Se connecterPagi itu Aloy membuka mata, namun, ia belum sepenuhnya bangun. Cahaya matahari yang menyelinap dari balik tirai hotel terasa menusuk kelopak matanya.
Kepalanya berat, tenggorokannya kering, dan ingatannya kabur oleh sisa-sisa alkohol semalam. Ia mengerang pelan, berusaha bangkit, hingga sebuah suara membuatnya tersadar sepenuhnya. "Mas, ayo bangun." Suara Niar terdengar panik. "Kita harus pulang sekarang. Nanti orang tuaku nyari." Aloy mengerjap, lalu menoleh. Niar sudah duduk di tepi ranjang, rambutnya diikat seadanya, wajahnya pucat oleh kecemasan. Tangannya sibuk membetulkan pakaian yang sejak tadi terasa kusut dan tak rapi. "Jam berapa ini?" Aloy bertanya sambil mengusap wajahnya. "Setengah enam, Mas," jawab Niar cepat. "Kita ketiduran. Kalau sampai ketahuan ...." Aloy langsung duduk. Rasa kantuknya menguap seketika. Namun alih-alih panik, bibirnya justru tertarik membentuk senyum tipis. Sebuah ide melintas begitu saja di kepalanya, ide yang membuat dadanya terasa ringan, seolah semua jalan keluar sudah tersedia di depan mata. "Ya udah," katanya santai. "Ayo kita pulang." Niar menatapnya curiga. "Kamu kenapa, kok senyum-senyum, Mas?" Aloy menoleh, lalu terkekeh kecil. "Nggak apa-apa. Habis ketemu kamu, aku jadi senang." Niar tidak sepenuhnya percaya, tapi ia terlalu cemas untuk memperpanjang pertanyaan. Ia segera mengambil tas kecilnya dan berjalan lebih dulu keluar kamar. Aloy mengikutinya beberapa langkah di belakang, matanya menyipit, pikirannya bekerja cepat. Di lobi hotel, suasana masih lengang. Beberapa tamu terlihat terburu-buru menuju pintu keluar, sementara petugas hotel menyapa dengan sopan. Niar melangkah keluar lebih dulu, berniat menunggu di luar. Sementara itu, Aloy berhenti sejenak di meja layanan. Pria itu memesan serbuk minuman instan, alasan yang terdengar biasa, tak mencurigakan. Tangannya menerima pesanan itu dengan senyum tipis, lalu ia menyelipkannya ke dalam saku jaketnya. Tak ada yang tahu, tak ada yang bertanya. Di dalam benak Aloy, sebuah rencana mulai tersusun rapi. Siang hari, rumah Olla terasa sunyi. Tidak ada suara latihan vokal, tidak ada tawa kecil yang biasanya mengisi ruang tamu. Olla duduk di sofa dengan ponsel di tangan, menatap layar kosong. Sejak pagi, pikirannya dipenuhi perasaan tidak menentu. Ia ingin marah, ingin bertanya, tapi juga ingin percaya. Saat pintu terbuka, Olla mendongak. Aloy berdiri di ambang pintu. "Mas?" Suara Olla terdengar ragu. Aloy melangkah masuk, wajahnya terlihat lebih tenang dari biasanya. Tidak ada nada ketus, tidak ada sorot kesal di matanya. Ia bahkan tersenyum. "Aku pulang," katanya ringan. Olla berdiri perlahan. "Kamu dari mana?" "Aku ada urusan bisnis sama temen lama," jawab Aloy. "Maaf ya, kemarin aku keluar tanpa pamit. Aku kepikiran omongannya kamu." Olla terdiam. Ada sesuatu di nada suara Aloy yang terdengar berbeda. Lebih lembut. Lebih seperti dulu. "Aku bikin minum buat kamu," lanjut Aloy sambil berjalan ke dapur. "Kita ngobrol santai, ya." Hati Olla menghangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa suaminya kembali. Ia duduk, menunggu, sambil membujuk dirinya sendiri untuk berhenti curiga. Tak lama, Aloy datang membawa dua gelas minuman. Nih," katanya sambil menyerahkan satu gelas pada Olla. "Biar kamu rileks." Olla tersenyum. "Makasih, Mas." Ia meminum