تسجيل الدخولMalam di kastel Blackwood terasa panjang dan penuh dengan ketegangan yang menggairahkan bagi Lyra. Ia ditempatkan di kamar mewah yang didominasi oleh warna merah gelap dan hitam. Tempat tidur raksasa dengan tiang-tiang kayu jati yang diukir rumit berdiri di tengah ruangan, ditutupi oleh kain sutra yang sangat halus yang terasa seperti sentuhan kulit di permukaan tubuhnya.
Pelayan telah menyiapkan bak mandi besar dengan air hangat yang ditaburi kelopak bunga mawar hitam yang langka. Lyra merendam tubuhnya, mencoba menghilangkan ketegangan yang mendera setiap inci ototnya. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, wajah Kael dan rasa ciumannya kembali menghantui, membuat suhu tubuhnya naik lebih dari sekadar karena air hangat.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka tanpa peringatan. Lyra tersentak dan mencoba menutupi tubuhnya dengan air yang berbusa. Kael masuk dengan langkah pelan namun pasti. Ia telah menanggalkan mantel besarnya, hanya mengenakan kemeja putih tipis yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang berotot dan berkeringat.
"Siapa yang memberimu izin masuk?" tanya Lyra dengan suara gemetar, antara marah dan gairah yang tidak bisa ia sembunyikan.
Kael tidak menjawab. Ia berjalan mendekati bak mandi, duduk di tepiannya yang terbuat dari marmer dingin. Ia mengambil sebuah spons dan mencelupkannya ke air, lalu mulai menggosok bahu Lyra dengan gerakan yang sangat pelan dan sensual.
"Ini kastelku, Lyra. Setiap jengkal tanah di sini adalah milikku. Termasuk setiap embusan napasmu," ucap Kael. Suaranya terdengar sangat rendah dan berat di tengah uap air yang hangat.
Tangan Kael yang besar mulai memijat tengkuk Lyra, lalu turun ke punggungnya yang licin. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan penuh dengan penekanan yang membuat otot-otot Lyra melemas seperti lilin yang dipanaskan. Lyra mendesah pelan, tidak mampu menahan kenyamanan yang diberikan oleh pria yang kini menjadi penguasanya.
"Kau memiliki aroma yang bisa membuat serigala manapun menjadi gila, Lyra," Kael berbisik, wajahnya mendekat hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Lyra. "Bahkan pelayan-pelayan jantanku di luar sana harus kupaksa menjauh agar tidak mencoba mendobrak pintu ini hanya untuk menciummu."
"Apa itu sebabnya kau mengunciku di sini? Karena kau takut mereka akan mengambilku?" Lyra menoleh, mencoba mencari keberanian di balik rasa malu.
"Aku menguncimu agar aku tidak perlu membunuh seluruh pack-ku malam ini," jawab Kael jujur. Tatapannya turun ke bibir Lyra yang kemerahan akibat suhu air dan hasrat.
Kael mengangkat tubuh Lyra dari air tanpa memedulikan pakaiannya sendiri yang menjadi basah kuyup. Ia menyelimuti tubuh telanjang Lyra dengan handuk tebal, namun tangannya tetap berada di sana, membelai lekuk tubuh Lyra dari balik kain. Gairah di mata Kael tidak lagi bisa disembunyikan; ia menginginkan Lyra di sini, sekarang juga.
"Malam ini ada jamuan untuk para petinggi pack," ucap Kael sambil menatap mata Lyra intens. "Kau akan hadir di sampingku. Aku ingin mereka semua melihat siapa yang menjadi milikku, dan siapa yang akan menghancurkan mereka jika mereka berani bermimpi memilikimu."
Lyra mengenakan gaun sutra berwarna merah darah yang disediakan pelayan. Gaun itu memiliki belahan tinggi di paha yang memperlihatkan kulit mulusnya setiap kali ia melangkah, dan potongan rendah di bagian dada yang menonjolkan tanda mate di lehernya. Aroma khas Lyra seolah meledak di udara, memenuhi koridor kastel saat ia berjalan dengan tangan melingkar di lengan Kael yang kokoh.
Di aula jamuan, puluhan petinggi pack duduk mengelilingi meja panjang. Suasana yang tadinya bising mendadak sunyi senyap saat Kael masuk bersama Lyra. Semua mata werewolf jantan di ruangan itu seolah tersedot oleh aura dan aroma Lyra yang menggairahkan. Mereka menahan napas, mencoba mencuri aroma yang begitu langka itu.
Rovan, pria berambut perak yang tadi menyambut mereka, duduk di sisi meja dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari Lyra. Ia meremas gelas anggurnya hingga retak, menahan hasrat yang membakar dadanya hanya dengan melihat betapa cantiknya tawanan sang Alpha itu.
Kael menarik kursi untuk Lyra dan duduk tepat di sampingnya, satu tangannya diletakkan di belakang sandaran kursi Lyra, sebuah tanda dominasi yang tak terbantahkan. Ia seolah sedang menantang siapa pun untuk mencoba mendekat.
