مشاركة

Bab 4 Wilayah Sang Raja

مؤلف: Yukari
last update تاريخ النشر: 2026-03-17 11:23:58

Perjalanan menuju wilayah tengah Pack Blackwood dilalui dalam keheningan yang menyesakkan di dalam kereta kuda hitam yang dijaga ketat oleh prajurit serigala.

Lyra duduk di sudut, berusaha menjauh dari Kael yang duduk tegak di hadapannya. Namun, kereta itu terlalu sempit untuk menghindar dari aroma maskulin Kael yang kini terasa ribuan kali lebih tajam bagi indra Lyra.

Sepanjang perjalanan, Kael tidak melepaskan pandangannya dari Lyra. Tatapannya seolah-olah sedang menguliti setiap inci tubuh Lyra, membuat wanita itu merasa telanjang meski ia terbungkus jubah tebal.

Aroma Lyra kini memenuhi ruang kereta yang tertutup, menjadi begitu pekat, menggoda, dan menggairahkan hingga Kael harus mengepalkan tangannya kuat-kuat agar tidak kehilangan kendali.

"Kau lapar?" tanya Kael tiba-tiba. Suaranya rendah, bergetar di udara yang sempit, mengirimkan getaran sensual ke tulang belakang Lyra.

Lyra menggeleng, tangannya meremas kain jubahnya. "Aku hanya ingin tahu... apa yang akan kau lakukan padaku di kastelmu? Apakah aku akan dikurung seperti binatang?"

Kael sedikit menyeringai, sebuah senyuman yang tidak memberikan rasa aman namun terlihat begitu tampan. "Aku akan menempatkanmu di tempat yang seharusnya, Lyra. Di tempat di mana aku bisa mengawasimu setiap detik. Di tempat di mana aromamu tidak akan memicu perang di antara para jantanku."

"Kau gila," bisik Lyra. Ia menatap mata emas Kael, mencari sisa kemanusiaan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kegelapan yang penuh nafsu.

Kael berdiri, pindah duduk tepat di samping Lyra. Sofa kereta yang empuk itu amblas di bawah berat tubuhnya yang besar. Ia menarik Lyra agar duduk di pangkuannya, sebuah gerakan yang begitu cepat dan dominan hingga Lyra tidak sempat melawan.

"Dengarkan aku, wanita kecil yang keras kepala," Kael merunduk, napasnya yang panas menyentuh telinga Lyra. "Darahmu adalah racun sekaligus obat bagiku. Setiap werewolf jantan yang menciummu akan kehilangan akal sehatnya untuk memilikimu. Kau adalah godaan terbesar yang pernah ada di wilayah Utara."

Tangan Kael yang besar merayap di paha Lyra, meremasnya pelan namun posesif melalui kain gaunnya. Lyra merasakan napasnya tertahan. Kedekatan ini terlalu intim, terlalu menggairahkan. Ia bisa merasakan kekerasan otot paha Kael di bawahnya, dan panas tubuh pria itu yang seolah ingin membakar habis kewarasannya.

"Kenapa kau begitu terobsesi?" bisik Lyra, matanya mulai sayu saat tangan Kael mulai merayap lebih tinggi.

Kael tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih tangan Lyra dan menempelkannya di dadanya sendiri, membiarkan Lyra merasakan detak jantungnya yang bergemuruh liar. "Jantungku tidak pernah berdetak secepat ini untuk siapa pun. Kau bukan sekadar pelindung rahasia, Lyra. Kau adalah canduku yang paling mematikan."

Kael merunduk, menciumi bahu Lyra yang terekspos. Bibirnya terasa seperti bara api yang membakar kulit Lyra. Setiap sentuhan Kael adalah perintah untuk menyerah, dan Lyra mendapati dirinya semakin sulit untuk menolak. Gairah yang dipicu oleh ikatan darah mereka mulai merambat naik, memenuhi dadanya dengan debaran yang menyakitkan namun nikmat.

"Kastel sudah dekat," gumam Kael di sela-sela ciumannya pada leher Lyra. "Malam ini, kau akan belajar bahwa tempat paling aman dan paling berbahaya di dunia ini adalah di bawah kuasaku."

Saat kereta berhenti di depan kastel batu yang megah dan gelap, Lyra terpana melihat kemegahan yang menakutkan itu. Ratusan prajurit berjejer dengan kepala menunduk. Aura kekuasaan Kael di sini terasa absolut, tak tergoyahkan. Ia adalah penguasa mutlak yang nyawanya dihargai oleh ribuan nyawa lainnya.

Kael turun dan menggendong Lyra keluar dari kereta. Ia tidak membiarkan kaki Lyra menyentuh tanah, sebuah tindakan posesif yang menunjukkan kepada seluruh pack-nya bahwa wanita ini adalah miliknya yang tidak boleh disentuh siapa pun.