perlahan. Rasanya sedikit aneh, tapi ia tak terlalu memikirkannya. Pikirannya justru dipenuhi rasa lega. Mungkin ini awal yang baru. Mungkin Aloy benar-benar berubah. Beberapa menit berlalu. Olla mengerutkan kening. Kepalanya terasa berat. Pandangannya sedikit berputar. "Duh." Olla mengusap pelipis. "Kepalaku kenapa, ya?" Aloy yang duduk di seberangnya langsung bangkit. Wajahnya tampak panik. "Kamu kenapa, La?" tanyanya dengan nada cemas yang terdengar meyakinkan. "Nggak tahu, Mas. Tiba-tiba pusing." Olla mencoba berdiri, tapi lututnya terasa lemas. Ia kembali duduk. Aloy menuntunnya perlahan. "Kamu duduk saja. Aku ambilin sesuatu." Ia melangkah cepat ke kamar. Begitu pintu tertutup, wajahnya berubah. Tak ada lagi kepanikan. Yang ada hanya ketenangan dingin. Aloy membuka lemari, mengambil map cokelat yang sejak lama ia simpan. Di dalamnya terselip beberapa lembar dokumen, sertifikat rumah, tanah, dan kendaraan. Semua hasil kerja keras Olla. Aloy menatapnya sejenak, lalu tersenyum puas. Ketika ia kembali ke ruang tamu, Olla terlihat semakin lemah. Matanya sayu, pikirannya terasa melayang. "Sayang," kata Aloy lembut sambil duduk di sampingnya. "Aku mau minta tolong." Olla mengangkat wajahnya perlahan. "Apa, Mas?" "Kamu tanda tangan di sini, ya." Aloy membuka map dan menunjukkan dokumen itu. "Aku mau ikut investasi emas sama temanku. Lumayan buat masa depan kita. Tapi perlu tanda tangan istri." Olla menyipitkan mata, berusaha fokus. Tulisan-tulisan di kertas itu terlihat kabur. "Ini apa, Mas?" tanyanya pelan. "Cuma syarat administrasi," jawab Aloy cepat. "Kamu percaya aku, kan?" Kepercayaan. Kata itu menampar hati Olla. Ia mengangguk lemah. "Iya, aku percaya." Tangannya gemetar saat memegang pulpen. Dengan sisa kesadarannya, Olla menorehkan tanda tangan di tempat yang ditunjukkan Aloy. Ia tak tahu bahwa goresan tinta itu akan mengubah seluruh hidupnya. Aloy menutup map itu dengan cepat. "Kamu istirahat saja dulu," katanya sambil membantu Olla berbaring. "Nanti juga enakan." Olla memejamkan mata, kepalanya semakin berat. Dalam benaknya, bayangan masa lalu berkelebat, hari-hari ketika ia menolong Aloy, ketika ia percaya cinta cukup untuk bertahan. Sementara itu, Aloy berdiri di ambang pintu kamar, menatap tubuh istrinya yang terlelap. "Terima kasih, Olla," gumamnya pelan. "Kamu memang selalu terlalu baik." Di luar sana, matahari bersinar terang. Tapi di dalam rumah itu, kehancuran Olla baru saja dimulai. Aloy berdiri beberapa saat di depan kamar, memastikan napas Olla teratur dan tubuhnya benar-benar terlelap. Ia melangkah mendekat, menatap wajah perempuan yang selama ini telah menghidupinya, membelikan rumah, kendaraan, bahkan memberinya status sebagai suami. Namun, di mata Aloy kini tak ada rasa bersalah. Yang ada hanya kelegaan. Ia kembali ke ruang tamu. Olla tertidur di sofa, kepalanya miring, tangannya terkulai lemah di sisi tubuh. Gelas minuman masih tergeletak di meja, isinya hampir habis. Aloy meraih map cokelat itu sekali lagi, memastikan semua dokumen berada di dalamnya. Sertifikat rumah, tanah, dan mobil, semuanya sudah lengkap, sudah sah, sudah berpindah kuasa. Aloy menarik napas panjang, lalu berbalik menuju kamar. Ia mengambil tas yang telah ia siapkan sejak lama. Beberapa pakaian, dompet, ponsel, dan kunci mobil ia masukkan tanpa ragu. Tak ada satu pun barang