LOGINApa yang lu minta oliver -,-
Bab 78Lila sontak membalikkan tubuhnya, melupakan kepura-puraannya tadi. Ia menatap Oliver dengan mata membulat sempurna, menuntut penjelasan atas perintah yang terdengar seperti sebuah kemunduran besar dari rencana mereka."Tapi Tuan, bukannya masih ada informasi yang harus saya dapatkan dengan mendekati Tuan Jonathan?" cecar Lila, suaranya naik satu oktav karena cemas.Jika ia mundur sekarang, bukankah semua pengorbanan dan ketakutan yang ia lalui selama ini akan menjadi sia-sia?Oliver diam beberapa saat. Matanya yang sehitam jelaga menatap lurus ke langit-langit kamar, membiarkan pertanyaaan Lila menggantung di udara tanpa jawaban instan. Rahangnya mengeras, menyiratkan ada pergolakan batin yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya sendiri."Rencana berubah," jawabnya singkat, dingin, dan datar.Oliver mengalihkan pandangannya, enggan menatap balik mata Lila yang menuntut kejelasan. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Oliver pun sendiri tidak paham dengan perubahan sikapnya
Bab 77Setelah kesepakatan di antara mereka berdua selesai, Lila melangkah mengekor di belakang Oliver menuju ruang tengah. Otaknya berputar cepat, memikirkan posisi terbaik untuk melewatkan sisa malam ini tanpa harus mengusik sang tuan rumah.Langkah Lila terhenti tepat di samping sebuah sofa panjang beludru berwarna abu-abu gelap. Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, ia langsung mendudukkan dirinya di sana.“Aku tidur di sini saja Tuan,” ucap Lila seraya menepuk-nepuk permukaan sofa empuk di ruang tamu itu. Baginya, fasilitas ini sudah jauh lebih dari cukup ketimbang harus berbagi ruang pribadi dengan pria sekelas Oliver.Oliver menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan, lalu menaikkan sebelah alisnya yang tebal. Matanya menatap Lila dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai, sebelum akhirnya ia mendengus malas.“Aku tidak suka orang tidur di atas sofaku,” ketus Oliver dengan nada suara yang tidak ingin dibantah.Mulut Lila otomatis ternganga mendengar penola
Bab 76Usai menyelesaikan makan malam mereka, Oliver menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya yang tajam dan sedingin es itu bergulir, melirik ke arah Lila yang masih menunduk, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri."Kau tidak perlu khawatirkan Ibumu," ucap Oliver tiba-tiba di sela keheningan yang mencekam itu. Suaranya yang berat memecah lamunan Lila."Ya?" Lila terkesiap, bahunya sedikit melonjak. Ia mendongak, menatap Oliver dengan pandangan bingung sekaligus terkejut."Aku tahu semuanya. Dan aku juga masih menyelidikinya," Oliver membuang napas kasar. Ia memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Lila seolah sedang menguliti isi kepala wanita itu. "Dan satu hal lagi... jangan terlalu percaya pada Dokter itu."Kening Lila mengernyit dalam. Rasa heran dan gelisah seketika bercampur aduk di dalam dadanya. "Mak... maksud Tuan, Dokter Nathaniel?""Hmm," Oliver hanya bergumam pendek, namun gumaman itu terdengar begitu penuh penekanan."Alasannya?" tanya L
Bab 75Oliver benar-benar menepati kata-katanya. Di dalam bathtub hangat itu, dia benar-benar hanya membersihkan tubuh Lila yang dipenuhi sisa pergumulan liar mereka. Tangannya yang besar bergerak dengan telaten, mengusap punggung dan menyiram air hangat ke tubuh Lila tanpa ada niat untuk kembali "memakan" wanita mungil tersebut, meskipun sesekali sentuhannya masih membuat Lila merinding pelan. Oliver tahu, kucing liarnya ini sudah benar-benar kehabisan tenaga.Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan baju tidur yang longgar, Lila melangkah keluar kamar. Namun, setiap langkahnya terasa begitu sulit. Bagian intinya masih terasa nyut-nyutan dan kedua kakinya terasa sangat lemas, seperti jeli yang sulit diajak berkompromi setelah dihantam badai gairah Oliver tadi. Dengan sedikit tertatih, ia menyusul Oliver ke area dapur.Di sana, aroma harum masakan langsung menyambut indra penciumannya. Oliver, dengan pakaian santainya, ternyata sedang sibuk di depan kompor.“Tuan,