Pintu besar kastel terbuka, menyingkap aula yang luas dan dingin. Di sana, seorang pria berambut perak dengan pakaian elegan namun berkesan militer berdiri menunggu. Matanya yang berwarna abu-abu tajam langsung terpaku pada Lyra, dan lubang hidungnya kembang kempis, seolah sedang menghirup aroma yang luar biasa.

"Alpha," pria itu memberi hormat, namun pandangannya tidak lepas dari Lyra. "Aroma ini... sungguh luar biasa. Apakah ini wanita manusia yang kau selamatkan dari hutan?"

Kael berhenti melangkah, auranya seketika berubah menjadi sangat mengancam. Ia menarik Lyra lebih rapat ke dadanya, menutupi tubuh wanita itu dari pandangan lapar bawahannya. "Jaga pandanganmu, Rovan. Dia adalah Luna-mu, jika kau ingin tetap memiliki kepala di pundakmu besok pagi."

Pria bernama Rovan itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan obsesi tersembunyi yang membuat Lyra bergidik. Ia menghirup udara dengan sengaja, seolah mencoba mencicipi aroma Lyra dari jarak jauh, sebuah tindakan yang sangat menghina namun penuh hasrat.

"Selamat datang di neraka yang paling indah, Luna... aku yakin kita akan memiliki banyak waktu untuk saling mengenal lebih dekat."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 106 Rahasia Mirana dan Bara Pengkhianatan

    Gema suara kuno yang menyusup ke dalam benak Kael Draven membuat cengkeramannya pada pinggang Lyra semakin mengetat, seolah takut wanita itu akan menguap menjadi asap jika ia melonggarkannya sedikit saja. Mata ungu maut sang Alpha King berkilat tajam menatap Lyra yang kini tampak terkejut, karena rupanya suara itu tidak hanya terdengar di batin Kael, melainkan juga bergaung di dalam kepala Lyra sendiri. Nama Mirana, sang ibu yang selama ini dianggap sebagai penjaga kesucian klan pemburu, disebut dengan nada yang sarat akan kutukan purba.Aroma mawar hitam yang menguar dari tubuh Lyra mendadak melambat, menjadi dingin dan digantikan oleh wangi mistis yang sangat tua, wangi yang persis sama dengan esensi maut yang sedang merayap turun dari langit-langit kuil. Gairah slow-burn yang biasanya menyatukan mereka kini diselimuti oleh rasa tegang yang mencekam; ada sebuah kebenaran mengerikan yang selama ini disembunyikan di balik darah murni yang mengalir di tubuh Lyra."Ibuku... apa hubungan

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 105 Aliansi Kegelapan yang Terjaga

    Reruntuhan langit-langit kuil terlarang meluncur jatuh seperti hujan meteor batu, menghantam lantai marmer kuno hingga memercikkan debu dan serpihan es yang pekat. Di atas altar yang mulai retak, Kael Draven melompat mundur dengan bahu kiri yang masih mengepulkan asap hitam akibat tusukan api biru dingin Lucius. Namun, rasa sakit dari senjata terkutuk itu lenyap seketika dari kesadarannya, digantikan oleh naluri predator yang mendidih saat sepasang mata merah raksasa di celah langit-langit menatap lurus ke arah rahim Lyra dan bayi laki-laki yang berada di dekapan wanita itu.Aroma mawar hitam yang mengalir dari tubuh Lyra mendadak bergolak menjadi aroma defensif yang sangat tajam, memicu detak jantung setiap makhluk di dalam ruangan. Kael melesat kembali ke atas altar dalam satu kedipan mata, melingkarkan lengan kanannya yang kekar ke pinggang Lyra, menarik tubuh wanita itu dengan keposesifan yang sangat mendalam dan menghimpit. Dominasi maskulin sang Alpha King memancar begitu pekat,

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 104 Kebangkitan Sang Mantan Tunangan

    Aroma perak kuno yang menyeruak masuk ke dalam kuil terlarang terasa begitu pekat hingga membuat kabut ungu milik Selena lenyap seketika, tergantikan oleh hawa sedingin es yang menusuk tulang. Dari balik reruntuhan gerbang kuil, sesosok pria dengan zirah perak yang telah hancur di bagian dada melangkah masuk dengan keangkuhan yang menakutkan. Dialah Lucius. Mantan tunangan Lyra itu ternyata belum mati; ia bangkit kembali dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna perak jernih tanpa pupil, tanda bahwa ia telah sepenuhnya menyerahkan jiwanya kepada mahluk asap hitam dari klan Pencabut Nyawa demi mendapatkan kekuatan murni.Di tangannya, Lucius memegang sebuah pedang panjang yang memancarkan api biru dingin, sebuah senjata terlarang klan pemburu pusat yang dirancang untuk memutus ikatan kontrak darah secara permanen. Kehadiran Lucius membawa tekanan psikologis yang luar biasa besar bagi semua orang di dalam kuil, termasuk para tetua dewan yang langsung mundur ketakutan ke sudut ruangan."