"Makanlah, Luna-ku," perintah Kael dengan suara yang cukup keras untuk membuat semua orang di ruangan itu menelan ludah.
Selama jamuan berlangsung, Lyra bisa merasakan tatapan Rovan yang lapar terus mengikutinya. Di bawah meja, Kael meletakkan tangannya di paha Lyra yang tersembunyi gaun, meremasnya dengan posesif setiap kali ia melihat Rovan atau jantan lain menatap Lyra terlalu lama. Gairah di antara mereka berdua di bawah meja itu kontras dengan ketegangan politik di atas meja.
Jamuan itu baru saja dimulai, namun ketegangan di antara para pria dominan di ruangan itu sudah mencapai titik didih akibat aroma Lyra. Rovan tiba-tiba berdiri, mengangkat gelasnya ke arah Lyra dengan senyum yang sangat menantang dan penuh obsesi.
"Sebuah kehormatan melihat Luna yang begitu... menggairahkan," ucap Rovan dengan suara yang mengandung hasrat tersembunyi. "Tapi Alpha, apakah kau yakin bisa menjaga bunga seindah ini sendirian tanpa ada serigala lain yang mencoba memetiknya?"
Kael berdiri perlahan, auranya meledak hebat hingga piring-piring di atas meja bergetar, sementara mata emasnya kini telah sepenuhnya berubah menjadi mata serigala yang siap mencabik.
"Satu kata lagi keluar dari mulutmu, Rovan, dan kepalamu akan menghiasi gerbang kastel ini sebelum bulan mencapai puncaknya."
Gema suara kuno yang menyusup ke dalam benak Kael Draven membuat cengkeramannya pada pinggang Lyra semakin mengetat, seolah takut wanita itu akan menguap menjadi asap jika ia melonggarkannya sedikit saja. Mata ungu maut sang Alpha King berkilat tajam menatap Lyra yang kini tampak terkejut, karena rupanya suara itu tidak hanya terdengar di batin Kael, melainkan juga bergaung di dalam kepala Lyra sendiri. Nama Mirana, sang ibu yang selama ini dianggap sebagai penjaga kesucian klan pemburu, disebut dengan nada yang sarat akan kutukan purba.Aroma mawar hitam yang menguar dari tubuh Lyra mendadak melambat, menjadi dingin dan digantikan oleh wangi mistis yang sangat tua, wangi yang persis sama dengan esensi maut yang sedang merayap turun dari langit-langit kuil. Gairah slow-burn yang biasanya menyatukan mereka kini diselimuti oleh rasa tegang yang mencekam; ada sebuah kebenaran mengerikan yang selama ini disembunyikan di balik darah murni yang mengalir di tubuh Lyra."Ibuku... apa hubungan
Reruntuhan langit-langit kuil terlarang meluncur jatuh seperti hujan meteor batu, menghantam lantai marmer kuno hingga memercikkan debu dan serpihan es yang pekat. Di atas altar yang mulai retak, Kael Draven melompat mundur dengan bahu kiri yang masih mengepulkan asap hitam akibat tusukan api biru dingin Lucius. Namun, rasa sakit dari senjata terkutuk itu lenyap seketika dari kesadarannya, digantikan oleh naluri predator yang mendidih saat sepasang mata merah raksasa di celah langit-langit menatap lurus ke arah rahim Lyra dan bayi laki-laki yang berada di dekapan wanita itu.Aroma mawar hitam yang mengalir dari tubuh Lyra mendadak bergolak menjadi aroma defensif yang sangat tajam, memicu detak jantung setiap makhluk di dalam ruangan. Kael melesat kembali ke atas altar dalam satu kedipan mata, melingkarkan lengan kanannya yang kekar ke pinggang Lyra, menarik tubuh wanita itu dengan keposesifan yang sangat mendalam dan menghimpit. Dominasi maskulin sang Alpha King memancar begitu pekat,
Aroma perak kuno yang menyeruak masuk ke dalam kuil terlarang terasa begitu pekat hingga membuat kabut ungu milik Selena lenyap seketika, tergantikan oleh hawa sedingin es yang menusuk tulang. Dari balik reruntuhan gerbang kuil, sesosok pria dengan zirah perak yang telah hancur di bagian dada melangkah masuk dengan keangkuhan yang menakutkan. Dialah Lucius. Mantan tunangan Lyra itu ternyata belum mati; ia bangkit kembali dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna perak jernih tanpa pupil, tanda bahwa ia telah sepenuhnya menyerahkan jiwanya kepada mahluk asap hitam dari klan Pencabut Nyawa demi mendapatkan kekuatan murni.Di tangannya, Lucius memegang sebuah pedang panjang yang memancarkan api biru dingin, sebuah senjata terlarang klan pemburu pusat yang dirancang untuk memutus ikatan kontrak darah secara permanen. Kehadiran Lucius membawa tekanan psikologis yang luar biasa besar bagi semua orang di dalam kuil, termasuk para tetua dewan yang langsung mundur ketakutan ke sudut ruangan."
