Masuk"Saya pesan whisky satu," ucapnya datar pada pelayan yang lewat.
"Baik, Mas," jawab si pelayan sambil bergegas mengambil botol dari bar. Lampu-lampu kelap-kelip di langit-langit diskotik seolah menari mengikuti dentuman musik yang menggema memecah malam. Aroma alkohol dan parfum bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang pengap namun penuh gairah. Tak lama kemudian, segelas whisky diletakkan di hadapan Aloy. Cairan keemasan itu memantulkan cahaya neon, berkilau seperti madu beracun. Aloy meneguknya perlahan, satu tegukan, dua tegukan, lalu tanpa sadar menenggak setengah isi gelas dalam sekali waktu. Ia ingin melupakan sesuatu, atau mungkin seseorang. Suara lembut Olla yang tadi pagi memohon penjelasan tentang pesan mencurigakan itu terus terngiang di telinganya. Rasa bersalah? Tidak. Yang ada hanya kejengkelan karena merasa diinterogasi. "Aku muak dengan semua pertanyaan itu," gumamnya pelan sambil menatap kosong ke arah lantai. Di sana, beberapa perempuan berpakaian minim menari bebas, tertawa tanpa beban. Salah satu dari mereka melirik ke arah Aloy, melempar senyum genit. Namun Aloy hanya membalas dengan pandangan dingin dan kembali menenggak minumannya. Malam kian larut. Lagu berganti menjadi lebih keras, lampu menyorot ke segala arah. Sementara itu, kesadaran Aloy perlahan menipis. Dunia terasa berputar di sekitarnya. Ia tidak tahu sudah berapa gelas whisky yang ia habiskan malam itu. Mungkin empat, mungkin lima. Yang jelas, pikirannya kini melayang entah ke mana. "Mas, apa mau tambah lagi?" tanya pelayan sopan. Aloy mengangkat tangan, "Cukup. Saya mau bayar kamar hotel, yang di atas." Pelayan itu mengerjap heran. "Mas mau menginap di sini?" "Ya, sekarang. Catat aja di kartu ini." Aloy meletakkan kartu kredit di atas meja tanpa pikir panjang. Kartu itu milik Olla, tapi sudah berbulan-bulan ia pakai seenaknya. Pelayan itu mengangguk, memproses pembayaran, lalu mempersilakan Aloy naik ke lantai dua tempat kamar hotel bersebelahan dengan bar itu berada. Jalan menuju kamar terasa berliku bagi Aloy yang sempoyongan. Namun akhirnya ia berhasil masuk, menyalakan lampu redup, lalu menjatuhkan tubuh ke atas kasur empuk. Pikirannya masih berkecamuk, tapi di balik mabuknya, ada satu nama yang muncul di kepala, yaitu Niar. Dengan tangan bergetar, Aloy mengambil ponselnya. Matanya berusaha fokus, meski pandangan kabur. Ia membuka pesan singkat dan mengetik .... "Aku di hotel Lavenda. Datang sekarang. Aku kirim lokasi." Jari-jarinya menekan tombol kirim. Satu detik kemudian, pesan terkirim ke nomor Niar. Lalu ia meletakkan ponsel di meja dan menatap langit-langit kamar. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Dia pasti datang," bisiknya pelan sebelum kembali meneguk sisa whisky dari mini bar kamar. Di tempat lain, di rumah sederhana bercat krem, Niar sedang duduk di depan cermin. Ia mengenakan baju tidur, tapi wajahnya tampak gelisah. Suara notifikasi dari ponselnya membuatnya spontan menoleh. Ketika membaca isi pesan, matanya berbinar, itu dari Aloy. Jantung Niar berdetak kencang. Ia menggigit bibir, menatap pantulan wajahnya di cermin. Tanpa berpikir panjang, Niar berdiri dan membuka lemari. Ia mengambil dress hitam tanpa lengan, lalu menambahkan jaket kulit di atasnya. Tas kecil ia jinjing, dan sepasang sepatu hak sedang ia kenakan. Saat hendak keluar kamar, terdengar suara dari ruang tengah. "Niar, kamu