Share

Bab 7 | Mencicipimu

Penulis: MAMAZAN
last update Tanggal publikasi: 2025-12-18 13:21:47

Bab 7

"Jangan seenaknya, Tuan!" Lila menyahut dengan wajah tertekuk. Amarahnya memuncak setiap kali pria ini merendahkannya. "Aku bukan tawanan Anda dan aku bukan kucing liar!"

"Kau..." Oliver menggeram rendah. Kalimat perlawanan Lila seolah menjadi bahan bakar bagi gairahnya yang liar.

Di dalam kamar yang luas dengan pencahayaan minim itu, aroma maskulin Oliver yang bercampur dengan wangi musk terasa menyesakkan bagi Lila. Cahaya lampu tidur dan sinar matahari pagi yang temaram memberikan bayangan panjang yang mencekam di dinding, mempertegas posisi Oliver yang mengunci tubuh Lila di atas ranjang empuk.

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Oliver kembali memaksa melumat bibir Lila. Kali ini lebih dalam dan menuntut. Tangan besarnya merayap naik, mencengkeram leher Lila, tidak sampai menyakiti, namun cukup kuat untuk memberikan tekanan yang membuat napas Lila tersendat sekaligus membakar gairah yang tidak diinginkan.

"T-tuan O-oliver... Hen... tikan..." rintih Lila di sela-sela pagutan paksa itu. Air mata nyaris jatuh di sudut matanya yang bulat, membasahi bantal sutra di bawah kepalanya.

Oliver berhenti sejenak, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Pandangan mereka beradu dalam jarak yang begitu intim hingga Lila bisa merasakan hembusan napas panas Oliver. Wajah Lila terlihat sayu dengan bibir yang sedikit bengkak dan memerah akibat ciuman brutal tadi.

"Jika kau masih ingin bekerja di sini, diamlah sebelum Jonathan berpikir kaulah yang sedang menggodaku!" bisik Oliver dengan nada mengancam yang mutlak.

Lila membelalakkan bola mata indahnya. "Bagaimana bisa?! A-"

Tok tok!

Suara ketukan pada pintu kayu jati yang kokoh itu terdengar sangat keras di tengah kesunyian kamar, disusul suara berat yang sangat mereka kenali dari balik daun pintu.

"Oliver... Kau di dalam?"

Itu suara Jonathan. Sebuah kebetulan yang luar biasa sekaligus mengerikan. Jantung Lila seakan berhenti berdetak. Posisi mereka saat ini benar-benar tidak pantas, Oliver masih menindihnya di atas tempat tidur dengan pakaian yang sedikit berantakan. Dan Lila? Jangan tanyakan lagi seberapa kacau seragam pelayannya yang sudah setengah terbuka itu.

Lila membeku. Refleksnya ingin berteriak meminta tolong pada Jonathan, berharap pria itu menyelamatkannya. Namun, ia melihat ekspresi Oliver. Mata hitam pria itu menatapnya tajam, berkilat dengan ancaman dingin seolah sedang mengirimkan pesan tak kasat mata, "Coba saja kau buka mulutmu..."

Memanfaatkan keterpakuan Lila yang ketakutan, Oliver justru melakukan hal yang gila. Alih-alih menjauh untuk menjawab ayahnya, ia justru kembali merunduk dan mencumbu pelayannya itu dengan lebih intens, membuat suara decapan halus yang memenuhi sudut ruangan.

"Oliver? Aku mendengar suara di dalam," suara Jonathan terdengar curiga. Suara gesekan logam terdengar saat gagang pintu mulai bergerak perlahan dari luar.

Lila menahan napasnya, tangannya mencengkeram seprai dengan kuat hingga jemarinya memutih. Oliver tersenyum tipis di sela ciumannya saat menyadari Lila tidak lagi memberikan perlawanan fisik. Ketakutan akan ketahuan oleh Jonathan membuat tubuh Lila kaku dan pasrah sepenuhnya.

Oliver memiringkan kepalanya, menghisap bibir bawah Lila dengan rakus tepat saat Jonathan hampir memutar kunci pintu. Oliver melepaskan ciumannya sedikit, namun tetap menempelkan bibirnya di pipi Lila, lalu berseru ke arah pintu dengan suara yang sengaja dibuat berat dan terganggu.

"Aku sedang istirahat, Jonathan! Jangan menggangguku!" teriak Oliver dingin.

Langkah kaki Jonathan terhenti di balik pintu. Hening sejenak yang terasa seperti berjam-jam bagi Lila.

"Ah, maaf. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja setelah kepulanganmu semalam. Kita bisa bicara nanti," ujar Jonathan.

Suara langkah kaki Jonathan perlahan menjauh, bergema di koridor sebelum akhirnya menghilang. Lila mengembuskan napas panjang yang gemetar, tubuhnya yang tegang berangsur lemas. Namun, Oliver tidak segera bangkit. Ia tetap menindih Lila, menikmati aroma manis yang menguar dari leher pelayannya itu.

"Lihat? Dia bahkan tidak curiga," bisik Oliver sambil menjilat cuping telinga Lila dengan sensual.

