Share

BAB 46 - Leon Diancam

Penulis: Anna Naura
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 23:32:24
Hanya dalam satu jentikan tangan, Thomas dalam memerintah seluruh anak buahnya untuk menerjang Rose dan Leon. Belasan orang yang mengepung mereka maju mendekat bersamaan.

Cade sontak berteriak, “Jangan lepaskan Rose, Leon!”

Leon menggigit bibir. Dia mendengar jelas perkataan Cade, tapi dia merasa tidak bisa memenuhinya. Para Riders tidak lagi membidiknya, melainkan menerjangnya dengan pisau di tangan. Terpacu oleh waktu dan banyaknya target yang harus dia tembak, perhitungan Leon menjadi kur
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 127 - Latihan dengan Shin

    Dua hari Rose dan teman-temannya berada di Versille, memanfaatkan waktu secara penuh untuk beristirahat. Alan memeriksa luka Cade yang hampir sembuh, memastikan tidak ada luka fatal lagi yang terbuka. Selama dua hari itu pula, Rose banyak belajar soal bertarung. Karena menekan pistol akan menarik perhatian, Rose jadi harus memulai dengan berkelahi tangan kosong.Cukup melelahkan memang, apalagi bagi Rose yang tak pernah sekalipun menggerakkan tangan dan kakinya untuk menyerang seseorang. Namun, berkat dukungan semua temannya yang membantu, semangat dalam diri Rose membara. Dia bertekad untuk menguasai berbagai cara bertarung di sisa waktunya sebelum memasuki Sanctuary Dome.“Apa kamu tak melihat target sebesar itu?!” tukas Shin, menunjuk sebuah papan penunjuk kecil terbengkalai yang dia pasang beberapa meter di hadapan Rose.Saat ini, mereka sedang beristirahatlah sejenak di tengah jalan. Mereka bermalam di tanah lapang, tanpa ada siapa pun, sehingga aman jika Rose ingin belajar me

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 126 - Latihan Menembak

    Cade tidak menjawab saat Rose melontarkan pertanyaan untuk memastikan. Dia hanya diam tertunduk, sedikit menyingkir dari Rose. Lalu kembali melepas perban yang tersisa.“Apa kamu lupa?” kata Rose lagi, masih menatap Cade walau pria itu menghindari matanya, “sudah pernah kubilang, kan, bahwa kamu harus tetap bersamaku, karena kamu yang membawaku keluar dari rumah! Apa kamu mau lari dari tanggung jawabmu?”Rose kira Cade akan terdiam lagi. Tapi rupanya tidak. Kali ini, dia membalas. Dengan lancar, tanpa terbata. Seolah-olah kata-kata itu sudah dia pikirkan sejak lama sampai yakin.“Tanggung jawabku hanya sampai menyelamatkan ibumu, bukan begitu? Aku menawarkan perjalanan untuk itu, tidak seterusnya.” Mata Cade masih fokus pada jari-jarinya yang menyiapkan kain kasa. “Tapi, dari perkataanmu saat diskusi tadi, kamu sepertinya ingin membantu orang-orang lain yang ada di sana. Jadi, andaikata kamu melanjutkan perjalananmu mencari sekutu atau apalah untuk mengubah sistem, aku bisa memil

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 125 - Pikiran Cade

    Dengan sangat berhati-hati, Rose melangkah keluar ruang keluarga, melewati Alan yang sedang tertidur lelap. Dia membuka pintu yang tidak tertutup sempurna, lalu menengok ke arah jalanan. Tidak ada Cade di sana.Rose akhirnya memakai jubahnya, memutuskan mencari Cade di luar. Lingkungan Versille saat malam hari benar-benar lengang. Semua penduduk berada di rumahnya, tanpa ada yang berlalu lalang di jalanan.Pandangan Rose menyapu sekitar, menengok ke sana kemari, selagi dia berjalan semakin jauh dari gedung tempat singgahnya. Malam yang begitu sepi membuat Rose tidak ingin berjalan terlalu jauh. Dia memutuskan mencari ke belakang gedung dan jika Cade masih belum ditemukan, dia akan kembali tidur.“Ah, benar dia di sana rupanya,” ucap Rose ketika dia mengintip dari balik tembok gedung.Di belakang gedung tempat mereka singgah memang ada tanah kosong yang luasnya sebesar setengah lapangan futsal. Akses masuknya hanya dari lorong sempit yang merupakan jarak antar gedung. Entah tanah l