Olla yang ia sentuh lagi. Langkahnya berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menoleh ke arah Olla yang masih tertidur pulas, tak tahu apa pun tentang pengkhianatan yang baru saja terjadi. "Maafin aku, sayang, aku cuma manfaatin kamu selama ini. Aku lebih cinta sama Niar, kamu memang cantik tapi kurang menggoda," ucapnya lirih. Pintu pun tertutup pelan. Mesin mobil dinyalakan, lalu perlahan menjauh dari rumah itu meninggalkan Olla sendirian, terlelap dalam mimpi, sementara hidupnya telah dirampas tanpa ia sadari.Charol tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya santai, ada kilat licik tipis di matanya. "Mbak dandan yang cantik. Pakai baju yang aku belikan kemarin. Terus mbak pergi ke apartemen. Nanti aku kirim alamatnya. Itu apartemen Niar, temenku, sekaligus selingkuhan Aloy."Suli menghentikan gerakan sendoknya. Alisnya berkerut, bukan karena bingung, tapi karena cemas. "Aku ngapain di sana, Mbak?""Mbak duduk aja di taman depan apartemen itu. Pura-pura foto-foto selfie," lanjut Charol dengan nada tenang, seolah menjelaskan rencana piknik. "Tenang, Mbak nggak usah takut. Nanti Aloy pasti datang ke apartemen itu. Nah, otomatis dia bakal nyapa Mbak. Mbak pura-pura kaget ya. Terus ajak dia ke mana gitu buat ngobrol-ngobrol. Aku bakal kasih arahan lewat chat."Suli mengangguk pelan. "Kalau aku salah ngomong gimana, Mbak?"Charol menyesap susunya, lalu meletakkan gelas perlahan. "Makanya aku bilang, santai aja. Mbak jadi diri Mbak sendiri. Nanti aku yang atur alurnya."Suli menghela napas pa
Rumah kontrakan itu masih terasa asing, meski sejak sore tadi Charol dan Suli sudah bolak-balik mengatur barang.Dindingnya polos, lantainya dingin, dan hanya ada beberapa perabot sederhana, sofa dua dudukan, meja kayu, serta kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan.Senja telah berganti malam. Lampu kuning temaram menciptakan bayangan lembut di wajah kedua wanita itu saat mereka duduk berhadapan.Suli memeluk bantal kecil di dadanya. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil sejak kejadian di rumah sakit. Sesekali matanya menatap lantai, seolah takut kenangan siang tadi kembali menyeruak.Charol menuangkan air hangat ke dua cangkir. Ia menyodorkan satu pada Suli. "Minum dulu. Biar tenang.""Terima kasih, mbak," jawab Suli lirih. Jemarinya gemetar saat menerima cangkir itu.Mereka terdiam sejenak. Hanya suara kipas angin dan jam dinding yang terdengar.Charol mengamati Suli dari sudut matanya, wanita itu masih muda, wajahnya lembut, tetapi garis kelelahan tampak jelas. Bukan kele
Langkah Charol dan Suli terhenti tepat di samping mobil. Matahari pagi belum terlalu tinggi, namun panasnya sudah terasa menekan kulit. Suli hendak membuka pintu ketika suara serak dan bau alkohol menyergap dari arah belakang."Wah, wah, wah … Suli."Suara itu membuat tubuh Suli menegang. Wajahnya seketika pucat, napasnya tercekat di tenggorokan. Seorang pria dengan pakaian kusut dan mata merah berjalan sempoyongan ke arah mereka. Langkahnya tidak stabil, namun senyum liciknya jelas terlihat."Kamu sekarang hidup enak, ya," lanjut pria itu sambil tertawa kecil. "Punya bos cantik, tajir pula. Pantesan lupa sama suami sendiri."Suli refleks mundur, bersembunyi di balik tubuh Charol. Tangannya gemetar, kukunya mencengkeram lengan Charol seolah mencari perlindungan terakhir."Herman." Suara Suli nyaris tak terdengar.Charol berbalik, menatap pria itu dari ujung kepala hingga kaki. Nalurinya langsung menangkap sesuatu yang tidak beres, bau alkohol menyengat, tatapan kosong bercampur agresi