Lila memalingkan wajah, menolak menatap mata pria yang telah menjadikannya tawanan itu. "Aku membencimu, Oliver James Monfalco."

Oliver tertawa rendah, suara tawa yang maskulin sekaligus menyakitkan. Ia menatap Lila yang tak berdaya di bawahnya dengan tatapan lapar yang tak tertutupi lagi. "Pikiranku berubah, sebaiknya aku yang mencicipimu lebih dulu sebelum Jonathan!"

Oliver menjilati bibirnya sendiri, sebuah gestur yang disambut dengan tatapan penuh amarah dari Lila.

"Anda gila... Umphh..."

Lila kembali terdesak. Oliver benar-benar telah mendominasi dirinya, tangannya merayap masuk ke dalam seragam Lila, menyentuh kulit halusnya dengan kasar.

Seketika mata Lila membelalak, napasnya tercekat, dan tubuhnya menegang hebat saat merasakan sentuhan Oliver yang semakin berani, "T-tuan Oliver... Hentikan... Akhh..."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
MAMAZAN
gas gas mam
goodnovel comment avatar
MAMAZAN
siapp mam hehe
goodnovel comment avatar
Akiko Ayumi
lanjut part berikut nya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 91 | Permainan Baru Saja di Mulai

    Bab 91“BERENGSEK!”Jonathan mengumpat kasar, meremas kuat ponsel di tangannya saat mendapat kabar bahwa Susan mendadak hilang tanpa jejak dari ruang perawatan ICU. Matanya menyala murka, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang membakar dada.“Cari sampai dapat!” gertaknya murka pada pria berpakaian serba hitam di hadapannya. “Dan panggil Dokter Nathaniel sekarang juga!”Asisten pribadi Jonathan berdiri menunduk dengan tubuh gemetar. “Dokter Nathaniel menolak untuk datang, Tuan Jonathan. Dia bilang sedang ada urusan mendesak dan tidak bisa diganggu.”Prang!Jonathan melempar cangkir keramik di atas meja kerjanya hingga hancur berkeping-keping menghantam dinding. “Panggil dokter sialan itu! Bawa dia ke hadapanku, bagaimana pun caranya!”“Tapi saat ini ada hal yang jauh lebih penting, Tuan,” potong asistennya terbata-bata, mencoba mengalihkan fokus sang atasan.“Apalagi!” bentak Jonathan dengan napas memburu.“Harga saham perusahaan kita... tiba-tiba anjlok drastis,” ungkap as

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 90 | Jatuh Semakin Dalam

    Bab 90“Ibumu... sudah tiba,” bisik Oliver rendah, mengembalikan kesadaran Lila pada kenyataan di tengah sisa-sisa napas mereka yang masih terengah-engah.Lila panik seketika. Tubuhnya yang masih lemas berusaha bergerak, tapi Oliver dengan mudah mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. Oliver kemudian sedikit berjongkok, mengambil dalaman dan celana Lila yang tergeletak berantakan di lantai.Tanpa membuang waktu, Oliver membawa Lila melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang berada tak jauh dari ruang perawatan tersebut. Ia menurunkan Lila perlahan di atas tepi wastafel. Sambil menatap Lila yang masih berusaha mengatur napasnya yang memburu, Oliver menggunakan dalaman segitiga milik Lila yang ada di tangannya untuk menyapu dan membersihkan sisa-sisa cairan pekat di batang kejantanannya. Setelah selesai, pria itu mengulurkan kain tipis itu kembali ke arah Lila dengan raut wajah tanpa dosa.“Pakailah kembali,” perintah Oliver santai.Lila membelalakkan matanya sempurna, menatap

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 89 | (21+) Ini Belum Selesai

    Bab 89“A-aku keluar!” Lila menjerit, tubuhnya menegang hebat sewaktu pelepasan pertama itu menghantam seluruh kesadarannya.Namun, bukannya melambat atau memberi jeda untuk menenangkan napas wanita itu, Oliver justru makin beringas. Dengan posisi Lila yang masih terangkat menggantung dalam dekapan kekarnya, Oliver mempercepat gerakan pinggulnya, menghujam titik terdalam liang vagina Lila dengan ritme yang makin cepat dan bertenaga. Pria itu terus memompa tanpa ampun hingga tubuh cantik di kungkungannya itu kembali diserbu gelombang orgasme bertubi-tubi.“O-Oliver… A-aku tidak tahan… Oh faster… Yahh… Oh my! Stop! Stop! More!” jerit Lila pasrah di sela-sela rintihannya yang terputus-putus.Reaksi tubuh Lila menggila. Kesadarannya seolah melayang di udara, tak lagi mampu menahan serbuan kenikmatan luar biasa yang menghantam tanpa henti di bawah sana. Sensasi nikmat itu begitu intens hingga terasa menyiksa, namun di saat yang sama, bagian terdalam dari hatinya memohon agar Oliver tidak pe