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 103 Gairah di Balik Kabut Beracun

    Kabut ungu beracun yang dilepaskan Selena memenuhi seluruh ruangan kuil terlarang, menciptakan ilusi visual yang memusingkan dan merusak indra penciuman kaum serigala. Kael Draven terbatuk rendah, merasakan esensi mautnya bergolak menolak racun perak yang mencoba membakar paru-parunya. Namun, pikiran Kael tidak tertuju pada rasa sakit fisiknya; insting posesifnya langsung berteriak liar saat menyadari jaraknya dengan Lyra telah terpisah oleh kabut sialan ini."Lyra!" raung Kael, suaranya membelah kabut dengan kekuatan dominasi yang sanggup menggetarkan pilar kuil.Ia tidak mempedulikan Rovan yang berada di dekatnya, melainkan langsung berbalik dan melesat menuju altar batu dengan kecepatan murni seorang predator yang merasa hartanya terancam. Posesifitas Kael telah mencapai titik di mana ia lebih baik menghancurkan kuil ini dan mengubur mereka semua hidup-hidup daripada kehilangan aroma mawar hitam Lyra walau hanya sekejap saja.Di atas altar, Lyra berusaha mempertahankan kesadarannya

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 102 Jerat Lavender dan Ultimatum Dewan

    Suara Selena yang melengking memecah keheningan pasca-pertempuran, bergaung di antara pilar batu kuil terlarang yang masih bersimbah darah segar. Bau tajam dari lavender dingin miliknya menyeruak masuk, mencoba mengikis aroma mawar hitam pekat yang menyelimuti tubuh Lyra dan bayi yang baru saja lahir. Kael Draven tidak bergerak dari posisinya di atas altar batu, namun dekapannya pada Lyra mengencang hingga jubah hitamnya membungkus wanita itu dan sang anak seperti sebuah benteng yang tak tertembus.Mata emas Kael yang kini dilapisi pendaran ungu maut berkilat berbahaya saat ia menoleh ke arah kegelapan pintu masuk kuil. Rasa jengkel dan amarah meledak di dalam dadanya karena keintiman sensual yang baru saja ia rasakan bersama pasangannya harus diganggu oleh intrik murahan. Posesifitas sang Alpha King meradang; ia tidak sudi membiarkan satu pun pasang mata, termasuk wanita ular seperti Selena, melihat kerapuhan sekaligus keagungan Lyra pasca-melahirkan benih terlarang mereka."Kau mela

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 101 Takhta Darah dan Air Mata

    Rasa sakit dari anak panah perak Elara yang menancap di bahu Kael Draven terasa seperti api yang mencoba melahap jiwanya, namun sang Alpha King bahkan tidak mengerang. Ia berdiri tegak dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna ungu gelap, aura Pencabut Nyawa menyelimuti dirinya seperti baju zirah yang tak tertembus. Di belakangnya, Lyra mendekap erat sang bayi yang baru lahir, aroma mawar hitamnya kini berubah menjadi aroma perlindungan yang sangat pekat, melindungi sang pewaris dari hawa dingin kuil.Kael menatap Elara dengan pandangan yang sanggup meruntuhkan nyali klan pemburu manapun. Posesifitasnya terhadap Lyra kini berlipat ganda karena keberadaan sang anak. Baginya, mereka berdua adalah bukti kekuasaannya yang mutlak atas takdir. Kael tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan bibi Lyra sendiri, untuk mengambil kebahagiaan yang baru saja ia perjuangkan di tengah genangan darah."Kau baru saja menandatangani surat kematian seluruh klanmu, Elara," desis Kael dengan suara yang terde

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 84 Prahara Tanda Maut

    Lantai marmer yang dingin seolah tidak berarti di bawah lutut Kael Draven saat dia menatap perut Lyra dengan tatapan yang dipenuhi kengerian sekaligus pemujaan yang gelap.Tanda ungu yang menyerupai sulur-sulur kematian itu berpendar redup, kontras dengan kulit putih porselen Lyra yang biasanya mem

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 63 Harga dari Sebuah Nyawa

    Aula perjamuan Kastel mendadak menjadi medan tempur aura yang sangat mengerikan. Kehadiran mahluk bayangan Pencabut Nyawa di ambang pintu bukan hanya membawa hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi juga membawa ultimatum yang sanggup meruntuhkan kewarasan siapa pun.Sosok bayangan itu berdiri diam,

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 52 Luka yang Mendamba

    Cahaya fajar yang abu-abu menyusup melalui celah-celah batu menara yang hancur. Suasana di dalam kamar terasa sangat berat, dipenuhi oleh aroma pengap darah dan sisa-sisa energi Pencabut Nyawa yang masih menggantung di udara.Kael masih terbaring di atas ranjang yang kini bersimbah noda hitam. Luka

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 48 Pengkhianatan di Balik Bayang-Bayang

    Langit di atas Kastel Blackwood seolah terbelah oleh kilatan energi perak dan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi. Di halaman kastel, tanah marmer yang biasanya dingin kini bersimbah darah dan dipenuhi retakan akibat hantaman kekuatan dua predator puncak.Kael berdiri dengan napas yang membur

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status