LOGINSaat mentari pagi bersinar terang, Marisa terbangun dari tidur nya. Kali ini hati Marisa terasa lebih tenang karena dia bisa bangun lebih siang dari biasa nya.
Saat di rumah sang paman, Marisa selalu di tuntut bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk mereka dan beberes rumah dan tidak jarang juga Marisa tidak makan bahkan sisa makanan pun tidak ada di atas meja makan. Semua makanan yang di masak oleh Marisa selalu habis tak bersisa dan tidak jarang pula Marisa hanya minum air putih saat pergi bekerja. "Haahh... akhir nya bisa hidup lebih santai. Kenapa tidak dari dulu saja sih aku di usir dari rumah?" Gumam Marisa. "Ohh iya semua itu karna aku yang yang bodoh!!" Gumam nya lagi sambil menepuk jidat. Tidak lama setelah dia bangun dari kasur, terdengar suara nada dering handphone milik Marisa. "Marisa bukan nya kamu mau interview hari ini, kamu kemana saja sih dari kemarin aku hubungi selalu tidak bisa?" Ucap seseorang dengan nada tinggi di seberang telepon. "Hehe, sorry handphone aku silent." Ucap Marisa sambil tersenyum mengejek. Rupanya yang menghubungi Marisa adalah teman seperjuangan nya, Hana teman yang selalu ada di saat senang maupun di saat susah. Dan kali ini Hana mengabari bahwa hari ini jadwal Marisa untuk interview di sebuah perusahaan properti terbesar di kota Jakarta, walaupun Marisa hanya melamar sebagai seorang office girl. Bagi Marisa bisa masuk bekerja di perusahaan ternama itu sudah menjadi suatu kebanggaan bagi diri nya yang hanya memiliki ijazah SMA. Menurut Marisa walaupun pendidikan tidak tinggi yang menjadi nomor satu itu perilaku dan kegigihan, karena jika kita bekerja dengan gigih dan selalu menjaga sikap dan prilaku maka orang-orang akan yang berada di dekat kita akan senang dan bisa menjadi peluang untuk kita naik ke jenjang yang lebih bagus lagi. "Woy, malah senyam senyum. Cepat siap-siap dan ingat jangan sampai telat, karena bos kita itu kata nya tidak suka dengan karyawan yang suka telat dan tidak disiplin." Ucap Hana kembali mengingatkan Marisa. "Siap bos Hana, saya akan menuruti perintah anda!" Ucap Marisa sambil bergaya hormat pada sahabat nya. Lalu mereka berdua pun tertawa bersama sebelum Marisa mematikan sambungan telepon nya. "Semoga hari ini aku mendapatkan kabar baik dan bisa bekerja di perusahaan itu!" Ucap Marisa penuh semangat sambil berdoa memohon pada sang kuasa. Marisa pun segera bersiap untuk berangkat ke kantor impian nya, walaupun hanya sebagai office girl dia tetap bersemangat hari ini. Dia memilih pakaian terbaik untuk di pakai nya hari ini. Marisa melangkah dengan riang menuruni anak tangga rumah yang kini dia tempati, setelah dia turun tidak lama datang mobil taxi yang sudah di pesan nya. "Ke kantor husada properti ya pak!" Ucap Marisa pada sang sopir dengan nada yang lembut dan senyum yang merekah sempurna. "Senang banget muka nya mbak, mau kerja di sana?" Tanya sang sopir pun tanpa sadar ikut tersenyum karena tertular senyuman dari Marisa. "Belum sih, cuma mau interview." Sahut Marisa kembali tersenyum, namun kini senyuman nya terlihat canggung karena terburu-buru bersenang hati. "Semoga keterima kerja di sana ya mbak!" "Makasih doa nya pak." "Sama-sama. Mobil terus berjalan dengan mulus hingga sampai ke pusat kota, di sana jalanan mulai terlihat ramai dan jalan mobil pun terasa begitu lambat bagi Marisa yang sedang terburu-buru. "Pak masih jauh gak sih?" Tanya Marisa yang kesekian kali nya pada sang sopir. "Kurang lebih lima ratus meter lagi mbak, itu gedung nya sudah mulai kelihatan!" Dari kejauhan gedung yang tinggi menjulang itu sudah sedikit terlihat, namun mobil yang di tumpangi Marisa sedang terhimpit di tengah padat nya kendaraan yang sedang sama-sama menggunakan jalanan itu. "Gedung nya yang di depan itu kan ya?" Kembali pertanyaan yang sama terlontar dari mulut Marisa, duduk nya sudah tidak karuan geser kanan geser kiri dan terus begitu karena saking gelisah dan gugup nya. "Iya mbak!" Kembali sang sopir menyahut dengan nada yang kesal di tahan-tahan karena sudah beberapa kali Marisa bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Pak bisa cepat tidak? Waktu saya sudah mepet ini. Takut nanti terlambat!" "Sabar ya mbak, ini jalanan sedang macet dan tidak bisa menerobos." Jawab sang sopir dengan sabar nya. "Kalau begitu saya jalan saja