LOGINMarisa menunggu dengan gelisah pengumuman hasil interview nya hari ini, kali ini Hana yang selalu memberi nya semangat dan keyakinan jika dirinya akan di terima bekerja.
"Sudahlah Marisa, aku yakin kamu akan lulus tes." "Tapi di sana ada Selly, dari dulu dia selalu berlaku tidak adil dan selalu tidak suka jika aku mendapatkan kebagiaan sedikit saja!" Tak berapa lama, dentingan telepon Marisa berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk. Setelah melihat nya Marisa langsung berteriak dan berlompat-lompatan sambil memeluk Hana. Hana yang di beri pelukan tiba-tiba hanya bisa membelalakkan mata nya karena terlalu erat nya pelukan yang di berikan Marisa. "Tidak bisa bernafas!!" Ucap Hana sambil memukul lengan Marisa. Setelah pelukan terlepas barulah Marisa memebritahukan Hana isi pesan yang baru saja masuk. "Aku di terima!!!" Teriak Marisa. "Benarkah?" Tanya Hana dan di beri anggukan kepala oleh Marisa, kini giliran Hana yang memeluk Marisa dengan erat karena teman nya sudah berhasil melewati masa gelisah dan ke khwatiran nya. "Selamat ya, kan apa aku kata kamu pasti bisa lulus. Soal nya grub husada itu sangat memerlukan office girl." "Syukurlah!!" Ucap Marisa sambil menghembuskan nafas lega. Keesokan hari nya... Marisa bangun pagi-pagi sekali karena hari ini adalah hari pertama dia masuk kerja, selain dapat kabar kalau sang bos tidak suka dengan karyawan yang tidak disiplin dia juga tidak mau memberikan kesan buruk di hari pertama nya bekerja. Saat jam menunjukkan pukul tujuh Marisa berangkat dengan hati yang berbunga-bunga dan bermekaran seperti di taman. Setelah dua puluh menit di perjalanan Marisa pun sampai dengan tepat waktu di depan gedung yang kini telah menjadi tempat kerja nya. Hari ini Marisa tidak naik taksi melainkan naik ojek online, selain ongkos nya murah ojek online juga lebih cepat sampai ke tempat tujuan. "Kamu karyawan baru?" Tanya salah seorang senior yang sudah lama bekerja jadi office girl di sana Mery nama nya. "Iya mbak." Jawab Marisa dengan ramah. "Ayo ikut saya, saya akan jelaskan bagian mana yang akan kamu kerjakan selama bekerja di sini!" Dengan senang hati Marisa mengikuti langkah sang senior. Setelah mendapatkan pembagian tugas, Marisa pun langsung mengganti baju nya dengan baju seragam yang telah di sediakan pihak kantor. "Waahh, selamat ya besti karena sudah bisa kerja di sini!" Ucap Hana ketika mereka berpapasan di lobi kantor. "Hehe, makasih ya besti." Saat mereka sedang berbincang, Mery sang senior memanggil mereka berdua dengan wajah yang datar nya. "Hati-hati senior yang satu ini galak!" Bisik Hana pada Marisa. "Bukan nya kerja malah ngerumpi di sini, cepat bersihkan ruang meeting dan sediakan minuman untuk mereka. Setengah jam lagi akan ada meeting!!" "Baik mbak!!" Ucap mereka bersamaan. Setelah nya mereka berdua pun pergi ke ruang meeting dan mengerjakan tugas mereka masing-masing. Setelah selesai, tugas baru pun menanti. Baru istirahat sebentar Marisa sudah di suruh membuatkan minuman oleh bagian staf. Marisa pun segera melaksanakan tugas nya. "Anak baru buatkan kopi hitam dengan sepuluh butir gula!!" Perintah seseorang yang sedang bekerja di depan komputer. "Anak baru buatkan teh, teh nya jangan terlalu banyak dan jangan terlalu banyak gula!" "Anak baru buatkan cappucino americano yang panas dan jangan terlalu manis!" Begitu banyak orang-orang yang bekerja di sana hanya menyuruh Marisa, namun Marisa pun tidak pernah mengeluh karena sudah terbiasa melakukan nya. Saat Marisa mengantarkan minuman yang terakhir Marisa mulai mendapatkan masalah, cappucino