登入Pertanyaan terakhir Leon tidak bisa Cade jawab. Dia hanya menggerakkan gigi, menahan kesal yang sudah menjalar ke ubun-ubun. Dalam lubuk hatinya, dia memang ingin melakukan apa saja untuk Rose. Namun, naluri manusianya tentu menolak maut.Bagaimanapun, Cade tetaplah manusia biasa yang takut mati.Cade mendorong Leon hingga terjatuh lagi ke tanah. “Kalau dipikir-pikir, dari awal ini salahmu. Kamu tidak punya informasi terbaru, lalu membawa kita melewati wilayah dekat kekuasaan Riders.”“Ya, memang. Tapi kamu juga dari awal membawa masalah. Kalau Rose tahu lebih awal bahwa kamu anggota Riders, dia tak akan mau berkelana denganmu.” Leon mencebik, tidak terima dirinya seorang saja yang disalahkan. “Dan kamu juga percaya-percaya saja padamu. Salah siapa sekarang?”Muak dengan semua balasan Leon, Cade kembali memukulnya. Kali ini, Leon tidak tinggal diam. Dia balas memukul Cade, sampai keduanya terlibat dalam baku hantam yang serius.Beberapa meter dari mereka, Rose yang sudah dipaksa
Hanya dalam satu jentikan tangan, Thomas dalam memerintah seluruh anak buahnya untuk menerjang Rose dan Leon. Belasan orang yang mengepung mereka maju mendekat bersamaan. Cade sontak berteriak, “Jangan lepaskan Rose, Leon!” Leon menggigit bibir. Dia mendengar jelas perkataan Cade, tapi dia merasa tidak bisa memenuhinya. Para Riders tidak lagi membidiknya, melainkan menerjangnya dengan pisau di tangan. Terpacu oleh waktu dan banyaknya target yang harus dia tembak, perhitungan Leon menjadi kurang akurat. Decakan kesal keluar dari mulut Leon saat beberapa tembakannya meleset. Banyak Riders tumbang olehnya, tapi yang datang menerjang masih lebih banyak lagi. Tak ada waktu bagi Leon untuk mengisi pelurunya lagi. Begitu pelurunya habis, dia beralih mempertahan diri dengan belatinya. Akan tetapi, bertarung jarak dekat dalam posisi dikeroyok jelas lebih sulit. Jika memakai pistol, Leon bisa mencegah para Riders mendekat padanya. Sementara belati hanya bisa melukai lawan dalam jarak dek
“Balik arah, Leon! Cade dalam bahaya!” teriak Rose, meronta minta dilepaskan.Cade bisa mati jika dibiarkan melawan semua Riders sendirian. Dan Rose jelas tak mau itu terjadi.Leon mendengus kesal, “Hei, aku sudah bilang Cade bisa menanganinya, kan?!”“Dia memang Riders, tapi dia sendirian! Lawannya ada banyak! Dan kamu pasti tahu, kalau mereka tidak akan mengampuni anggota yang memisahkan diri. Mereka akan memenggal Cade!” tukas Rose.“Lalu apa gunanya aku membawamu sejauh ini kalau kembali lagi? Cade akan memarahiku, tahu!” balas Leon tak mau kalah.“Jangan pedulikan ucapan Ca ....”Suara Rose mengecil begitu deru motor melahap seluruh keberaniannya. Sekujur tubuhnya kembali dingin. Matanya melihat beberapa titik cahaya yang mendekat dengan cepat. Belum sempat Rose terkejut, cahaya yang berasal dari lampu motor itu sudah berada di sekelilingnya.Langkah Leon terhenti. Rose bisa merasakan cengkeraman tangan Leon pada pinggangnya mengencang. Mereka dihadang. Belasan motor dat
Suara Leon yang merintih pelan membuat hati Rose langsung merasa lega. Dia mengusap air matanya, ujung bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. Leon yang telentang mulai beranjak bangun sambil merintih kesakitan. Bibirnya sobek, mengeluarkan darah hingga ke dagu. Rambut pirangnya berantakan, kuncirannya nyaris terlepas. Jubah juga sobek di sana-sini, tapi berkat itu, tubuhnya tidak terluka terlalu banyak.Yang paling parah sepertinya adalah Cade. Tak lama setelah Leon bangun, Cade yang jatuh tertelungkup pun mengangkat kepalanya. Dan Rose melihat darah mengalir dari dahinya, menetes di ujung dagu. Jaketnya pun sobek di bagian lengan dan punggung, menampakkan kulit yang tergores dalam.“Cade, kepalamu ....” Rose hendak menghampiri Cade untuk memeriksa kepalanya, tapi Cade lebih dulu mendekat padanya dengan wajah panik.Mata membelalak. Urat muka tegang. Mimiknya saat berlari ke arah Rose seakan sedang melihat sesuatu yang sangat menyeramkan.Rose awalnya bingung. Namun, begitu
