MasukMenjelang pernikahanku dengan Damar, aku mengganti pengantin wanita dengan mantan kekasihnya, Sinta Lestari. Semua itu kulakukan karena aku tidak sengaja mengetahui satu hal. Damar menikah denganku hanya karena wasiat terakhir dari ayahku. Alasan kami tidak pernah bersentuhan selama lima tahun hubungan kami, ternyata bukan karena dia khawatir akan penyakit jantungku, melainkan karena dia menjaga dirinya untuk Sinta. Jadi, saat aku tahu bahwa Damar diam-diam membangun rumah tangga lain bersama Sinta, aku pun menjual seluruh saham milikku dan pergi ke luar negeri untuk menjalani pengobatan.
Lihat lebih banyakThe air was crisp, Tif could see her breath as she breathed out. Shrugging her shoulders against the cold minus 3 degrees of a normal Montana January morning, she shivered just thinking of it. She looked up only four blocks from her dorms to the cafeteria but it felt like a mile. Who had told her Montana would be a good idea? She couldn’t remember now. Another shiver as she pulled her book bag up onto her shoulder and trudged along.
Tif was not built for this kind of weather her thin frame had didn’t hold heat well. Even in the biggest fluffiest jacket she could find she felt the cold seep in. She had pulled her long red hair into bun and pulled the beanie over it and around her ears but she could still feel the freezing air around her neck and cheeks. If it wasn’t for the credits she was getting for the classes she was taking she would drop everything and rush back home to SoCal yesterday if she could have. But with the new semester only just started she would tough it out. She reached for the handle on the door to the cafeteria when it came flying open as a young man came bursting through. Tif was inches away from being smacked right in the face with the door. The boy she thought only gave her a nod and a gleeful “oh sorry” and he rushed past her. She huffed and turned to enter the building when an odd scent caught her off guard, that guy had a strong woodsy smell to him that gave Tif a moments pause something deep down in her memory trying to brake free. Then it was gone and she shivered yet again and rushed inside out of the ice box they call winter. Once inside she gave herself a little shake and looked around to see who was in the dinning hall. She spotted Mary and Jillian already sitting at a table. Mary looked up and smiled giving her a wave. Tif waved back and headed for the food line. She grabbed her breakfast paid and headed for the girls. Plopping herself down in a chair she signed and greeted her friends. “Mother of all that is holy, how do you live in this weather for more than a year?” Mary laughed patting her friend on the shoulder “you’ll get used to it.” Mary a sixth generation Montanan had lived her whole life on the high line only moving for college and claiming she was going back to that barren waist land of nothing but wheat fields and boredom once she was done with school. Tif chugging her first cup of coffee nearly scolding her throat as it went down coughed and repaid “Oh hell no ma’am as soon as I graduate is the last time you will see this girl anywhere there is snow and ice” Jillian and Mary both laughing only shook their heads at their poor out of place Californian friend bundled in they were sure was at least five layers. They all smiled at each other and laughed again. Chatting as they went over class notes and finished breakfast killing time before heading to their first classes of the day. It wasn’t until they wear standing to go that Tif remembered the odd smelling guy and in passing mentioned how he had coming blasting out of the doors nearly hitting her. Mary frowned and shook her head. “Jesus guys here can be so fucking rude.” Jillian said pulling her jacket on. Tif nodded thinking back to his scent. “My gos Tif was he hot or something your blushing” Mary said while nudging her. Tif blinked and brushed her fingers over her cheeks feeling the heat coming from them. “What… No, I mean I don’t know, I’m not even sure I saw his face. But he smelled.” Mary scowled wrinkling her nose. “Eww like bad?” Tif shook her head pressing her fingers to her cheeks. “No he smelled good, like I don’t think I have ever smelled a guy that smelled like that before. I wonder what kind of cologne it was.” She bit her lower lip thinking of his scent as they walked out into the bright light of a new freezing day. Hoping that maybe she would run into his smell again, but knowing it probably wouldn’t happen.Lamaran yang mendadak dan tanpa ancang-ancang ini membuatku tertegun seketika. Detik demi detik berlalu, entah sudah berapa lama waktu berjalan. Yang kuingat hanyalah diriku berdiri seperti patung di tempat, menatap wajah William yang waswas.Tampak jelas dia menggigit bibir, seolah telah mengambil keputusan besar. Meskipun hatinya dipenuhi kegelisahan dan ketakutan, dia tetap mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan kata-kata itu.Akhirnya, di bawah tatapannya yang dipenuhi harap dan ketegangan, aku perlahan mengangguk dan memaksakan diri berkata, "Iya."Jawaban sederhana ini terasa seperti menguras seluruh tenaga dalam tubuhku. Setelah menerima lamarannya, hatiku perlahan tenang dan mulai memikirkan kehidupan kami di masa depan.Selama ini, setelah melewati begitu banyak hal, aku mulai memahami banyak hal dalam hidup. Aku tahu, selama aku bisa menjadi kuat dan mandiri, aku tidak perlu lagi takut pada luka yang mungkin dibawa oleh cinta.Kurasa, meskipun aku akan hidup bersamanya se
