin--sang asisten berdiri tenang di samping kendaraan itu. Bersiap membukakan pintu untuk mereka berdua. Karra akui, interior mobil ini jauh lebih mewah dari mobil yang kemarin. Joknya pun terasa sangat nyaman. "Ekhm..." Suara Max membuat gadis itu menoleh. "A-ada yang salah, Paman?? Eum... maksud saya... Mas?" "Kenapa tangan saya dilepas?" tanya Max dengan wajah tidak senang. "Ha?? T-tapi kita kan-" "Karra!!" Max menggeram. Dan detik berikutnya, keduanya seolah tersadar. Ini adalah pertama kalinya Max memanggil nama gadis itu dengan benar. "Itu... kita hanya perlu kelihatan sungguhan di depan keluarga Mas, kan? Di sini hanya ada Pak Kevin. Dan... saya malu!" jawab Karra sambil menunduk. Mobil itu mulai melaju, dan Max melengos kesal. "Justru kamu harus terbiasa di depan semua orang, di depan siapa pun! Jangan sampai ada yang menyadari bahwa ini hanya sandiwara. Ingat, ini tentang harga diri saya!" "Lalu bagaimana dengan harga diri saya?" lirih gadis itu, hampir tidak terdengar. Tapi Max seolah tuli. Ia menarik Karra dan menciumnya tanpa rasa malu. Karra hanya bisa memejamkan mata, apa lagi tangan Max mulai nakal membelai punggungnya yang terbuka. 'Balas ciumannya, Karra. Kamu selamat selama kamu terlihat seperti jalang sungguhan!!' Karra mendoktrin dirinya sendiri, memejamkan mata, lalu mulai melingkarkan lengannya di leher Max yang kokoh. Cumbuan itu terus saja berlanjut, dan Karra hanya bisa menangis di dalam hati. Tidak ada kenikmatan sedikit pun. Tiap sapuan lidah Max justru semakin menggores harga dirinya. Menit demi menit berlanjut. Max mulai kecanduan. Tak henti-henti ia meraba gadis itu bahkan hampir di sepanjang perjalanan. "Ekhmmm!" Kevin di depan sana mulai kegerahan. Barulah Max menyudahi. "Bagus!" puji pria jahat itu seraya menghapus bibirnya dengan punggung tangan. Napasnya sedikit berantakan. Dan saat menoleh ke samping, Karra terlihat menyedihkan dengan pandangannya yang kosong. "Hei!!" sentak Max. "Ya??" "Ck, bagaimana orang-orang yakin dengan hubungan ini kalau kamu melamun seperti itu?? Nanti, di depan keluarga saya-" "Mas!" Karra memotong seraya memberanikan diri membalas padangan Max. Sorot matanya menguat kali ini. "Memangnya jadi perempuan simpanan tidak boleh melamun? Mas, kalau saya terlalu sempurna justru akan terkesan aneh!! Ayolah..." Karra memicing, berharap Max sedikit saja menurunkan ekspektasinya. "Kamu berani membantah?" Max mengeratkan rahang. Sayang sekali, mobil itu sudah sampai di tujuan. Max tidak punya kesempatan untuk memarahi gadis amatir di sampingnya. Kepalanya berdenyut. Ia takut sandiwara ini berakhir gagal dan harga dirinya semakin terluka di hadapan semua orang. "Percayalah, Mas. Bahkan nanti saat saya hanya diam saja, saya akan tetap dilabeli sebagai perempuan perebut suami orang!!" ucap gadis itu dengan suara bergetar. Mobil mewah itu semakin melambat, dan berhenti tepat di barisan mobil-mobil mewah lainnya. Karra tidak dapat menebak ada acara apakah gerangan di dalam sana. Ia hanya ingin semua ini segera selesai. Gadis itu turun lebih dulu dengan gemuruh di dada, tanpa peduli pada wajah Max yang semakin terlihat menyeramkan. "Ingat, andai semua tidak berjalan sesuai keinginan saya, kamu harus terima akibatnya!" geram Max. Pria itu menunggu, dan Karra mendekat seperti seekor anak anj*ng. Karra bahkan nekat tersenyum dan mengecup leher pria itu. "Ayo, siapa yang harus melihat betapa jalangnya Karra Widita di hadapan Max Draven?!" bisiknya. Barulah Max terlihat tenang. Mereka melangkah, dan lagi-lagi hanya ada kemewahan. Karra terus merapatkan tubuhnya walau ia benci sekali saat melakukan itu. Dagunya terangkat dan ketika langkah mereka tiba di ruangan utama, semua mata tertuju pada mereka. "Maxime?" Seorang wanita paruh baya menatap nanar, memandangi Max dan Karra bergantian. "Ghania sedang berjuang di rumah sakit, apa-apaan kamu?!! Siapa perempuan ini?" Wanita itu mendekat lalu memperhatikan gadis di sisi Max dari atas sampai bawah. Karra maju satu langkah tanpa melepas tautan lengannya dengan Max. "Saya istri kedua Max. Nama saya... Karra!" Jemarinya terulur, menunggu balasan. Tapi di detik itu juga, sebuah