Setelah Cade memberikan instruksi, dia dan Leon menaiki motor masing-masing, bersama-sama menghitung mundur untuk menyalakan mesinnya.BRUMMM!“Sial, kencang sekali suaranya,” desis Leon begitu deru motor melengking tinggi.“Sudah, ayo cepat pergi! Pegangan, Rose!” tukas Cade yang langsung menarik gas, membuat motor melaju dalam kecepatan penuh.Rose hampir saja terjungkal ke belakang kalau tidak berpegangan pada Cade. Dia kira kecepatannya tidak akan sekencang itu. Angin malam yang menerpanya mengempas tudungnya ke belakang, menampakkan rambut panjang yang helainya beterbangan.Buru-buru Rose menariknya kembali, memegangi kerah jaketnya agar tudungnya tidak lepas lagi. Satu tangan memegang tudung, satu lagi melingkar di badan Cade.“Dekatkan tubuhmu, Rose! Kita melaju dengan cepat, jangan sampai kamu terlepas,” tukas Cade.“Ba-baik!” jawab Rose.Dengan gugup, Rose memajukan tubuhnya hingga menempel dengan punggung Cade. Canggung sekali rasanya. Namun, dia jadi bisa mendekap
“Perhatian, penduduk Moores seluruhnya! Wilayah ini telah kami tentukan sebagai salah satu wilayah kekuasaan Riders! Silakan berikan upeti berupa seratus ribu Goldyn per orang. Kalau tidak punya, berikan barang paling berharga kalian. Kalau masih tidak punya apa pun untuk upeti ... maka kami akan jadikan kalian abdi kami.” Suara berat penuh tekanan yang menghantui malam para penduduk Moores menggema di seluruh gang dan jalanan. Orang-orang sontak terbangun, tertatih-tatih melihat siapa yang mengacaukan tidur mereka. Dan saat mereka tahu siapa yang telah datang ke rumah mereka, semua langsung berteriak panik. Jeritan para warga membuat Tommy, Riders yang bertugas memberi pengumuman itu berseru. “BERISIK! Daripada berteriak seperti orang gila, lebih baik kalian segera menyiapkan upetinya! Kami akan segera mendatangi kalian satu per satu, dasar manusia rendahan!” Dari reruntuhan tempatnya singgah, Rose bisa melihat seberapa banyak yang datang dari lantai tiga. Dia mengikuti Cade dan
“Nona, apa benar namamu Rose? Beritahu aku nama lengkapmu, dong.” Kalimat itu sudah berkali-kali Leon tanyakan pada Rose hingga tak terhitung. Rose belum bisa menghilangkan kebenciannya pada Leon yang bahkan lebih besar dari kebenciannya pada Cade dahulu. Dia selalu menghindar setiap Leon mengaja
“Aku menyuruhmu membuangnya, tapi kenapa kamu malah memungutnya?!” Rode berteriak marah ketika melihat Cad kembali dengan menyeret Leon dan membantunya naik ke mobil. Cade tidak menjawab, lanjut menaiki mobil dan melajukannya kembali. “Hei! Jangan abaikan aku!” bentak Rose tepat di samping tel
Leon jatuh terlentang di tanah, terbebani oleh tubuh Rose yang menindihnya. Tanpa ragu, Rose mengangkat tangannya yang mengepal, lalu melayangkannya tepat di wajah Leon.Satu pukulan.Dua pukulan.Tiga, empat, ... dan seterusnya.Tidak ada yang bisa menghitung pukulan Rose dengan tepat karena g
Begitu menyadari kalau pengendara motor itu bisa jadi salah satu Riders, Rose menelan ludah gugup. Badannya merinding, lalu dia berbalik kembali menghadap depan dengan sangat perlahan. Keringat mulai membasahi dahinya.Melihat raut wajah Rose yang mendadak ketakutan, Cade berkata, “Itu bukan Rider