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 88 | (21+) Desakan Waktu

    Bab 88Sisa-sisa akal sehat Lila perlahan mencair, tergantikan oleh kabut gairah yang kian menebal. Ruang perawatan khusus yang tadinya senyap kini sepenuhnya dipenuhi oleh napas memburu dan ritme detak jantung yang saling berpacu liar.Tanpa membiarkan Lila mengambil jeda untuk mengatur napas, Oliver bergerak memangkas sisa celah di antara mereka. Dengan gerakan yang tegas namun tetap terukur, tangan besar Oliver meraih salah satu kaki jenjang Lila, lalu mengangkatnya.Posisinya kini memberikan akses penuh tanpa halangan. Oliver menatap lurus ke dalam manik mata Lila yang sayu, menahan napasnya sejenak, lalu memberikan satu dorongan mantap.Blesss!“Ahhh… Ssshhhh!” Lila mendesis panjang, punggungnya melengkung ke belakang mencari sandaran.Oliver dengan sigap menahan punggung Lila, merengkuhnya erat.Sensasi panas dan padat seketika menjalar hebat saat ia merasakan kejantanan Oliver yang luar biasa tebal perlahan mengisi liang kewanitaannya hingga ke titik terdalam. Peregangan yang te

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 87 | (21+) Goodgirl

    Bab 87“Serve me then…”Sensasi dingin dari bisikan serak Oliver bergetar tepat di depan bibir Lila. Kata-kata itu bergaung bagai perintah mutlak yang tak memberi ruang untuk dirinya.Lila mendongak, menatap iris kelam Oliver yang kini menggelap dipenuhi binar gairah yang menuntut. Mengabaikan degup jantungnya yang berpacu liar dan kepanikan akan batas waktu tiga puluh menit, Lila mengulas senyum tipis—sebuah senyuman yang menjadi provokasi manis.Dengan berani, Lila berjinjit, memangkas sisa jarak di antara wajah mereka untuk memulai semuanya.Ia mencium bibir Oliver, memiringkan kepalanya sedikit lalu menyesap bibir tegas pria itu dengan lembut sebelum membuka mulutnya lebih dalam. Sentuhan awal yang berani itu seketika memicu desiran panas di dalam tubuh Oliver. Tanpa membuang waktu, tangan Lila sendiri bergerak turun, menyusup ke area pinggang pria itu dan mengusap gundukan terlarang milik Oliver yang berurat kasar dari luar celananya. Meski pria itu belum mengalami ereksi penuh,

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 86 | Percaya Padaku

    Bab 86"Ibumu aman. Sekarang, fokusmu hanya satu... percaya padaku."Ujaran Oliver bergaung rendah, menyusup hangat ke dalam sela-sela kecemasan yang sejak tadi mencengkeram dada Lila. Wanita itu terdiam, matanya menatap lekat-lekat pada raut wajah tegas pria berkuasa di hadapannya. Dorongan emosional yang meluap, rasa lega, syukur, sekaligus kepasrahan, membuat jemari Lila terangkat pelan, ragu-ragu untuk memeluk Oliver.Ck! decaknya dalam hati, merutuki gengsi tingginya yang mendadak terasa konyol di situasi seperti ini.Menepis seluruh keraguannya, Lila akhirnya memberanikan diri maju satu langkah dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang kokoh Oliver. Ia merapatkan tubuhnya, menyandarkan keningnya di dada bidang pria itu, menyerap aroma maskulin khas Oliver yang selalu berhasil menenangkannya secara ajaib."Terima kasih, Tuan," bisik Lila tulus, suaranya terdengar meredam di balik kemeja Oliver.Oliver menaikkan satu alisnya. Tubuhnya sempat membeku seketika saat menerima peluka

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 6 | Kau Adalah Tawananku

    Bab 6Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Godalah dia… Buat dia bertekuk lutut padamu. Buat dia berselingkuh denganmu di rumah ini."Lila terbelalak. "Apa?! Anda gila! Saya tidak akan melakukan hal menjijikkan seperti itu!""Jangan munafik," desis Oliver

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 5 | Identitas Pria Asing Malam Itu

    Bab 5Jonathan berdehem, berusaha mencairkan suasana yang kaku. "Maaf Ayah tidak menyiapkan apa-apa saat kedatanganmu-"Lila pun datang kembali dari dapur, membawa nampan berisi secangkir kopi hitam pekat sesuai permintaan Oliver. Kehadirannya membuat Jonathan menjeda percakapannya dengan putra tir

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 4 | Tuan Muda

    Bab 4Lila membuka mata tepat jam 5 pagi. Kepalanya terasa berat dan berdenyut, efek dari hanya tidur selama 1 jam setelah pulang dari The Shadow Bar. Namun, rasa lelah itu kalah oleh kegelisahan yang merayap di dadanya. Ia harus kembali memulai pekerjaannya sebagai pelayan di Kediaman Miller.Pagi

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 3 | Kucing Liar

    Bab 3Lila terdiam, isak tangisnya seketika menghilang. Ia berpikir keras. 300 juta. Jumlah itu berkelip di benaknya, mengalahkan rasa sakit dan kehinaannya."300 juta..." lirihnya.Ia memikirkan kembali uang yang harus ia kumpulkan demi pengobatan sang Ibu. Bahkan jika ia bekerja keras selama seta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status