tamparan melayang di wajahnya yang putih. Menciptakan bunyi dengung di telinga. "Mama!!" Max menarik Karra dan membawa gadis itu berlindung di belakang tubuhnya. "Aku membawanya ke sini bukan untuk kalian persekusi!" sentak pria itu dengan percikan emosi. Di sana, seorang wanita paruh baya lainnya sudah menangis. "Putriku masih terbaring lemah, kamu sudah membawa perempuan murahan bersamamu?? Di mana hatimu, Max?! DI MANA??" teriaknya. "Aku laki-laki normal. Ghania koma, jadi apa salahnya aku menikah lagi? Karra pandai melayaniku. Pernikahan kami tidak akan merubah apa pun antara aku dan Ghania!" jelas Max. Ia membawa gadis itu ke tengah-tengah ruangan. Dan sudah dapat ditebak, semua mata memandang Karra seolah dirinya adalah kotoran yang hina. "Pasti kamu yang menggoda menantuku, kan?? Perempuan sialan??!!" Susan--ibu kandung Gania, berdiri dari duduknya dan mengitari meja. Minuman berwarna hitam di tangannya sudah bersiap ia tumpahkan di wajah si perempuan penggoda. Tapi saat cairan itu melesat, Max merangkul Karra dan menjadi tameng untuk gadis itu. Punggung Max seketika berubah menjadi basah. "Aaaaarrgg!!" Susan meraung, meratapi nasib putrinya yang malang. Terbaring koma, dan suaminya tengah memeluk perempuan lain. Ruangan itu terasa mencekam. Dan Karra heran, mengapa Max melindunginya? "Tolong hargai keputusanku! Sekali lagi aku tegaskan, aku ini... laki-laki normal!! Aku punya kebutuhan yang tidak bisa aku lampiaskan pada putri kalian yang sedang koma!" Suara Max bergetar saat mengatakan itu. Batinnya menjerit, ingin agar siapa saja melihatnya sebagai seorang laki-laki sejati. Perselingkuhan Ghania benar-benar membuatnya haus akan pengakuan. Dirinya mampu, dirinya jantan, tidak layak diselingkuhi. Emosinya memuncak dan Karra dapat merasakan itu dari tubuh Max yang sedikit bergetar. "Sudah, Mas," ucap Karra lembut. "Mereka mana paham dengan kebutuhanmu yang meledak-ledak itu?! Ayo, kita pulang. Atau kamu mau aku saja yang pulang? Aku tunggu di rumah!" ucap Karra. Seisi ruangan itu dapat mendengar nada suaranya yang manja, mendayu-dayu, menjijikkan. "Perempuan sundal!!" Susan kembali meradang. Sekuat tenaga, ia mendorong Max dan... praaang! Gelas kaca di tangannya mendarat tepat di pelipis Karra. Pecah berderai. Cairan kental kemerahan merembes seketika. -----++-----Karra mengikuti langkah wanita di hadapannya dengan perasaan tak menentu. 'Memangnya... Max ingin aku melakukan apa?' batinnya. Gadis itu semakin tidak mengerti saat mereka sudah menapaki lorong panjang yang sangat sepi, entah langkah ini akan bermuara di mana. "Sebentar lagi kita sampai, Nyonya!" ucap wanita tambun di depan Karra seolah tahu mangsanya mulai merasa gelisah. Dan akhirnya Karra menghentikan langkah. Gadis itu yakin, ini tidak benar. "Nyonya?" "Sebentar!!" Karra mengangkat dagu dan memandangi wanita itu. Ia harus bersikap layaknya seorang nyonya muda. Mengeluarkan ponselnya, lalu Karra membuat panggilan ke kontak Kevin. Max mungkin akan marah jika diganggu jadi tidak ada salahnya Karra memastikan segala sesuatu melalui Kevin--asistennya. "Ya, Nyonya??" "Mas Kevin!! Si pemarah itu... sebenarnya ingin saya melakukan apa?" tanya Karra. Wajah wanita di hadapannya berubah mengeras. Karra belum sempat mendengar Kevin merespon, tapi seseorang sudah menghantam tengkukn
"Jadi, Mas membawaku ke kantor untuk bertemu dengan laki-laki itu? Siapa namanya? Harris?" Karra bersuara setelah Max menutup rapat pintu ruangannya. Hanya ada mereka berdua, sebab Kevin sedang berjaga tepat di balik pintu. "Kurang lebih begitu!" jawab Max datar. "Saya ingin dia sedikit merasa terancam, jadi... mainkan peranmu. Ancam dia!" Karra menatap nanar. "Kenapa, kamu takut? Toh kodisi fisiknya masih seperti itu. Dia bukan lawan yang harus kamu takutkan!!" Max mengatakan itu sambil membuang pandangan ke arah foto pernikahannya yang terpajang di dinding. Foto itu sama persis seperti yang terpajang di rumah. "Baiklah!!" jawab Karra lirih. "Aku akan mengancamnya dengan penampilan seperti ini, dan... siapa tau dia tergoda. Biar aku pastikan sendiri sentuhan siapa yang lebih baik sampai-sampai Nyonya Ghania rela bertelanjang di dalam mobil, dengan dia!!" Mendengar itu, Max menoleh dengan rahang bertaut kuat. "K-kau..." "Kenapa?" Karra tertawa rendah. "Toh aku peremp
Karra tersenyum samar setelah memeriksa kembali surat perjanjian yang baru saja ia buat. Tidak terlalu banyak, hanya beberapa poin penting.Pertama, pernikahan sialan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun, dan Karra sudah menulis bayaran yang ia inginkan. Sepuluh miliar rupiah. Itu bukan jumlah yang akan memberatkan Maxime, Karra yakin itu.Kedua, berhubungan ranjang layaknya suami istri hanya akan dilakukan dalam keadaan suka sama suka. Karra sudah berpikir jauh saat ingin menuliskan ini. Ia tidak mau Max memaksanya secara sepihak. Lalu ke tiga, selama mereka terikat hubungan, Max harus melindungi Karra dari ayah dan ibu tirinya. Keempat, jika hubungan mereka sudah usai, Max tidak punya hak apa pun atas diri Karra begitu juga sebaliknya dan yang terakhir, hubungan ini boleh diakhiri sepihak oleh Max kapan pun ia mau. Lebih cepat lebih baik. Tapi setelah lewat masa satu tahun, kembali ke poin ke empat. Max tidak berhak memaksa.Pintu kamar terbuka, dan Karra langsung menemukan
"Max brengsek!!" Karra mendesis. Aliran darahnya masih begitu laju walau Max sudah menutup pintu kamar mewah itu sejak lima menit lalu. Gadis itu bangkit, lalu meremas kuat seprai penuh kelopak bunga. Ia benci situasi ini. Ia tak berdaya atas dirinya sendiri. Nyatanya saat pria itu menyentuh, Karra justru... menikmatinya. "Aaaaaaaaaakkh!!!" Karra berteriak frustasi. Dirinya adalah gadis paling munafik di seluruh penjuru. Ia bukan hanya membenci Max tapi justru pada dirinya sendiri. "Nona?" Terdengar suara Pak Rudy dari balik pintu. Dan Karra sadar, penampilannya sangat tidak layak disaksikan oleh makhluk mana pun. "S-saya baik-baik saja, Pak!" teriaknya. Gegas ia melangkah menuju lemari, lalu menyambar asal sehelai gaun. Karra membawa pakaian berbahan satin halus itu ke kamar mandi, lalu mengguyur kepalanya dengan air dingin. Lama gadis itu berdiri di bawah pancuran air. Menghukum kemunafikan yang semakin tumbuh di dalam dirinya. 'Sudahlah, Karra. Kamu bukan malaikat. Nik
Karra tahu, pernikahan ini palsu. Tidak akan pernah sah secara hukum atau pun secara agama. Tapi nyatanya, Max tetap mempersiapkan pernikahan yang megah, di sebuah gedung besar dengan banyak sekali tamu undangan. "Silahkan, Nona!" Pak Rudy membukakan pintu mobil. Karra turun, lalu membeku saat melihat sekeliling. Karangan bunga berisi ucapan selamat berjejer hampir di sepanjang jalan menuju pintu lobi. Mereka bergegas masuk. Dan Karra lebih terkejut lagi saat melihat Anggoro Widita--ayah kandungnya. Pria itu memakai setelah jas rapi, berdiri tak jauh dari pintu menuju ballroom. "Papa tidak sangka, kamu... justru menikah dengan laki-laki yang jauh lebih hebat dibandingkan Roger!" ucap Anggoro dengan senyuman bangga. Maxime Draven tentu tidak sebanding dengan Roger Duan, laki-laki tua bangka yang kemarin sempat ingin menjadikan Karra sebagai istri dengan dalih investasi. Tapi lihatlah, senyum Anggoro menjelaskan segalanya. Ia pasti sudah mendapat kucuran dana dari Max dengan it
Dua hari berlalu begitu cepat dan Max tidak pernah menemuinya lagi. Karra hanya sesekali dikunjungi oleh Kevin atau laki-laki paruh baya yang merupakan kepala pelayan di kediaman Max. "Kita pulang sekarang, Nona!" seru Pak Rudy--si asisten paruh baya yang baru saja selesai mengurus semua keperluan administrasi. Karra mengangguk lemah lalu mengikuti langkah pria paruh baya itu. "Nona tidak tanya ke mana perginya Pak Max?" tanya Pak Rudy lembut. Pria itu mengimbangi langkah Karra yang dan sesekali memperhatikan wajahnya yang murung. Karra menggeleng. "Saya tidak peduli," lirihnya. Max adalah seorang pebisnis besar. Dia tidak muncul, pastilah karena urusan pekerjaan. Atau mungkin dia sudah muak dengan sandiwara mereka dan berubah pikiran? Begitulah isi kepala Karra saat ini tapi... "Dia sakit, Nona!" ucap Pak Rudy dengan nada sedih. Mendengar itu, Karra mengedip cepat. "Sakit?" ulang gadis itu. "Ya. Dia sakit. Tapi dia tidak mau dirawat. Kami merawatnya di rumah." Karra tidak ber







