LOGINEntah mengapa, Wilayah Luar terlihat lebih sepi dari biasanya. Leon dan Shin mengendarai motor masing-masing, tapi saling berdampingan. Keduanya menyusuri jalan utama yang beraspal, benar-benar tidak ada kendaraan lain yang lewat selain mereka. Padahal area yang mereka lewati dekat dengan wilayah kekuasaan Riders milik River.Beberapa hari sudah terlewati sejak mereka berpisah dengan Cade. Sesuai kata Alan malam kemarin saat mereka menghubunginya, Cade berhasil membujuk Rose untuk menjalankan program. Juga berhasil mendapatkan sampel darah Rose yang akan digunakan untuk keperluan penelitian.Keduanya tahu betul apa yang dimaksud dengan menjalankan program. Tentu saja, ada rasa sakit dalam hati mereka ketika mendapat fakta bahwa Rose dan Cade berhubungan seksual. Mereka tak munafik bahwa mereka juga ingin melakukannya dengan Rose.“Andai saja aku yang pertama bertemu Rose, mungkin aku yang berada di sana bercumbu dengannya,” keluh Leon tiba-tiba Shin yang terhenyak mendengar mulut
“Oh, kamu sudah selesai, Ro … se.” Suara Cade terdengar menggantung ketika menoleh ke pintu kamar mandi yang terbuka. Rose keluar sama sepertinya, menggunakan handuk saja untuk membalut tubuhnya. Ini pertama kalinya Cade melihat Rose tidak menggunakan pakaian panjang. Pertama kalinya dia melihat kulit Rose yang cerah dan tampak halus. Cade menelan ludah. Hasrat lelakinya sudah membara, tapi dia tak bisa menerkam Rose begitu saja. Dia membiarkan wanita itu duduk beberapa jengkal di sampingnya, di pinggir kasur. Jujur saja, dia tak tahu bagaimana harus memulainya. Kesunyian yang kembali melanda menandakan betapa canggungnya suasana di antara mereka berdua. Sama-sama tidak ada yang mau memulai duluan. “Kamu … benar tidak masalah?” tanya Cade pada akhirnya, “aku takut menyakitimu.” Rose menjawab cepat, “Tidak. Sudah kubilang kan, kalau itu kamu, aku tak keberatan.” Di akhir kalimat Rose, dia terkesiap hebat mendapati Cade meraih pundaknya. Cade merebahkan tubuhnya dengan cepat
“Kalau itu Cade, aku tidak keberatan.” Rose menegaskan kalimat sebelumnya, disertai senyum manis yang samar. “Asalkan bersama Cade, aku mau menjalankan program ini.”Cade mematung. Mimiknya seakan baru saja mendapat hadiah 500 juta Goldyn. Masih belum percaya, dia bertanya memastikan, “S-sungguh?”“Ya. Aku juga dibutuhkan oleh mereka yang mau meneliti darahku, kan? Jika ini diharuskan demi kepentingan orang banyak, aku tak masalah.” Rose melirik Cade dengan wajah merona. “Tapi, tolong lakukan dengan pelan. Karena ini ... pertama kalinya buatku.”“Ini juga akan menjadi yang pertama kali bagiku,” sahut Cade.Lirikan Rose seketika berubah menjadi pelototan lebar. Mukanya terlipat, sudut bibir kanannya terangkat, menunjukkan ekspresi tidak percaya atas pengakuan Cade.“Kenapa? Kamu tidak percaya? Memangnya, kamu kira aku cowok apaan?” tanya Cade.“Tapi, kamu Riders ... kan? Mustahil kamu tak pernah melakukannya,” tukas Rose.Cade mengusap wajahnya sembari menghela napas pendek. “Su
Rose hanya termenung memandangi Cade, mendengarkan setiap kalimatnya dalam diam. Bibirnya terlihat bergetar, tapi tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.“Jadi kumohon, teruslah hidup bersama kami, Rose,” lanjut Cade.Cade menggerakkan jari jempolnya untuk mengusap air mata terakhir Rose yang mengalir. Dia ikut terdiam setelahnya, menunggu respons Rose yang mulai menarik napas. Rose berkedip sekali, masih mempertahankan tatapannya pada Cade.Jantung Cade berdebar tidak karuan. Bukan karena sedang berdua saja dalam satu ruangan bersama Rose. Melainkan karena menanti respons Rose yang tak bisa dia duga. Dia tak tahu Rose akan menerima perkataannya ... atau justru menolaknya.Sekujur tubuh Cade rasanya menegang. Hingga sebuah senyum tipis terbentuk di bibir Rose. Bersamaan dengan suara pelan yang terdengar lebih tenang.“Terima kasih ... Cade,” ucap Rose, “aku beruntung ada kamu di sini sekarang.”Cade tak kuasa menahan senyumnya. Dia menepuk-nepuk pundak Rose sambil berkata, “