mau ke mana?" suara ibunya, Nunik, terdengar tajam. Langkah Niar terhenti di ambang pintu. Ia menoleh, berusaha tenang. "Aku ada tes vokal, Ma," bohongnya cepat. Nunik mengernyit, "Tes vokal malam-malam begini? Kamu pikir Mama nggak tahu jam berapa sekarang? Sudah jam sebelas lewat, Ni. Kamu itu perempuan, jaga kelakuanmu. Kalau orang tahu kamu suka keluar malam, Mama sama Papa ikut malu." "Emang mendadak, Ma. Aku mau latihan di rumah teman, soalnya besok siang ada pentas," elaknya lagi. Tanpa menunggu jawaban ibunya, Niar langsung melangkah ke luar. Hatinya berdebar kencang, tapi wajahnya menunjukkan keyakinan. Ia tahu ibunya tidak akan pernah menyetujui hubungannya dengan Aloy, apalagi setelah tahu pria itu sudah menikah. Namun, bagi Niar, cinta adalah buta. Ia terlalu dalam terjebak dalam pesona Aloy, pria yang memberinya janji manis tentang masa depan yang belum tentu nyata. Dari dalam rumah, Nunik hanya bisa menggeleng pelan sambil memandang punggung putrinya yang menjauh. "Lama-lama tambah liar itu anak," gumamnya dengan nada getir. Ia menutup tirai jendela, menarik napas panjang, lalu kembali duduk di kursi ruang tamu. Di hatinya tersisa kegelisahan yang tak bisa ia hilangkan. Sementara itu, Niar berjalan cepat menembus dinginnya malam. Udara malam itu menusuk tulang, namun tubuhnya terasa panas oleh debar yang tak menentu. Ia memesan ojek online, dan dalam waktu singkat sudah berada di jalan menuju hotel yang dimaksud Aloy. Lampu-lampu jalan yang berlarian di kaca helm pengemudi membuat pikirannya melayang, tentang cinta, tentang janji, tentang semua yang ia korbankan demi pria itu. Setibanya di hotel, Niar turun dan membayar ongkos. Ia melangkah masuk dengan langkah hati-hati, menunduk agar tidak terlalu menarik perhatian petugas resepsionis. Lift terbuka, dan dalam sekejap ia sudah berada di lantai dua. Tangannya bergetar ketika hendak mengetuk pintu kamar nomor 207. Tok … tok … tok .… Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan wajah Aloy yang sudah setengah mabuk, namun masih tampan di mata Niar. "Mas ...." Aloy tersenyum miring. "Akhirnya kamu datang juga." Niar masuk, lalu menutup pintu di belakangnya. Aroma alkohol langsung menusuk hidungnya. Di meja, terlihat botol whisky yang sudah hampir habis. "Kamu minum, Mas?" tanya Niar pelan. "Cuma sedikit. Aku cuma pengen tenang." "Kenapa nggak bilang dari tadi kalau kamu butuh aku?" Niar mendekat, duduk di sisi ranjang. Aloy menatapnya, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kamu selalu tahu caranya bikin aku tenang." Kalimat itu cukup untuk membuat Niar luluh. Ia menatap mata Aloy yang tampak letih, seolah ada beban berat di dalamnya. "Mas, aku sayang kamu. Tapi aku nggak mau terus sembunyi kayak gini. Aku pengen hubungan kita jelas." Aloy tertawa pendek. "Sabar, sayang. Semua butuh waktu. Aku juga capek sama dia, perempuan itu cuma bikin hidupku ribet." Niat diam mendengarkan Aloy. "Dia itu nggak bisa kasih aku ketenangan, nggak bisa kasih aku anak, dan tiap hari cuma curiga. Aku merasa kayak hidup sama orang asing," lanjut Aloy. Niar menunduk, pura-pura iba, meski di hatinya terselip rasa puas. Ia percaya semua yang dikatakan Aloy, meski sebenarnya hanya sebagian kecil dari kebenaran. "Kalau gitu, kenapa nggak kamu tinggal aja, Mas? Terus kamu nikahin aku." "Belum bisa. Aku lagi siapin semuanya. Begitu waktunya pas, aku pasti lepasin