Share

BAB 62

Penulis: Jw Hasya
last update Tanggal publikasi: 2026-05-05 19:40:36

Waktu berjalan lambat di Istana Alderaan. Sejak kepergian Satta seminggu yang lalu, kemegahan istana itu seolah terkikis, digantikan oleh aura dingin yang mencekam. Kamar utama yang biasanya hangat kini tak ubahnya sebuah makam megah tanpa kehidupan.

Di atas ranjang besar berkelambu sutra, Allard terbaring lemah. Wajahnya yang biasa tegas dan angkuh kini pucat pasi, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang menebal. Tubuhnya yang gagah tampak menyusut. Di atas meja kayu di sudut ruangan, nampa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 85

    Kabar tentang sekaratnya Sang Singa Alderaan merambat seperti api liar di antara lorong-lorong dingin istana. Namun, jika di Valeria langit tampak muram dan penuh air mata, di sudut terjauh sayap barat istana—di sebuah ruangan yang dipenuhi aroma kemenyan mahal dan permadani bulu—sebuah seringai kemenangan justru merekah.Zehewa.Adik tiri Allard itu berdiri di balkon, menatap ke arah utara, tempat di mana hutan Valeria bersembunyi di balik kabut. Di tangannya, sebuah cawan perak berisi anggur merah terbaik ia goyang-goyangkan dengan santai. Mantel sutranya yang bersulam benang emas berkilau tertimpa cahaya lilin, memantulkan ambisi yang selama ini ia simpan di balik kedok kepatuhan yang palsu."Dua bulan?" Zehewa bergumam sendiri, suaranya halus namun tajam seperti sembilu. "Terlalu lama bagi seorang penguasa untuk mati, tapi cukup cepat untuk sebuah suksesi."Zehewa meneguk anggurnya dengan satu gerakan mantap. Baginya, penderitaan Allard adalah melodi paling merdu yang pernah ia de

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 84

    Kesunyian Valeria yang biasanya hanya dipecah oleh kicau burung dan gemericik sungai tiba-tiba terusik oleh suara derap kaki kuda yang teratur namun berat. Jhonatan, yang sedang mengasah pisaunya di luar gubuk, adalah yang pertama kali menyadari kehadiran mereka. Sepasukan kecil pengawal dengan jubah yang disamarkan—namun tetap memancarkan aura kemiliteran yang kaku—berhenti di batas hutan. Di tengah-tengah mereka, seorang wanita dengan jubah beludru biru tua yang kontras dengan debu jalanan turun dari kereta kuda sederhana.Ratu Helena.Wajahnya yang biasanya kaku dan penuh wibawa kini tampak pias. Garis-garis kekhawatiran terpahat dalam di sudut matanya yang sembab. Tanpa menunggu pengawalnya membuka jalan, ia melangkah cepat menyusuri jalan setapak yang sempit menuju gubuk kayu Satta.Satta, yang baru saja keluar dari ladang dengan bakul berisi sayuran, terpaku di tempatnya. Ia mengenal sosok itu. Sosok yang dulu pernah ia benci sebagai simbol kekuasaan Alderaan yang menindas. Namu

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 83

    Satta terpaku di ambang pintu, suaranya tercekat di tenggorokan. Kata-kata Jhonatan barusan bukan sekadar peringatan; itu adalah vonis yang dijatuhkan tepat ke ulu hatinya. Dua bulan. Angka itu terasa begitu kerdil dibandingkan dengan kebencian yang ia pelihara, namun terasa begitu raksasa ketika ia menyadari betapa sedikitnya waktu yang tersisa untuk sekadar saling memaafkan.Angin malam Valeria berembus kencang, membawa aroma pinus dan tanah basah. Satta menoleh ke arah teras, di mana Allard masih duduk termenung menatap kegelapan hutan. Pria itu tampak begitu rapuh, seolah embusan angin yang sedikit lebih keras saja bisa membawanya terbang menjadi debu.Satta melangkah keluar, mendekati Allard dengan gerakan yang tidak lagi dipenuhi oleh kewaspadaan yang tajam. Ia duduk di undakan tangga kayu di samping Allard, menjaga jarak yang cukup namun mampu merasakan panas tubuh pria itu yang masih berjuang melawan sisa-sisa racun dan kelelahan paru-parunya."Kenapa kau tidak memberitahuku?"