Pagi itu udara di sekitar rumah sakit terasa sejuk. Matahari belum terlalu tinggi, cahayanya menembus sela-sela pepohonan yang tumbuh rapi di halaman depan.Charol melangkah pelan di lorong rumah sakit sambil membawa paperbag putih di tangannya. Di sampingnya, Suli berjalan dengan wajah tegang namun penuh harap.Sesampainya di depan ruang perawatan anak, langkah Suli melambat. Tangannya sedikit gemetar saat mendorong pintu.Di atas ranjang, Lala tampak duduk bersandar dengan selang infus di tangan kecilnya. Wajahnya masih pucat, namun matanya berbinar ketika melihat ibunya datang."Ibuk!" serunya lirih tapi penuh semangat.Suli segera menghampiri, duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan putrinya. "Gimana keadaan kamu, Nak?" tanyanya lembut, menahan getar di suaranya."Udah agak mendingan, Buk," jawab Lala polos. "Sakitnya nggak begitu kerasa kayak kemarin."Suli menghela napas lega. Matanya berkaca-kaca, lalu ia mengusap kepala Lala dengan penuh kasih. "Syukurlah, Ibuk takut kamu
"Oh, aku nggak kenal kok, Cha. Dia itu tadi njatuhin sendok, aku cuma bantu ngambilin aja," jawab Aloy ringan, nyaris tanpa beban.Charol mengangguk kecil, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Hem, dasar pembohong. Pandai sekali kamu memainkan peran, Aloy," batinnya. Namun wajahnya tetap tenang, nyaris tak menunjukkan apa pun selain ketertarikan yang wajar."Oh gitu," ucapnya singkat.Pelayan datang menghidangkan pesanan. Aloy mulai terlihat lebih santai, bahkan sempat tertawa kecil menceritakan hal-hal remeh, seolah lupa bahwa ia sedang duduk bersama perempuan yang kelak akan menghancurkan hidupnya perlahan.**Sementara itu, di apartemen mewah, Niar mondar-mandir dengan wajah bosan. Televisi menyala, tapi tak satu pun acara menarik perhatiannya."Aduh, kok laper, ya. Cari makan ah. Aku pengin makan di restoran mewah," gumamnya sambil berdiri. "Hasil manggung kemarin juga masih banyak."Ia berganti pakaian dengan cepat, gaun pendek warna hitam yang membalut tubuhnya dengan pas, make u
Malam turun perlahan, membawa hawa dingin yang menyelinap lewat celah jendela kontrakan kecil itu.Di dalam kamar sempit yang kini dipenuhi aroma parfum mahal, Suli berdiri kaku di depan cermin. Gaun hitam selutut membalut tubuhnya dengan pas.Rambutnya yang biasanya diikat sederhana kini tergerai rapi, ujungnya dibuat sedikit bergelombang.Tas branded menggantung di lengannya, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan yang masih terasa asing dengan kemewahan.Ia hampir tak mengenali dirinya sendiri.Pintu kamar terbuka pelan.Charol bersandar di kusen, memperhatikan dari ujung kepala sampai kaki. Senyum tipis penuh penilaian menghiasi wajahnya."Cantik," ucapnya pelan tapi tegas. "Bukan cantik pembantu. Cantik perempuan sosialita."Suli menelan ludah. "Saya masih deg-degan, Mbak.""Wajar," sahut Charol sambil melangkah mendekat. Ia merapikan sedikit bagian bahu gaun Suli. "Tapi ingat, mulai malam ini kamu bukan Suli pembantu. Kamu Suli, wanita kaya yang lagi bosan dan ingin ca

![Without You [Indonesia]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)