Kabut ungu beracun yang dilepaskan Selena memenuhi seluruh ruangan kuil terlarang, menciptakan ilusi visual yang memusingkan dan merusak indra penciuman kaum serigala. Kael Draven terbatuk rendah, merasakan esensi mautnya bergolak menolak racun perak yang mencoba membakar paru-parunya. Namun, pikiran Kael tidak tertuju pada rasa sakit fisiknya; insting posesifnya langsung berteriak liar saat menyadari jaraknya dengan Lyra telah terpisah oleh kabut sialan ini."Lyra!" raung Kael, suaranya membelah kabut dengan kekuatan dominasi yang sanggup menggetarkan pilar kuil.Ia tidak mempedulikan Rovan yang berada di dekatnya, melainkan langsung berbalik dan melesat menuju altar batu dengan kecepatan murni seorang predator yang merasa hartanya terancam. Posesifitas Kael telah mencapai titik di mana ia lebih baik menghancurkan kuil ini dan mengubur mereka semua hidup-hidup daripada kehilangan aroma mawar hitam Lyra walau hanya sekejap saja.Di atas altar, Lyra berusaha mempertahankan kesadarannya
Suara Selena yang melengking memecah keheningan pasca-pertempuran, bergaung di antara pilar batu kuil terlarang yang masih bersimbah darah segar. Bau tajam dari lavender dingin miliknya menyeruak masuk, mencoba mengikis aroma mawar hitam pekat yang menyelimuti tubuh Lyra dan bayi yang baru saja lahir. Kael Draven tidak bergerak dari posisinya di atas altar batu, namun dekapannya pada Lyra mengencang hingga jubah hitamnya membungkus wanita itu dan sang anak seperti sebuah benteng yang tak tertembus.Mata emas Kael yang kini dilapisi pendaran ungu maut berkilat berbahaya saat ia menoleh ke arah kegelapan pintu masuk kuil. Rasa jengkel dan amarah meledak di dalam dadanya karena keintiman sensual yang baru saja ia rasakan bersama pasangannya harus diganggu oleh intrik murahan. Posesifitas sang Alpha King meradang; ia tidak sudi membiarkan satu pun pasang mata, termasuk wanita ular seperti Selena, melihat kerapuhan sekaligus keagungan Lyra pasca-melahirkan benih terlarang mereka."Kau mela
Rasa sakit dari anak panah perak Elara yang menancap di bahu Kael Draven terasa seperti api yang mencoba melahap jiwanya, namun sang Alpha King bahkan tidak mengerang. Ia berdiri tegak dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna ungu gelap, aura Pencabut Nyawa menyelimuti dirinya seperti baju zirah yang tak tertembus. Di belakangnya, Lyra mendekap erat sang bayi yang baru lahir, aroma mawar hitamnya kini berubah menjadi aroma perlindungan yang sangat pekat, melindungi sang pewaris dari hawa dingin kuil.Kael menatap Elara dengan pandangan yang sanggup meruntuhkan nyali klan pemburu manapun. Posesifitasnya terhadap Lyra kini berlipat ganda karena keberadaan sang anak. Baginya, mereka berdua adalah bukti kekuasaannya yang mutlak atas takdir. Kael tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan bibi Lyra sendiri, untuk mengambil kebahagiaan yang baru saja ia perjuangkan di tengah genangan darah."Kau baru saja menandatangani surat kematian seluruh klanmu, Elara," desis Kael dengan suara yang terde
Lantai marmer yang dingin seolah tidak berarti di bawah lutut Kael Draven saat dia menatap perut Lyra dengan tatapan yang dipenuhi kengerian sekaligus pemujaan yang gelap.Tanda ungu yang menyerupai sulur-sulur kematian itu berpendar redup, kontras dengan kulit putih porselen Lyra yang biasanya mem
Aula perjamuan Kastel mendadak menjadi medan tempur aura yang sangat mengerikan. Kehadiran mahluk bayangan Pencabut Nyawa di ambang pintu bukan hanya membawa hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi juga membawa ultimatum yang sanggup meruntuhkan kewarasan siapa pun.Sosok bayangan itu berdiri diam,
Cahaya fajar yang abu-abu menyusup melalui celah-celah batu menara yang hancur. Suasana di dalam kamar terasa sangat berat, dipenuhi oleh aroma pengap darah dan sisa-sisa energi Pencabut Nyawa yang masih menggantung di udara.Kael masih terbaring di atas ranjang yang kini bersimbah noda hitam. Luka
Langit di atas Kastel Blackwood seolah terbelah oleh kilatan energi perak dan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi. Di halaman kastel, tanah marmer yang biasanya dingin kini bersimbah darah dan dipenuhi retakan akibat hantaman kekuatan dua predator puncak.Kael berdiri dengan napas yang membur