dia," jawab Aloy yakin, padahal itu hanya bualan untuk menjaga Niar tetap di sisinya. Malam itu, obrolan mereka berlanjut lama. Tawa sesekali terdengar, diiringi suara musik samar dari luar kamar. Bagi Niar, malam itu adalah bukti cinta. Namun bagi Aloy, itu hanya pelarian, tempat ia menenggelamkan rasa bersalah dan kesombongan yang menyesakkan. Di luar hotel, langit tampak mendung. Hujan gerimis mulai turun, membasahi aspal dan memantulkan cahaya lampu jalan. Sementara di rumah, Olla terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam di dinding, pukul satu lewat lima belas. Tempat tidur di sebelahnya kosong. Ia menatap pintu kamar dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mas, kamu di mana?" bisiknya lirih."Iya, benar," angguk Suli mantap. Nada suaranya tenang, nyaris tanpa getar, seolah yang baru saja ia ucapkan bukan sesuatu yang luar biasa.Ia mengaduk matcha latte-nya perlahan, gerakannya elegan, matanya sesekali menatap Aloy tanpa kesan memaksa."Dan aku sedang mencari orang yang mau investasi emas," lanjutnya santai, "dengan modal lima ratus juta dan keuntungan tiga miliar."Sendok di tangan Aloy berhenti bergerak. Jantungnya seakan melonjak, lalu berdetak lebih cepat dari biasanya. "Lima ratus juta balik tiga miliar?" batinnya.Angka itu berputar-putar di kepalanya seperti dengungan lebah yang tak mau pergi."Apa benar yang kamu katakan, Laras?" tanya Aloy, berusaha terdengar biasa saja meski matanya jelas memancarkan ketertarikan.Suli mengangkat wajahnya, menatap Aloy lurus-lurus. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum genit, melainkan senyum percaya diri seorang perempuan yang terbiasa berada di lingkaran orang berduit."Apa tampang saya terlihat seperti penipu?" katanya pela
Charol tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya santai, ada kilat licik tipis di matanya. "Mbak dandan yang cantik. Pakai baju yang aku belikan kemarin. Terus mbak pergi ke apartemen. Nanti aku kirim alamatnya. Itu apartemen Niar, temenku, sekaligus selingkuhan Aloy."Suli menghentikan gerakan sendoknya. Alisnya berkerut, bukan karena bingung, tapi karena cemas. "Aku ngapain di sana, Mbak?""Mbak duduk aja di taman depan apartemen itu. Pura-pura foto-foto selfie," lanjut Charol dengan nada tenang, seolah menjelaskan rencana piknik. "Tenang, Mbak nggak usah takut. Nanti Aloy pasti datang ke apartemen itu. Nah, otomatis dia bakal nyapa Mbak. Mbak pura-pura kaget ya. Terus ajak dia ke mana gitu buat ngobrol-ngobrol. Aku bakal kasih arahan lewat chat."Suli mengangguk pelan. "Kalau aku salah ngomong gimana, Mbak?"Charol menyesap susunya, lalu meletakkan gelas perlahan. "Makanya aku bilang, santai aja. Mbak jadi diri Mbak sendiri. Nanti aku yang atur alurnya."Suli menghela napas pa
Rumah kontrakan itu masih terasa asing, meski sejak sore tadi Charol dan Suli sudah bolak-balik mengatur barang.Dindingnya polos, lantainya dingin, dan hanya ada beberapa perabot sederhana, sofa dua dudukan, meja kayu, serta kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan.Senja telah berganti malam. Lampu kuning temaram menciptakan bayangan lembut di wajah kedua wanita itu saat mereka duduk berhadapan.Suli memeluk bantal kecil di dadanya. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil sejak kejadian di rumah sakit. Sesekali matanya menatap lantai, seolah takut kenangan siang tadi kembali menyeruak.Charol menuangkan air hangat ke dua cangkir. Ia menyodorkan satu pada Suli. "Minum dulu. Biar tenang.""Terima kasih, mbak," jawab Suli lirih. Jemarinya gemetar saat menerima cangkir itu.Mereka terdiam sejenak. Hanya suara kipas angin dan jam dinding yang terdengar.Charol mengamati Suli dari sudut matanya, wanita itu masih muda, wajahnya lembut, tetapi garis kelelahan tampak jelas. Bukan kele