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 124 -- Prioritas

    Semuanya mematung sejenak mendengar jawaban Alan yang begitu lugas dan yakin. Tanpa adanya keraguan sedikit pun di dalamnya. Seisi ruangan hening sampai terdengar Shin terbahak.“Baik, itu mustahil sekarang,” kata Shin, kelihatan menyerah soal mengubah sistem.Rose dengan polosnya bertanya, “Memangnya, kalian dan Hunters benar-benar tidak akan bersatu? Selamanya?”“Aku sudah bukan Riders, oke?” Shin mendesah berat. “Jawabannya ... tidak akan selama Thomas dan River mendominasi semua anggota Riders.”“Bukannya pemimpin Riders ada satu lagi? Kalau tidak salah, Cade saat itu memberitahuku. Roland ... bukan?” Rose mengusap-usap dagu, berusaha mengingat.Cade menimpali, “Untuk saat ini, Roland tak bisa mengambil alih Riders selama dua orang gila itu masih hidup. Kalau mau menggerakkan Riders di bawah Roland, baik Thomas ataupun River harus dimusnahkan terlebih dahulu.”“Tapi itu juga mustahil,” sahut Shin langsung, “mereka sama-sama punya pengabdi setia yang cukup banyak.”Rose kemu

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 123 - Riders dan Hunters

    Suasana di Versille cukup menguntungkan bagi para pengelana. Penduduknya tidak terlalu peduli dengan pendatang. Tidak ada yang bertanya-tanya ataupun sok akrab. Penghuni satu bangunan pun hanya menyapa sekenanya, tanpa bertanya dari mana asal mereka dan mau ke mana.Pasar di wilayah ini pun cukup lengkap. Ada bahan bakar, persediaan makanan juga lumayan melimpah. Setidaknya, Rose dan teman-temannya bisa makan sesuatu yang lebih enak dari hari-hari kemarin.Sembari menyantap roti gandum dengan isian daging kelinci dilengkapi berbagai sayuran, Rose duduk bersila di antara teman-teman prianya yang membentuk lingkaran. Mereka sedang berdiskusi, menyusun rencana penyusupan.Alan baru saja selesai menggambar denah Sanctuary Dome di lantai yang tak berkeramik. Semuanya memandangnya saksama, baru mengetahui betapa luas wilayah berkubah itu.“Lihat ini. Seluruh Sanctuary Dome tertutup oleh kubah kaca besar. Lalu di luarnya, masih ada tembok cukup tinggi yang mengelilinginya. Gerbang masuk

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 122 - Singgah di Versille

    Perjalanan mereka menuju Versille berjalan dengan lancar hingga pagi datang. Tak ada mobil yang berlalu lalang selain mereka. Ini pertanda bagus, karena tak ada yang memiliki mobil dengan bahan bakar cukup selain Riders dan Hunters. Beberapa pengelana mungkin punya mobil pribadi, tapi jarang sekali ada yang mampu merawatnya di tengah kondisi seperti ini.Jalur Utara memang sepi, tapi bukan berarti tak pernah dilalui. Beberapa kali Rose melihat sekelompok pengelana atau pengembara yang sendirian, berjalan di tepi jalan beraspal.Rose membuka sedikit jendela mobil, lalu menyandarkan kepala di pintu. Membiarkan angin luar yang cukup kencang karena mobil melaju cepat menyapa wajah dan rambutnya. Mata Rose melihat bayangan-bayangan gedung di kejauhan—bulan Versille—yang sangat kecil dan tampak kabur.Suasana wilayah ini benar-benar damai. Tenang, sejuk, membuat hati siapa pun yang melewatinya merasa tenteram. Rose baru ingat, bahwa dia dan teman-temannya belum sempat bernapas lega sejak

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 2 - Tertangkap

    Rose tak lagi mendengar langkah kaki pria itu. Tangannya mulai membuka pintu lemari, tapi hatinya masih bimbang. Apakah pria itu sudah sungguhan pergi?Udara pengap di dalam lemari membuat Rose tak bisa bersembunyi lama. Dia pun keluar dari lemari, berjalan memeriksa keadaan dengan pelan. Hingga ka

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 5 - Kabur dari Cade

    Cade terbahak mendengar Rose mengatakan seluruh kalimat tadi dengan penuh tekad. Gelak tawanya menggelegar di ruang bawah reruntuhan yang cukup sempit itu. Dia tertawa seperti sedang melihat lelucon di televisi, jelas sedang mengejek Rose.Cade berkata, “Apa kamu bilang? Mau membawanya kabur? Kamu

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 4 - Makan Bersama

    Beberapa waktu kemudian, mata Rose mulai terbuka perlahan. Tak tahu sudah berapa lama dia kehilangan kesadaran. Dia mengira akan disambut oleh cahaya menyilaukan, tapi ternyata tidak. Ketika matanya sepenuhnya terbuka, yang ditatapnya justru langit-langit reruntuhan bangunan.Sekitarnya gelap, tapi

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 3 - Pingsan

    “Oh, aku hampir lupa,” gumam Cade.Baru beberapa meter dari tempat tinggal Rose, Cade berhenti melangkah. Dia berbalik menghadap Rose sembari merogoh isi ransel besarnya. Tangannya menarik keluar sebuah jubah hitam besar bertudung dari ransel tersebut.Cade melemparkan jubah itu pada Rose yang bera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status