pak, takut tidak keburu!" Ucap Marisa sambil menyodorkan selembar uang berwarna biru, setelah memberikan uang itu Marisa langsung keluar dari mobil yang di tumpangi nya. "Mbak, kembalian nya!!" Sang sopir berteriak pada Marisa yang sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari. "Ambil saja buat bapak, bapak cukup doakan saya saja ya semoga hari ini saya lulus interview." Ucap Marisa sambil tersenyum ramah. "Makasih ya mbak, semoga mbak nya keterima kerja di sana!" Marisa terus berlari menerobos padat nya jalalan kota Jakarta, berlari tanpa mau berhenti dan tanpa kenal lelah. Hingga dia sampai di depan gedung yang super besar dengan tinggi yang menjulang, Marisa menghembuskan nafas kasar sambil berusaha meyakinkan diri dan berdoa agar dirinya bisa di terima di tempat itu. Saat ingin masuk ke dalam, Marisa mendengar suara yang tidak asing di dengar nya. Saat dia menoleh, benar saja orang yang selama ini selalu menghina dan merendahkan berada di depan mata. Selly, sepupu dari Marisa anak dari sang paman dan bibi nya. Orang yang selalu merendahkan dirinya karena hanya memiliki pendidikan yang rendah sedang dirinya tamatan sarjana. "Mau ngapain di sini? Mau ngemis karena sudah tidak punya uang dan tempat tinggal?" Ucap Selly sambil tersenyum merendahkan. "Bukan urusan mu!!" Sahut Marisa kemudian berjalan meninggalkan Selly yang masih senyum mengejek nya. Marisa terus berjalan masuk dan menuju meja resepsionis untuk bertanya suatu hal. "Maaf mbak ruang interview ada di sebelah mana ya?" Tanya Marisa sopan. "Mbak nya naik ke lantai lima, nanti di sana ada security yang berjaga dan mbak nya bisa langsung tanyakan ke sekurity nya!" Ucap sang resepsionis sambil tersenyum ramah. "Terimakasih mbak!" "Sama-sama." Marisa pun masuk lift memencet tombol angka lima, saat pintu lift mau tertutup Selly menghalangi nya dengan lengan dan ikut masuk ke dalam bersama Marisa. "Mau kerja di sini? Jangan mimpi, kamu tidak akan keterima karena pendidikan yang rendah!!" "Apa salah nya mencoba? Emang kamu bos nya di sini?" "Sebaiknya kamu menyerah saja, sebelum nanti nya kamu akan di buat malu karena pendidikan yang rendah!!" Ucap Selly sambil memandang Marisa dari atas hingga bawah. "Karena aku yang akan interview kalian semua!!" Deg, jantung Marisa serasa hampir copot karena mendengar berita ini. Jelas saja jika Selly yang akan menginterview nya tamat sudah impian nya bekerja di perusahaan besar ini. "Oh Tuhan, bantulah hamba untuk melalui ujian ini. Semoga hati Selly bisa lembut dan bisa berbelas kasihan dengan hamba!!" Batin Marisa, kepala nya kini riuh dengan doa dan harapan berharap dirinya akan selamat dari Selly kali ini.Ibu-ibu itu bingung harus berbuat apa, sedangkan dia harus segera pulang membawa belanjaan nya. Di saat dia sedang berfikir antara memaksa Marisa ikut dengan nya atau harus pulang dengan membawa kabar bahagia tanpa membawa bukti, Marisa dan Hana pergi tanpa berkata apapun di saat ibu itu terdiam.Saat ibu-ibu itu tersadar, orang yang di bilang nya mirip Siska itu sudah tidak ada. Dia berusaha mencari jejak Marisa sampai dia rela mengitari toserba yang besar itu, namun yang dia cari tidak ada tampak batang hidung nya pun.Akhir nya ibu itu menyerah dan memilih untuk membayar belanjaan nya ke kasir dan pulang ke rumah dengan menggunakan taksi online."Kenapa malam ini ada aja gangguan nya, orang kita mau senang-senang kan Han?" Ucap Marisa sambil menghembuskan napas nya kasar."Iya ya? Apa jangan-jangan Tuhan tidak meridhoi kita untuk memakai uang yang kita punya?" "Aneh-aneh aja kamu Han, orang ini rezeki Tuhan yang memberi masa tidak di perbolehkan memakai!" Marisa geleng-geleng samb
Saat Ammar sedang makan malam bersama keluarga nya, Marisa yang waktu itu gabut karena tidak ada kerjaan memilih untuk keluar dari kontrakan nya untuk menghirup udara segar. Karena merasa sepi, dia mengajak Hana untuk pergi jalan-jalan pada malam itu. Mereka menikmati malam yang cerah di sebuah cafe yang bertingkat, di atar balkon cafe mereka duduk berdua dan bertukar cerita. Saat mereka tengah asyik bersenda gurau, seseorang yang mereka kenali datang menghampiri mereka. "Aduh bikin sakit mata saja melihat kalian ada di sini!" Siapa lagi kalau bukan Selly sang pembuat onar dan manusia yang sok paling sempurna di dunia ini. "Kalau bikin sakit mata, jangan di lihat dong!" Ketus Marisa yang malas menanggapi Selly. "Risa, aku kok seperti mendengar suara-suara gitu yah. Kamu dengar tidak?" Tanya Hana pada Marisa sambil memutar bola mata nya malas. "Iihh kok merinding yah? Jangan-jangan cafe ini ada hantu nya lagi!" Sahut Marisa sambil mempergakan gaya ketakutan. "Kita pergi sa