Begitu salah satu dari mereka mencoba meraba dadaku dengan tangannya yang mesum, aku tanpa ragu langsung mengeluarkan alat kejut listrik dan menghantamkannya ke arah orang itu! Lalu, saat yang lain belum sempat bereaksi, aku langsung menyerang keempat orang sisanya satu per satu!Tak lama kemudian, suara rintihan memenuhi seluruh gang. Kelima orang itu tergeletak di tanah, tubuh mereka kejang-kejang. Aku tidak berpikir panjang dan segera mengeluarkan ponsel untuk menelepon polisi.Siapa pun yang berani menjebakku, biar polisi saja yang cari tahu.Sementara itu, di sisi William ....Dia membuka ponsel dan melihat kotak pesan dari orang yang diberi nama panggilan "Sayang". Begitu membaca bahwa aku akan menjemputnya, dia langsung girang bukan main dan memamerkan pesan itu pada teman-temannya."Lihat nggak? Istriku mau jemput aku! Gimana? Iri 'kan, dasar jomblo!"Teman dekat yang duduk di sampingnya langsung menyikutnya. "Pamer cinta bisa kena kutuk, tahu nggak! Cuma kamu doang yang punya
Waktu berlalu begitu cepat. Baru beberapa hari kemudian aku tahu tentang gosip-gosip di internet. Namun, aku sama sekali tidak merasa pusing karenanya. Hal seperti itu bisa dibersihkan dengan klarifikasi selama ada uang.Berita di internet itu penuh dengan yang benar dan yang palsu, siapa juga yang akan terus-menerus peduli pada urusan kecil yang tidak penting?Rencana Damar untuk menekanku lewat opini publik jelas gagal total. Namun, tindakannya justru memicu ledakan emosi dari Sinta.Sinta bersandar di ranjang rumah sakit sambil menatap layar ponselnya, isi hatinya penuh kebencian yang mendidih. Akhirnya, dia tidak sanggup lagi menahan diri. Ponselnya pun dilempar ke atas ranjang dan dia menggertakkan gigi sambil mengumpat penuh dendam."Ayu! Kamu sudah bunuh anakku, sekarang kamu mau rebut priaku juga? Aku benci kamu!"Seorang perawat yang baru masuk untuk mengganti perbannya, sempat mendengar teriakan itu dan melirik dengan jijik.Awalnya dia hampir percaya dengan drama wanita ini.
"Kamu cuma ngomong gitu karena marah, 'kan? Kamu yang biasanya lembut, mana mungkin bisa bilang hal seperti itu ...."Damar menatapku hampir seperti memohon. Ini pertama kalinya dia menampakkan ekspresi seperti itu di hadapanku. Mirip seperti ekspresi William waktu menunjukkan lukisan-lukisan lamaku dengan penuh rasa sedih dan bertanya dengan polos apakah aku benar-benar punya tunangan.Namun waktu William melakukannya, ekspresi itu terlihat sangat menyenangkan. Sedangkan saat Damar melakukannya ... hanya membuatku merasa sangat jijik.Mungkin memang begitulah bedanya antara cinta dan tidak cinta. Jadi, aku pun menepis tangannya tanpa ragu."Sejak kamu mengancam nyawaku demi memaksaku menandatangani surat saham, saat itu juga, semua perasaan antara kita sudah selesai."Bibir Damar bergerak sedikit, tapi tak ada kata yang keluar. Apa pun yang dia katakan sekarang, terdengar sia-sia. Dia tidak pernah menyangka, wanita yang dulu begitu mencintainya ... bisa pergi sejauh ini darinya.Bahka
[ Tunangan apanya! Dia itu cuma bajingan licik yang penuh tipu daya! Untung kekasihku ini cerdas, bisa tahu perselingkuhan dia sebelum menikah! Kalau nggak, bukankah itu sama saja masuk ke neraka? ][ Gini maksudku, Kak ... kenapa kamu nggak selidiki dulu sebelum bicara ke aku? Gimana kalau aku ini
Aku juga akhirnya tahu, ternyata kakinya cedera karena kecelakaan saat balapan motor dengan teman-temannya. Untungnya masih bisa sembuh total. Kalau tidak, pasti sudah habis tangisnya."Aduh bosan sekali .... Kak Ayu, aku benar-benar kagum deh, bisa duduk seharian di sini tanpa ngapa-ngapain!" Willi
Bukan karena aku masih berharap Damar punya perasaan padaku. Aku hanya tidak suka repot. Aku tidak ingin ada hubungan yang tidak jelas dengan mantan. Dia sudah mendapatkan perusahaan keluargaku dan bisa menikahi wanita yang benar-benar dia cintai ... seharusnya dia bisa bersikap tenang dan tahu diri
Suara dari luar perlahan menghilang, bahkan tidak ada satu respons dingin pun yang kudengar darinya.Waktu terus berlalu. Saat aku hampir putus asa, pintu kamar akhirnya terbuka dengan suara berderit yang pelan. Namun yang berdiri di hadapanku bukanlah Damar, melainkan Sinta dengan ekspresi wajah ya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan