Share

Retaknya Hubungan

Author: Cancer Girl
last update Last Updated: 2026-01-12 16:24:03

Olla pun mencoba memejamkan mata, walau pikiran tentang pesan mesra terus menghantuinya.

Pagi itu udara terasa sejuk. Sinar matahari menembus sela tirai, menimpa wajah Olla yang masih terlelap.

Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Biasanya ojek panggung sudah menjemputnya pagi-pagi sekali, tapi hari ini berbeda.

Ia sedang tidak ada job. Hari yang seharusnya bisa ia gunakan untuk beristirahat dan menikmati waktu bersama suaminya.

Olla membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram, tapi suara sendok yang beradu dengan gelas di ruang depan membuatnya tersadar sepenuhnya.

Ia bangun, duduk di tepi ranjang, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin.

"Wajahku kelihatan capek banget," gumamnya pelan.

Ia tersenyum kecut, lalu bangkit dan melangkah ke kamar mandi.

Setelah mencuci muka dan menyisir rambut, ia keluar kamar, mengenakan daster warna biru muda yang sederhana.

Begitu sampai di ruang tamu, matanya langsung tertuju pada sosok Aloy yang duduk di kursi rotan.

Pria itu mengenakan kaus abu-abu dan celana pendek, menatap layar ponsel di tangannya dengan raut wajah serius.

Di meja ada secangkir kopi hitam yang masih mengepul, menebarkan aroma pahit yang khas.

Olla berdiri di ambang pintu, memperhatikan sejenak. Ada sesuatu yang aneh.

Biasanya, kalau Aloy sedang di rumah, ia selalu bercanda, mengajak bicara, atau minimal menanyakan rencana hari ini. Tapi pagi ini berbeda. Ada jarak yang terasa dingin di antara mereka.

"Mas," panggil Olla perlahan.

Aloy menoleh sekilas. "Hm?"

"Aku mau tanya sesuatu, kamu jawab jujur ya." Suaranya terdengar lembut tapi tegas.

Aloy menaruh ponselnya di meja. "Tanya apa?"

Olla melangkah mendekat, lalu duduk di kursi seberangnya. Ia menarik napas panjang sebelum bicara. "Tadi malam aku nggak sengaja lihat pesan di ponsel kamu."

Alis Aloy langsung berkerut. "Pesan apa?"

"Pesan dari nomor yang kamu simpan dengan nama Tukang Bengkel. Tapi isinya sayang-sayangan, ada emoji hati. Siapa sebenarnya orang itu?"

Seketika tangan Aloy kaku, hampir menjatuhkan gelas kopi yang baru saja dipegangnya.

Wajahnya berubah, tapi cepat ia tutupi dengan tawa canggung. "Ah, itu mungkin salah kirim. Tukang bengkelnya suka bercanda."

Olla menatapnya dalam-dalam. "Salah kirim, Mas? Masa iya tukang bengkel bisa nulis pesan kayak gitu? Aku udah dewasa, Mas. Aku cuma pengin kamu jujur."

Aloy mulai gelisah. Ia mengalihkan pandangan, menatap ke luar jendela. "Kamu tuh ya, kok bawaannya curiga terus sih? Hidup sama kamu itu kayak diinterogasi tiap hari."

"Aku kan cuma nanya, Mas. Aku nggak nuduh. Aku tahu kamu belakangan ini sering pulang malam, alasanmu selalu ketemu teman, tapi aku nggak pernah tahu teman yang mana. Aku cuma pengin tahu yang sebenarnya."

Nada suara Olla masih lembut, tapi matanya sudah mulai berkaca-kaca.

Aloy mengembuskan napas kasar. "Udah deh, jangan lebay. Hidupku udah cukup capek. Kamu tuh nggak pernah berubah, sukanya curiga. Aku pulang malem aja dibilang macem-macem.

"Mas." Olla berusaha menahan air mata. "Aku ini istrimu. Aku cuma pengin tahu kenapa kamu berubah. Dulu kamu nggak begini."

Aloy menatapnya dingin. "Berubah apanya? Kamu aja yang terlalu sensitif. Dikit-dikit curiga, dikit-dikit nangis. Aku muak dengarnya."

Olla tercekat. "Mas. Aku cuma pengin kejelasan."

"Ah, udahlah!" potong Aloy dengan nada tinggi.

"Kalau kamu pengin hidup tenang, berhenti curiga sama aku. Mending kamu mikirin hal lain.

Misalnya, kapan kamu bisa kasih aku momongan. Udah setahun lebih nikah, belum ada tanda-tanda kamu hamil."

Ucapan itu seperti pisau yang langsung menusuk dada Olla. Ia terpaku di tempat. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, membuatnya sesak.

"Mas." Suaranya bergetar. "Kamu tega ngomong begitu?"