"Sudahlah ma, aku sedang malas berdebat kali ini. Malam ini biar kalian saja yang pergi ke pertemuan itu." Setelah mengucapkan kata yang membuat ibu nya tambah marah lalu Ammar pergi meninggalkan orang tua nya. "Ammar jangan membuat mama sama papa kamu malu, kamu bahkan tidak pernah mau hadir di acara pertemuan kedua keluarga kita!!" Teriak Melly karena Ammar sudah berada di ambang pintu yang berada jauh dari tempat mereka duduk. Ammir lalu mengusap punggung sang istri untuk menenangkan. "Mungkin Ammar butuh waktu untuk membuka hati nya, kamu jangan terlalu memaksakan kehendak dari pada menghargai perasaan anak." "Dia memang berbeda dari Dimas, anak itu selalu keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan perkataan orang tua." Geram Melly dan lalu membandingkan kedua anak nya. "Sudahlah ma, nanti terdengar oleh Ammar kalau kamu membandingkan mereka lagi. Bisa-bisa Ammar pergi dari rumah seperti dulu." Ucap Tuan Ammir menenangkan sang istri. Dulu ketika Ammar membantah peri
Ammar pulang ke rumah lebih awal untuk menemui kedua orang tua nya. Sebelum pulang Ammar menyuruh Yudi untuk pergi bersama Selly untuk mewakili dirinya meting di salah satu cafe terkenal di kota itu. Karena klein yang akan bertemu dengan Ammar bukan lah klein yang sangat penting, jadi Ammar bisa menyuruh Yudi dan Selly untuk pergi mewakili dirinya. "Yah, padahal tadi mau tidur sebentar mumpung libur Ini mah nama nya bukan libur tapi cuma di beri waktu istirahat sedikit lebih lama dari biasa nya." Gumam Yudi saat menerima perintah dari sang bos, namun hal itu malah membuat murka Ammar. Yudi dan Ammar berteman sejak mereka masih duduk di bangku sma hingga sekarang, mereka berteman dengan baik hingga Ammar mengajak nya untuk bekerja sebagai orang kepercayaan nya. ***** Sesampai nya di rumah Ammar langsung di sambut hangat oleh kedua orang tua nya yang waktu itu sedang bersantai di ruang keluarga. "Hay anak mama, tumben kamu pulang cepat ada apa nih?" Tanya Melly istri dari tuan Am
Semua mata tertuju pada Marisa yang kini penampilan nya sungguh berbeda dari biasa nya. Dengan berjalan beriringan bersama Ammar membuat nya merasa seperti seorang asisten sesungguh nya. "Bos apa ini tidak berlebihan? Saya jadi tidak enak menjadi pusat perhatian semua orang seperti ini!" Ucap Marisa yang saat itu sedang berusaha menjejeri langkah Ammar. "Kamu masih mau kerja dengan saya?" "Masih bos!" "Kalau begitu jangan hiraukan orang-orang sekitar karena kamu di sini hanya bekerja untuk saya!" Ammar kemudian memerintahkan seorang office boy untuk membuatkan meja kerja untuk Marisa. "Taruh di ruangan saya!" Ucap Ammar dengan nada khas nya. Setelah memerintahkan, Ammar pergi ke ruang meting yang ada di dalam kantor nya. "Dasar jalang tidak tahu malu, sudah berani menggoda bos sampai-sampai bos tunduk sama kamu!" Tunjuk Selly yang saat itu melihat para office boy bekerja untuk memindahkan salah satu meja kerja untuk Marisa. "Siapa yang menggoda, orang bos sendiri
"Sekarang kamu harus menurut dengan ucapan dan apapun perintah dari saya." Kali ini dia tidak membatah apapun perintah Ammar dan berusaha mengikuti alur yang di buat oleh penulis. Meraka berdua masuk ke salon itu dan manyuruh karyawan salon itu untuk memberikan Marisa perawatan yang baik bahkan dia membeli member vip di salon itu. "Berikan pelayanan yang terbaik untuk dia, jika dia tidak puas dengan pelayanan yang kalian berikan maka saya akan tutup salon kalian ini!" Mereka yang berada di dalam salon itu pun merasa takut dan segan kepada Marisa karena ancaman yang di berikan oleh Ammar. Setelah menunggu beberapa saat, kini Marisa telah selasai dengan kegiatan nya di dalam sana dan seketika membuat Ammar sedikit pangling melihat perubahan pada wajah Marisa. Wajah yang awal nya terlihat biasa saja, kini di polesi make up yang membuat wajah nya berubah drastis. "Kamu cantik!" Ucap Ammar spontan saat melihat Marisa dari dekat. "Apa?" "Tidak apa, sekarang ikut saya ke satu