Tatapan Cade berubah sendu melihat raut syok Rose setelah mendengar kabar soal ibunya. Tubuh Rose membeku, kaku seperti patung. Matanya yang membeliak mulai basah kembali. Air mata yang mendadak memenuhi pelupuknya mulai turun ke pipi tanpa dia sadari. Bibirnya yang bergetar bergerak membentuk kata.“Kamu … bohong, kan? Kenapa—eh … bagaimana … bagaimana bisa ibuku dieksekusi?” tanya Rose, “apa karena penelitian itu menggunakan darah miliknya?”“Bukan,” jawab Cade langsung, “Alan bilang, ibumu dieksekusi karena tidak bisa hamil dengan seluruh pasangan programnya. Dia dianggap tidak berguna dan disingkirkan.”Ada nyeri yang menjalar di ulu hati Rose saat mendengarnya. Dadanya sesak tidak karuan. Suara tangisnya pun tidak pecah, membuatnya terisak tertahan.Ibunya mati bukan karena sakit. Atau kecelakaan. Tapi mati karena tidak bisa hamil. Dia dibunuh karena sebuah hal yang berada di luar kuasanya. Alih-alih menangis, Rose justru menunduk dengan tatapan kosong. Meratapi kehidupan di
Melihat sosok Rose yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya, mata Cade pun melebar. Tubuhnya membeku, selagi bola matanya bergerak menyusuri setiap penampilan Rose. Badan terlihat ringkih, bibir pucat dan sedikit kering, kantung hitam tersemat di bawah mata, hingga rambut cokelat panjangnya terurai berantakan. Dia pasti belum makan dan minum selama berhari-hari.Kondisi Rose membuat hati kecil Cade mencelos. Penampilan Rose sekarang bahkan lebih parah daripada saat Cade pertama kali bertemu dengannya di Wilayah Luar. Dia mendekat pada Rose yang masih mematuhi di tempatnya. Raut wajah Rose seperti sedang melihat hantu, terkejut luar biasa melihat Cade yang seharusnya tak ada di hadapannya.“Cade …? Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya Rose dengan suara bergetar, “bukannya … kamu … sudah ditangkap—”Cade menyentuh kedua pundak Rose, membuat mata keduanya bertemu. “Aku baik-baik saja, Rose. Dan Alan yang memanggilku kemari. Demi dirimu.”Rose terkesiap. Kepalanya memutar ingat
Beberapa waktu kemudian, mata Rose mulai terbuka perlahan. Tak tahu sudah berapa lama dia kehilangan kesadaran. Dia mengira akan disambut oleh cahaya menyilaukan, tapi ternyata tidak. Ketika matanya sepenuhnya terbuka, yang ditatapnya justru langit-langit reruntuhan bangunan.Sekitarnya gelap, tapi
“Oh, aku hampir lupa,” gumam Cade.Baru beberapa meter dari tempat tinggal Rose, Cade berhenti melangkah. Dia berbalik menghadap Rose sembari merogoh isi ransel besarnya. Tangannya menarik keluar sebuah jubah hitam besar bertudung dari ransel tersebut.Cade melemparkan jubah itu pada Rose yang bera
Rose tak lagi mendengar langkah kaki pria itu. Tangannya mulai membuka pintu lemari, tapi hatinya masih bimbang. Apakah pria itu sudah sungguhan pergi?Udara pengap di dalam lemari membuat Rose tak bisa bersembunyi lama. Dia pun keluar dari lemari, berjalan memeriksa keadaan dengan pelan. Hingga ka
“Lepaskan! Lepaskan aku, dasar lelaki menjijikkan!”Rose meronta-ronta di balik jaring-jaring yang menutupi seluruh tubuhnya. Entah terbuat dari apa, jaring itu menempel pada kulitnya sehingga dia tidak bisa bergerak bebas. Raungan Rose terdengar makin keras, membuat seorang lelaki yang mendekatiny