Aloy berdiri dari kursinya, mengambil kunci mobil di meja. "Aku cuma ngomong apa adanya. Aku juga pengin punya anak, La. Tapi kalau kamu terus-terusan kayak gini, aku bisa gila. Aku mau keluar dulu.

"Mas, aku belum selesai ngomong!" teriak Olla.

Tapi suaminya sudah melangkah menuju pintu. Aloy menutup pintu dengan keras, meninggalkan keheningan yang menggantung di udara.

Olla terduduk. Air matanya akhirnya pecah. Tangannya menutup wajahnya, tubuhnya bergetar menahan perasaan yang campur aduk, marah, kecewa, sedih, dan terluka.

"Mas, kamu benar-benar sudah berubah," bisiknya pelan. "Kamu nggak ingat ya, siapa yang dulu nolong kamu? Tahu begini, dulu aku biarkan saja kamu pingsan di jalan."

Suara tangisnya menggema di ruangan sepi itu. Ia menatap foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding.

Senyum di foto itu terasa seperti ironi. Dulu ia begitu bahagia, merasa menemukan cinta sejatinya. Tapi kini, yang tersisa hanyalah kenangan yang pahit.

Beberapa jam kemudian, Olla masih duduk di ruang tamu. Matanya sembab, rambutnya acak-acakan.

Ia tak punya tenaga untuk melakukan apa-apa. Hanya duduk, menatap kosong ke arah pintu. Dalam hati, ia mencoba mengingat kembali hari-hari awal mereka bertemu.

Saat Aloy belum punya apa-apa, saat ia masih pria sederhana yang ia tolong tanpa pamrih.

Ia teringat betapa dulu Aloy begitu manis. Setiap pagi membuatkan teh hangat, menjemput dan mengantarnya ke panggung, menunggu di belakang panggung dengan setia.

Semua terasa indah, tulus, dan penuh kasih. Tapi entah sejak kapan semuanya berubah.

Aloy kini lebih sering marah tanpa sebab, pulang larut malam, dan selalu sibuk dengan ponselnya.

Olla memegang dadanya. "Aku salah apa, Mas?" bisiknya lirih. "Aku cuma pengin kita seperti dulu lagi."

Air matanya kembali jatuh. Ia bangkit pelan, berjalan ke dapur, dan mengambil segelas air putih. Tapi sebelum meneguknya, ia menatap cermin kecil di dinding.

Wajahnya tampak lelah, tapi matanya menyala dengan sedikit tekad.

"Kalau kamu bohong, aku akan cari tahu," gumamnya pelan.

Di tempat lain, Aloy sedang duduk di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan. Ia menatap layar ponselnya dengan wajah kesal.

Pesan dari Olla sempat ia baca, tapi tak dibalas. Ia justru membuka percakapan dengan Niar.

Niar: "Mas, kamu kenapa? Mukamu murung banget waktu tadi pagi video call."

Aloy: "Nggak apa-apa, cuma masalah kecil sama Olla."

Niar: "Olla lagi? Aku heran kenapa kamu masih tahan sama dia."

Aloy: "Dia itu orangnya posesif, dikit-dikit curiga. Aku udah capek, Ni."

Niar: "Kasihan kamu, Mas. Kalau aku punya suami kayak kamu, aku bakal jagain, bukan malah nyakitin."

Aloy: "Kamu selalu tahu gimana cara bikin aku tenang."

Aloy tersenyum puas. Ia tahu cara memancing empati Niar dengan mudah.

Ia memang pandai memutarbalikkan cerita. Dalam versinya, ia selalu menjadi korban. Dan Niar, dengan hati yang lembut, mudah percaya.

Sore hari, Aloy kembali mengendarai mobilnya, ia berkeliling kota. Tak lama, kendaraan itu berhenti di sebuah diskotik.

Alot pun memasuki tempat gemerlap tersebut.

"Permisi, Mas, mau pesan minuman apa?" tanya seorang pelayan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Kencan Terlarang

    "Saya pesan whisky satu," ucapnya datar pada pelayan yang lewat."Baik, Mas," jawab si pelayan sambil bergegas mengambil botol dari bar.Lampu-lampu kelap-kelip di langit-langit diskotik seolah menari mengikuti dentuman musik yang menggema memecah malam.Aroma alkohol dan parfum bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang pengap namun penuh gairah.Tak lama kemudian, segelas whisky diletakkan di hadapan Aloy. Cairan keemasan itu memantulkan cahaya neon, berkilau seperti madu beracun.Aloy meneguknya perlahan, satu tegukan, dua tegukan, lalu tanpa sadar menenggak setengah isi gelas dalam sekali waktu.Ia ingin melupakan sesuatu, atau mungkin seseorang. Suara lembut Olla yang tadi pagi memohon penjelasan tentang pesan mencurigakan itu terus terngiang di telinganya.Rasa bersalah? Tidak. Yang ada hanya kejengkelan karena merasa diinterogasi."Aku muak dengan semua pertanyaan itu," gumamnya pelan sambil menatap kosong ke arah lantai.Di sana, beberapa perempuan berpakaian minim menar

