Mark melangkah dengan langkah berat menuruni tangga besi berderit yang menuju ruang bawah tanah. Suasana lembap, bau karat, dan aroma darah yang mengental menusuk inderanya. Lampu bohlam yang menggantung di langit-langit hanya berayun pelan, menciptakan bayangan panjang dan menyeramkan di sepanjang dinding batu yang dingin. Brak!Pintu besi besar dibuka, pemandangan mengenaskan segera terlihat. Tubuh Zavier tergantung dengan rantai yang menahan kedua tangannya di atas kepala. Punggungnya penuh dengan luka robek akibat cambukan. Darah segar masih menetes, bercampur dengan darah lama yang sudah mengering. Lantai basah oleh cairan merah itu, menyebarkan aroma anyir yang menusuk. Zavier tampak tak sadarkan diri, kepalanya tertunduk, rambutnya berantakan menutupi wajah pucatnya.Mark mendekat dengan tatapan dingin, lalu meraih pergelangan tangan Zavier. Jemarinya menekan nadi di pergelangan itu, lalu berpindah ke leher. Detak jantung Zavier sangat lemah, hampir tak terasa. Mark menarik na
Ruby berlari kecil melewati lorong panjang rumah keluarga Willson. Napasnya memburu, keringat mulai membasahi pelipisnya. Setibanya di dapur yang remang-remang, ia buru-buru meletakkan tempat makan di atas meja kayu besar. Tangannya sedikit gemetar saat merapikan posisi piring, seolah ada beban besar yang menekan dadanya. "Tenang, Ruby ... jangan sampai ada yang curiga," bisiknya pada diri sendiri. Namun, baru saja ia menghela napas lega, sebuah tepukan ringan di bahunya membuat tubuhnya langsung melonjak kaget. Puk! “Astaga!” Ruby hampir menjerit, lalu cepat menoleh. Matanya membulat melihat Rosa berdiri di belakangnya dengan tatapan heran. “Astaga Rosa, kamu mengagetkan aku saja.” Rosa menyipitkan mata, bibirnya melengkung tipis seolah mencurigai sesuatu. “Kenapa kamu tegang sekali? Ada apa?” Ruby buru-buru menggeleng, berusaha menutupi rasa paniknya. “N-nggak … nggak ada apa-apa. Aku hanya … kaget saja.” Rosa menatapnya sejenak, sebelum kemudian menyampaikan pesannya dengan n
“Bawa cambuk besi itu kemari!” perintah Mark.Eliza yang semula menunduk, seketika mendongak.Salah satu pengawal mengangguk dan keluar sebentar, lalu kembali dengan membawa sebuah cambuk panjang. Cambuk itu bukan cambuk biasa—terbuat dari kulit hitam tebal dengan ujung-ujung rantai kecil dari besi, yang berkilat dingin di bawah cahaya lampu minyak. Setiap ujung rantai itu memiliki kaitan kecil, tajam, yang bisa merobek kulit hanya dengan sekali sabetan.Zavier membuka matanya, menatap benda itu. Hatinya bergetar, tubuhnya yang lemas tiba-tiba seakan disuntik ketakutan. Ia tahu, sekali saja benda itu mendarat di tubuhnya, dagingnya akan terkoyak. Namun ia tidak berteriak, tidak memohon, hanya menatap lurus ke arah Eliza.“El … kau lihat itu?” Mark berbisik di telinga istrinya, namun cukup keras untuk membuat Zavier mendengar. “Cambuk besi. Setiap sabetannya akan meninggalkan luka seumur hidup. Aku akan pastikan bajingan itu merasakan penderitaan yang tak pernah ia bayangkan.”Eliza me
“Zavier!!!”Ruby menatap nanar ke arah keponakannya yang masih terikat dengan rantai besi di kedua tangan, tubuhnya menggantung lemas di dinding lembab ruang bawah tanah itu. Cahaya temaram dari lampu minyak membuat wajah Zavier terlihat penuh luka, lebam, dan darah kering. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan berat, dan matanya setengah terbuka, hampir kehilangan cahaya hidup.Tanpa pikir panjang, Ruby segera menutup pintu ruang bawah tanah itu dengan cepat, lalu berlari mendekat. “Astaga, Zavier … apa yang mereka lakukan padamu …” suaranya pecah.Zavier mengangkat wajahnya dengan susah payah. Saat menyadari sosok di depannya, ia tertegun, lalu berusaha berbicara meski suaranya serak. “Bi-Bibi … kenapa kau kemari? Ini terlalu berisiko … untukmu.”Ruby menggeleng keras, air matanya menetes jatuh membasahi pipi. “Aku tidak peduli, Nak. Aku tidak bisa diam melihatmu begini. Kau pasti lapar dan haus, kan? Ini …” Ruby membuka keranjang kecil yang dibawanya. Di dalamnya ada
Pagi hari.Suasana di mansion keluarga Willson terasa berbeda. Biasanya lorong-lorong dipenuhi suara tawa kecil para pelayan saat bergegas menjalankan tugas, namun kali ini, hanya ada bisikan-bisikan samar yang penuh ketegangan. “Kau dengar tidak semalam?” ucap seorang pelayan wanita.“Apa?“Pelayan wanita itu hendak bicara, tapi dia tK sengaja melihat seorang anak buah Mark yang melintas.“Ssttt, nanti saja ada orang. Nanti aku ceritakan.”Setiap orang berjalan dengan wajah muram, mata mereka saling melirik, seakan membawa rahasia besar yang tak sanggup diucapkan lantang.Kabar itu menyebar cepat—bahwa Zavier, pelayan muda yang selama ini dikenal ramah, sopan, dan rajin, telah berani menodai sang Nyonya, Eliza Willson. Desas-desus itu terdengar pertama kali dari mulut penjaga yang malam sebelumnya mendapat perintah langsung dari Mark untuk mengosongkan sekitar kamar utama. Cerita berkembang liar, ditambahi bumbu dari mulut ke mulut hingga menjadi gosip besar.“Benarkah Zavier … bera
Mark berdiri tegak, wajahnya penuh bara amarah. Rahangnya mengeras, tatapan tajamnya tak pernah lepas dari Zavier yang masih terkapar di lantai, babak belur. Suaranya menggelegar, dingin namun penuh dendam.“Bawa dia,” ujarnya lantang, menunjuk Zavier dengan telunjuknya. “Masukkan dia ke dalam ruang bawah tanah. Jangan ada yang memberi makan atau minum. Tapi sebelum itu … pukuli dia sampai tak bisa bangun!”Perintah itu bagaikan vonis mati. Dua anak buah Mark, pria bertubuh kekar dengan wajah tanpa ekspresi, langsung maju. Mereka menunduk sedikit memberi hormat sebelum meraih tubuh Zavier dengan kasar.Eliza sontak terbelalak. Tubuhnya gemetar, matanya membesar. “Mark, jangan! Itu terlalu kejam!” serunya dengan suara panik, air mata masih mengalir di pipinya. Namun, teriakan itu hanya disambut tatapan dingin sang suami.“Diam, Eliza,” ucap Mark ketus. “Aku tak akan membiarkan bajingan itu lolos setelah berani menodai keluargaku. Jika kau masih membelanya, aku justru akan semakin curig