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 82

    Minggu-minggu berikutnya adalah masa transisi yang aneh. Allard tidak lagi diperbolehkan melakukan pekerjaan berat. Jhonatan melarangnya menyentuh kapak atau memikul air sampai parunya benar-benar pulih. Sebagai gantinya, Satta memberinya tugas yang lebih "ringan" namun jauh lebih menyiksa bagi mental Allard: menjaga Abraham saat Satta bekerja di ladang.Allard duduk di kursi kayu di teras, dengan Abraham di pangkuannya. Mantan penguasa yang dulunya ditakuti karena kekejamannya itu kini tampak bingung menghadapi seorang bayi yang menarik-narik jenggot tipisnya."Dia tidak menggigit, Allard. Dia anakmu," ujar Jhonatan yang lewat sambil membawa hasil buruan.Allard menatap bayi itu dengan penuh pemujaan. "Dia terlalu suci untuk disentuh oleh tangan yang pernah menghunuskan pedang ke arah ibunya sendiri, Jhonatan.""Mungkin itu sebabnya dia ada di sini," sahut Jhonatan filosofis. "Untuk membersihkan tanganmu dengan tawa kecilnya."Sore itu, Satta kembali dari ladang dengan wajah yang lel

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 81

    Keheningan yang mencekam menyelimuti gubuk itu setelah kata-kata terakhir Allard meluncur. Genggaman tangan mungil Abraham pada jari telunjuk Allard perlahan melonggar seiring dengan napas sang mantan raja yang kian dangkal, hingga akhirnya kepalanya terkulai ke samping.Satta membeku. Detik-detik berlalu seperti keabadian. Ia tidak mendengar lagi suara napas yang berat itu. Dunianya seolah runtuh dalam kebisuan."Allard?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Allard, bangun. Kau belum selesai membayar hutangmu. Bangun!"Tidak ada jawaban. Satta menempelkan telinganya ke dada Allard yang dingin. Sunyi. Namun, tepat saat keputusasaan mulai meluap menjadi teriakan, sebuah denyut kecil—sangat lemah dan tidak teratur—terasa di bawah telapak tangannya. Jantung itu masih berdetak, meski hanya setipis benang yang siap putus."Jhonatan! Dia masih hidup! Cepat lakukan sesuatu!" teriak Satta, air matanya tumpah membasahi wajah Allard yang penuh noda darah.Jhonatan segera mendekat. Ia memer

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 80

    Keheningan kembali menyelimuti gubuk itu, namun kali ini keheningan itu terasa lebih tajam, seperti mata pisau yang siap mengiris kulit. Jhonatan akhirnya berdiri, membereskan nampan kayunya tanpa suara. Ia menatap Allard yang masih terpejam dengan napas yang satu-satu."Kau dengar dia, Allard. Jangan berani-berani mati sebelum dia memintamu," ucap Jhonatan rendah, hampir seperti ancaman, sebelum melangkah keluar mengikuti Satta.Begitu pintu tertutup dan Allard benar-benar sendirian, topeng ketangguhan yang tersisa di wajahnya runtuh seketika. Tubuhnya yang besar itu tiba-tiba tersentak hebat. Allard menutup mulutnya dengan telapak tangan, berusaha menahan suara batuk yang meronta dari dadanya yang terasa panas terbakar.Saat batuk itu mereda, Allard menarik tangannya. Cairan merah kental menyelimuti telapaknya, kontras dengan kulitnya yang pucat. Darah itu hangat, namun bagi Allard, itu adalah dinginnya lonceng kematian yang berdentang kian dekat. Ia segera meraup sisa jerami kering

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 12

    Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 14

    Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 13

    “Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 19

    Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status