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Retaknya Hubungan

    Olla pun mencoba memejamkan mata, walau pikiran tentang pesan mesra terus menghantuinya.Pagi itu udara terasa sejuk. Sinar matahari menembus sela tirai, menimpa wajah Olla yang masih terlelap.Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Biasanya ojek panggung sudah menjemputnya pagi-pagi sekali, tapi hari ini berbeda.Ia sedang tidak ada job. Hari yang seharusnya bisa ia gunakan untuk beristirahat dan menikmati waktu bersama suaminya.Olla membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram, tapi suara sendok yang beradu dengan gelas di ruang depan membuatnya tersadar sepenuhnya.Ia bangun, duduk di tepi ranjang, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin."Wajahku kelihatan capek banget," gumamnya pelan.Ia tersenyum kecut, lalu bangkit dan melangkah ke kamar mandi.Setelah mencuci muka dan menyisir rambut, ia keluar kamar, mengenakan daster warna biru muda yang sederhana.Begitu sampai di ruang tamu, matanya langsung tertuju pada sosok Aloy yang duduk di kursi rotan. Pria i

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Manipulasi yang Manis

    Mobil hitam milik Aloy berhenti tepat di depan rumah bercat krem milik keluarga Niar.Lampu taman masih menyala redup, memantulkan bayangan pohon yang bergoyang lembut tertiup angin malam.Dari balik kemudi, Aloy menatap jam di pergelangan tangannya.Sudah hampir pukul tujuh malam. Ia menekan klakson dua kali, pendek dan cepat.Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Sosok perempuan berambut panjang terurai muncul dengan langkah tergesa.Wajahnya tampak cerah diterpa cahaya lampu teras. Begitu melihat siapa yang datang, senyum lebar mengembang di bibirnya."Mas, kamu datang kok nggak ngabarin dulu?" ujar Niar sambil mendekat ke mobil.Aloy tersenyum tipis, menurunkan kaca jendela. "Aku mau kasih kejutan. Tadi aku lewat sini, jadi sekalian mampir.""Ya udah, tunggu sebentar, aku ganti baju dulu. Kita ke tempat biasa, ya."Niar segera berbalik dan masuk ke dalam rumah sebelum sempat mengundang Aloy masuk. Ia tahu, orang tuanya tak menyukai pria itu.Sejak awal, mereka sudah menentang hu

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Menolong Aloy

    Mereka menikah susah satu tahun lebih, dan belum dikaruniai seorang anak. **Flashback on Olla adalah gadis berusia dua puluh enam tahun, ia hidup sebatang kara dari kecil. Ibunya meninggal saat melahirkan Olla dan bapaknya meninggal karena sakit parah. Olla memilik bakat menyanyi yang luar biasa. Karena itu, ia sering mengikuti berbagai kontes dan lomba menyanyi dan selalu menang. Karena bakatnya yang luar biasa, Olla mendapat berbagai tawaran menyanyi dari panggung ke panggung. Dari hasil menyanyi itulah Olla dapat membangun sebuah rumah megah dan membeli kendaraan pribadi, sebuah mobil dan juga motor. ** Sore itu, matahari hampir terbenam. Olla baru saja pulang dari sebuah acara panggung besar di luar kota. Seperti biasa, setelah tampil, tubuhnya terasa letih, tapi hatinya bahagia. Ia menikmati setiap tepuk tangan dan sorakan penonton, seolah itu penghapus semua luka kesepiannya. Ketika ia melintas di jalan raya yang agak sepi, matanya tertumbuk pada sosok pria terg

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Suara dari Toilet

    Pukul tujuh pagi, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar sederhana itu, menimpa wajah cantik seorang perempuan bernama Olla Viola. Tubuhnya yang semalam kelelahan karena latihan vokal kini perlahan bangun. Ia menguap kecil, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengucek mata. Hari ini bukan hari biasa. Olla mendapat job besar menyanyi di acara ulang tahun salah satu pengusaha kaya yang dijuluki orang-orang sebagai sultan. Honornya cukup besar, dan ini kesempatan emas untuk membuktikan kalau dirinya masih bersinar di dunia musik. Olla tersenyum kecil. Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi. Air dingin membasuh wajahnya, menghapus sisa kantuk yang menempel. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, mata bening itu masih menyimpan semangat, walau di baliknya ada lelah yang tak terlihat. Setelah selesai mandi dan berdandan sederhana, Olla menatap ruang tamu kecil yang sepi. Tak ada suara siapa pun. Biasanya, Aloy, suaminya, sudah bangun duluan, menyiapkan sarapan ringan, lalu denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status