Langkah Charol dan Suli terhenti tepat di samping mobil. Matahari pagi belum terlalu tinggi, namun panasnya sudah terasa menekan kulit. Suli hendak membuka pintu ketika suara serak dan bau alkohol menyergap dari arah belakang."Wah, wah, wah … Suli."Suara itu membuat tubuh Suli menegang. Wajahnya seketika pucat, napasnya tercekat di tenggorokan. Seorang pria dengan pakaian kusut dan mata merah berjalan sempoyongan ke arah mereka. Langkahnya tidak stabil, namun senyum liciknya jelas terlihat."Kamu sekarang hidup enak, ya," lanjut pria itu sambil tertawa kecil. "Punya bos cantik, tajir pula. Pantesan lupa sama suami sendiri."Suli refleks mundur, bersembunyi di balik tubuh Charol. Tangannya gemetar, kukunya mencengkeram lengan Charol seolah mencari perlindungan terakhir."Herman." Suara Suli nyaris tak terdengar.Charol berbalik, menatap pria itu dari ujung kepala hingga kaki. Nalurinya langsung menangkap sesuatu yang tidak beres, bau alkohol menyengat, tatapan kosong bercampur agresi
Pagi itu udara di sekitar rumah sakit terasa sejuk. Matahari belum terlalu tinggi, cahayanya menembus sela-sela pepohonan yang tumbuh rapi di halaman depan.Charol melangkah pelan di lorong rumah sakit sambil membawa paperbag putih di tangannya. Di sampingnya, Suli berjalan dengan wajah tegang namun penuh harap.Sesampainya di depan ruang perawatan anak, langkah Suli melambat. Tangannya sedikit gemetar saat mendorong pintu.Di atas ranjang, Lala tampak duduk bersandar dengan selang infus di tangan kecilnya. Wajahnya masih pucat, namun matanya berbinar ketika melihat ibunya datang."Ibuk!" serunya lirih tapi penuh semangat.Suli segera menghampiri, duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan putrinya. "Gimana keadaan kamu, Nak?" tanyanya lembut, menahan getar di suaranya."Udah agak mendingan, Buk," jawab Lala polos. "Sakitnya nggak begitu kerasa kayak kemarin."Suli menghela napas lega. Matanya berkaca-kaca, lalu ia mengusap kepala Lala dengan penuh kasih. "Syukurlah, Ibuk takut kamu
"Oh, aku nggak kenal kok, Cha. Dia itu tadi njatuhin sendok, aku cuma bantu ngambilin aja," jawab Aloy ringan, nyaris tanpa beban.Charol mengangguk kecil, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Hem, dasar pembohong. Pandai sekali kamu memainkan peran, Aloy," batinnya. Namun wajahnya tetap tenang, nyaris tak menunjukkan apa pun selain ketertarikan yang wajar."Oh gitu," ucapnya singkat.Pelayan datang menghidangkan pesanan. Aloy mulai terlihat lebih santai, bahkan sempat tertawa kecil menceritakan hal-hal remeh, seolah lupa bahwa ia sedang duduk bersama perempuan yang kelak akan menghancurkan hidupnya perlahan.**Sementara itu, di apartemen mewah, Niar mondar-mandir dengan wajah bosan. Televisi menyala, tapi tak satu pun acara menarik perhatiannya."Aduh, kok laper, ya. Cari makan ah. Aku pengin makan di restoran mewah," gumamnya sambil berdiri. "Hasil manggung kemarin juga masih banyak."Ia berganti pakaian dengan cepat, gaun pendek warna hitam yang membalut tubuhnya dengan pas, make u