americano panas yang di bawa nya tudak sengaja tumpah di atas tumpukan dukumen yang sudah selesai di kerjakan oleh orang-orang staf. Karena tidak sengaja tersenggol tangan orang yang berada di sebelah bilik orang itu, Marisa tidak dapat menjaga keseimbangan cangkir yang berada di atas piring nya hingga membuat cangkir dan isi nya tumpah. "Gimana sih kamu kerja nya!!" Bentak seorang pria yang ketumpahan minuman buatan Marisa. Maaf pak, saya tidak sengaja. Tangan saya tiba-tiba tidak bisa menjaga keseimbangan nya." Ucap Marisa sambil menundukkan kepala karena takut. "Bisa kerja tidak sih? Lihat dokumen penting saya jadi basah semua karena ulah kamu yang ceroboh!" Seluruh orang yang berda di dalam ruangan itu menjadi riuh karena mendengar keributan yang di timbulkan oleh Marisa. "Biar saya bersihkan!" Jawab Marisa. "Bagaimana mau membersihkan, semua kertas nya basah begini. Mana mau saya berikan pada bos siang ini." Mendengar keributan yang berada di ruang staf, Selly pun masuk ke dalam ruangan itu dan dia tersenyum licik saat melihat Marisa di maki-maki oleh para karywan yang lain. "Kenapa ini ribut-ribut?" Tanya Selly pura-pura tidak tahu dengan masalah yang terjadi.Ibu-ibu itu bingung harus berbuat apa, sedangkan dia harus segera pulang membawa belanjaan nya. Di saat dia sedang berfikir antara memaksa Marisa ikut dengan nya atau harus pulang dengan membawa kabar bahagia tanpa membawa bukti, Marisa dan Hana pergi tanpa berkata apapun di saat ibu itu terdiam.Saat ibu-ibu itu tersadar, orang yang di bilang nya mirip Siska itu sudah tidak ada. Dia berusaha mencari jejak Marisa sampai dia rela mengitari toserba yang besar itu, namun yang dia cari tidak ada tampak batang hidung nya pun.Akhir nya ibu itu menyerah dan memilih untuk membayar belanjaan nya ke kasir dan pulang ke rumah dengan menggunakan taksi online."Kenapa malam ini ada aja gangguan nya, orang kita mau senang-senang kan Han?" Ucap Marisa sambil menghembuskan napas nya kasar."Iya ya? Apa jangan-jangan Tuhan tidak meridhoi kita untuk memakai uang yang kita punya?" "Aneh-aneh aja kamu Han, orang ini rezeki Tuhan yang memberi masa tidak di perbolehkan memakai!" Marisa geleng-geleng samb
Saat Ammar sedang makan malam bersama keluarga nya, Marisa yang waktu itu gabut karena tidak ada kerjaan memilih untuk keluar dari kontrakan nya untuk menghirup udara segar. Karena merasa sepi, dia mengajak Hana untuk pergi jalan-jalan pada malam itu. Mereka menikmati malam yang cerah di sebuah cafe yang bertingkat, di atar balkon cafe mereka duduk berdua dan bertukar cerita. Saat mereka tengah asyik bersenda gurau, seseorang yang mereka kenali datang menghampiri mereka. "Aduh bikin sakit mata saja melihat kalian ada di sini!" Siapa lagi kalau bukan Selly sang pembuat onar dan manusia yang sok paling sempurna di dunia ini. "Kalau bikin sakit mata, jangan di lihat dong!" Ketus Marisa yang malas menanggapi Selly. "Risa, aku kok seperti mendengar suara-suara gitu yah. Kamu dengar tidak?" Tanya Hana pada Marisa sambil memutar bola mata nya malas. "Iihh kok merinding yah? Jangan-jangan cafe ini ada hantu nya lagi!" Sahut Marisa sambil mempergakan gaya ketakutan. "Kita pergi sa