Bab 74"Tuan... ahh, se-sebentar..." Lila memohon lirih, namun suaranya langsung tenggelam saat Oliver menghujamkan kembali miliknya dalam satu dorongan yang sangat kuat dan dalam hingga pangkalnya membentur milik Lila."AKH!" Lila mendongak, matanya melebar saat merasakan sensasi penuh yang jauh lebih intens dari sebelumnya. Posisi ini memaksa tubuhnya menerima setiap inci ukuran Oliver tanpa ampun.Oliver menggeram rendah, tangannya mencengkeram erat pinggang Lila, mengunci posisi wanita itu agar tidak bergeser sedikit pun. Ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang cepat dan bertenaga. Setiap hentakan Oliver terasa begitu menuntut, menciptakan bunyi kulit yang beradu dengan ritme yang semakin gila.Keringat dari tubuh atletis Oliver menetes, membasahi dada dan perut Lila, menambah kesan erotis di antara pergumulan panas mereka. Oliver tidak lagi menahan diri. Ia membungkuk, meraup salah satu payudara Lila dengan mulutnya, menghisap dan menggigit putingnya yang mengeras denga
Bab 73Lila menjerit keras, suaranya memenuhi kamar saat gelombang kenikmatan itu datang bertubi-tubi. Tubuhnya gemetar hebat, melengkung di bawah tekanan dan dominasi Oliver yang sama sekali tidak memberinya celah untuk bernapas.Namun, Oliver belum puas. Dengan gerakan yang sangat tangkas dan bertenaga, ia memutar tubuh Lila hingga wanita itu kini memunggunginya. Oliver menarik pinggul Lila ke atas, sementara ia sendiri berlutut di belakangnya, memposisikan diri dengan presisi yang mematikan.Tanpa peringatan, Oliver kembali menghujamkan miliknya dari belakang dalam satu dorongan yang sangat dalam dan bertenaga."AKH! TUAN—!" Lila membelalakkan matanya, napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Ia mencengkeram sprei dengan kuku-kukunya yang memutih. "Tuan... Akh... Itu... itu sangat dalam... hhh...""Sshh... Rasakan ini, Lila," geram Oliver rendah tepat di tengkuknya. Suara serak pria itu terdengar sangat maskulin dan penuh gairah.Oliver mengambil kendali penuh. Kedua tangan besarny
Bab 63Oliver memberikan tatapan dingin yang sanggup membekukan aliran darah. Tatapan yang seolah berkata, Jangan banyak tanya atau kau akan kehilangan pekerjaanmu.Bastian langsung kagok, ia menunduk dalam dan segera berbalik menuju lift dengan langkah seribu. "Baik, Tuan. Segera saya siapkan!" uca
Bab 61"Tuan... Umphhh..."Kalimat Lila tertelan habis. Bibirnya dilumat begitu dalam oleh Oliver, seolah pria itu sedang melampiaskan seluruh kemarahan, dendam, dan hasrat yang selama ini ia pendam sendirian. Ciuman itu terasa panas, menuntut, dan penuh dominasi yang memabukkan.Lila sempat mencoba
Bab 60“Tuan? Kamu... tersenyum?” tanya Lila dengan nada tidak percaya. Matanya mengerjap, memastikan apakah penglihatannya salah karena terlalu banyak melamun.Oliver tersentak pelan. Secepat kilat, ia menarik kembali sudut bibirnya dan mengendalikan ekspresinya menjadi datar seperti semula. "Janga
Bab 59Ting!Pintu lift terbuka di lantai teratas yang jauh lebih tenang. Bastian dengan sigap melangkah keluar lebih dulu untuk membukakan pintu ruangan luas yang berlapis kayu mahoni gelap, mempersilakan bosnya masuk dengan sikap takzim."Tunggu di sini," titah Oliver singkat begitu mereka sampai