"Sudahlah ma, aku sedang malas berdebat kali ini. Malam ini biar kalian saja yang pergi ke pertemuan itu." Setelah mengucapkan kata yang membuat ibu nya tambah marah lalu Ammar pergi meninggalkan orang tua nya. "Ammar jangan membuat mama sama papa kamu malu, kamu bahkan tidak pernah mau hadir di acara pertemuan kedua keluarga kita!!" Teriak Melly karena Ammar sudah berada di ambang pintu yang berada jauh dari tempat mereka duduk. Ammir lalu mengusap punggung sang istri untuk menenangkan. "Mungkin Ammar butuh waktu untuk membuka hati nya, kamu jangan terlalu memaksakan kehendak dari pada menghargai perasaan anak." "Dia memang berbeda dari Dimas, anak itu selalu keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan perkataan orang tua." Geram Melly dan lalu membandingkan kedua anak nya. "Sudahlah ma, nanti terdengar oleh Ammar kalau kamu membandingkan mereka lagi. Bisa-bisa Ammar pergi dari rumah seperti dulu." Ucap Tuan Ammir menenangkan sang istri. Dulu ketika Ammar membantah peri
Ammar pulang ke rumah lebih awal untuk menemui kedua orang tua nya. Sebelum pulang Ammar menyuruh Yudi untuk pergi bersama Selly untuk mewakili dirinya meting di salah satu cafe terkenal di kota itu. Karena klein yang akan bertemu dengan Ammar bukan lah klein yang sangat penting, jadi Ammar bisa menyuruh Yudi dan Selly untuk pergi mewakili dirinya. "Yah, padahal tadi mau tidur sebentar mumpung libur Ini mah nama nya bukan libur tapi cuma di beri waktu istirahat sedikit lebih lama dari biasa nya." Gumam Yudi saat menerima perintah dari sang bos, namun hal itu malah membuat murka Ammar. Yudi dan Ammar berteman sejak mereka masih duduk di bangku sma hingga sekarang, mereka berteman dengan baik hingga Ammar mengajak nya untuk bekerja sebagai orang kepercayaan nya. ***** Sesampai nya di rumah Ammar langsung di sambut hangat oleh kedua orang tua nya yang waktu itu sedang bersantai di ruang keluarga. "Hay anak mama, tumben kamu pulang cepat ada apa nih?" Tanya Melly istri dari tuan Am
Semua mata tertuju pada Marisa yang kini penampilan nya sungguh berbeda dari biasa nya. Dengan berjalan beriringan bersama Ammar membuat nya merasa seperti seorang asisten sesungguh nya. "Bos apa ini tidak berlebihan? Saya jadi tidak enak menjadi pusat perhatian semua orang seperti ini!" Ucap Marisa yang saat itu sedang berusaha menjejeri langkah Ammar. "Kamu masih mau kerja dengan saya?" "Masih bos!" "Kalau begitu jangan hiraukan orang-orang sekitar karena kamu di sini hanya bekerja untuk saya!" Ammar kemudian memerintahkan seorang office boy untuk membuatkan meja kerja untuk Marisa. "Taruh di ruangan saya!" Ucap Ammar dengan nada khas nya. Setelah memerintahkan, Ammar pergi ke ruang meting yang ada di dalam kantor nya. "Dasar jalang tidak tahu malu, sudah berani menggoda bos sampai-sampai bos tunduk sama kamu!" Tunjuk Selly yang saat itu melihat para office boy bekerja untuk memindahkan salah satu meja kerja untuk Marisa. "Siapa yang menggoda, orang bos sendiri
"Sekarang kamu harus menurut dengan ucapan dan apapun perintah dari saya." Kali ini dia tidak membatah apapun perintah Ammar dan berusaha mengikuti alur yang di buat oleh penulis. Meraka berdua masuk ke salon itu dan manyuruh karyawan salon itu untuk memberikan Marisa perawatan yang baik bahkan dia membeli member vip di salon itu. "Berikan pelayanan yang terbaik untuk dia, jika dia tidak puas dengan pelayanan yang kalian berikan maka saya akan tutup salon kalian ini!" Mereka yang berada di dalam salon itu pun merasa takut dan segan kepada Marisa karena ancaman yang di berikan oleh Ammar. Setelah menunggu beberapa saat, kini Marisa telah selasai dengan kegiatan nya di dalam sana dan seketika membuat Ammar sedikit pangling melihat perubahan pada wajah Marisa. Wajah yang awal nya terlihat biasa saja, kini di polesi make up yang membuat wajah nya berubah drastis. "Kamu cantik!" Ucap Ammar spontan saat melihat Marisa dari dekat. "Apa?" "Tidak apa, sekarang ikut saya ke satu







